SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH

  • Politik sebelum berdirinya dinasti umayyah

Berbicara tentang sejarah berdirinya dinasti Umayyah tentunya kita harus melihat kembali peta politik pada masa khalifah Ustman bin Affan dan  Ali bin Abi Thalib. Hal ini menyangkut posisi  pendiri dinasti umayyah itu sendiri yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb.

Pada masa pemerintahan khlifah usman bin affan Muawiyah bin Abu Sufyan diangkat sebagai Gubernur Syiria[3]. Usman dan Muawiyah sama-sama kaum Quraisy dari bani Umayyah. Penganngkatan Muawitah sebagai gubernur Syiria dipandang sebagai tindakan nepotisme.

Ketika khalifah Ali bin Abi Thalib berkuasa, jabatan Muawiyah sebagai gubenur Syiria dinonaktifkan karena ia dianggap tidak disenangi oleh rakyat. Tetapi muawiyah enggan   meletakkan jabatannya dan menolak penetapan Ali sebagai khalifah[4].  Muawiyah pun berada dalam pihak oposisi  bersama-sama dengan Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Mereka menuntut khalifah mengusut tuntas kasus pembunuhan Ustman, dan kondisi ini dimanfaatkan Muawiyah untuk menjatuhkan legalitas pemerintahan Ali dengan membangkitkan kemarahan rakyat dan menuduh Ali sebagai dalang pembunuhan Ustman.

Oposisi secara terang-terangan terhadap khalifah dimulai oleh kelompok Aisyah, Thalhah dan Zubair. Mereka  Pada saat itu terjadi pertempuran antara pemerintah dengan pihak oposisi  yang dikenal dengan perang jamal karena Aisyah mengendarai onta. Dalam pertempuran tersebut sebanyak 20.000 kaum muslimin gugur.

Sebenarnya Ali ingin menghindari pertikaia dan mengajuan perundingan kepada Thalhah dan kawan-kawan, tetapi perdamaian tak kunjung dicapai. Oleh karena itu gencatan senjata tidak bisa dihindarkan. Peperangan perakhir dengan kemenangan Ali. Thalhah dan Zubair terbunuh ketika hendak melarikan diri. Sedangkan Aisyah dipulangkan kemadinah.

  • Perang Siffin

Setelah perang jamal selesai, pusat pemerintahan dipindahkan dari Madinah ke kota Kuffah. Seluruh wilayah islam dikuasai oleh Khalifah Ali kecuali syiria yang masih dikuasai oleh Muawiyah. Penentangan muawiyah terhadap pemerintah memaksa Ali untuk bertindak.  Peperangan pun  kembali berkecambuk , yaitu antara pasukan Ali dan pasukan Muawiyah yang dikenal dengan perang Siffin.

Pada mulanya, baik Ali maupun Muawiyah sama-sama enggan untuk berperang antar sesama muslim. Oleh karena itu, ketika mulai kontak senjata kecil-kecilan, keduanya berusaha mencari jalan damai. Sebelumnya itu, Ali mngeluarkan peringatan tegas kepada pasukannya untuk tidak mengejaar atau membunuh anggota pasukan yang melarikan diri dari pertempuran. Orang-orang tua, perempuan dan anak-anak harus diberikan perlindungan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Muawiyah.

Secara umum peperangan berjalan imbang, kalah menang antara kedua belah pihak silih berganti. Tatapi kemudian paasukan Ali berhasil menguasai keadaan dan sudah hampir menguasai pasukan Muawiyah. Pada puncaknya pertempuran berlangsung siang malam. Pasukan Muawiyah terus mendapatkan tekanan dan terdesak mundur. Muawiyah sendiri sudah hampir putus asa dan bersiap-siap untuk melarikan diri. Ketika itulah muncul Amr bin Ash yang mengusulkan kepada Muawiyah untuk memerintahkan pasukannya yang berada digarda depan mengangkan mushaf Al-Quran sebagai tanda perdamaian.

