KAIDAH-KAIDAH KEBAHASAAN (QAWAID LUGHAWIYAH)

Setelah kita memahami secara singkat tentang kaidah-kaidah tafsir, kita juga perlu memahami tentang apa saja yang termasuk dalam kajian kaidah-kaidah kebahasaan. Namun, sebelum itu, kita harus mengerti apa maksud dari kaidah kebahasaan di sini.

Istilah qawaid lughawiyah terdiri dari dua kata, kata qawaid dan kata lughawiyah. Pertama, adalah kata qawaid merupakan jama’ dari kata kaidah yang secara bahasa berarti aturan, rumusan atau asas-asas. Kedua, adalah kata lughawiyah yang secara bahasa berarti apa saja yang berkaitan dengan unsur-unsur kebahasaan.

Sedangkan menurut istilah, qawaid lughawiyah adalah aturan-aturan mendasar yang menjadi standar untuk dipakai dalam pemahaman ayat-ayat al-qur’an yang ditinjau dari sudut kebahasaan. Kaidah tersebut dipakai berdasarkan makna, susunanm gaya bahasa, dan tujuan ungkapan-ungkapan yang telah diterapkan oleh para ahli bahasa arab. Sering kali, kaidah ini disebut juga sebagai kaidah ushuliyah atau kaidah istinbathiyah. Disebut sebagai kaidah ushuliyah, karena kaidah ini digunakan sebagai standar dalam memahali dan menetapkan hukum syara’ yang ditinjau dari segi kebahasaan. Kemudian, disebut sebagai kaidah istinbathiyah, karena kaidah ini dipergunakan dalam menggali dan memperoleh hukum-hukum syara’ dari dalil-dalil yang terperinci.

Macam-macam Qawaid Lughawiyah

Ada banyak hal yang berkaitan dengan kaidah ini, namun di sini kami akan menerangkan sebagian saja. Di antaranya adalah sebagai berikut:

‘Am dan Khas

  1. ‘Am dan pengertiannya

‘Am adalah lafadz yang mencakup segala sesuatu yang pantas baginya tanpa ada pembatasan. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa dalam bahasa terdapat bentuk-bentuk lafadz tertentu yang secara hakiki dipergunakan untuk menunjukkan makna ‘Am dan dipergunakan secara majas pada yang selainnya itu berdasarkan beberapa argumen dari dalil-dalil tekstual (nash), ijma’, dan kontekstual (maknawiyah).

  1. Nash

Contohnya terdapat dalam surat Hud ayat 45-46

ونادى نوح ربه فقال رب إن ابني وإن وعدك الحق وأنت خير الحاكمين قال يا نوح إنه ليس من أهلك …

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya, ‘’Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itu benar. Dan Engkau hakim yang paling adil’’. Allah berfirman, ‘’Hai Nuh, sesungguhnya ia bukan termasuk keluargamu’’.

Dalam ayat ini Allah membenarkan apa yang dikatakan Nuh. Karena itu Allah menjawab dengan suatu perkataan yang menunjukkan bahwa anaknya itu tidak termasuk keluarganya. Seandainya penyandaran kata keluarga kepada Nuh tidak menunjukkan makna umum, maka jawaban Allah itu tidak benar.

  1. Ijma’iyah sahabat

Contohnya terdapat dalam surat An-Nur ayat 2

الزنية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina , maka deralah tiap-tiap dari mereka seratus kali deraan’’.

Ayat tersebut bermakna umum, sehingga berlaku dan diterapkan kepada semua yang berzina baik laki-laki maupun perempuan.

  1. Dalil-dalil maknawiyah yang dalam hal ini hanya bisa dipahami dari penggunaan lafadz syarat, istifham dan maushul.

Atas dasar semua ini, makna umum mempunyai bentuk (shighat) tertentu yang dapat dipergunakan, antara lain sebagai berikut:

1)      كل, seperti yang terdapat pada surah Ali Imran ayat 185

كل نفس ذائقة الموت

2)      Lafadz-lafadz yang dima’rifatkan denganأل  yang bukan  أل’ahdiyah.

Misalnya adalah surah Al’ashr ayat 1-2

والعصر إن الإنسان لفى خسر

 Yang maksud setiap manusia pada ayat tersebut, berdasarkan penjelasan ayat selanjutnya (ayat 3).

