ETIKA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Etika adalah sebuah ilmu yang saat ini sudah berdiri sendiri, pada awalnya, Etika merupakan bagian dari ilmu Filsafat. Etika sering disamakan dengan ahlak dan moral, namun banyak juga para ahli yang membedakan keduanya.

Tulisan karangan ilmiyah ini menitikberatkan kepada tingkah laku, perbuatan dan budi pekerti manusia yang dapat dilihat dari fenomena eksternal. Istilah ilmu Etika itu sama dengan ilmu ahlak yaitu ilmu yang membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia dari segi baik dan buruknya. Ahlak itu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang menimbulkan bermacam-macam pola tingkah laku secara spontan dan mudah; tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan (Imam Ghazali, III: 56).

Etika secara bahasa adalah ilmu yang berkenaan tentang yang buruk dan tentang hak serta kewajiban moral. Etika juga bermakna nilai mengenai benar dan salah yang dianut seseorang. Etika artinya tatasusila atau tatacara pergaulan. Makna dasar dari etika adalah ethos (Yunani) yaitu adat kebiasaan. Sebagaimana firman allah SWT :

وانك لعلى خلق عظيم

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Surat Al-Qalam/68: 4).

Etika Qurani mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membedakannya dengan etika lain. Etika Qurani sekurang-kurangnya mempunyai lima ciri utama, yaitu: pertama, Rabbani; kedua, manusiawi; ketiga, universal; keempat, keseimbangan; dan kelima, realistik (Ilyas, 2002: 12). Ciri Rabbani menegaskan bahwa etika Qurani adalah etika yang membimbing kepada arah yang baik dan benar (Surat Al-An’am/6: 153). Ciri manusiawi adalah memperhatikan dan memenuhi fitrah manusia serta menuntun agar memperoleh kebahagian dunia dan akhirat (Surat Ar-Rum/30: 30). Ciri universal adalah membawa misi rahmatan lil alamin di seluruh penjuru (Surat Al-Anbiya’/21: 107). Ciri keseimbangan adalah menjaga hubungan baik kepada Allah dan hubungan baik kepada manusia (Surat Al-Baqarah/2: 201). Ciri realistik adalah memperhatikan kenyataan yang ada (kehidupan manusia) dan memberikan keringanan bagi yang tidak mampu melakukannya (Surat Al-Baqarah/2: 173 dan 286).

Ketika manusia mengalami kelangkaan (untuk tidak mengatakan kehilangan sama sekali) citra insan yang humanistik, Al-qur’an menawarkan sebuah konsep “permanusian manusia” dalam pengertian luas. Nabi Muhammad saw merupakan wujud kongkrit figur keteladanan universal sebagai tolak ukur manusia dalam setiap aspek, bahkan sampai saat ini tidak ada seorang manusiapun yang menjatuhkan urutan pertama dalam kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia yang dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawinya. Di tinjau dari aspek Qurani etika terbagi menjadi beberapa bagian:

  1. Etika manusia kepada Allah:

Tata cara kita beretika yang baik kepada Allah adalah suatu ketetapan yang mutlak. Hubungan dengan Allah di dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah Hablun minallah dan hubungan kepada manusia disebut dengan Hablun minannas. Ketakwaan merupakan puncak tata hubungan dan etika tertinggi, karena di dalam ketakwaan itu terhimpun etika dan prilaku yang senantiasa mengacu kepada tindakan-tindakan positif, dan Al-Qur’an menyebutnya dengan ihsan. Perpaduan dari Iman, Islam serta Amal Shalih ini mampu menghatarkan manusia kepada jalan yang positif dan tidak keluar dari koridor norma-norma dan nilai-nilai dalam beretika (Surat Ali Imran/3: 102). Iman merupakan proses untuk mencapai tingkat keyakinan yang hakiki. Dan islam mencontohkan perangai yang damai. Sedangkan amal shalih merupakan manifestasi iman dan islam.

Jika kita menspesifikasikan kalimat Etika manusia kepada Allah itu salah satunya hanya dengan bertakwa kepada Allah, karena takwa menjaga hubungan diri dengan Allah, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa ini menjadi tolak ukur seseorang dalam pandangan Allah (al-Hujurat/49:13). Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnat maka Aku akan mencintainya (HR. Bukhari, 6502).