Melihat Mushaf Al-Quran diangkat seperti itu, Ali pun sangsi; apakah ini memang benar untuk perdamaian ataukah hanya sekedar permainan polotik belaka. Khalifah menyadari baahwa ini hanyalah permainan politik. Tetapi sebagian pemuka pasukanya menginginkan peperangan dihentikan. Khalifah ali pun memutuskan menghentikan peperangan. Tindakan ini oleh sebagian pasukan lainnya ditolak dan menjadikan mereka keluar dari pasukan khalifah. Mereka yang keluar dari golongan Ali ini kemudian dikenal sebagai kelompok khawarij. Disamping itu, peristiwa ini juga menjadi latar belakang lahirnya berbagai aliran dalam teologi islam.

  • Tahkim

Setelah pertempuran dihentikan, khalifah Ali segera mengirim utausan kepada Muawiyah guna meminta penjelasan. Muawiyah mengusulkan agar ada dua orang penengah yang netral mewakili kedua pihak. Pihak muawiyah menunjuk Amr bin Ash sebagai perwakilan. Sedangkan dari pihak Ali mengutus Abu Musa Al-Asy’ari.

Perundingan pertama antara Abu Musa Al-Asy’ari dan Amr bin Ash untuk bertahkim terjadi pada 13 safar 37 H. Enam bulan kemudian tepatnya pada bulan Ramadhan mereka bertemu kembali didaerah Azruh, sebelah timur Syiria untuk membahas resolusi perdamaian. Bagaimanapun juga mereka tidak kunjung mencapai kesepakatan untuk memilih orang yang tepat untuk menggantikan khalifah Ali dan Muawiyah. Oleh kaarena itu mereka mengambil jalan tengah dengan menyerahkan pemilihan kepada kaum muslimin.

Ketika itu Abu Musa mempersilahkan Amr bin Ash untuk mengumumkan hasil keputusan mereka kepadaa kaum muslimin. Tetapi Amr bin Ash dengan rendah hati dan penuh rasa hormat mempersilahkan Abu Musa maju terlebih dahulu untuk mengumumkan hasil keputusan. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwasanya Abu Musa lebih tua, lebih dulu masuk islam dan lebih dulu bersama Rasulullah. Sikap Amr bin Ash ini sekali lagi merupakan permainan politiknya. Abu Musa pun maju dan perpidato dihadapan publik; “setelah kami mengadakan pembahasan, kami tidak menemukan jalan keluar yang lebih baik guna mengatasi kemelut ini selain mengabil keputusan ini demi kebaikan kita bersama, yaitu kami sudah sepakat untuk memberhentikan Ali dan Muawiyah, dan selanjutnya kita kembalikan kepada majlis syura kaum muslimin sendiri.”[5] Sebagaian pihak menyayangkan langkah Abu Musa untuk berpidato terlebih dahulu.

Setelah Abu Musa selesai, Amr bin Ash pun maju dan berpidato; Abu Musa telah memecat sahabatnya, dan saya pun memecat orang yang telah ia pecat, tetapi saya mengukuhkan sahabat saya Muawiyah. Dia adalah wakil Usman bin Affan dan berhak menuntut itu. dialah yang paling tepat untuk kedudukan itu.”

Abu musa sempat memprotes keputusan ini, tetapi akhirnya mau tidak mau ia harus mengakui kemenangan pihak Muawiyah. Ia merasa malu sudah terlanjur memecat pemimpinya sendiri. Ia kemudian menyingkir dari tempat itu dan kembali ke Mekkah.

Setelah peristiwa tahkim, dunia islam terpecah menjadi dua wilayah dan kekhalifahan, khalifah Ali diwilayah timur meliputi semenanjung timur Arab, Irak dan Persia, sementra Muawiyah menguasai wilayah bagian barat yang meliputi syam dan Mesir. Mereka yang setia kepada Ali sperti penduduk Hijaz, Irak dan Persia tetap berkeyakinan bahwa pahak Ali lah yang benar, dan  Muawiyah merebut kekuasaan dengan jalan yang tidak sah karena melakukan rekayasa politik.