3)      Isim nakirah dalam konteks nafi dan nahi, seperti yang terdapat pada surah Al-baqarah ayat 197

فلا رفث ولا فسوق ولا جدال فى الحج

Dan yang terdapat pada Al-isra’ ayat 23

فلا تقل لهما أف

4)      Alladzi dan allati serta cabang-cabangnya seperti dalam surah Al-ahqaf ayat 18

أولىئك الذين حق عليهم القول

        Semua isim syarat. Misalnya dalam surah Al-baqarah ayat 158:

فمن حج البيت أوعتمر فلا جناح عليهما

5)      Ismul jinsi (kata jenis) yang disandarkan kepada isim makrifat. Misalnya yang terdapat pada surah An-nur Ayat 63

فليحذر الذين يخالفون عن أمره

  1. Macam-macam ‘Am

Di antara yang termasuk dalam ‘Am adalah sebagai berikut:

a)      Umum yang tetap dalam keumumannya (albaqi ‘ala umumihi).

Contoh:

Surah An-nisa’ ayat 176

والله بكل شيئ عليم

Surah An-nisa ayat 23

حرمت عليكم أمهاتكم

b)      Umum tetapi yang dimaksud adalah khusus (al’am almurad bihi alkhusus).

Misalnya yang terdapat pada surah Ali Imran ayat 173

الذين قال لهم الناس إن الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم

 Dalam ayat ini yang dimaksud dengan الناس yang pertama adalah Nu’aim bin Mas’ud, sedangkan الناس yang kedua adalah Abu Sufyan. Bukan الناس (manusia) secara umum.

c)      Umum yang dikhususkan (Al ‘am almakhsus)

Misalnya yang terdapat pada surah Ali Imran ayat 97

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا

  1. Perbedaan antar ‘Am yang bermakna khusus dengan ‘Am yang dikhususkan

1)      Yang pertama (‘Am yang bermakna khusus), tidak dimaksudkan untuk mencakup semua satuan yang dicakupnya sejak semula, baik dari segi cakupan makna maupun hukumnya. Sedang yang kedua (‘Am yang dikhususkan) dimaksudkan untuk menunjukkan makna umum meliputi semua satuannya, dari segi cakupan makna, tidak dari segi hukumnya. Makna lafadz الناس dalam Ali Imran 173 meskipun bermakna umum, tetapi yang dimaksud lafadz dan hukumnya adalah hanya satu orang. Adapun lafadz الناس dalam Ali Imran 97 adalah lafadz umum, tetapi yang dimaksud adalah semua individu yang bisa dicakup oleh lafadz, meskipun haji hanya meliputi orang yang mampu saja di antara mereka secara khusus.

2)      Yang pertama (‘Am yang bermakna khusus) dapat dipastikan mengandung majas, karena ia telah beralih dari makna aslinya. Sedang yang kedua (‘Am yang dikhususkan) adalah hakikat.

3)      Qarinah yang pertama pada umumnya bersifat rasional (aqliyah) dan tidak terpisah, sedang yang kedua bersifat hanya lafdziyah dan terkadang terpisah.

Khas dan pengertiannya

Khas adalah lawan kata ‘am, karena ia tidak menghabiskan semu yang pantas baginya tanpa adapembatasan. Sedangkan takhsis adalah mengeluarkan sebagian apa yang dicakup lafadz ‘am. Dan mukhasis (yang mengkhususkan) terkadang muttasil (antara ‘am dengan mukhasis tidak dipisah oleh sesuatu ha)l, dan juga ada kalanya munfasil.

Macam Muttasil ada 5 yaitu:

  1. Istitsna’(pengecualian), seperti dalam surah An-nur ayat 4-5

وأولىئك هم الفاسقون إلا الذين تابوا من بعد ذلك

 dan Al-maidah ayat 33-34

ولهم عذاب أليم إلا الذين تابوا من قبل أن تقدروا عليهم

  1. Sifat, misalnya dalam surat An-nisa ayat 23

 وربائبكم اللاتي فى حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن

Lafadz  اللاتي دخلتم بهن adalah sifat bagi lafadz نسائكم

  1. Syarat, misalnya yang terdapat pada surah Al-baqarah ayat 180

كتب عليكم إذا حضر أحدكم الموت إن ترك خيرا الوصية للوالدين والأقربين بالمعروف

 إن ترك خيرا (meninggalkan harta) adalah syarat dalam wasiat.

  1. Ghayah (batas sesuatu), seperti dalam surah Al-baqarah ayat 196

ولا تحلقوا رؤوسكم حتى يبلغ الهدي محله

  1. Badal ba’dh minal kulli (pengganti sebagian dari keseluruhan), misalnya dalam surah Ali Imran ayat 97

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا

 Lafadz من استطاع adalah badal dari الناس

Adapun mukhasis munfasil adalah mukhasis yang terdapat dalam tempat lain, baik ayat, hadits, ijma’, maupun qiyas.