Cara beretika manusia kepada Allah ini harus ada penunjang perangkat elemen substansialnya agar semuanya mengandung nilai-nilai positif. Adapun cara merealisasikannya yaitu: Ikhlas, Hub, Khusu’, Tawakkal, Zikir, Syukur, Sabar, Tobat dan Do’a.

  1. Ikhlas­

Ikhlas Secara spesifikتخليص القلب عن شائبة الشوب المكدر  (menyelamatkan hati dari campuran yang dapat mengotorinya)[1]. Ikhlas itu salah satu rahasia-Ku yang aku titipkan dalam hati hamba-Ku yang aku cintai (Hadits Qudsi). Syeikh As-susiy berkata: Ikhlas ialah ketiadaan melihat ikhlas, karena barangsiapa menyaksikan keikhlasan di dalam keikhlasan, maka keikhlasannya membutuhkan keikhlasan.

  1. Hub

Hubb artinya cinta, senang, atau suka. Kecintaan kepada Allah adalah tujuan yang terjauh dan termasuk derajat paling tinggi, sedangkan kerinduan, kesenangan dan keridhaan mengikuti kecintaan. Mahluk yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat cintanya kepada Allah Ta’ala. Seorang pujangga cinta jika telah jatuh cinta kepada kekasihnya, apapun badai yang menghalangi kehidupan mereka, mereka akan memberikan nyawa sebagai taruhannya. Bagaimana jika cinta kita melebihi dari segala-galanya, Allah akan selalu memberikan kehidupan yang layak di dunia maupun di akhirat.

  1. Khusu’

Khusu’ adalah ketundukan hati, perasaan dan pikiran kepada Allah.Dalam Al-Qur’an istilah khusu’ sering di kaitkan dengan pelaksanaan ibadah shalat. Orang-orang yang melakukan shalat dengan khusu’ akan mendapatkan kebahagian dan kemenangan (Surat Al-Mukminun/23: 2). Dari pengertian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa khusu’ meyakini akan pertemuan dengan allah dan akan kembali kepada-Nya. Mengadakan hubungan kepada Allah, pemusatan konsentrasi adalah merupakan syarat utama.Khusu’ ini sangat erat kaitannya dengan ikhlas, karena sikap ikhlas seseorang itu membutuhkan kekhusu’an, terutama dalam hal ibadah kepada-Nya.

  1. Tawakkal

Tawakkal ialah menyerahkan atau mewakilkan. Dalam hal ini yang dimaksud tawakkal adalah menyerahkan suatu urusan kepada allah[2]. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an orang yang menyerahkan segalanya kepada Allah maka Allah akanmencintainya (Surat al-Imran/3: 159 dan Surat al-Anfal/8: 2).

Ar-Ragib al-Asfahani dalam Mufradat Alfazil-Quran menyatakan: at-Taukil artinya menyandarkan atas selainmu dan menjadikannya pengganti dirimu. Sedangkan didalam tafsir  al-Qurtubhi arti wakil dan tawakkaladalah:

والتوكل في اللغة اظهار العجز والاعتماد على الغير, وواكل فلان اذا ضيع امره متكلا على غيره.[3]

Tawakkal menurut bahasa ialah menampilkan kelemahan dan bersandar atas yang lain. Ungkapan wakala (mad wa) fulanun, kalau seseorang menyia-nyiakan urusannya dengan menyerahkan kepada yang lain.

Ungkapan tawakkal adalah ungkapan agama, ungkapan ruhaniyah yang berkaitan dengan keyakinan seseorang pada Allah dan berkaitan dengan tauhid.Manusia dalam kehidupan pribadi dan sosialnya, bahkan kehidupan ekonomi dan politik yang sehari-hari ia lewati memerlukan pihak lain. Kekurangan dan kelemahan memaksa manusia memerlukan bantuan, sandaran, penolong, pelindung yang dalam kesehariannya disebut wakil.Dalam ajaran Islam manusia dituntut untuk memiliki sifat tawakkal, tetapi tawakkal yang dimaksud disini yaitu dengan menyertai sifat motivasi seseorang untuk melakukan segala aktivitas, mendahulukan berusaha dan mengakhirkan tawakkal. Jangan semena-mena kita artikan, jika kita sudah tawakkal maka urusan dunia akan dengan sendirinya datang, ini pemikiran yang keliru dan harus diluruskan. Bahkan allah didalam al-qur’an menyuruh hambanya bertebar di muka bumi setelah mengerjakan ibadah kepada-Nya.