  • Terbunuhnya Ali

Sejak peristiwa siffin yang disusul dengan tahkim yang menjadikan umat islam terpecah belah membuat mereka yang keluar dari kelompok ali (khawarij) berkomplot merencanakan pembunuhan terhadap Khalifah Ali, Muawiyah dan Amr bin Ash karena menganggap merekalah biang keladi penyebab perpecahan itu.  pada tahun 40 H mereka melaksanakan pembunuhan yang terdiri dari; Abdurraahman bin Muljam Al-Himyari Al-Muradi (ibnu muljam) yang akan membunuh khalifah ali di Kuffah, Al-Hajjaj bin Abdullah Attamimi akan membunuh Muawiyah di Syam, dan Amr bin Bakr At-Tamimi akan membunuh Amr bin Ash di Mesir. Muaawiyah gagal dibunuh karena ketatnya pengawalan terhadapnya. Begitu juga Amr bin Ash. Adapun khalifah ali tewas terbunuh dikuffah ketika hendak melakukan shalat.

Sebelum ajalnya tiba, Ali tidak menyebut-nyebut siapa penggantinya, dan ketika dimintai pendapatnya tentang kemungkinan Hasan putranya sebagai pengganti ia menjawab;”saya tidak melarang juga tidak memerintahkan, kalian lebih tahu”.[6]

Setelah Khalifah Ali wafat, sebagian umat islam membaiat hasan sebagai khalifah pengganti Ali. Namun Hasan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama harem-haremnya ketimbang mengurus pemerintahan. Pandangan Hasan tidak sama dengan pandangan ayahnya dan ia hidup pada generasi yang baru sehingga pandangannya  serupa dengan generasi baru tersebut. Ia  telah mengetahui betapa berat beban seorang khalifah. Ia juga memandang sosok muawiyah lebih baik untuk masa ini. Muawiyah memiliki orang-orang dekat yang dapat dipercaya, dan muawiyah telah mampu melewati masa sulit sehingga dalam diri hasan melihat lebih baik menyerahkan pemerintahan kepada muawiyah dan ia tidak ingin berperang dengannya.

Muawiyah sendiri membujuk hasan  dengan  iming-imingi janji  untuk memeberikannya subsidi pensiun seumur hidup sebesar lima juta dirham dari perbendaharaan Kuffah, ditambah pemasukan dari sebuah distrik di Persia[7].

Disamping itu Hasan juga mengajukan beberapa persyaratan kepada Muawiyah antara lain;

  1. Agar Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap seorangpun dari penduduk Irak.
  2. Menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
  3. Agar pajak tanah negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan diberikan setiap tahun.
  4.  Muawiyah membayar sejumlah dua juta dirham kepada saudaranya Husen.
  5. Pemberian kepada bani Hasyim harus lebih besar daripada pemberian kepada bani Abdi As-Syams

Penyerahan jabatan khalifah dari Hasan kepada Muawiyah berlansung dikuffah dan dihariri oleh kaum muslimin. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan Amul Jamaah (tahun perkumpulan) karena kaum muslimin berkumpul

  • Sebab-sebab berpindahnya kekuasaan dari khulafaurrasyidin kepada bani Uamyyah

Wajah  politik islam mengalami perubahan yang cukup besar  dengan berdirinya dinasti Umayyah.  Sistem pemerintahan yang awalnya menggunakan sistem kekhalifahan berubah menjadi sistem kerajaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan ini antara lain;

  1. Perubahan besar dalam masyarakat dengan munculnya generasi baru. Mereka adalah bukan generasi sahabat dan tidak hidup bersama sahabat sehingga sifat dan pola hidup mereka tidak sama dengan sahabat.
  2. Perubahan tabiat kehidupan materialistis. Masyarakat telah beralih dari kehidupan yang penuh dengan kezuhudan terutama pada awal-awal pemerintahan khulafaurrasyidin menjadi masyarakat yang bergelimangan kemewahan.
  3. Kekuasaan khulafaurrasyidin adalah kekuasaan yang telah berlalu  dengan tepe khusus pada masanya. Tipe tersebut terkenal dengan sistem Syura (Musyawarah), padahal ketika itu semua kekuasaan didunia menggunakan sistem otoriter dan diktator.

