ARAB PRA ISLAM

Oleh: Andi Abrar

 Masyarakat Arab Pra Islam

Peradaban Islam tidak dapat dipisahkan  dari keadaan yang terjadi pada masyarakat di jazirah Arab baik dari segi adat istiadatnya, pemerintahannya, dan agama yang dianutnya karena disinilah awal dari penyebaran risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw., yaitu agama Islam. Dalam sejarahnya  jazirah Arab pada umumnya dibagi menjadi tiga periode yaitu: pertama, Periode Saba-Himyar (yang berakhir pada abad keenam Masehi), kedua Periode Jahiliah (sekitar satu abad menjelang kelahiran Islam), ketiga Periode Islam (sejak kelahiran Islam hingga masa sekarang).

Jazirah Arab atau yang juga kita kenal dengan semenanjung Arab adalah sebuah semenanjung terbesar dalam peta dunia yang merupakan semenanjung barat daya Asia. Dengan luas wilayah 1.745.900 km², dihuni oleh sekitar empat belas juta jiwa (Philip k. Hitti, 2002, hal. 16).

Secara geografis jazirah Arab terbagi menjadi dua wilayah: yaitu, bagian tengah dan pinggiran. Bagian tengah adalah bagian yang dimana daerahnya memiliki curah hujan yang sangat rendah sehingga para penduduknya berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya mengikuti turunnya hujan, dengan keadaan seperti ini masyarakat arab yang terdapat di daerah tersebut mengalami kesulitan untuk berkembang.

Bagian pinggiran atau bagian utara adalah bagian yang dimana penduduknya tidak berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Maka dari itu, mereka jauh lebih memungkinkan untuk mengembangkan kebudayaannya dibanding masyarakat yang ada dibagian tengah. Wilayah Arab bagian pinggiran atau utara inilah tempat awal lahirnya Islam tepatnya di kota Hijaz.

  1. Adat istiadat
  • Mengembara

Sebagian besar daerah-daerah di jazirah Arab adalah daerah yang gersang dan tandus, kecuali daerah Yaman yang terkenal subur, bahkan tanaman yang tumbuh dua musim dapat dijumpai di lembah subur ini yang berjarak sekitar 340 km. dari pesisir Shan’a, ibu kota Yaman modern  (Philip k. Hitti, 2002, hal. 21). Akibat dari kondisi tersebut masyarakat di jazirah Arab senantiasa melakukan pengembaraan dari satu tempat ke tempat lainnya, dasar pengembaraan tersebut ialah kabilah.

Sifat pengembaraan yang seperti itu sangat mempengaruhi daerah-daerah kecil yang tumbuh di sekitar semenanjung dikarenakan adanya perdagangan kafilah. Dari sifat pengembaraan itu maka pada sebagian besar kabilah timbullah sifat-sifat harga diri, tolong menolong, melindungi tetangga dan semacamnya (Muh. Husain Haekal, 2007, hal. 15).

  • Perang antar kabilah

Salah satu fenomena sosial yang menggejala di Arab menjelang kelahiran Islam adalah apa yang dikenal  dengan Ayyam A l-‘ArabAyyam Al -‘Arab adalah permusuhan antar suku yang umumnya terjadi karena hal-hal kecil seperti masalah peternakan, mata air atau padang rumput. Dari perselisihan tersebut terus berlanjut menjadi perampokan, penyerangan bahkan peperangan. Meskipun senantiasa siap untuk berperang, orang-orang badui bukanlah orang yang tidak menghargai nyawa mereka yang rela mengorbankan nyawanya kapanpun dan dimanapun, mereka juga bukanlah orang yang haus darah. Ayyam Al –‘Arab adalah salah satu langkah alami untuk mengurangi populasi masyarakat Arab yang hidupnya dalam kondisi semi kelaparan dan kemiskinan.

Ada beberapa peperangan yang terkenal pada saat itu, seperti  perang Basus yang terjadi antara Banu Bakr dan keluarga dekat mereka dari Banu Taghlib di sebelah timur laut yang terjadi pada akhir abad kelima, perang Dahis dan al-Ghabra yang melibatkan suku Abs dan suku saudara perempuannya, yaitu Dzubyan di Arab Tengah. Namun pertikian dan peperangan yang terjadi bisa kembali menjadi dingin setelah ada campur tangan antara pihak yang netral (Philip k. Hitti, 2002, hal. 111).

