Runtuhnya Dinasti Abbasiyah

Oleh: Mujib

 Puncak runtuhnya dinasti ini terjadi kira-kira 656 H/1258 M pada akhir kekhalifahan Al-Mu’tasim Billah,[1] diawali dari para pembangkang dan para pemberontak yang tidak rela dan tidak terima dengan kepemimpinan bani Abbasiyah, kelompok-kelompok separatis pun mulai ikut bermunculan. Ditambah lagi dari serangan bangsa Mongol yang kejam dan ingin menguasai wilayah dinasti Abbasiyah.

Pemberontakan Zang

Revolusi ini yang mengancam keberadaan dinasti Abbasiyah lebih dari ancaman Negara Turki, revolusi atau pemberontakan ini terjadi di daerah ibukota Abbasiyah, Baghdad. Pemberontakan ini terjadi karena sebab ekonomi, yaitu orang-orang negro dari Afrika timur yang dipekerjakan oleh para pejabat pemerintah dan orang-orang kaya tanpa upah, atau diberi tepung yang hanya cukup untuk makan sekali. Sebenarnya mereka adalah kelompok yang sangat banyak, tapi kelemahan ekonomilah yang membuat mereka diperlakaukan dengan tidak layak.[2]

Zang mempunyai pemimpin yang bernama Muhammad bin ali ”bahbudz”, dia sangat cerdik dalam berbagai strategi perang dan sangat hati-hati dalam melakukan tindakan, dengan menempuh paham Khawarij Azariqah sebagai prinsipnya. Tetapi dia sangat berlebihan dengan mengaku sebagai nabi, mengetahui hal ghaib, memiliki kekuatan, dan wahyu. Pertama-tama yang dia lakukan adalah membangun benteng di tepi barat sungai Abul Kashib dan menyerang pasukan Bashrah, pemberontakan berlangsung kurang lebih empat belas tahun 870-883 M, dimulai dari masa khalifah Al-Mu’tamid.

Lalu ketika kekhalifah dilanjutkan oleh saudaranya, khalifah Al-Muwaffaq, khalifah baru ini pun mengirim komandan Ja’lan untuk mengatasi pasukan Zang yang telah membunuh setengah juta korban,[3] tetapi komandan tersebut dan para pasukan kalah karena jumlah pasukan Zang lebih besar. Pasukan Zang terus bergerak dengan menguasai Bashrah, Ahwaz, Wasith, Ubullah, dan jalan-jalan di pinggiran kota Baghdad.[4]

Akhirnya khalifah Al-Muwaffaq turun tangan dengan mengerahkan pasukan berjumlah besar yang dipimpin sendiri, karena khalifah mengenal strategi pasukan Zang dengan baik dan mengetahui sumber kekuatan mereka. Dengan memberi janji yang muluk-muluk dan perlindungan kepada para tentara Zang yang mau menyerah, strategi untuk membuat musuh frustasi ini berhasil, banyak diantara pasukan Zang yang mau mendatangi khalifah dengan meminta jaminan keamanan, dari orang-orang yang menyerah itu khalifah bisa mengetahui informasi kekuatan musuh. Disamping itu, khalifah memerintah pasukannya untuk menyerang benteng Zang dengan sembunyi-sembunyi dan menggunakan senjata ketapel dan busur panah.[5]

Pasukan Khalifah berhasil menghancurkan benteng Zang, memberi perlindungan kepada yang mau menyerah dan meminta mereka menunjukkan tempat-tempat persembunyian para komandan dan pemimpin pasukan Zang. Pemimpin Zang “bahbudz” berhasil ditangkap dan dibunuh.