Dengan melihat faktor-faktor diatas maka sistem kekuasaan khulafaurrasyidin sudah sulit dipertahankan, karena masyarkat baru dengan generasi dan pemikiran yang baru tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem kekhalifahan, sehingga kekuasaan harus diganti dengan sistem yang lain.

Kecendrungan masyarakat baru ini lebih menghendaki kekusaan dipegang oleh raja-raja yang masih memiliki hubungan keluarga seperti halnya zaman jahiliyah sebelumnya. Muawiyah merupakan sosok yang tepat untuk mewakili kepentingan, keinginan dan kecendrungan mereka.

Perpindahan sistem pemerntahan dari kekhalifahan kepada sistem kerajaan juga tidak lepas dari siasat politik muawiyah. Sebenarnya, ketika muawiyah berkuasa ada tiga kekuatan politik yang paling menonjol. Yang terakhir adalah kelompok abdullah keponakan aisyah dan putra zubair yang gagal memperoleh kursi kekhalifahan. Melihat hal ini tentunya Muawiyah harus mengambil kebijakan politik untuk mengamankan posisinya dan keturunan-keturunannya kelak.

Muawiyah kemudian ingin mengedepankan politik praktis daripada politik-politik lainnya,dan menyusun sendiri prinsip-prinsip politik tersebut. Muawiyah sudah memepersiapkan waktu untuk memenangkan kecendrungan politiknya, ia menggunakan metode khusus untuk menjalankan siasat politiknya. Metode ini berdasrkan kondisi dirinya dan kecendrungan daerah yang ia wakili yaitu Syam.

Muawiyah meletakkan dasar khilafah sesuai dengan keturunannya. Ia berkeyakinan bahawa metode ini adalah cara untuk menyelesaikan permasalahan-permasalah yang mungkin terjadi dan tidak menginginkan kaum muslimin berperang memperebutkan kekuasaan setelah ia meninggal. Dalam benak Muawiyah terbetik niat untuk menentukan putra mahkota yang akan melanjutkan kepemimpinannya. Setelah menimbang dan memikirkannya, akhirnya ia mengangkat  Yazid sebagai putra mahkota. Hal ini berdasrkan pertimbanagan bahwa Yazid lahir ketika ia menjabat gubernur syam pada masa pemerintahan usman. Jadi, ia lahir dan tumbuh dalam kekuasaan disyam. Ibunya serndiri adalah penduduk asli syam sehingga ia dipandang mampu mewakili dan melanjutkan kecendrungan politik masyarakat syam.

Sebagai penutup kami akan memberikan gambaran umum tentang perbandingan sistem pemerintahan Khulafaurrasyidin dengan pemerintahan dinasti Umayyah;

  1. Khalifah dalam pemerintahan khulafaurrasyidin adalah seorang hakim yang memutuskan persoalan-persoalah hukum. Sedangkan pada maasa pemerintahan dinasti Umayyah Khalifah adalah raja yang memimpin masyarakat.
  2. Asas negara pada masa khulafaurrasyidin didasarkan pada kekuasaan agama. Sedangkan pada masa dinasti Umayyah pemerintahan negara diatas segala-galanya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘isy, Yusuf, Dinasti umawiyah, pustaka Al-kautsar, jakarta, 2009

Audah, ali, Ali bin Abi thalib, litera antar nusa, bogor 2010

Hasan, ibrahim hasan, tarikh Al-Islam, makatabah An-Nahdhiyyah Al-Mishriyyah, kairo, 1991


[1] History of the Arabs, Philip K. Hitti,Serambi Ilmu Semesta, jakrata, 2010, Hal.235

[2] Taarikh Al-Islam, Hasan Muhammad Hasan, Maktabah An-Nahdhah Al-Mishriyyah, Kairo, 1991, hal. 226

[3] Sejarah peradaban islam, Drs. Samsul Munir Amin, M.A., Amzah, Jakarta, 2010, hal. 106

[4] Ibid.110

[5] Ali Audah, Ali bin Abi talib, litera antar nusa, bogor, 2010, hal. 263.

[6] Ibid, Hal. 339

[7] Op. Cit, hal.236

About these ads

3 thoughts on “SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s