  • Puisi

Kemenangan yang diraih dari peperangan yang terjadi antara suku tersebut di atas, dan juga pahlawan yang memenangkan peperangan tersebut, maka timbuillah puisi-puisi atau syair-syair yang dibuat oleh para penyair yang berperan sebagai juru bicara dari pihak-pihak yang bersengketa.

Puisi adalah salah satu keunggulan artistik yang dimiliki masyarakat Arab pra-Islam. Dengan puisi dan syair-syair tersebutlah mereka mengungkapkan ekspresi dan bakat terbaik  yang mereka miliki. Setelah diadakan penelitian penggalan puisi tertua yang berhasil ditemukan berusia sekitar seratus tiga puluh tahun sebelum Hijrah, puisi tersebut mengisahkan tentang peristiwa Perang Basus.

Pada masa pra-Islam dikenal sebuah pentas seni atau festival tahunan yang diadakan pada bulan-bulan suci yang dilarang untuk berperang (Zulka’dah, Zulhijjah, dan Muharram)festival tahunan tersebut diadakan di pasar Ukaz yang terletak antara Nakhlah dan Thaif di daerah Hijaz sekitar tiga hari perjalanan darat dari Makkah. Festival tahunan tersebut dihadiri oleh orang-orang dari semenanjung arab, baik itu para saudagar yang datang untuk berdagang, para pujangga dan pemain sandiwara dari padang gurun untuk mempertontonkan keahlian mereka terutama keahlian membaca puisi, sajak-sajak dan karya sastra lainnya (Hadji Agus Salim, 2009, hal. 67). Menurut legenda puisi-puisi yang mendapat penghargaan pada festival tahunan tersebut akan ditulis dengan tinta emas dan digantung di dinding Ka’bah (Philip K. Hitti, hal. 116, dan Al Suyuti, 1292, jilid II, hal. 240).

Di antara puisi-puisi liris yang dihasilkan pada masa klasik, puisi-puisi yang disebut “Tujuh Mu’allaqat” menduduki posisi pertama. Puisi-puisi tersebut masih dijunjung tinggi di seluruh dunia Arab sebagai karya agung di bidang puisi.

Selain tiga tradisi yang telah kami sebutkan di atas masih ada lagi terdapat adat-istiadat lainnya, seperti menyembah berhala, membunuh anak perempuan, mabuk-mabukan, dan memandang rendah derajat manusia dengan cara memperjual belikan dan memperbudaknya.

  1. Keagamaan

Agama adalah sumber pertumbuhan dari sebuah peradaban. Pada masa Arab pra-Islam orang-orang Arab memiliki kepercayaan Monotoisme yaitu mengesakan Allah swt. Kepercayaan ini adalah warisan dari Nabi Ibrahim dan Ismail. Agama tersebut dalam al Quran dikenal dengan agama yang hanif (Al Baqarah:75).

Namun seiring berjalannya waktu mereka mulai meninggalkan ajaran tersebut dan mulai menyembah berhala. Namun mereka tetap mengakui Allah swt sebagai pencipta alam semesta ini sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran,” Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:Allah, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyemba Allah)?”. (Qs. Az-Zukhruf ayat 87).

Penyembahan terhadap berhala berawal dari seorang yang terkenal sangat dermawan dan begitu dihormati di Makkah pada saat itu yang bernama Amr bin Luhay dari suku Khuza’ah. Suatu ketika Amr bin Luhay berkunjung ke kota Syam, disana beliau melihat orang-orang menyembah berhala dan hal itu dianggapnya adalah suatu hal yang baik. Sepulangnya dari kota Syam beliau membawa berhala yang bernama Hubal dan diletakkannya dalam Ka’bah. Karena kehormatan dan kemuliaannya pada saat itu, maka penduduk Makkah mengikuti hal yang dilakukannya. Kepercayaan tersebut terus menyebar ke pelosok jazirah Arab. Bahkan di sekitar Ka’bah ada ratusan berhala yang disembah (Syekh Saifyur Rahman Mubarakfuri, 2005, hal. 7).

