KONSTRUKSI الأمور بمقاصدها

1)                  Pendahuluan

Niat menjadi syarat mutlak bagi kita semua dalam segala aspek perbuatan, niat akan menentukan kualitas individu tertentu. Ini adalah sebuah hal mudah tapi tidak menutup kemungkinan orang selalu mengabaikan hal ini. Kajian ini akan membahas apa (ontology), bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiology) niat itu.
Kaidah yang dibahas dalam makalah ini adalah salah satu dari kelima kaidah yang ada. Al-Umuru bi Maqasidiha (perkara-perkara itu tergantung kepada maksudnya atau niatnya) adalah tema yang cukup menarik perhatian untuk segala aspek. Betapa pentingnya sebuah dorongan (motivation) yang ada dalam diri seseorang ketika ingin bekerja. Segala pekerjaan, perbuatan ataupun yang hal lainnya tidak akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan jika tidak adanya sebuah motivasi di dalam diri seseorang. Motivasi bisa diidentikkan dengan niat dalam hal sama-sama bisa menjadi pendorong untuk melakukan sesuatu. Namun, niat lebih kompleks daripada motivasi, sebab niat itu menyatunya keinginan yang kuat(Azimah), rencana yang matang, dan dibarengi dengan aksi atau perbuatan. Meski demikian, membangun sebuah motivasi yang benar sama dengan memasang niat yang benar dan tulus, agar ia juga terdorong untuk bekerja dengan benar.[1]
2)                  Ontology
a.       Secara Bahasa
            Kata النية dengan tasydid pada huruf ya’ adalah bentuk masdar dari kata kerja nawa-yanwi. Dan inilah yang terkenal dikalangan ahli bahasa.
Niat adalah syarat bagi semua amalan dalam ibadah dengan niat akan diketahui (virtue) baik dan buruknya amalan.[2]
Orang yang berniat adalah orang yang bertekad bulat atau berketetapan hati untuk mengarah pada sesuatu, yaitu bermaksud untuk melakukan suatu tindakan dan arah yang dituju.[3]
النية فتربيط بالمقاصد
Niat adalah memiliki hubungan atau memiliki keterkaitan dengan tujuan atau maksud.[4]
أنما الأعمال بالنيات وأنما لكل أمرئ ما نوى, فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله, ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته الى ماهجر اليه. (متفق عليه).
Nilai suatu amal perbuatan sangat ditentukan oleh niat, dan setiap orang ditentukan oleh niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya Karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.[5]
Melalui hadits diatas, wisdom (hikmah) yang kita dapat bahwasanya niat mempunyai eksistensi yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Niat menjadi asas utama penerimaan sesuatu amalan itu sama ada diterima atau ditolak oleh Allah. Sekiranya sesuatu amalan itu dilakukan secara betul dari segi tata caranya namun salah dari segi niatnya, maka ia tidak diterima oleh Allah. Atau juga sesuatu amalan itu betul dari segi niatnya, tetapi salah dari segi tata caranya, ia juga menjadi sia-sia di sisi Allah.
ومن يرد ثواب الدنيا نٶته منها ومن يرد ثواب الأخرة نؤته منها[6]
Barangsiapa yang menghendaki pahala dunia niscaya kami akan berikan kepadanya pahala dunia dan barangsiapa yang menghendaki pahala akhirat niscaya kami akan berikan pula kepadanya pahala akhirat.
b.      Secara Terminology
Niat adalah mengoreintasikan ketaatan diri kepada Allah dalam mewujudkan tindakan.[7]
Al-Mawardi mengatakan bahwa niat adalah maksud yang mengiringi suatu tindakan. Begitu pula Imam Haramain ia menukil bahwa niat termasuk kategori maksud ( القصد ( dan keinginan (الإرادة).