  1. Zikir dan syukur

Zikir dan Syukur dua istilah Qurani sebagai lawan dari kata ghaflah (lengah) dan kufr (ingkar).Zikir menurut Al-quran berarti menyebut atau mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring (Surat Ali Imran/3: 191). Jika seseorang sudah sering mengingat Allah maka Allah akan hadir dimanapun ia berada (Surat Al-Baqarah/2: 152).Syukur berarti memuji pihak yang dipuji lantaran kebaikan yang telah diberikan kepadanya kepada si pemuji (Al-Qurtubi).

Kedua makna yang saling bergandengan itu menunjukkan kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam. Imam Ghazali menuturkan pendapatnya tentang makna keduanya, perintah bersyukur secara bergandengan dengan perintah zikir menunjukkan kedudukan yang penting itu.[4]

ولذكر الله اكبر

Dan (ketahuilah) mengingat allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain).

Zikir dan Syukur sebuah kata yang komprehensif tetapi mencakup perbuatan hati, lisan dan anggota-anggota tubuh yang lain. Syukur merupakan motif tertinggi dalam ibada kepada Allah.Syukur tidak bersifat sepihak, tetapi resiprokal.Memberi dan menerima syukur secara timbal balik merupakan hubungan yang ideal antara Allah dan manusia. Sedangkan zikir jika disertai dengan hati yang ikhlas maka akan menghadirkan ketenangan dalam kehidupan kita. Saya tidak pernah melihat kemaksiatan yang paling besar kecuali orang yang berzikir tapi tidak disertai dengan hati (Imam Nawawi dalam kitab Irsyadul ‘Ibad bab al-Azdkar).

  1. Sabar

Sabar ialah keteguhan jiwa dalam menghadapi berbagai nikmat, bencana, atau tantangan.Sabar ini tidak bersifat statis atau pasif. Tetapi, sabar itu sebuah sifat yang tidak pantang menyerah sebelum apa yang ia capai, apa yang diterima itu ia dapat. Allah itu bersama orang-orang yang sabar (Surat Al-Baqarah/2: 153).Sabar ini merupakan bentuk relasi antara manusia dengan tuhannya.

Sabar dengan derivasinya disebutkan dalam al-quran sebanyak 103 kali yang tersebar di 45 surah, 40% dari keseluruhan surah al-quran yang berjumlah 114 di 93 ayat.Al-Makki mengatakantingginya perhatian al-quran dalam hal sabar ini bukan suatu yang berlebihan, akan tetapi kedudukannya yang sangat penting, bahkan setiap individu dipacu atau diwajibkan untuk mempunyai sifat sabar ini, jika ia ingin kepada derajat yang tinggi dalam hidup, baik secara materi maupun  maknawi, dalam kapasitas sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.

  1. Tobatdan Do’a

Tobat dan Do’a merupakan bentuk etika yang paling penting antara hamba dan sang Tuhan. Penggunaan bentuk tunggal dalam kata taubat adalah karena tidak ada satu mahlukpun dimuka bumi ini yang memeliki wewenang, atau terlibat dalam menerima atau menolak taubat, hanya Allah sendiri saja yang menerima taubat dan member pengampunan. Taubat tidak hanya berlaku kepada seseorang yang mempunyai kesalahn, melainkan untuk semua mahluk, apakah ia berbuat kesalahan atau tidak. Bahkan orang beriman sekalipun allah mengajak untuk bertaubat (Surat An-Nur/24: 31 dan Surat An-Nashr/110: 3).

Sedangkan do’a secara harfiah berarti mengajak, memanggil, atau memohon. Permohonan yang ditujukan kepadaAllah memerlukan tata cara, seperti halnya permintaan kepada manusia tersendiri. Tata cara inilah yang disebut etika. Do’a juga butuh sebuah mental, spiritual, fisikal, kesucian jiwa dan raga, beriman kepada allah, tidak syirik, makanan dan minuman yang halal, ringkasnya do’a itu hanya tetuju kepada tuhan sarwa sekalian alam (Surat Al-Baqarah/2: 186 dan Surat Al-Mukmin/40: 60).