Berhala-berhala yang sangat disakralkan pada saat itu dikenal dengan sebutan “Tiga Anak Perempuan Allah” yaitu Al Uzza, Al Lat dan Manat. Ketiga nama berhala-berhala tersebut telah di jelaskan dalam Al Quran pada surah An Najm: 19-21. Al Lat (dari kata Ilahah, yang berarti tuhan perempuan), Al Uzza (yang paling agung), Manah (berasal dari maniyah, yang berarti pembagian nasib), dan dewa lainnya yaitu Hubal (dari bahasa Aramaik, yang berarti roh) (Phillip K. Hitti, 2002, hal. 123).

  1. Pemerintahan

Seperti yang telah kami paparkan sebelumnya bahwa masyarakat jazirah Arab adalah masyarakat yang memiliki kabilah-kabilah tertentu, oleh karena itu pada masa sebelum Islam dijazirah arab tidak dikenal yang namanya pusat pemerintahan. Setiap kabilah mempunyai pimpinan sendiri yang disebut dengan Syekh. Pada masa itu kabilah yang sangat disegani adalah kabilah Quraisy.

Kabilah Quraisy  memiliki peran yang sangat penting pada masa itu. Kabilah ini dipegang oleh Qusai bin Kilab, Qusai bin Kilab memiliki jabatan yang sangat terpandang di kota Makkah, berikut jabatan-jabatan yang di pegangnya pada masa itu (Haekal, 2007, hal. 32):

  1. Hijabah, hijabah ialah penjaga pintu Ka’bah atau yang memegang kuncinya.
  2. Siqayah, yang menyediakan air tawar untuk para peziarah serta menyediakan minuman keras yang terbuat dari kurma.
  3. Rifadah, penyedia makanan.
  4. Nadwah, pimpinan rapat pada setiap tahun musim.
  5. Liwa’, panji yang ditancapkan pada tombak sebagai lambang tentara yang menghadapi musuh.
  6. Qiyadah, pimpinan pasukan bila dalam keadaan berperang.

BAB III

ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD DI MAKKAH

  1. Kelahiran Rasulullah

Nabi Muhammad Saw., dilahirkan pada tanggal 9 Rabiul Awwal tahun Gajah (a’mul fil) atau tepatnya pada tahun 570 Masehi. Pada saat dilahirkan beliau sudah menjadi seorang yatim, ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Mutalib meninggal pada usia ke 25. Kemudian pada usia 6 tahun ibunya Sitti Aminah binti Wahab juga meninggal dunia.

Setelah ibunya wafat Rasulullah kemudian tinggal bersama kakeknya Abdul Mutalib, kemudian setelah Abdul Mutalib meninggal Rasulullah tinggal bersama pamannya Abi Talib. Pada usia 12 tahun beliau kemudian diajarkan berdagang oleh pamannya bahkan beliau dua kali menemani pamannya berdagang ke negeri Syam (Sayyid Amir A’li, 2001, hal. 7).

Dalam perjalanan ke Syam tepatnya di perkampungan Bushra mereka disambut oleh saeorang pendeta yang bernama Buhaira, semua rombongan pada waktu itu menikmati hidangan yang disediakan oleh Buhaira kecuali Rasulullah Saw. Dari hasil percakapan antara pamannya dengan Buhaira mengenai sifat-sifat Rasulullah, pendeta tersebut memberitahukan bahwa ponakannya akan menjadi pemimpin manusia sesuai dengan ciri-ciri pada kitab-kitab dalam agamanya. Maka dari itu pendeta tersebut menganjurkan untuk tidak membawanya ke Syam agar tidak dianiaya oleh orang Yahudi (Syekh Saifyur Rahman Mubarakfuri, 2005, hal. 15).

Dari pengalamannya berdagang, maka setelah dewasa beliau berkeinginan untuk membantu pamannya dengan cara meperdagangkan barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid seorang perempuan janda pedagang yang kaya dan dihormati. Wanita inilah yang kemudian akhirnya menjadi istri beliau.