Penyebab Kemunduran

  1. Persaingan antara bangsa Persia dan Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas atau Al-Mansur 754 M, yang bersekutu dengan Persia, karena persamaan nasib diantara kedua bangsa itu yang pada masa dinasti Umayyah sama-sama tertindas. Dan setelah dinasti Abbasiyah berdiri kecenderungan untuk berkuasa diantara kedua bangsa itu muncul.[6]

  1. Memburuknya ekonomi Negara

Para menteri yang suka menghambur-hamburkan uang dan mengambil keuntungan dari pungutan pajak uang rakyat, tanpa memberikannya pada khalifah Al-Muqtadir 903-932 M. Sedangkan kebutuhan negara semakin meningkat, tentara dan penjaga sangatlah banyak. Mereka menuntut gaji dan keadaan pun semakin kacau.[7]

  1. Konflik keagamaan

Fanatisme keagamaan juga mengakibatkan persoalan kebangsaan mengalami perpecahan, berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Sunni, dan kelompok-kelompok garis keras yang menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk menyatukan fahamnya.[8]

Gerakan-gerakan yang Memisahkan Diri

Sebab-sebab pecahnya dinasti dan pemisahan dinasti-dinasti kecil karena penguasa bani Abbasiyah lebih mementingkan pada pembinaan peradaban dan kebudayaaan dari pada politik, persaingan antar bangsa, terutama Arab, Persia, dan Turki. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan, dan juga karena dipengaruhi oleh paham keagamaan seperti Sunni, Syi’ah, Mu’tazilah, dan lainnya. Akibat dari beberapa faktor itulah banyak provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari kekuasaan Abbasiyah, diantaranya ialah[9]:

  1. Thahiriyah di Khurasan, Persia (820-870 M)

Pada masa khalifah Al-Ma’mun, terdapat jenderal yang bermata satu, yakni Thahir ibn Al-Husain dari Khurasan yang secara gemilang berhasil mengalahkan balatentara Al-Amin.  Lalu, khalifah Al-Ma’mun mengangkatnya sebagai gubernur di sebelah timur Baghdad, dengan pusat kekuasaannya di Khurasan pada tahun 820 M. Setelah Thahir meninggal, para keturunannya yang memisahkan diri dari dinasti Abbasiyah dan memperluas kekuasaan hingga India, dan memindahkan pusat ibukota ke Naisabur.

  1. Safariyah di Fars, Persia (868-901 M)

Dinasti ini didirikan oleh Ya’qub ibn Al-Laits Al-Shaffar yang suka merampok dan menjadi kegemarannya, dia berhasil memperluas wilayahnya hampir ke seluruh Persia dan kawasan pinggiran India. Dinasti ini yang dihancurkan oleh dinasti Thahiriyah.

  1. Samaniyah di Transoxania (873-998 M)

Pendiri dinasti ini adalah Nashr ibn Ahmad dan dia seorang yang menganut ajaran Zoroaster dari Balkh, dari saudaranya Ismail dan putranya Nashr II dinasti ini berhasil memperluas wilayah antara Bukhara, Samarkand, Tabaristan, dan Karman. Dinasti ini juga yang berhasil menakhlukkan dinasti Safariyah.

  1. Thuluniyah di Mesir (837-903 M)

Ahmad ibn Thulun yang mendirikan dinasti ini, dan pada tahun 868 M Ahmad pergi ke Mesir sebagai pimpinan tentara untuk gubernur Mesir, dan pada masa pemberontakan Zang dia diminta untuk membantu khalifah Al-Muwaffaq mengatasinya. Dari sini dia berusaha untuk memerdekakan diri dari dinasti Abbasiyah, dan mendirikan kedaulatan di lembah sungai Nil, Mesir. Ibn Thulun membentuk organisasi militer yang sangat ketat dan membangun pangkalan angkatan laut di Acre.

Dinasti Thulun juga berjasa atas kesejahteraan rakyat Mesir dan ilmu pengetahuan, tetapi kemunculan dinasti ini diikuti oleh dinasti-dinasti di wilayah Turki dan banyak para penyusup dari Turki, pada akhirnya dinasti Thulun ini sedikit demi sedikit mulai melemah dan berhasil direbut oleh Abbasiyah lagi.

  1. Ghazwaniyah di Afghanistan (962-1189 M)

Alptigin adalah seorang budak Turki yang dipromosikan sebagai gubernur di Khurasan oleh penguasa Samaniyah, tetapi karena sudah tidak disukai oleh penguasa baru dia pergi ke perbatasan sebelah timur kerajaan. Di sinilah dia memulai membentuk pasukan dan mendirikan kerajaan yang kemudian berkembang menjadi dinasti Ghazwaniyah yang kekuasaannya meliputi Afghanistan dan Punjab.