Mengingat niat pada dasarnya adalah maksud atau kesengajaan, maka tidak ada yang keluar darinya kecuali perbuatan orang linglung, gila, dan segala sesuatu yang tidak berakal seperti hewan dan binatang.[8]
Imam Abu Ubaidah berkata: Taka ada satu Hadits yang lebih kaya dan banyak faidahnya daripada Hadits niat. Begitu juga Imam as-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud, ad-Daruquthni dan lainnya sepakat bahwa Hadits niat itu menempati sepertiga dari seluruh ilmu pengetahuan. Pendapat yang sama pernah diulas oleh Imam al-Baihaqi sebagai berikut: segala aktivitas manusia itu adakalanya berpangkal di hati sanubari, pada lisan dan adakalanya pada anggota badan. Niat yang berpangkal di hati sanubari adalah aktivitas kejiwaan. Dan ini lebih baik daripada aktivitas yang berpangkal di lisan dan anggota badan. Mengapa? Niat jika setelahnya tidak ada tindakan berupa instrumentalitas lebih baik daripada adanya tindakan instrumentalitas tanpa diiringi niat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
نية المؤمن خير من عمله (رواه الطيرانى)
Niat orang mukmin itu lebih baik daripada amal perbuatannya saja.[9]
Dalam kitab Syi’ah Imamiyah dinyatakan bahwa niat adalah keinginan yang memberikan efek pada terjadinya suatu tindakan sehingga tindakan tersebut menjadi tindakan yang dipilih. Inilah arti dari orang-orang yang menginterpretasikannya (menafsirkan) sebagai maksud yang diekspresikan oleh pendapat para pakar bahasa. Dan dapat pula diinterpretasikan dengan kemauan kuat (‘azm).[10]
Kesimpulan dari kesemuan istilah yang ada sebenarnya  memiliki perbedaan dari segi tekstualitas semata. Namun dari segi substansial memiliki kesamaan.
3)                  Epistemology
a.       Tempat Niat
Tempat niat adalah hati, karena hati adalah tempat akal, keinginan, tendensi (kecenderungan) dan keyakinan. Ada juga sebagian kelompok yang menyatakan bahwa niat terletak di otak bukan dihati. Atas asumsi diatas maka niat terletak di akal bukan di hati.[11]
Mereka yang mengatakan bahwa niat terletak di akal dengan berargumentasi sebagai berikut:
ختم الله على قلوبهم وعلى سمعهم وعلى أبصارهم غشوة ولهم عذاب أليم.
Artinya: Allah telah mengunci mati hati mereka dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang amat berat.[12]
b.      Waktu Niat
Jika suatu perbuatan hukum terdiri dari beberapa bagian, seperti wudhu dan shalat maka niatnya hanya dilakukan pada perbuatan yang pertama sedangkan selanjutnya tidak membutuhkan adanya niat lagi.[13]
Waktu niat menurut kalangan ulama madzhab Maliki adalah awal dimulainya wudhu tersebut. Maka jika pada saat membasuh sebagian anggota tubuh tanpa didasari niat maka wudhu’nya batal.
Menurut kalangan ulama madzhab Hanafi dan Syafi’i waktu niat pada saat awal mambasuh salah satu bagian wajah.
Menurut madzhab Hanbali bahwa kewajiban niat pada waktu berkumur karena menurut mereka berkumur adalah awal dari kewajiban-kewajiban wudhu.
c.       Wisdom (hikmah) dari disyari’atkannya niat
Wisdom dari disyari’atkannya maksud atau niat dalam segala aspek perbuatan menginstruksikan bahwa ada sesuatu yang tersirat dari kata niat, yaitu menyimpan sebuah nilai yang tinggi, bahkan mujtahid Imam Syafi’i dan lainnya menyatakan bahwa niat merupakan sepertiga dari ilmu pengetahuan yang ada.
Kaidah ini juga mengindikasikan bahwa semua perbuatan yang bersifat ibadah ataupun yang bersifat muamalah didasarkan kepada maksud atau niat ketika melakukannya. Hukum seseorang akan ditentukan dengan niat yang ia ucapkan.