Fase kenabian Nabi Muhammad dimulai ketika beliau bertahannus di gua Hira, sebagai imbas keprihatinan beliau dengan keadaan bangsa Arab yang menyemba berhala. Di tempat inilah beliau menerima wahyu pertama (610 M), yang berupa surah Al Alaq ayat 1-5 (Samsul Munir Amin, 2010, hal. 65). Dengan wahyu pertama inilah beliau kemudian diangkat menjadi seorang Nabi, namun wahyu pertama tersebut belum memerintahkan untuk menyeru kepada ummatnya. Akan tetapi, setelah turunnya wahyu kedua, yaitu surah Al Mudatssir ayat 1-7, barulah kemudian beliau diangkat menjadi seorang Rasul yang harus berdakwah. Dalam dakwahnya menyebarkan agama Islam dibagi menjadi dua periode: periode Makkah dan periode Madinah.

  1. Perintah Dakwah

Pada periode Makkah dakwah Rasulullah Saw., dibagi menjadi dua tahap: secara sembunyi-sembunyi kemudian secara terang-terangan.

Pertama, dakwah secara sembunyi-sembunyi dimulai setelah turunnya surah Al Mudatsir 1-7. Dakwah tersebut Nabi awali dari lingkungan keluarganya dan juga sahabat-sahabatnya. Orang-orang pertama yang mempercayai perihal kerasulan dan risalah yang dibawanya adalah istrinya Khadijah setelah kemudian Ali bin Abi Thalib (anak dari pamannya), Zaid (bekas budak beliau) Hamzah, Ustman, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Abdullah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Al Arqam bin Abil Arqam mereka itula yang digelari dengan As Sabiquunal Awwaluun. Dakwah tersebut beramarkas di rumah Arqam.

Kedua, setelah dakwah secara diam-diam yang pada saat itu telah memiliki belasan pengikut, maka turunlah ayat selanjutnya yang memerintahkan beliau berdakwah secara terang-terangan “maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang di perintahkan, dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.( Qs. Al Hijr 94). Pada awalnya beliau menyampaikan secara terang-terangan kepada keluarga karibnya dari bani Abdul Mutalib namun tidak ada yang mendukungnya kecuali Ali yang pada saat itu masih berusia belum baligh (Badri Yatim, 2010, hal. 20).

Selain dari beberapa keluarga yang menentang ajarannya, beliau juga mendapat begitu banyak kecaman dari pihak Quraisy. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:

1)     Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai Penghalang rezeki.

2)     Para pemuka Quraisy enggan mempercayai dan menerima kepercayaan tentang hari pembalasan.

3)     Merasa berat untuk meninggalkan agama nenek moyang.

4)     Adanya persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.

 

  1.   Hijrah ke Thaif

Tekanan dan kecaman dari orang-orang kafir Quraisy semakin keras terhadap gerakan dakwah Rasulullah, terlebih setelah meninggalnya orang yang senantiasa melindungi dan mendukung dakwahnya, yaitu pamannya Abu Thalib dan istri yang sangat beliau cintai Khadijah. Peristiwa yang terjadi pada tahun kesepuluh kenabian atau sekitar tahun 619 M merupakan tahun kesedihan yang disebut juga Amul Khuzn (Karen Amstrong, 2011, hal. 181).

Karena kesedihan dan tekanan yang beliau alami akhirnya Nabi merasa putus asa dan memutuskan untuk berdakwah dan mencari perlindungan di luar kota Makkah. Maka dari itu beliau hijrah ke Thaif, kota al-Lata. Namun sesampainya di Thaif Rasulullah bukannya disambut baik dan mendapat perlindungan, justru beliau dikejar-kejar dan mendapat hinaan. Rasulullah kemudian berlindung disebuah kebun milik Utbah bin Rabi’ah hingga keadaan mereda. Pada saat yang seperti inilah Rasulullah Saw., sangat merindukan istrinya Khadijah, karena hanya Khadijah yang dapat menenangkannya dan memberinya nasehat disaat beliau merasakan kesedihan. Namun pada saat itu tempat mengadunya hanyalah kepada Allah swt, disaat itulah beliau berdoa:

“Alluhumma ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku dihadapan manusia. Ya Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan engkaulah Pelindung-ku. Kepada siapakah hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka padaku, aku tidak perduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya yang membawakan kebahagiaan bagi dunia dan akhirat-dari pada kemurkaan-Mu yang akan engkau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau juga.[1]

Dengan kesedihan yang mendalam tersebut Rasulullah kembali ke Makkah, ditengah perjalanan pulang Allah Swt., mengutus malaikat Jibril dan malaikat gunung yang siap menunggu perintah Rasulullah Saw., untuk membalikkan gunung tersebut ke kota Makkah, namun Rasulullah Saw menjawab: “ Justru aku berharap, Allah Ta’ala mengeluarkan dari tulang rusuk mereka keturunan yang menyemba Allah Azza wa Jalla semata dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Rahman Mubarakfuri, 2005, hal. 55).