  1. Dinasti Buwaihi di Iran (905-1004 M)

Dinasti ini dibangun oleh tiga bersaudara, yaitu Ali bin Buwaihi, Hasan bin Buwaihi, dan Ahmad bin Buwaihi. Dinasti ini membentang antara Irak dan Iran, perjalanan dinasti Buwaihi mengalami perkembangan pesat ketika dinasti Abbasiyah mulai melemah, dan mengalami kemunduran dengan adanya dinasti Saljuk.

  1. Dinasti Saljuk (1055-1157 M)

Dari kekacauan Sunni-Syiah, masuklah seorang kepala suku bernama Saljuk dari Turkistan dan berfaham Sunni ke Bukhara, pelan-pelan Saljuk dan pasukannya menakhlukkan Samaniyah, Ghazwaniyah, dan Khawarizm. Karena persenjataan pasukan Turki yang semakin bertambah pesat, Saljuk memperluas wilayahnya sampai Asia barat. Dan di bawah kekuasaan Maliksyah 1072-1092 M, wilayah kekuasaan Saljuk membentang dari ujung Turki sampai Yerussalem, dan dari Konstantinopel hingga laut Kaspia.

  1. Hamdaniyah di Aleppo dan Musil (929-1002 M)

Dinasti yang menganut Syi’ah ini didirikan oleh Hamdan ibn Hamdun dari suku Taghlib, dinasti ini didirikan di Mesopotamia dan beribukota di Mosul. Kekuasaan ini dipimpin oleh Syaif Ad-Daulah, dan dia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan penguasa Bizantium, sehingga Syaif Ad-Daulah bisa berhasil menguasai Suriah utara dan merebut Aleppo dari kekuasaan Iksidiyah. Dinasti ini juga berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan. Tetapi putranya, Sa’id Ad-Daulah, merupakan seorang pengikut Fatimiyah di Mesir, pada saat  terjadi perpecahan dalam negeri dan terjadi perebutan antara kerajaan Bizantium dan dinasti Fatimiyah. Sa’id Ad-Daulah menyerahkan kekuasaannya kepada dinasti Fatimiyah

  1. Ayyubiyah di Kurdi (1167-1250 M)

Pusat pemerintahan dinasti ini ada di kawasan Kairo, wilayah kekuasaannya meliputi kawasan Mesir, Suriah, dan Yaman. Dinasti ini didirikan Shalahuddin Al-Ayyubi, dia telah berhasil menakhlukkan kekhalifaan Fatimiyah dan mengusir tentara salib dari Baitul Maqdis, dia juga yang mendorong kemajuan dibidang agama dan pendidikan. Berakhirnya dinasti ini ditandai dengan meninggalnya Sultan terakhir, Malik Al-Asyraf Muzaffrudin.

  1. Mirdasiyah di Aleppo (1023-1078 M)
  2. Ukailiyah di Mausil (996-1095 M)
  3. Idrisiyiah di Maroko (788-985 M)
  4. Aghlabiyah di Tunisia (800-900 M)
  5. Abu Ali di Kurdi (990-1095 M)
  6. Al-Barzuqani di Kurdi (959-1015 M)
  7. Alawiyah di Tabiristan (864-928 M)
  8. Sajiyyah di Azerbaijan (878-930 M)
  9. Dulafiyah di Kurdistan (825-898 M)
  10. Mazyadiyah di Hillah (1011-1150 M)