Contoh yang ditakhsis oleh Alquran adalah Al-baqarah ayat 228

والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء

ditakhsis oleh At-thalaq ayat 4

وأولات الأحمال أجلهن أن يضعن حملهن

dan Al-ahzab ayat 49

فما لكم عليهن من عدة

Contoh dalil yang ditaksis oleh hadits adalah Al-baqarah ayat 275

وأحل الله البيع

” ditakhsis oleh jual beli yang fasid sebagaimana dalam sejumlah hadits.

Contoh ‘am yang ditakhsis oleh ijma’ adalah  An-nisa ayat 11

يوصيكم الله فى أولادكم للذكر مثل حظ الأنثيين

 ditakhsis oleh ijma’ bahwa budak tidak mendapat warisan karena sifat budak merupakan faktor penghalang hak waris.

Sedangkan yang ditakhsis oleh qiyas adalah An-nur ayat 2

الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة

Budak laki-laki ditakhsiskan dengan cara diqiyaskan kepada budak perempuan. Pentakhsisannya ditegaskan oleh An-nisa ayat 25

فعليهن نصف ما على المحصنات من العذاب

Kadang juga kita jumpai Alquran mentakhsis keumuman As-sunnah seperti hadits Nabi

ما قطع من البهيمة وهي حي فهي ميت

yang ditakhsis oleh An-nahl ayat 80

ومن أصوافها وأوبارها وأشعارها أثاثا ومتاعا إلى حين

 Muthlaq dan Muqayyad

  1. Definisi

Muthlaq adalah lafadz yang menunjukkan satu hakikat tanpa suatu qayyid (pembatas). Jadi ia hanya menunjuk kepada satu dzat tanpa ditentukan yang mana dan seperti apa. Lafadz muthlaq biasanya berbentuk nakirah.

Seperti lafadz raqabah  dalam ayat فتحرير رقبة  yang mencakup memerdekakan budak yang dimiliki, apapun jenisnya baik muslim maupun kafir.

Adapun muqayyad adalah lafadz yang menunjukkan suatu hakikat dengan qayyid (batasan), seperti lafadz raqabah yang dibatasi dengan iman dalam  An-nisa ayat 92

فتحرير رقبة مؤمنة

  1. Pembagian Muthlaq, Muqayyad, dan Hukumnya

a)      Sebab dan hukumnya sama, seperti puasa untuk kaffarat sumpah yang terdapat dalam surah Al-maidah ayat 89

فمن لم يجد فصيام ثلاثة أيام ذلك كفارة أيمانكم إذا حلفت

 Puasa itu dibatasi dengan attatabu’ (berturut-turut).

b)      Sebab sama, tapi hukum berbeda, seperti kata tangan dalam wudlu dan tayamum. Membasuh tangan dalam berwudlu dibatasi sampai dengan siku yang tersebut dalam Al-maidah ayat 6

فاغسلوا وجوهكم إلى المرافق

Sedangkan menyapu tangan dalam tayamum muthlak tidak dibatasi seperti tersebut dalam Al-maidah ayat 6 pula

فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم منه

c)      Sebab berbeda tetapi hukumnya sama, dalam hal ini ada 2 bentuk, yaitu

Pertama, taqyid atau batasannya hanya satu misalnya pembebasan budak dalam hal kaffarat. Budak disyaratkan harus budak beriman dalam hal pembunuhan tak sengaja An-nisa ayat 92

ومن قتل مؤمنا خطاء فتحرير رقبة مؤمنة

 Sedang dalam kaffarah zhihar disebutkan secara muthlaq Almujadalah ayat 3

فتحرير رقبة من قبل أن يتماسا

Yang kedua, taqyidnya berbeda. Misalnya puasa kaffarat ia ditaqyidkan dengan berturut-turut dalam kaffarat pembunuhan An-nisa ayat 92

فمن لم يجد فصيام شهرين متتابعين

Demikian juga dalam kaffart zhihar Al-mujadalah ayat 4

فمن لم يجد فصيام شهرين متتابعين من قبل أن يتماسا

d)     Sebab dan hukumnya berbeda, seperti tangan dalam berwudlu dan dalam pencurian, ia dibatasi sampai dengan siku, sedang dalam pencurian dimuthlaqkan tanpa ada batasan.

Manthuq dan Mafhum

  1. Definisi Manthuq dan Pembagiannya

Manthuq adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh lafadz pada saat diucapkan; yakni penunjukkan makna berdasarkan materi huruf-huruf yang diucapkan.

Manthuq berupa nash, zhahir, muawwal, iqtidla’, dan isyarat.

Nash adalah lafadz yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara tegas (sharih) tidak mengandung kemungkinan makna lain. Contohnya seperti dalam Al-baqarah ayat 196

فصيام ثلاثة أيام فى الحج وسبعة إذا رجعتم تلك عشرة كاملة

Penyebutan kata  عشرة dengan كاملة telah mematahkan kemungkinan diartikan lain secara majas.