  1. Isra’ Mi’raj

Kemudian untuk menguatkan hati dan menghilangkan kesedihan Rasulullah Saw., Allah Ta’ala mengisra’ dan memi’rajkan beliau. Peristiwa tersebut dijadikan bahan propaganda oleh orang-orang kafir untuk mendustakan Rasulullah Saw. Sedangkan bagi orang-orang yang telah beriman hal ini merupakan ujian keimanan. Selain itu tujuan Allah mengisra’ mi’rajkan Rasulullah adalah sebagaimana yang tergambar dalam Al Quran surah Al Isra’: 1 “ agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) kami.”

Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut kemajuan Islam mulai tampak, sejumlah penduduk Yastrib datang ke Makkah untuk berhajji mereka terdiri dari suku Aus dan Khazraj yang masuk Islam dalam tiga tahap (Rahman Mubarakfuri, 2005, hal. 60):

  1. Pada musim haji tahun ke-11 kenabian, Rasulullah Saw., berhasil mendakwahkan enam pemuda Yastrib, yang berasal dari suku Khazraj, mereka berjanji menyampaikan misi dakwah Rasulullah kepada kaumnya, mereka adalah:

1)        As’ad bin Zurarah

2)        Auf bin Al Harits

3)        Rafi’ bin Malik

4)        Quthbah bin Amir

5)        Uqbah bin Amir

6)        Jabir bin abdullah

  1. Pada musim haji berikutnya (tahun ke-12 kenabian), pada tahun tersebut datanglah 12 orang, diantaranya adalah 5 orang yang sebelumnya telah memeluk agama Islam, dan ditambah 7 orang selain mereka, yaitu:

1)        Mu’az bin al Harits

2)        Dzaqwan bin Abdul Qais

3)      Ubadah bin As Shamit

4)        Yazid bin Tsa’labah

5)        Al Abbas bin Ubadah

6)        Abu Haitsam bin At Taihan

7)        Uwaim bin As Sa’idah

Dua nama terakhir berasal dari suku Aus dan sisanya berasal dari Khazraj. Mereka segera menghubungi Rasulullah untuk bertemu di Aqabah Mina, disana mereka bersama Rasulullah melakukan ikrar kesetian yang dikenal dengan Bai’at Aqabah Pertama. Mereka kemudian berdakwah dengan ditemani seorang utusan Rasulullah yang bernama Mus’ab bin Umar.

  1. Kemudian pada musim haji berikutnya pada tahun ke-13 kenabian atau 622 masehi (Amir A’li, 2001, hal. 10) saat itu kaum muslimin yang berhaji berjumlah tujuh puluhan. Setibanya di Makkah mereka segera menghubungi Rasulullah dan kemudian melakukan Bai’at Aqabah Kedua. Dari sinilah kekuatan dan peradaban Islam dimulai.

Ikrar yang dilakukan oleh Rasulullah dan orang-orang Yastrib akhirnya diketahui oleh pemuka-pemuka Quraisy, sehingga membuat mereka semakin menggencarkan tekanan dan intimidasi terhadap kaum muslimin. Hal tersebut membuat Rasulullah segera memerintahkan para sahabatnya yang berjumlah sekitar 150 orang untuk hijrah ke Yatsrib. Kemudaian Rasulullah bersama Abu Bakar menyusul untuk berhijrah ke Yastrib seteleh mendapat ancaman pembunuhan dari orang-orang Quraisy.

 

BAB IV

ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD DI MADINAH

Dalam perjalanan ke kota Yastrib Rasulullah Saw., bersama Abu Bakar bersembunyi di gua Tsur untuk menghindari pengejaran orang-orang Quraisy selama dua hari. Kemudian pada hari ke-3 keduanya melanjutkan perjalanan ke Yastrib dan tiba pada hari Jum’at 2 Juli 622 Masehi (Amir A’li, 2001, hal. 10). Penduduk Yastrib begitu gembira menyambut kedatangan Rasulullah, dan sebagai penghormatan kepada Rasulullah nama kota Yastrib diganti menjadi Madinatun Nabi atau sering disebut Madinatul Munawwarah (Badri Yatim, 2010, hal. 25) dan resmi menjadi pemimpin penduduk Madinah.