  1. Etika dalam pergaulan dan persahabatan

Manusia jika dilihat dari dua sisi mempunyai perbedaan yaitu individual dan komunal atau sosial, manusia tidak bisa hidup secara individual dan terisolasi dari yang lain (Surat An-Nisa/4: 36) bahkan Allah mengancam kepada manusia yang memutuskan tali hubungan dengan sesama manusia (Surat Ali Imran/3: 112). Allah melarang manusia untuk membaikot dan meremehkan manusia yang lainnya, karena hal itu merupakan tradisi dari orang-orang jahiliyah pada waktu itu, nabi Muhammad sangat khawatir akan adanya tradisi orang-orang jahiliyah itu muncul kembali kepermukaan kita. Manusia bisa mencintai atau menyukai seseorang itu dikarenakan oleh kebaikannya atau karena ia menjadi alat tujuan di luar dirinya, dan tujuan itu berkaitan dengan kemaslahatan duniawi.

Dikatakan dalam oleh seorang penya’ir dari Bani Amir: Bukankah hatiku bergejolak karena mencintai rumah itu, tetapi karena aku mencintai orang yang tinggal di dalam rumah. Ambillah dari temanmu mana yang baik dan tinggalkan mana yang buruk, ini semua agar dalam bergaul akan tercipta norma-norma dan nilai-nilai di dalam pergaulan dan persahabatan. Dalam Surat Al-Imran ayat 112 terkandung makna pergaulan antar sesama manusia: pertama, berbuat baik kepada kedua orang tua. Kedua, berbuat baik kepada kerabat.Ketiga, berbuat baik kepada anak yatim.Keempat, berbuat baik kepada orang-orang miskin.Kelima, berbuat baik kepada tetangga dekat dan jauh.Keenam, berbuat baik kepada suami istri.Ketujuh, berbuat baik kepada ibnu sabil atau musafir dan para tamu.Kesembilan, berbuat baik kepada semua orang tanpa terkecuali.

  1. Etika dalam keluarga

Tatakrama dalam keluarga adalah sebuah impian dari setiap manusia. Menurut etika dalam pandangan Qurani, anak-anak, pembantu, anggota keluarga lainnya (selain suami istri) tidak dibolehkan untuk memasuki kamar atau ruangan kedua orangtuanya tanpa ada izin dari keduanya, ini menunjukkan betapa disiplinnya etika dalam keluarga. Dalam hal ini, Al-Qur’an secara tidak langsung telah mengajarkan kesopanan dan pendidikan seks kepada anak-anak.Mengenai suatu etika perizinan ini tidak ada pengecualian, apakah anak kecil ataupun orang dewasa.

Etika ini sangat erat kaitannya dari pendidikan yang diajarkan oleh keluarganya kepada anak-anaknya maupun yang ada dalam lingkungan rumah tersebut, karena tanpa pendidikan manusia akan mengalami keterpurukan norma-norma dan nilai-nilai syariat.

  1. Etika anak kepada kedua orang tua

Seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya adalah sebuah kewajiban mutlak, karena ridha allah tergantung ridha kedua orang tua dan murka allah tergantung murka keduanya (Hadits). Jagalah kedua orang tuamu sampai beliau meninggalkan kita, kedua orang tua selalu merindukan dekapananak-anaknya. Allah memberikan sebuah tatacaraberetika antara anak kepada kedua orang tuanya di dalam Al-qur’an, dimana seorang anak tidak diperbolehkan mengucapkan kata “Ah” ketika orang tua menyuruhnya (Al-Isra/17: 23),bahkan ketika kita shalat orang tua kita memanggil kita maka Rasulullah menyuruh untuk membatali dan mendekatinya. Orang tua adalah salah satu yang kita taati selagi mereka tidak menyuruh kepada kemungkaran atau kemaksiatan. Perjuangan kedua orang tua untuk kita bisa dijadikan sebuah renungan, dimana mereka berani mempertaruhkan nyawanya demi terlahirkan seorang bayi yang dinanti-nantinya dari hari pertama sejak beliau mengandung, namun tak beretikalah kita jika  mendurhakai keduanya?, surga haram untuknya dan nerakalah tempatnya[5].

