Sang Pencari Kebenaran

SANG PENCARI KEBENARAN [1]

Salman al farisi menceritakan kisah pencariannya tentang kebenaran Islam: Dulu saya seorang majusi dari keluarga as-bahaan, saya seorang yang ditugaskan untuk menjaga api agar tetap menyala, suatu ketika saya merasa takjub terhadap ibadah dan apa yang dikerjakan oleh orang nasrani kemudian saya bertanya dari mana asal agama mereka, kemudaian orang-orang tersebut menjawab: di Syam. Maka saya pergi ke kota Syam dan saya tinggal bersama seorang Usquf (seorang pendeta), saya membantu, beribadah, dan belajar kepadanya. Dan pendeta ini adalah seorang laki-laki yang jelek dalam agamanya, kemudian usquf tersebut wafat. Dan kemudian diangkat usquf baru yang lebih baik, tatkala ajalnya telah dekat, aku bertanya kepadanya: kepada siapa engkau wasiatkan diriku? Jawab usquf: wahai anakku, tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali orang yang tinggal di Mosul. Tatkala usquf tersebut wafat, saya pun berangkat ke Mosul untuk mendatangi orang tersebut, dan saya tinggal bersamanya, kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, saya bertanya kepadanya, kemudian dia menunjukkan kepadaku pada seorang hanmba yang soleh yang tinggal di nasibin. Kemudiannsaya datang kepadanya dan tinggal bersamanya, tatkala dia hendak meninggal saya bertanya kepadanya, saya ditunjukkan kepada seorang laki-laki (pemimpin) yang tinggal di ‘ammuriyah, saya berangkat ke sana dan tinggal bersamanya kemudian dekatlah pula ajalnyadan saya bertanya kepadanya, kepada siapa engkau wasiatkan diriku?maka dia nberkata kepadaku, hai anakku tak seorangpun yang ku kenal serupa dengan keadaan kita dandapat aku percayakan engkau kepadanya, namun sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang nabi yang mngikuti agama ibrahim secara  murni, dia hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma antara  dua bidang tanah, jika kamu bisa maka pergilah dan temuilah dia. Dia mempunyai tanda-tanda yang jelas, janganlah kamu khawatir. Dia tidak mau makan harta sedekahan akan tetapi dia menerima hadiah, dan diantara kedua pundaknya ada tanda kenabian, jika kamu melihatnya kau akan mengenalinya. Dan lewatlah suatu rombongan yang berkendaraan dan saya ikut bersama mereka hingga sampai ke suatu negeri yang bernama waddil qura’. Mereka mendzalimiku dan mereka menjualku ke orang  yahudi, kemudia saya dijual lagi pada orang yahudi dari bani qaridah. Kemudian saya dibawa ke madinah dan demi ALLAH saya baru saja melihat negeri itu sehingga aku yakin bahwa itu adalah negeri yang pernah disebutkan kepadaku.dan aku tinggal bersama orang yahudi tersebut dan bekerja di kebun kurma miliknya di bani kuraizah, sehingga datang saat  diutusnya Rasulullah saw   ke madinah dan singgah di kubah. Pada suatu hari ktika aku berada di atas puncak pohon kurma, sedangkan majikanku sedang duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi dari anak ibunya (sepupunya) maka dia berkata “celakalah bani quilah (aus dan khazraj)” kemudian mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di kubah yang datang dari mekah dan mengaku sebagai nabi.

Demi Allah baru saja dia mengucapkaan kata-kata itu, tubuhkupun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh mengenai majikanku. Kemudian saya segera turun dan saya bertanya pada orang tadi’ apa yang kau katakan? Ada berita apa?’ maka majikanku mengangkat tangannya dan memukulku seraya berkata: apa urusanmu dengan hal ini?ayo kembalilah bekerja! Maka saya kembali bekerja. Setelahhari sudah sore saya kumpulkan semua yang ada padaku, kemudian saya keluar dan pergi menemui Rasulullah saw dikubah, dan saya masuk menemui beliau, ketika beberapa sahabat duduk bersama beliau, lalu saya berkata pada mereka,”tuan tuan adalah perantau yang sedang butuh sesuatu, kebetulan saya mempunyai makanan yang sudah saya janjikan untuk bersadakah, ketika saya mendengar  keadaan tuan-tuan menurut hematku tuan-tuan adalah orang yang lebih layak menerimanya (makanan), dan makanan saya bawa ke sini sambil saya hidangkan makanan ini. Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya: makanlah dengan bismillah, dan ambilah makanan itu, akan tetapi Rasulullah tidak mengulurkan tangannya untuk menyentuh makanan itu, maka saya berkata dalam hatiku inilah salah satu dari tanda-tandanya, yaitu beliau tidak mau  memakan harta sedekah !! kemudian saya kembali pulang dan keesokan harinya aku kembali pada Rasulullah s.a.w. sambil membawa makanan, dan saya berkata kepda Rasulullah s.a.w., “saya melihat tuan tidak mau memakan makanan sedekah, tetapi saya mempunyai sesuatu yang saya sukai sebagai hadiah untuk memuliakan anda”, sambil saya letakkan di hadapan beliau, kemudian beliau bersabda kepada para sahabatnya, “makanlah dengan menyebut nama Allah!!” dan beliau makan bersama mereka. Saya berkata pada diri saya sendiri: “demi Allah, inilah tanda yang kedua, beliau bersedia makan hadiah.” Kemudian saya pulang dan saya tinggal beberapa lama dengan kehendak Allah, saya datang kepada Rasulullah lagi, dan saya temui beliau di baqi’ sedang mengiringkan jenazah dan di kelilingi oleh para sahabat, dan saya ucapkan salam kepadanya dan saya menolehkan pandangan untuk melihat tanda/cap kenabian di pundaknya. Rupanya Rasulullah s.a.w. mengetahui maksud tujuanku, dan disingkapkanlah kain burdahnya dari lehernya, dan tampaklah tanda yang berada di pundaknya, yaitu cap kenabian sebagaimana yang telah disebutkan oleh sahabatku (pendeta), maka aku meratapi dan menciuminya seraya menangis, kemudian aku dipanggil untuk menghadap Rasulullah s.a.w. dan aku duduk dihadapan beliau, maka aku ceritakan kisahku kepada beliau, akhirnya akupun masuk Islam.


[1]. من كتاب العربية بين يديك

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s