Perang Salib

  1. Perang salib pertama (1095-1147 M)

Pada tanggal 26 Nopember 1095 Paus Urbanus II mengadakan pidato yang berapi-api dan menggemparkan seluruh umat Kristen di Clermont Perancis dan menggema di seluruh Eropa “Tuhan menghendaki yang demikian”, mendengar hal itu negara-negara Kristen mempersiapkan tentara dengan persenjataan lengkap untuk pergi berperang merebut Palestina untuk mendirikan Haekal Sulaiman, inilah pasukan yang disebut sebagai “Tentara Salib” karena serangannya yang dinilai suci oleh seluruh umat Kristen dan dipimpin oleh Godfrey. Pada permulaan peperangan, tentara salib berhasil mencapai Palestina, kemudian mereka menduduki daerah sekitarnya sehingga dapat mendirikan benteng di Baitul Maqdis, Antiochia, Tripolisia, dan di Edessa. Korban dari serangan tersebut tidak kurang dari 70.000 jiwa.[10] Mereka juga sangat bangga atas prestasi yang dilakukan oleh para tentara salib dalam merebut Baitul Maqdis.

Baru pada tahun 1127 M muncul seorang pahlawan islam yang masyhur dan sekaligus sebagai gubernur di Mousul, yang bernama Imaduddin Zanki, beliau dan pasukannya dapat mengalahkan tentara salib di kota Aleppo dan Humah. Sejak saat itu tentara salib mulai merasakan kekalahan.[11]

  1. Perang salib kedua (1147-1179 M)

Karena kekalahan yang pertama, Paus mengutus raja Louis VII dari Perancis, kaisar Kourad dari Jerman, dan putra Roger dari Sisilia. Dengan kedatangan tentara salib yang kedua putra Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki, yang menyambut pasukan salib dengan kemampuan yang tak kalah dengan ayahnya, dan berhasil menundukkan tentara salib.[12]

Merasa tidak mampu mengalahkan musuh, tentara salib mengalihkan serangan ke arah Mesir. Di sana pasukan salib juga tidak bisa berbuat banyak karena terdapat pahlawan yang masyhur yaitu Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi pemimpin dinasti Al-Ayyubiyah dan masih dibawah pengaruh dinasti Abbasiyah yang kemudian memisahkan diri. Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi juga dapat merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan pasukan salib.[13]

  1. Perang salib ketiga (1189-1192 M)

Melihat kekalahan tentara salib, Eropa mengirim pasukan yang dipimpin oleh Frederick raja Austria dan Jerman dengan membawa 200.000 pasukan, dan bantuan datang lagi dari Eropa yang dipimpin oleh Richard “Si Hati Singa”. Sehingga tentara salib dapat merebut kota Okka dan membantai 3000 orang dengan kejam.[14]

Tentara salib mencoba menyerbu kota Mesir, pusat pemerintahan Sholahuddin Al-Ayyubi dan meninggalkan kota-kota yang mereka kuasai seperti Kaisariya, Yaffa, dan Asqalan. Melihat kesempatan ini Sholahuddin menyerbu musuh dari belakang dan dapat merebut kota tersebut dengan mudah. Di sinilah terjadi kejadian yang menggemparkan di mana Sultan Sholahuddin menyembuhkan Richard yang sedang sakit dengan sembunyi-sembunyi. Dengan begitu Richard mengajukan  gencatan senjata dan saling berdamai pada tahun 1192 M, sultan Sholahuddin menyetujuinya. Setahun kemudian sultan Sholahuddin Al-Ayyubi menghembuskan nafas terakhir saat beliau berumur 75 tahun.[15]

  1. Perang salib keempat dan seterusnya

Paus Cylensius III mendengar berita meninggalnya sultan Sholahuddin, kemudian dia menggerakkan tentara salib dari Eropa sebanyak mungkin untuk menyerang kaum muslimin. Tetapi serangan tentara salib yang keempat dan seterusnya tidak sedahsyat dan setangguh sebelumnya. Sebaliknya, pasukan salib tidak berhasil dengan penyerbuan-penyerbuannya, akan tetapi mereka nantinya akan terusir dari daerah timur pada tahun 1292 M.[16]

Sebab-sebab Perang Salib[17]

Faktor agama

Sejak umat muslim menduduki Baitul Maqdis pada tahun 1070 M, kaum Kristen merasa tidak leluasa menunaikan ibadahnya dan peraturan pemerintah yang dianggap mempersulit mereka dalam menunaikan ibadah.