Sebesar apapun bentuk bakti anak terhadap kedua orang tuanya, bahkan sebesar apapun biaya yang dikeluarkan untuk keduanya, tidaklah cukup membalas budi baik keduanya.

لا يجزي ولد والدا الا ان يجده مملوكا فيشتريه فيعتقه

“Tidaklah mungkin seorang anak bisa membalas (budi baik) orang tuanya kecuali jika ia menemukan orang tuanya itu sebagai budak, lalu ia membelinya dan membebaskannya”.[6]

Sungguh ibu telah mengandung serta menyusui dalam keadaan lemah dan bertambah lemah, rahimnya terdapat udara, payudaranya terdapat kesegaran, walaupun seseorang mampu berbuat demikian. Sungguh terdapat perbedaan krusial, karena ibu mengaharapkan keselamatan anaknya, sedangkan yang lain mengharapkan kematian keduanya.

Siapapun kita, tentu tidak ingin menjadi anak durhaka atau orang tua yang mempunyai anak yang durhaka. Ragam kriminalitas kedurhakaan anak terhadap orang tua telah banyak kita saksikan di berbagai media massa; anak mengusir orang tua, memukul bahkan sampai ada yang membunuhnya.Kedurhakaan anak terjadi dengan sendirinya, seakan tanpa ada sebab dan pengaruh yang mengarahkan anak untuk bertindak durhaka.

Dari Abu Hurairah ra berkata: bahwa Rasulullah SAW memegang tangan Al-Hasan dan Al-Husain, lalu meletakkan kedua kaki keduanya di atas kaki beliau, lantas beliau bersabda, “naiklah.” Ini menunjukkan betapa potensialnya jika kita melihat gambaran dari keluarga Rasulullah SAW, yang dimana keberadaan antara kedua orang tuanya dan anak-anaknya tidak ada jarak.Semoga kita bisa melihat lebih banyak lagi hadits-hadits yang menceritakan prilaku antara anak kepada kedua orang tuanya.

  1. Etika kepada lingkungan

Berbicara lingkunngan maka kita akan berbicara alam makro selain manusia. Allah melarang kepada kita untuk berbuat kerusakan dimuka bumi ini (Surat al-Baqarah/2: 60 dan Surat ar-Rum/30: 41). Kita diajarkan oleh islam untuk menata segala aspek kehidupan dengan sebaik-baik mungkin khususnya menata lingkungan alam makro, karena allah menyukai sesuatu yang indah dan manusia di suruh mengindahkan atau melestarikan alam makro ini dengan sebaik mungkin.

Manusia yang kreativitasakan menata lingkungan ini dengan baik tanpa dia akan meminta imbalan terlebih dahulu, jika orang mempunyai sifat ini secara tidak langsung dia akan memulai sesuatu dari dirinya sendiri dan mengajak orang. Saat ini kita sangat jauh dari memulai sesuatu itu dari diri kita sendiri,kita selalu di perbudak oleh orang yang tidak mempunyai jiwa menteladani, bukankah keberhasilan Raasulullah itu dengan adanya jiwa raga yang suka mempraktekkan atau memulai sesuatu dari dirinya dan setelah itu dia mengajak masyarakat, bukankah keberhasilan Rasulullah juga jika ditilik dari segi keindahan beliaulah orang yang paling menyukai keindahan dan beliaulah orang sangat menyukai kebersihan (HR. Muslim). Dan bentuk kepedulian kita dalam menjaga alam makro ini adalah sebuah bentuk iman kita kepada allah.

Kajian etika kepada lingkungan ini kita tidak bisa lepas dari kejadian-kejadian yang menimpa kita saat ini dimana kondisi lingkungan di dunia muslim malah sangat parah disebabkan kesadaran terhadap pemeliharaan lingkungan pun masih sangat rendah, sehingga dalam hal manajemen lingkungan, negara kaya minyak seperti di Timur Tengah: dalam persoalan lingkungan masih dianggap sebagaimana negara berkembang dan terbelakang (Foltz 2005).

Kekayaan yang melimpah secara finansial yang dimiliki oleh muslim di Timur Tengah ternyata tidak mendatangkan dampak yang signifikan pada muslim di belahan bumi yang lain. Sesuatu yang amat disayangkan bahwa sesungguhnya sesama mukmin adalah bersaudara seperti dinyatakan dalam Al-Quran (QS 49:10) ternyata tidak diimplementasikan secara baik di dunia muslim.

