AYAT-AYAT EKONOMI DI DALAM AL-QUR’AN SURAT YASIN

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid

KATA PENGANTAR

 Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan memanjatkan puja dan puji serta rasa syukur ke hadirat Allah Swt, semoga bimbingan dan ma’unah-Nya selalu menyertai kita semua. Sholawat serta  salam semoga senantiasa tercurahkan kebaikan kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga, sahabat serta pengikutnya.

Saya haturkan terima kasih pula kepada H. Sukarsono P.hd  selaku dosen pembimbing kami dalam mata kuliah Wirausaha. Dengan berasumsi bahwa kajian mengenai hal ini sangatlah penting guna menghubungkan antara firman Tuhan dan realita yang ada.

Demikianlah prokata singkat ini semoga saya selalu mendapat bimbingan dan ma’unah dari Allah Swt. Dan oleh karena itu jika nantinya di dalam makalah ini terdapat kata atau kalimat yang salah, kiranya H. Sukarsono P.hd selaku dosen kami memberikan saran dan kritikan yang telusnya mengantarkan saya kepada tranformasi keilmuan yang lebih baik. Kebenaran hakiki hanyalah milik-Nya dan kesalahan datangnya dari diri saya sendiri.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  1. Latar Belakang Masalah

Ekonomi selalu diperbincangkan dimanapun jua seseorang berada. Membicarakan kebutuhan manusia tidak terlepas dari tiga aspek yaitu produksi, distribusi dan komsumsi. Dalam hal produksi, Allah Swt sebagai pemilik langit dan bumi, Dialah yang menghamparkan alam jagat raya ini untuk dikelola oleh manusia yang berawal dari perdebatan sengit antara malaikat dan jin serta Sang Rabbul Alamin. Allah menciptakan bumi ini untuk menyediakan sumberdaya alam sebagai bahan baku yang akan dikelola manusia menjadi barang yang siap saji. Perdebatan ulama dikalangan mufassir mengenai campur tangan manusia di dalam mengurusi bumi khususnya tumbuh-tumbuhan sangatlah perlu kita perbincangkan. Sumberdaya alam sebagai anugrah yang diberikan-Nya, pada hakikatnya dimanapun manusia berada Allah selalu memberikan rezeki guna keberlangsungan hidup mahluk-Nya dan sesuai dengan kekayaan sumberdaya alamlah mereka (manusia) akan bekerja sebagai mata pencahariannya (surat al-A’raf/7: 10, surat al-Hijr/15: 19-20).

Homo-economicus merupakan sebutan yang cocok jika berbicara ekonomi manusia, di dalam al-Qur’an Allah menyinggung bagaimana manusia tidak langsung puas dengan adanya kebutuhan biologis, namun setelah daripada itu ia akan mencari kebutuhan primer seperti makanan, minuman dan tempat tinggal, lalu dengan terpenuhinya kebutuhan primer juha manusia tidak puas dan akan mencari kebutuhan sekunder dan tersier. Dal diatas disinyalir di dalam hadist yang telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim “Seandainya seseorang mempunyai dua bukit emas, dia masih akan mengharap mempunyai tiga. Tidak ada yang bisa memenuhi keserakahan manusia kecuali tanah”. Tanah yang dimaksud adalah kematian, mati merupakan alternatif terakhir dalam perjalanan hidup manusia didalam menghentika hawa nafsu.

Hakikat tanah, tumbuh-tumbuhan yang ada sekarang ini merupakan amanah dari Allah Swt yang mana harus kita belanjakan sesuai tempat dan manfaatnya. Memenuhi kebutuhan masyarakat serta mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan umat. Jika demikian maka perekonomian Islam mencakup pada aspek nilai-norma, sosio-politik sebagai jalan mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

  1. Ayat-Ayat Ekonomi Di Dalam Al-Qur’an Pada Surah Yasin

وءاية لهم الأرض الميتة أحيينها وأخرجنا منها حبا فمنه يأكلون

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan (Qs. Yasin/36: 33)”.

وجعلنا فيها جنت من نخيل وأعنب وفجرنا فيها من العيون

“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami Pancarkan padanya beberapa mata air (Qs. Yasin/36: 34)”.

ليأكلوا من ثمره وما عملته أيديهم أفلا يشكرون

“Supaya mereka dapat makan dari buahnya dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (Qs, Yasin/36: 35)”.

سبحن الذى خلق الازوج كلها مما تنبت الأرض ومن أنفسهم ومما لا يعلمون

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (Qs. Yasin/36: 36)”.