  1. Kondisi Penduduk Madinah

Masyarakat madinah ketika kedatangan Rasulullah saw, terdiri dari tiga golongan sebagai berikut (Mubarak furi, 2005, hal. 75):

1)                 Kaum muslimin yang terdiri dari kalangan Muhajirin (para sahabat yang hijrah dari Makkah) dan Anshar (para sahabat yang asli penduduk Madinah).

2)                 Kaum Musyrikin, diantara mereka ada yang meragukan keyakinan syiriknya kemudian memeluk agama Islam dan tidak menyimpan dendam terhadap kaum Muslimin. Namun ada juga yang masih tetap dalam keyakinannya, akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa dikarenakan kekuatan Islam pada saat itu lebih besar. Akhirnya mereka berpura-pura masuk islam sembari tetap memegang keyakinannya, mereka itulah yang tergolong kelompok orang-orang munafik, dengan tokohnya; Abdullah bin Ubay.

3)                 Kaum Yahudi, mereka adalah orang-orang yang berasal dari ras Yahudi yang sudah bercampur baur dengan penduduk Madinah. Merekalah yang selama ini menguasai perekonomian Madinah. Pada saat itu, terdapat tiga suku Yahudi yang terkenal, yaitu: 1- Bani Qainuqa’, 2- Bani Nadhir, 3- Bani Quraizhah.

 

  1. Membangun Masyarakat Baru

Pada periode ini pengembangan Islam lebih ditekankan pada dasar-dasar pendidikan masyarakat Islam dan pendidikan sosial kemasyarakatan. Nabi kemudian meletakkan dasar-dasar Islam di Madinah sebagai berikut:

  1. Mendirikan masjid

Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah adalah membangun Masjid Nabawi – bulan April 623, sekitar 7 bulan setelah hijrah (Haekal, 2007, hal. 215). Lokasinya diambil pada tempat berdiamnya onta Rasulullah pada saat pertama kali tiba di Madinah. Kiblat pada saat itu menghadap ke Baitul Maqdis – sebelum kiblatnya dialihkan ke Masjidil Haram (Mubarak furi, hal. 77). Tujuan pendirian Masjid Nabawi adalah untuk mempersatukan umat Islam dalam satu majelis.

  1. Mempersaudarakan Kaum Muslimin

Langkah Rasulullah berikutnya adalah mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Hal tersebut terjadi di rumah Anas bin Malik. Rasulullah mempersaudarakan mereka dan  mengajarkan mereka untuk saling tolong menolong dan mewarisi, hingga Allah Ta’ala menurunkan ayat-Nya: “ Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabatnya)” Qs. Al Anfal: 35. Maka setelah turunnya ayat tersebut, maka warisan hanya diberikan kepada kerabat, akan tetapi persaudaraan mereka tetap berlaku.

Tindakan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sangat efektif dalam mengatasi problem kesenjangan sosial antara keduanya.

  1. Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial

Ketika masyarakat Islam telah terbentuk maka dibutuhkan dasar-dasar baru yang kuat. Oleh karena dijadikan Al Quran dan Hadis sebagai dasar, baik itu dalam bidang politik yakni musyawarah, bidang ekonomi yakni keadilan, serta dalam bidang kemasyarakatan yakni persamaan derajat antara manusia, dengan penekanan bahwa yang menentukan derajat manusia adalah ketakwaan (Munir Amin, 2010, hal. 69).

  1. Perjanjian dengan kaum Yahudi

Keberadaan kaum Yahudi sebagai masyarakat Madinah tak dapat dipungkiri, oleh karena itu Rasulullah merasa perlu untuk mengadakan perjanjian dengan mereka dalam rangka menguatkan sendi-sendi masyarakat Madinah. Inti dari perjanjian tersebut adalah saling mempercayai, menghormati, dan tidak saling memusuhi antara satu sama lain. Apabila ada pertikaian diantara mereka, maka rujukannya adalah Allah Ta’ala dan Rasulnya (Mubarak furi, 2005, hal. 81). Dalam perjanjian tersebut juga dikeluarkan piagam yang menjamin kebebasan orang-orang yahudi dan pemeluk agama lainnya untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing (Badri Yatim, 2010, hal. 26).