Kondisi ini diperparah lagi dengan rendahnya pemahaman akan nilai-nilai Islam secara praktis dalam soal perawatan lingkungan, sehingga tidak mengherankan, di dunia muslim kita menjumpai banyak sungai menjadi tempat pembuangan akhir sampah. Atau masyarakat masih menganggap lingkungan atau bumi ini merupakan tempat yang bisa diperlakukan sekehendak hati mereka, tanpa mempedulikan masa depan dan tanggung jawab mereka sebagai khalifah.

Jelas, perilaku semacam ini sangat bertentangan dengan semangat Islam sesungguhnya yang menyuruh berbuat kebaikan dan tidak membuat kerusakan (QS 7:35;56).Menghormati segala makhluk di bumi karena mereka juga ummat seperti halnya manusia (QS 6:38) dan sebagai khalifah manusia telah sanggup menerima amanah, sedangkan makhluk yang lain seperti langit, bumi, dan gunung-gunung enggan menerimanya (QS 33:72).

Fenomena kerusakan lingkungan selama ini disinyalir karena selama ini muslim tidak mempedulikan ajaran lingkungan yang mereka miliki dan mematuhi ajaran universal tersebut sebagaimana tercantum dalam kitab suci dan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena itu, penggalian secara komprehensif ajaran dan etika Islam tentang lingkungan mutlak diperlukan, lalu diajarkan dan dipraktekkan sebagai nilai-nilai universal sebagaimana halnya implementasi Ubudiyah yang lain, termasuk dalam hal transaksi ekonomi dan teknologi yang mempengaruhi terhadap kerusakan lingkungan (Fachruddin M. Mangunjaya).

  1. Etika bermuamalah dan dalam berusaha

Memutuskan hubungan keharmonisan dan kerjasama kepada semua pihak ini merupakan sebuah penyimpangan, memanipulasi dan mengeksploitasi dalam kegiatan transaksi di antara manusia. Apapun bentuk makna yang dimaksud oleh setiap orang yang memahami konteks keharmonisan, persaudaraan dan sebagainya ini semua tidak terlepas dari jalinan komunikasi bahkan network untuk mengisyaratkan keharmonisan dan kekuatannya, di samping pencairan yang beku dan penghangatan yang dingin. Sedemikiannya makna dan kandungan yang diterapkan oleh nabi kita Muhammad SAW. Dalam Al-qur’an Surat al-Baqarah mengeksplisitkan etika bermuamalah dengan membagi beberapa bagian: pertama, mengenai hutang piutang hendaklah dibuat catatan dalam bentuk buku atau tulisan agar terhindar dari kecurangan dan penipulasian dalam bertransaksi dalam bermuamalah. Kedua, perjanjian adalah persetujuan tertulis atau lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, syarat, persetujuan resmi antara dua negara atau lebih di bidang politik, keamanan, ekonomi dan sebagianya.Ketiga, transaksi adalah persetujuan jual beli antara dua orang saksi laki-laki, jika tidak ada dua orang laki-laki maka boleh juga disaksikan oleh satu orang laki-laki dan dua orang perempuan.Keempat, pembatasan waktu akhir penagihan hutang.Kelima, jika si-pencatat tidak bisa menulis atau mudah lupa maka boleh diwakilkan oleh walinya.Keenam, jika transaksi mengalami sesuatu yang bersifat darurat seperti berada dalam perjalanan, maka boleh dengan agunan (jaminan, garansi, tanggungan).Ketujuh, kedua belah pihak harus mempunyai sifat jujur, jika seseorang berdusta ia ditulis disisi Allah sebagai pendusta (Muttafaq Alaih). Dalam hal ini al-qur’an sangat menitik beratkan dengan perpaduannya sifat-sifat nabi Muhammad saw yaitu jujur, amanah, cerdas dan meyampaikan yang hak walaupun itu pahit, dari adanya sifat-sifat di atas maka secara otomatisakan menghilangkan sifat-sifat kebohongan, kezaliman, pengkhianatan dari kedua belah pihak dan akan menghadirkan kejujuran, keotentikan serta tranparansi dalam bermuamalah.