Di bawah ini akan dijelaskan secara rinci mengenai penggunaan manthuq:

a)      Zhahir adalah lafadz yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah. Contohnya dalam Al-baqarah ayat 173

فمن اضطر غير باغ ولا عاد

Lafadz باغ digunakan untuk makna jahil (bodoh) dan azh-zhalim (melampaui batas). Tetapi makna kedua lebih tegas dan populer sehingga inilah yang kuat (rajih), sedang makna pertama lemah (marjuh).

b)      Muawwal adalah lafadz yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi pemaknaannya dari makna rajih. Misalnya dalam Al-isra ayat 24

واخفض لهما جناح الذل من الرحمة

Lafadz جناح الذل  di sini dimaknai dengan tunduk, tawadlu dan bergaul secara baik kepada orang tua, tidak diartikan dengan sayap.

c)      Dilalah  Al Iqtidla’ adalah penunjukkan suatu makna lafadz yang bergantung kepada makna yang tidak disebutkan. Misalnya dalam surah An-nisa ayat 23

حرمت عليكم أمهاتكم

 Ayat ini memerlukan kata yang tidak disebutkan, yaitu al wath’u (bersenggama). Sehingga maksudnya adalah diharamkan atas kamu bersenggama dengan ibu-ibumu.

d)     Dilalah Al Isyarat adalah penunjukkan suatu makna lafadz yang sebenarnya tidak dimaksudkan pada mulanya. Misalnya dalam surah Al-baqarah ayat 187

أحل لكم الصيام الرفث إلى نسائكم هن لباس لكم وأنتم لباس لهن

 Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang yang paginya masih dalam keadaan junub, sebab ayat ini membolehkan bercampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan mandi.

  1. Definisi Mafhum dan Macamnya

Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafadz, tidak berdasarkan pada bunyi ucapan. Terbagi menjadi dua: mafhum muwafaqah dan mafhum mukhalafah.

  1. Mafhum muwafaqah adalah makna yang hukumnya sesuai dengan manthuq.
    1. Fahwal khithab, yaitu makna yang dipahami itu lebih utama diambil hukumnya daripada manthuqnya. Misalnya haramnya  mencaci maki dan memukul kedua orang tua yang dipahami dari Al-isra’ ayat 23

فلا تقل لهما أف

( Manthuq ayat ini adalah haramnya mengatakan ah, oleh karena itu, keharaman mencaci dan memukul lebih pantas diambil karena lebih berat.

  1. Lahnul khithab, yaitu apabila hukum mafhum sama nilainya dengan hukum manthuq. Misalnya terdapat dalam surah An-nisa ayat 10

إن الذين يأكلون أموال اليتمى ظلما إنما يأكلون فى بطونهم نارا

Ayat ini menunjukkan pula keharaman merusak dan membakar harta anak yatim atau menyia-nyiakannya. Ini karena sama nilainya dengan memakannya sampai habis.

  1. Mafhum Mukhalafah adalah makna yang berbeda dengan manthuq. Ada 4 macam, yaitu:
    1. Mafhum sifat (maknawi), seperti

1)      Musytaq dalam ayat Alhujurat 6

يا أيها الذين أمنوا إن جاءكم فاسق بنباء فتبينوا

 Yang dipahami dari kata fasiq adalah bahwa orang yang tidak fasiq tidak wajib diteliti beritanya. Ini berarti bahwa berita dari orang yang adil wajib diterima.

2)      Hal, misalnya dalam Al-maidah ayat 95

ومن قتله منكم متعمدا فجزاء مثل ما قتل من النعم

Ayat ini menunjukkan tiada hukuman bagi orang yang membunuh dengan tidak sengaja.

3)      ’Adad, misalnya dalam Albaqarah ayat 197

الحج أشهر معلومات

Mafhumnya adalah bahwa melakukan ihram haji di luar bulan-bulan itu tidak sah.

  1. Mafhum Syarat, seperti dalam At-thalaq ayat 6

وإن كن أولات حمل فأنفقوا عليهن

Maknyanya adalah istri yang dicerai tetapi tidak sedang hamil, tidak wajib diberi nafkah.

  1. Mafhum Ghayah (batas maksimal), seperti dalam Albaqarah ayat 230

فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره

Mafhumnya adalah istri tersebut halal bagi suami pertama sesudah ia menikah dengan suami lain, dengan memenuhi syarat-syarat.

  1. Mafhum Hashr (pembatasan), seperti dalam Al-fatihah ayat 5

إياك نعبد وإياك نستعين

Mafhumnya adalah bahwa selain Allah tidak disembah dan tidak dimintai pertolongan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s