  1. Perjanjian Hudaibiyah

Enam tahun lamanya sejak Nabi dan para Sahabatnya hijrah dari Makkah ke Madinah. Seperti yang yang tertulis dalam sejarah, selama itu mereka terus menerus bekerja keras memperjuangkan Islam, dan selama itu pula mereka dihadapkan kepada berbagai peperangan baik itu yang dipimpin langsung oleh Rasulullah (Ghazwah), maupun peperangan yang dipimpin oleh para sahabat atas penunjukan Rasulullah saw (Sariyah). Pada tahun inilah kaum Muslimin merasa gelisah dikarenakan kerinduan mereka untuk berziarah dan menunaikan ibadah haji ke Ka’bah.

Kegelisahan yang dialami kaum muslimin terjawab dengan disyari’atkannya ibadah haji. Oleh karena itu Rasulullah saw bersama sekitar seribu kaum Muslimin ketika itu berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah, namun penduduk Makkah tidak mengizinkannya. Akhirnya, diadakanlah perjanjian Hudaibiyah yang isinya antara lain sebagai berikut:

1)                 Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah tahun itu, tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya.

2)                 Lama kunjungan hanya dibatasi tiga hari.

3)                 Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Makkah yang melarikan diri ke Madinah.

4)                 Selama sepuluh tahun dilakukan gencatan senjata antara masyarakat Madinah dan Makkah.

5)                 Tiap kabilah yang ingin masuk ke dalam persekutuan kaum Quraisy atau kaum Muslimin,  bebas melakukannya tanpa mendapat rintangan (Munir Amin, 2010, hal. 71).

Beradasarkan perjanjian Hudaibiyah itu, maka pada tahun berikutnya kaum muslimin diperkenankan datang melaksanakan ibadah Haji. Gencatan senjata yang telah disepakati pada waktu itu memberikan kesempatan kepada Nabi untuk mengislamkan negara lainnya. Salah satu cara yang ditempuh adalah mengirimkan utusan dan surat kepada kepala-kepala negara dan pemerintahan. Di antaranya adalah raja Heraklius, Kisra, Mauqaqis, Haris dari Banu Gassan, Raja Hira, Haris Al Himyari Raja Yaman dan kepada Najasyi di Abisinia (Haekal, 2007, hal. 423). Namun, tak seorang pun yang masuk Islam. Ada yang menolak secara lemah lembut, dan ada juga yang menolaknya secara kasar seperti yang dilakukan oleh Kisra Raja Persia dan Raja Ghassan yang pad waktu itu membunuh utusan yang dikirim oleh Nabi.

Untuk membalas perlakuan Raja Gassan maka pada bulan Jumadilawal tahun kedelapan Hijri (629 M.) Rasulullah saw memanggil 3.000 orang pilihan dari sahabat-sahabatnya, dan menyerahkan pimpinannya kepada Zaid bin Haritsah (Haekal, 2007, hal. 448). Namun, pada peperangan yang terjadi disebelah utara jazirah Arab tepatnya di Mu’tah itu pasukan Islam mendapatkan kesulitan menghadapi tentara Gassan yang mendapat bantuan dari Romawi. Beberapa pahlawan gugur pada saat itu, termasuk Zaid  bin Haritsah sebagai pimpinan pasukan. Melihat kenyataan yang tidak seimbang tersebut, Khalid bin Walid yang pada saat itu telah masuk Islam dan ikut serta pada peperangan tersebut mengambil alih komando dan memerintahkan pasukan untuk menarik diri dan kembali ke Madinah (Badri Yatim, 2010, hal. 31).

Di dalam Al Quran, Perjanjian Hudaibiyah itu disebut suatu kemenangan bagi pihak Islam, dan kenyataannya memang demikian. Jika pada tahun Perjanjian Hudaibiyah pengikut Nabi yang berziarah ke Makkah hanya 1.400 orang, dua tahun kemudian dengan jumlah sebanyak 10.000 orang mereka berhasil menduduki kota Makkah (Agus Salim, 2009, hal. 321).