من حمل علينا السلاح فلبس منا, ومن غشنا فليس منا

“Barangsiapa membawa senjata (dalam keadaan terhunus) kepada kami, ia bukan termasuk golongan kami. Dan barangsiapa menipu kami, ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)

Seorang muslim sejati harus istimewa dengan beberapa sifat ini: pertama, Jujur. Kedua, Tidak menipu dan berkhianat. Ketiga, Tidak dengki. Keempat, Memberi nasihat. Kelima, menepati janji. Keenam, berahlak. Ketujuh, pemalu. Kedelapan, menyanyagi orang lain. Kesembilan, pemaaf. Kesepuluh, tolerans. Kesebelas, ceria. Keduabelas, Ramah. Ketigabelas, Sabar. Keempatbelas, Menjauhi caci-maki dan perkataan kotor. Kelimabelas, Tidak menuduh orang lain Fasik atau Kafir tanpa bukti yang akurat. Keenambelas, Jauh dari ghibah dan mengahasut. Ketujuhbelas, Menjauhi kesaksian palsu.  Kedelapanbelas, Menjauhi buruk sangka. Kesembilanbelas, Menjaga rahasia. Keduapuluh, Tidak bicara rahasia dengan orang kedua, padahal ada orang ketiga. Keduapuluh satu,Tidak arogan. Keduapuluh dua, Tawadhu’ dan lain sebagainya. Sifat-sifat yang sebagian besar saya tulis diatas itu merupakan titik poin kita dalam bermuamalah, karena banyak orang-orang yang jauh dari harapan kita.

  1. Etika berbusana

Pedoman berbusana baik laki-laki atau perempuan  sangat menentukan kepribadian seseorang. Kerapian memakai busana atau pakaian akan mencerminkan bagaimana seseorang memandang kehidupan ini, karena seseorang pertama yang akan dilihatnya apa yang tampak oleh panca indranya tanpa bisa dipungkiri. Maka dalam pendidikan telah kita kenal metode praktek dan teladan dalam hal ini diungkap bagaimana pelaksanaan sesuatu untuk ditiru, terutama bila hal itu dilaksanakan oleh orang yang mempunyai kedudukan tertinggi serta para penyampai ilmu  pengetahuan dan lain sebagainya.

Dalam Al-qur’an Surat An-Nur ayat 30, Allah SWT memerintahkan kepada kaum laki-laki dan kaum perempuan untuk selalu menundukkan pandangannya serta menjaga kehormatan dirinya. Kehormatan diri disini bisa diartikan apabila seseorang menjaga busana atau pakaiannya dengan memakai pakaian yang telah ditentukan syarat mutlaknya oleh Allah SWT tentang batas-batas aurat kaum laki-laki dan kaum perempuan, pakaian yang tidak mengundang gairah atau keinginan seseorang untuk melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan. Sekarang ini justru telah hilangnya harga diri baik itu laki-laki maupun perempuan, padahal Sunnah nabi telah menyatakan batas aurat laki-laki antara pusat dan lutut sedangkan perempuan seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Saat ini laki-laki sudah memakai pakaian perempuan dan begitu pula perempuan sudah menyerupai gaya pakaian dan tingkah pola laku laki-laki. Barangsiapa meniru suatu kaum maka dia akan termasuk pada golongan tersebut (Hadits).Tetapi nasihat ini sirna seketika tanpa diketahui oleh kebanyakan kaum laki-laki dan kaum perempuan, seorang laki-laki bangga dengan memakai anting-anting dan sebagainya dan perempuan bangga dengan memakai pakaian yang tidak menutup auratnya, sudah bergantian peraturan batas aurat di antara keduanya.

Cara pemeliharaan kehormatan diri ialah dengan tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuh kepada orang lalin.Pakaian yang tipis dan sempit ini dipandang oleh beberapa pakar ilmuwan kita seperti tidak memakai pakaian, karena mereka tidak lebih hanya untuk mempertontonkan lekuk tubuhnya kepada khalayak.Dengan begitu, harga manusia seperti harga hewan yang suka memamerkan kegemukan tubuhnya dan untuk memperjualbelikan harga dirinya. Dalam sunnah shahih telah disebutkan larangan memakai pakaian yang ketatbagi kaum wanita. Diriwayatkan dari Usamah bin zaid Al-Kalbi ia berkata:

“Rasulullah memberiku pakaianQibtiyah yang tipis.Dahulu pakaian itu dihadiahkan kepada Dihyah Al-Kalbi.Lalu aku berikan pakaian itu kepada istriku.Rasulullah bersabda kepadaku: “mengapa engkau tidak mengenakan pakaian Qibtiyah?” aku berkata: “wahai Rasulullah, aku telah memberikannya kepada istriku.” Maka Rasulullah bersabda:

مرها فلتجعل تحتها غلالة اني اخاف ان تصف حجم عظامها

“Perintahkan kepadanya agar ia mengenakan pakaian dalam karena aku khawatir (kalau tidak mengenakan pakaian dalam) akan menampakkan bentuk tubuhnya.”[7]

Islam dengan syari’atnya yang lapang dan undang-undangnya yang lurus menuntut diciptakannya sebuah masyarakat muslim yang kuat dan kokoh yang di pimpin oleh rasa aman dan damai. Jauh dari fitnah perkara yang akibatnya dapat melemahkan bangunan masyarakat tersebut. Oleh karena itu islam sangat memperhatikan undang-undang yang mengatur hubungan antara dua jenis, laki-laki dan wanita. Yang diharapkan dapat membawa manfaat yang menyeluruh.

Di antara bentuk undang-undang syari’at adalah perintah untuk memakai pakaian yang sopan dan menjaga perhiasan khususnya kaum wanita agar tidak menampakkan perhiasannya kepada laki-laki asing.Dalam rangka agar menghindari kejahatan syahwat dan gejolak hawa nafsu, dan pandangan yang haram kepada lawan jenis yang sering kali menggiring kepada hubungan dua jenis yang tidak syar’i yakni perzinaan.

KESIMPUILAN

Etika merupakan sebuah ilmu tersendiri yang harus kita pelajari dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila seseorang tidak mempunyai tingkah laku yang baik dan benar maka dia akan jauh dari tuhan sarwa sekalian alam, manusia yang akan berjumpa dengan allah harus membawa perangai yang baik dan bersih (Hadits). Adapun bagian-bagian dari etika ini bisa mengahantarkan kita menuju manusia yang kepada budi pekerti yang baik dan benar serta bisa menjadikan kita orang yang bertakwa kepada Allah swt: etika manusia kepada Allah, etika dalam pergaulan dan persahabatan, etika dalam keluarga, etika anak kepada kedua orang tua, etika kepada lingkungan, etika bermuamalah dan dalam berusaha, etika berbusana, dan masih banyak lagi macam-macam etika yang harus kita ketahui dan kita amalkan, tetapi tidaklah dari kesemuannya saya tulis dalam karang ilmiyah ini, bentuk-bentuk etika di dalam karangan ilmiyah ini adalah garis besar etika yang ada sangat dominan dalam kehidupan kita saat ini. Agar bagaimana dewasa ini kita mampu meletakkan norma-norma dan nilai-nilai kepahlawanan dalam bingkai perjuangan untuk keluar dari keterbelakangan multidimensi:

انما الامم الاخلاق مابقيت – فان همو ذهبت اخلاقهم ذهبوا

Kelanjutan eksistensi satu masyarakat (orang) ditentukan oleh tegaknya moral anggota masyarakat itu dan kepunahannya terjadi pada saat keruntuhan moralnya.

Kesempurnaan manusia, menurut Ibnu Maskawih: terletak pada dua pokok, pertama, potensi berpengetahuan yang dengannya dia aktualkan sehingga dapat meraih aneka ilmu dan ma’rifah. Sedang yang kedua, potensi ‘amaliah yang tercermin kesempurnaannya pada pengaturan yang baik menyangkut tata cara pribadi dan masyarakat. Terima kasih


[1] . al-Jurjani, at-Ta’rifat, (al-maktabah syamilah), jilid 1, h. 3.

[2] . Ruhul-Balbaki,al-Maurid a modern Arabic-English Dictionary

[3] . Ibnu Kasir, tafsir al-qur’an al-karim, jilid II, h. 197.

[4] . Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi, al-Luma, h. 42

[5] . HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi, dan perawi-perawi hadits ini shahih.

[6] . HR. Muslim, Tirmidzi, dan Abu Dawud.

[7]. Hadits riwayat Ahmad (V/205) dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Uqeil dari Ibnu Usamah bin Zaid dari ayahnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s