Keempat ayat diatas merupakan sebuah tanda kekuasaan-Nya. Berawal dari bumi yang mati dalam artian tidak bisanya bercocok tanam kemudian menjadi bumi yang berpotensi menghidupkan manusia yang ada di dalamnya. Di dalam Tafsir Al-Qurthubi dikatakan bahwa ayat 33 dari surat Yasin diatas merupakan sebuah peringatan kepada mereka yang ingkar terhadap-Nya dengan dihidupkan-Nya tanah yang mati serta menumbuhkan dan mengeluarkan biji-bijian dari-Nya.[1]

Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa di dalam tanah terdapat bakteri nitrogen. Jika kita berbicara tentang kimia maka bakteri mengandung arti pengoleh sintesis, yang berarti ia menyerap nitrogen dari udara. Cendekiawan modern belum mampu memastikan bagaimana cara olah ketika unsur-unsur yang negative itu diubah, yang nantinya zat telah siap untuk bereaksi dan bercampur dengan nitrogen. Bakteri sangatlah membutuhkan air. Selanjutnya ia juga mengatakan bahwa segala yang terdapat di dalam tanah menjadi unsur-unsur aslinya dan mempersiapkannay untuk mikroba yang melakukan penyusunan, demikianlah biasanya tanah menyerupai sebuah kota kimiawi yang luas.[2]

Di dalam pertanian kita pasti mengenal istilah pengairan atau irigasi. Irigasi atau cara pemberian air. Sebagaimana pengalaman penulis menjadi petani Hal ini bisa dilakukan dengan cara yang alamiah dan cara buatan kepada tanah yang mati untuk menjadikan tanah agar lembab dan berguna untuk menanam berbagai jenis tumbuh-tumbuhan.

  • Secara Alamiah

Cara alamiah biasanya para petani menyuplai dari air hujan atau bisa juga dengan melalui genangan air hujan dari limbahan air sungai dan lain sebagainya.

  • Secara Buatan

Secara buatan para petani bisa memakai pompa air yang membuat daratan air rendah menjadi daratan tinggi, hal ini agar seluruh kebun tersiram atau terkena air. Pembuatan sumur bor.

Didalam ayat 34 diatas menyebutkan kata نخيل dan أعنب, dengan demikian adanya pengkhususan kata. Didalam Tafsir al-Qurthubi yang di ta’liq oleh Muhammad Ibrahim al-Hifnawi dan di takhrij oleh Muhammad Hamid Utsman bahwa kedua kata tersebut memiliki nilai harga yang sangat tinggi. Allah Swt selanjutnya memancarkan mata air pada kebun-kebun agar manusia dapat mengolah apa yang ditanam dan menghasilkan darinya. Air sangat dibutuhkan didalam pengolahan sebuah kebun tanpa mata air tersebut tanam-tanaman tidak akan tumbuh dengan subur, al-Jurjani dan al-Mahdawi mengatakan buah muncul disebabkan oleh adanya mata air.[3]

Pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dengan memanfaatkan instrument kedua tangan dan lainnya dengan susah payah akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt. Kata ما didalam ayat tersebut menjadi sebuah perdebatan dikalangan para mufassir, ada yang berpendapat manusia mendapat nikmat baik berupa buah-buahan dan lain sebagainya dari Allah tanpa ikut campur tangan manusia, hal ini menunjukkan bahwa kata “maa” diatas mempunyai arti “maa nafiyah” yang berfungsi meniadakan sesuatu dalam hal ini ikut campur tangan manusia, pendapat diatas dianut oleh adh-Dhahhak, Muqatil dan Ibnu Abbas. Adapula yang mengatakan bahwa Allah Swt memberi nikmat berupa buah-buahan dengan perantara olah tangan manusia, misalnya biji-bijian yang ditumbuk oleh seseorang yang menghasilkan uang, seperti roti, adonan yang berasal dari biji-bijian dan zaitun. Pendapat kedua menurut penulis sangatlah bisa diterima, Allah Swt memberi nikmat dengan perantaraan manusia dikarenakan jika tanpa perantaraan maka manusia berada dimuka bumi ini khsususnya didalam pencaharian sumber kehidupan dengan tanpa semangat, perantara juga bisa  berarti bahwa adanya sebuah hubungan individu dengan khalik-Nya, manusia dengan kelemahannya sangatlah bergantung kepada Allah. Jika kita relasikan dengan ayat diatas bahwa Allah dan Manusia khususnya di dalam mencari ekonomi tidaklah bisa dipisahkan, segalanya bersumber dari Allah.

Ayat 36 diatas mengecam kepada para pendurhaka yang tidak mensyukuri nikmat Allah Swt bahkan ayat ini menunjuk kepada siapapun yang ingkar terhadap keesaan dan kekuasaan-Nya. Allah tidak pernah menyandang sifat kekurangan, keburukan  dan lainnya, dengan demikian diawal ayat ini memakai kata “subhana” yang artinya “mahasuci Dia”.Pada kalimat سبحن الذى خلق الازوج  ayat 36 surat Yasin di atas memberikan informasi kepada kita bahwa “pasang-pasangan” tidak hanya terjadi pada manusia akan tetapi tanam-tanaman juga mempunyai pasangan masing-masing walaupun di antara para ulama berbeda pendapat mengenai kata “min” di dalam ayat tersebut.