4)                  Aksiologi
Tujuan disyari’atkannya niat untuk membedakan antara perbuatan-perbuatan ibadah dengan perbuatan adat dan untuk menentukan ibadah satu dengan yang lainnya.[14] Dengan penyertaan niat, perbuatan-perbuatan berikut ini dapat dibedakan sebagai perbuatan yang bersifat ibadah dan perbuatan yang bersifat adat kebiasaan:
Ø  Ketika seseorang memberikan sebagian hartanya kepada orang lain, namun tidak diiringi dengan niat membayar zakat, bersedekah atau lainnya maka menurut adat atau ‘urf masyarakat harta tersebut berstatus sumbangan social.
Ø  Ketika menyembelih hewan ada kemungkinan dimaksudkan untuk pesta bersama keluarga dan ada kemungkinan untuk berkurban. Hanya niat yang menyertai perbuatan yang dilakukanlah yang akan membedakan diantara kedua tujuan tersebut.[15]
Ø  Seseorang yang berwudhu yang dilandasi adanya niat maka akan berbeda dengan orang yang membasuh muka.[16]
Penjelasan mengenai kaidah yang dibahas dalam hal ini adalah hukum yang menempel pada perbuatan yang dikerjakan seseorang tergantung maksud atau niat yang ia tujukan.[17]
5)                  Contoh Aplikatif kaedah
a.       Orang yang mengambil anak yang hilang karena tersesat – di anggap selamat dan tidak dikenakan dhaman (hukuman) apabila anak yang diambilnya meninggal bukan karena kesalahannya yang disengaja atau kelalaiannya. Hal ini apabila maksud dari pengambilannya untuk menjaga anak tersebut dan akan mengembalikannya kepada pemiliknya. Adapun jika ia mengambil anak yang hilang itu karena maksudnya untuk memiliki, maka dia di anggap mengghashab jika anak temuannya itu mati atau cacat, sekalipun meninggalnya bukan karena penganiayaan atau kelalaiannya. Karena, perbuatan ghasab, sedangkan orang yang mengghashab secara mutlak dikenakan hukuman atas apa yang di ghasab.[18]
b.      Barang siapa menjual sesuatu atau menceraikan istrinya di dalam hati tanpa mengucapkannya, maka ia tidak dihukumi telah melakukan transaksi jual beli atau perceraian, meskipun ia secara lugas menyatakan telah meniatkan demikian.[19]
Sebenarnya masih banyak lagi contoh contoh kasus yang dapat dimasukan pada kaidah ini, namun kami rasa pada pembahasan ini cukup dengan dua contoh saja sudah mewakili dari contoh contoh kaidah yang lain.
6)                  Syarat-syarat niat
Jika niat merupakan suatu ibadah, maka harus memenuhi 4 syarat yang mana tidak sah jika salah satu dari syarat-syarat berikut tidak terpenuhi.
1.      Islam
Disyaratkan bagi orang yang berniat adalah seorang muslim, karena niat merupakan ibadah dan niat ibadah tidak sah jika dari orang kafir karena syarat sah diterimanya sebuah ibadah adalah islam dan iman kepada Allah SWT.
2.      Tamyiz(Dapat membedakan)
Maksud tamyiz di sini adalah kekuatan otak untuk mengambil kesimpulan terhadap sebuah esensi. Maka tidak sah ibadahnya anak kecil dan orang gila, karena akal merupakan tempat bergantungnya sebuah taklif. Seperti dalam hadits rasul dikatakan:
رفع القلم عن ثلاث: عن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يبلغ وعن المجنون حتى يعقل أو يفيق[20]
“Diangkat sebuah hukum terhadap tiga perkara: orang yang tidur sampai dia bangun dan anak kecil sampai dia baligh dan orang gila sampai dia berakal atau sadar”
3.      Mengetahui apa yang diniati [21]
Orang yang berniat harus mengetahui apa yang diniatinya apakah itu fardlu ataukah sunnah, ibadah ataukah yang lainnya, jika tidak mengetahui fardlu-fardlunya sholat atau wudlu maka tidak sah apa yang dikerjakannya, tetapi yang tidak membedakan fardlu-fardlu dengan yang sunnah, maka sah ibadahnya dengan syarat tidak menganggap sunnah hal-hal yang sebenarnya fardlu.