Faktor politik

Kekalahan Bizantium pada tahun 330 M yang mendorong penguasa Konstantinopel pada saat itu, kaisar Alexius I Comnenus, meminta bantuan pada Paus Urbanus II dan berjanji kerajaan akan tunduk di bawah kekuasaan gereja Roma dan menyatukan gereja Yunani dan Roma. Karena pada waktu itu Paus memiliki kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar pada raja-raja di bawah kekuasaannya di daerah Eropa.

Faktor ekonomi

Para pedagang besar di kota Venesia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai perdagangan di sepanjang pantai timur dan selatan laut tengah, yang pada waktu itu masih dikuasai oleh umat muslim. Dan para pedagang tersebut berani menanggung dana yang dibutuhkan saat perang salib, asalkan rute perdagangan tersebut bisa menjadi milik para pedagang itu apabila pihak Kristen memperoleh kemenangan.

Serangan Bangsa Mongol

Hulagu Khan (cucu Jengis Khan) pemimpin penguasa Mongol dan sebagai pendiri kerajaan mongol di Persia yang terbentang dari Amudarya sampai ke perbatasan Suriah dan dari pegunungan Kaukakus sampai Samudra Hindia, dia mengundang khalifah Al-Mu’tasim bekerjasama untuk menghancurkan kelompok Hasyasyim Ismailiyah, tetetapi khalifah Al-Mu’tasim tidak memberikan jawaban.

Pada tahun 1256 M sejumlah besar benteng Hasyasyim termasuk Alamut, berhasil ditakhlukkan dan dihancur leburkan oleh pasukan Hulagu sendiri, bayi-bayi pun disembelih dengan kejam. Pada tahun berikutnya Hulagu mengirim ultimatum kepada khalifah agar menyerah, tetapi khalifah enggan memberikan jawaban.[18]

Akhirnya pada tahun 1258 M, Hulagu dan pasukannya bergerak dengan efektif dan merangsek ke jantung kota, dan khalifah beserta tiga ratus pejabat dan qadhi menawarkan penyerahan diri tanpa syarat. Tetapi sepuluh hari berikutnya mereka dibunuh, kota-kota dijarah dan dibakar, mayoritas penduduk dan keluarga khalifah dibantai habis, mayat-mayatnya tidak dikubur tapi dibiarkan bergeletakan di jalanan.[19] Buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke Sungai Tigris sehingga sungai yang jernih menjadi hitam kelam,[20] dan sebagai salah satu faktor hilangnya karya-karya umat muslim dalam bidang ilmu pengetahuan.

Tetapi cicit dari Hulagu, Ghazan, seorang muslim yang taat dan nanti yang akan berusaha mencurahkan waktu dan energi untuk memulihkan kembali peradaban islam. Itulah akhir dari dinasti Abbasiyah yang besar akan wilayah kekuasaan, budaya, dan ilmu pengetahuan, berakhir dengan kesedihan.

Daftar Pustaka

 Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah 2009

Al-Isy, Yusuf, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-Abbasiyah, Damaskus: Darul Fikr 2007

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Jakarta: Kencana Prenada 2011

Armstrong, Karen, Islam: A Short History, Surabaya: Ikon Teralitera 2002

Biek, M. Al-Hadlori, Ad-Daulah Al-Abbasiyah, Kairo: Muassasah Al-Muhtar 2003

Hitti, Philip K, History Of The Arabs, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta 2010

As-Suyuti, Jalaluddin, Tarikh Al-Khulafa’, Mansuroh: Darul Yaqin 2003


[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 156

[2] Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-Abbasiyyah, hal. 125-126

[3] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 594

[4] Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-Abbasiyyah, hal. 128-130

[5] Ibid, hal. 134

[6] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 153

[7] Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-Abbasiyyah, hal. 181

[8] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 156

[9] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 579-599

[10] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik:Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, hal. 182

[11] Ibid, hal. 183

[12] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 644

[13] Ibid, hal. 647

[14] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik:Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, hal. 185

[15] Ibid, hal. 186-187

[16] Ibid, hal. 187

[17] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 234

[18] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 619

[19] Ibid, hal. 620

[20] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 156-157

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s