Prof. Quraisy Syihab di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa sementara ulama membatasi makna kata “pasangan” hanya tersandang kepada mahluk hidup saja. Menurutnya pendapat tersebut tidak sejalan dengan makna kebahasaan, yang dimaksud adalah dengan kenyataan ilmiah dewasa ini. Ar-Raghib al-Ashfahani sebagaimana yang dikutip oleh Prof. Quraisy Syihab mengatakan bahwa kata tersebut digunakan untuk masing-masing dari dua hal yang berdampingan (bersamaan), baik jantan maupun betina, binatang (termasuk binatang berakal, yakni manusia), dan juga digunakan menunjuk kedua yang berpasangan itu.[4]

Teori penyerbukan dan perkawinan antara jantan dan betina pada tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan merupakan Sunnatullah buat manusia, hewan, dan burung-burung. Apabila kehidupan manusia berawal dari bayi yang dirawat oleh ibunya maka kehidupan tumbuh-tumbuhan dimulai sebagai putik dalam intisari. Di dalam dunia ilmu pengetahuan modern menetapkan bahwa bunga tumbuh-tumbuhan terbagi menjadi tiga jenis yaitu bunga jantan, bunga betina, dan bunga betina-jantan. Misalnya: ada bunga yang menahan serangga di dalam batangnya seperti bunga “Jackfie Short”. Tanaman ini memiliki dua jenis bunga yaitu bunga jantan dan betina.[5]

Penulis mengambil kesimpulan bahwa kata pasang-pasangan tidak hanya tertuju kepada mahluk hidup tetapi kepada benda yang tak bernyawa. Mari kita lihat pada ayat lain dengan redaksi yang sama, menyatakan bahwa semua yang ada dimuka bumi selalu berpasang-pasangan. Seperti:

وأرسلنا الرياح لواقح  فأنزلنا من السماء ماء فأسقيناكموه وما أنتم له بخازنين

                        “Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan tumbuh-tumbuhan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya” (Qs. Al-Hijr/15: 22).

ومن كل الثمرات جعل فيها زوجين اثنين

“Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan” (Qs. Al-Ra’d/13: 3).

ومن كل شيء خلقنا زوجين لعلكم تذكرون

                        “Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (Qs. Adz-Dzariyat/51: 49).

وترى الآرض هامدة فاذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت و أنبتت من كل زوج بهيج

                        “Kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (Qs. Al-Hajj/22: 5).

فيهما من كل فاكهة زوجان

                        “Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan” (Qs. Al-Rahmaan/55: 52).

وأنزلنا من السماء ماء فأخرجنا به أزواجا من نبات شتى

                        “Dan menurunkan dari langit air huja. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam” (Qs. Taha/20: 53).

أولم يروا الى الآرض كم أنبتنا فيها من كل زوج كريم

                        “Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berpakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (Qs. Asy-Syu’araa/26: 7).

وأنزلنا من السماء ماء فأنبتنا فيها من كل زوج كريم

                        “Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik” (Qs. Luqman/31: 10).

Demikianlah beberapa ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang berhubungan dengan ekonomi pada surat Yasin.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Al-Qurthubi, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshori. 1408 H/1988 M. “Al-Jami’ Li Ahkaamil Al-Qur’an”. Penerbit: Darul Kutub al-‘Ilmiyah Beirut Lebanon.

Abdushshamad, Muhammad Kamil. 2003. “Mukjizat Ilmiah dalam al-Qur’an” Penerbit: AKBAR Media Eka Sarana.

Mas Ridha, Muhyidin dkk. 2009. “Tafsir Al-Qurthubi Min Al-Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an”, Penerbit: Pustaka Azzam.

Shihab, M. Quraish. 2010. “Tafsir Al-Misbah”. Penerbit: Lentera Hati.


[1]. Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshori al-Qurthubi, “al-Jami’ Li Ahkaamil al-Qur’an”, Penerbit: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, jilid 8, hal. 18.

[2]. Muhammad Kamil Abdushshamad “Mukjizat Ilmiah dalam al-Qur’an” Penerbit: AKBAR Media Eka Sarana, 2003, hal. 140-141.

[3].  Muhyidin Mas Ridha dkk, “Tafsir al-Qurthubi Min al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an”, Penerbit: Pustaka Azzam, 2009, hal. 63.

[4]. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, “Tafsir al-Misbah” Penerbit: Lentera Hati, jilid 11, hal.150.

[5]. Op. cit. Muhammad Kamil Abdushshamad, hal. 143-144.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s