4.      Tidak bertentangan antara niat dan yang diniati
Maksudnya adalah tidak adanya kontradiktif antara niat seseorang dengan apa yang akan dikerjakannya, maka tidak orang yang berniat ibadah kemudian dia murtad. Begitu juga mengubah niat fardlu dengan sunnah sebelum yang fardlu selesai, maka batal ibadahnya. Dan juga dari suatu yang kontradiktif adalah ragu-ragu dan tidak ketetapan dalam niatnya, tidak mampu terhadap apa yang diniati secara akal, syariat dan secara social budaya.[22]

[1]. Kementerian Agama RI, 2010 M/1431 H,  at-Tafsir Maudhu’I  – Kerja dan Ketenagakerjaan, Bab. Membangun Etos Kerja, Hal. 139.
[2]. النية شرط لسائر العمل بها الصلاح والفساد للعمل
[3]. Wahyu Setiawan, M.Ag. 2009, Qawa’id Fiqhiyyah, Pustaka: Amzah, Hal. 28.
[4]. Syaikh ‘Ali Maliki, 1384 H,  Al-Asbah Wa An-Nazhair Fi Al-Furu’, Hal. 35.
[5]. Shahih Bukhari bi Syarhi al-Atsqalani, jilid. 1, Hal. 9.
[6]. Qs. Al-Imran surat ke 3 ayat 145.
[7]. Wahyu Setiawan, M.Ag. 2009, Qawa’id Fiqhiyyah, Pustaka: Amzah, Hal. 29.
[8]. Ibid.
[9]. Maksudnya adalah amal perbuatan yang tidak ada kualitasnya dan tidak memiliki nilai virtue (kebajikan).
[10].Menurut Ibnu Abidin dalam hasyiyah­-nya  Niat adalah nama suatu kehendak yang muncul, ‘azm adalah sesuatu yang mendahului tindakan, sementara qashd adalah sesuatu yang berbarengan dengan tindakan. Ibid, Hal. 31.
[11]. Wahyu Setiawan, M.Ag. 2009, Qawa’id Fiqhiyyah, Pustaka: Amzah, Hal. 36.
[12]. Qs. Al-Baqarah (2): 7.
[13]. Wahyu Setiawan, M.Ag. 2009, Qawa’id Fiqhiyyah, Pustaka: Amzah, Hal. 37. Dikutib dari kitab Nihayah al-Ihkam, X/122.
[14]. Prof. Dr. Mukhtar Yahya, Prof. Drs. Fatchur Rahman, 1986, Dasar-Dasar Pembinaan Fiqh Islam, Penerbit: PT. Al-Ma’arif Bandung, 490.
[15]. Ibid, Hal. 491.
[16]. H. Abdul Mu’in Saleh, 2009, Hukum Manusia Sebagai Hukum Tuhan, Penerbit: Pustaka Pelajar, Hal. 206.
[17]. Dr. Abdul Karim Zaidan, 2008, al-Wajiz – Kaidah Fikih Dalam Kehidupan Sehari-Hari, Penerbit: Al-Kautsar, Hal. 9.
[18]. Ibid, Hal. 9.
[19]. Prof. Dr. Nashr Farid Washil dan Prof. Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam, 2009, Qawa’id Fiqhiyah, Amzah, Hal. 7.
[20]. Fiqh sunnah,  jilid ,1 Hal. 74.
[21]. DR. Abdul Aziz bin Muhammad Azzam, Qawaid Fiqhiyah, Pustaka: Darul Hadits, Hal. 87.
[22]. Ibid, Hal 88.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s