  1. Fathu makkah

Pada tanggal 10 Ramadhan, tahun 8 Hijriah, Rasulullah meninggalkan Madinah menuju Makkah bersama 10.000 orang sahabatnya. Setibanya di Makkah Rasulullah bersama para sahabatnya kaum Muhajirin dan Anshar melakukan beberapa hal diantaranya adalah:

1)   Mensucikan Masjidil Haram dari berhala-berhala.

2)   Melaksanakan hukuman mati pada penjahat-penjahat besar yang menyakiti kaum Muslimin, mereka adalah: Abdul Uzza bin Khotl, Abdullah bin Abi Sarh, Ikrimah bin Abi Jahl, Harits bin Nufail, Muqais bin Sabbah, Hubar bin Al Aswad, Ibn Khotl, dan Sarah budak di Bani Abdul Muthalib. Namun beberapa diantaranya masih mendpat perlindungan, seperti: Ibnu Abi Sarh, Ikrimah bin Abi Jahl, Hubar bin Al Aswad, Sarah dan salah seorang biduanita (Mubarak furi, 2005, hal. 179).

3)   Mengembalikan kesucian kota Makkah, dengan menyatakan tidak boleh ada lagi pertumpahan darah di kota Makkah.

Penaklukan kota Makkah telah mengubah sejarah kaum muslimin, dimana kekuasaan kaum Musyrikin dengan penyembahan berhalanya berhasil ditundukkan. Kini kekuatan agama dan politis di jazirah Arab sepenuhnya beraa di tangan kaum Muslimn.

  1. Ibadah haji Perpisahan

Pada tahun 10 H. Rasulullah mengumumkan akan melaksanakan Ibadah Haji. Oleh karena itu kaum Muslimin berdatangan ke Madinah untuk melaksanakan ibadah Haji bersam dengan beliau.

Setelah delapan hari perjalanan, menjelang tiba di Makkah beliau mandi dan shalat Subuh pada tanggal 4 Dzul Hijjah 10 H. Beliau menuju Mekkah dan langsung ke Masjidil Haram untuk melakukan Thawaf dan Sa’i, namun tidak melakukan Tahallul, karena hajjinya Qiran (Mubarak furi, 2005, hal. 179).

Pada tanggal 8 Dzulhijjah, Rasulullah saw berangkat menuju Mina dan setlah itu berangkat menuju Arafah. Dari Arafah beliau berangkat ke lembah Wadi’, di sanalah beliau menyampaikan khutbahnya yang sangat bersejarah. Yang bila di simpulkan prinsip-prinsip khutbahnya adalah kemanusiaan, persamaan, keadilan ekonomi, kebajikan, dan soladaritas (Fazlul Rahman, 2010, hal. 33).

  1. Menghadap keharibaan Allah

Beberapa bulan setelah pulang dari Makkah tepatnya pada tanggal 29 Shafar tahun 11 H, Rasulullah saw menderita sakit kepala dan merasakan panas yang sangat. Kondisi kesehatannya pun semakin melemah. Hingga pada hari senin, tanggal 12  Rabiul Awwal 11 H / 8 Juni 623 M – tepat pada usia Rasulullah 63 tahun lebih 4 hari (Mubarak furi, 2005, hal. 214). Nabi Muhammad wafat di rumah Istrinya Aisyah. Rasulullah dikuburkan disekitar tempat beliau menghembuskan nafas terakhirnya (Marshall G. S. Hodgson, 1977).

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdalati, Hmmudah. Islamic In Focus, (Dar Al Manarah, 2007).

Ali, Sayyid Amir. Taarikhul Arab. (Qahirah: Darul Afaaf Al Arabiyah, 2001).

Amin, Samsul Munir. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: Amzah, 2010).

Armstrong, Karen. Muhammad Sang Nabi, (Surabaya: Risalah Gusti, 2011).

Haekal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad. (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2007).

Hitti, Philip K. History Of the Arabs. (jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010).

Hodgson, Marshal G. S., The Venture Of Islam, (Chicago: Chicago University Press, 1977).

Yatim, Badri, Dr. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada: 2010).

Salim, Hadji Agus. Pesan-Pesan Islam. (Bandung: Mizan, 2011).


[1]. Doa ini kemudian dikenal dengan “Doa Thaif”.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s