HISTORY OF DZULQARNAIN

Dengan segenap ajaran-Nya dan perintah-Nya kita sebagai mahluknya tunduk akan segala yang di sampaikan-Nya. Perintah tunduk itu pula berlaku kepada setiap mahluknya untuk selalu membaca kisah-kisah yang ada di muka bumi ini, agar sifat tunduk itu akan muncul ketika kita membaca peristiwa-peristiwa dan kisah-kisah mengenai orang-orang patuh terhadap Allah sampai kepada kisah-kisah yang durhaka kepada Allah SWT.

Kisah Zulqarnain dalam ayat-ayat 83-98 pada Surah Al-Kahfi memberikan suatu model Islami tentang suatu Kuasa Besar Dunia Qura’ni. Kisah yang ringkas dan umum itu seharusnya kita sarikan pengajaran dan teladan untuk panduan dan pedoman kita.

Dalam pembahasan kali ini kami akan menceritakan mengenai kisah tentang Dzulqarnain dan cerita ini kami ambil dari ayat 83-98 pada Surah Al-Kahfi yang memberikan suatu model/gambaran Islami tentang suatu Kuasa Besar Dunia Qura’ni. Golongan Ahli Kitab ingin membuktikan bahawa Al-Qur’an berasal dari Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Maka, sebahagian orang yang mendalami kitab mereka bertanya kepada Mumammad SAW tentang kisah umat terdahulu, di antaranya kisah Dzulqarnain sebagaimana yang tertera dalam kitab mereka, Taurat dan Injil. Kemudian Allah mewahyukan kepada Rasulullah SAW untuk menjelaskan kisah itu. Dzulqarnain adalah utusan Allah yang diutus kepada kaumnya agar mengajak kepada ajaran tauhid. Lalu Dzulqarnain mendapat tantangan daripada Ya’juj dan Ma’juj, yaitu dua kaum yang membuat kerusakan di muka bumi.

  1.  SIAPAKAH DZUL QARNAIN  ITU ?

Identitas sebenarnya tentang Dzulqarnain tidak disebutkan dalam Al-Quran. Al-Qur’an menamakan sedemikian karena beliau memiliki kekuasaan yang luas, meliputi timur dan barat. (Tafsir Al-Kahfi).

Allah swt berfirman kepada Nabi Muhammad SAW “ dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain, katakanlah “akan kubacakan kepadamu kisahnya”, “Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.”

Akan tetapi bunyi ayat ini tidak menyebutkan kepada kita siapakah yang bertanya masalah ini? Apakah orang-orang yahudi atau sebahagian kaum  musyrikin arab? Sebagaimana yang telah di terangkan di berbagai riwayat, atau selain mereka? Kita tidak mengetahui secara tepat siapakah yang bertanya masalah ini, akan tetapi, sekiranya kita tahu, tetap saja hal itu tidak menambah apapun dalam hal yang di tunjukkan kisah (kandungan kisah). Kemudian ayat ini tidak menyebutkan kepribadian seorang Dzulqarnain, hidup di zaman apa atau dimana? Inilah model yang banyak yang terdapat dalam kisah-kisah Al-Qur’an, catatan sejarah bukanlah yang di maksud, akan tetapi yang dimaksud adalah apa manfaat yang bisa di ambil dari kisah disitu, dan manfaat apa yang bisa di dapatkan tanpa harus menyebutkan penentuan zaman dan tempat dan ini berlaku bagi sebahagian kisah yang ada dalam al-qur’an.

Al-qur’an juga tidak menyebutkan kepada kita tentang sebab, mengapa dinamai Dzulqarnain, akan tetapi dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ia memiliki dua kuncir rambut, maka dinamakan Zdulqarnain[1].

Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahri[2] (sampai ke pantai sebelah barat dimana Dzulqarnain melihat matahari sedang terbenam). Dia melihat matahari terbenam didalam laut yang berlumpuran hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat (umat yang tidak beragama). kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan (dengan menyeru mereka kepada beriman) terhadap mereka.” Berkata Dzulqarnain : “Adalah orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”
kemudian dia menempuh jalan (yang lain). hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit Matahari 9 sebelah timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari (menurut sebagian ahli Tafsir bahwa golongan yang ditemui Dzulqarnain itu adalah umat yang miskin) itu, demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu kami meliputi segala apa yang ada padanya. Kemudian dia menempuh sesuatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai diantara dua gunung, dia mendapati dihadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan (mereka tidak dapat memahami bahasa orang lain, karena bahasa mereka amat jauh bedanya dari bahasa yang lain, dan merekapun tidak dapat menerangkan maksud mereka dengan jelas karena kekurangan kecerdasan mereka). Mereka berkata : “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya ya’juj dan ma’juj itu (yang dimaksud disini ialah dua bangsa yang membuat kerusakan dimuka bumi, sebagian yang telah yang telah dilakukan oleh bangsa Tartar dan Mongol) orang-orang yang membuat kerusakan dimuka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?”
Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. “Berilah aku potongan-potongan besi,” hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain :”Tiuplah (api itu),” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api. Diapun berkata :”Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.” Maka mereka ridak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Dzulqarnain Berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku. Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji tuhanku adalah benar.” Kami biarkan mereka di hari itu (dihari kehancuran dunia yang dijanjikan oleh Allah SWT). Bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi (maksudnya tiupan yang kedua yaitu tiupan sebagai tanda kebangkitan dari kubur dan pengumpulan di padang Mahsyar, sedang tiupan yang pertama ialah tiupan kehancuran alam ini) sangkala, lalu kami kumpulkan mereka itu semuanya, dan kami nampakkan jahanam pada hari itu (pada hari mahluk di padang Mahsyar dikumpulkan).
kepada orang-orang kafir dengan jelas yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebenaran ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.

  1. APAKAH  DZUL QARNAIN  SEORANG  NABI?

Sebagian ulama menyatakan “ia adalah hamba yang shaleh, seorang raja yang dikaruniakan Allah berupa ilmu dan hikmah serta kekuasaan di muka bumi dan ia bukan nabi.[3]

Sebagian yang lain menyebutkan ia seorang nabi. Sebenarnya, tidak ada keterangan yang jelas dalam al-qur’an tentang kenabiannya, akan tetapi hanya  terdapat keterangan tentang keshalehannya kepada Allah dan hari akhirat.

Dzulqarnain bukan Alexander  the great:

Alexander berfahaman animisme sedangkan Zulqarnain seorang yang beriman (Tafsir Fi Zilalil Quran); Alexndaer bukan Zulqarnain kerana Alexander dikenali sebagai orang yang tidak taat beragama, tidak mengesakan Allah, menyembah berhala. (Tafsir Al-Mishbah); Memetik pendapat Fakhrurrazi: “Zulqarnain adalah seorang nabi sedangkan Alexander adalah seorang kafir. Guru Alexander adalah Aristoteles dan dia mendengar perintahnya, sedangkan Aristoteles adalah kafir. Mengenai status Dzulqarnain, yakni sama ada dia seorang nabi atau tidak, saya akan menjelaskannya dalam pembahasan akan datang. (Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqalani);  Alexander adalah kafir penyembah berhala, dan dengan itu bukan Zulqarnain. (Fakk’asrar Zi Al-Qarnain wa Ya’juj wa Ma’juj, Syaikh Hamdi).

 Dzulqarnain  adalah Alexander  the great:

Imam Jalaluddin Al-Mahali dan Imam Jalaluddin As-Sayuti menyebut Zulqarnain dengan nama Iskandar. (Tafsir Jalalain); Ibnu Hisham mengatakan dengan tegas, “Nama betul adalah Iskandar. Dialah yang membina kota Iskandariah. Kota Iskandariah kemudiannya dinamakan bersempena namanya. (Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisham); Imam Al-Alusi menyatakan Dzulkarnain adalah Alexander yaitu anak Raja Philip yang berjaya mengalahkan Raja Parsi, Darius. (Tafsir Ruh Al-Ma’ani); Memetik beberapa pendapat yang mengatakan Zulqarnain mempunyai nama Iskandar bin Filifus Al-Yunani. (Marohul Labid, Imam Nawawi Al-Jawi); Hidup di era Nabi Musa. (Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari, Ibnu Hajar Al-Asqalani); Zulqarnain adalah Iskandar Agung, Raja di Al-Maqduni (Macedonia) di negeri Yunani. (At-Tafsir Al-Qur’ani Li Al-Qur’an, Ustaz Abdul Karim Al-Khatib); Imam As-Tsa’labi berkata: “Zulqarnain dalah Iskandar Bin Philips Bin Hermes Bin Hardos Bin Monton Bin Rumi Bin Latin Bin Yunan Bin Yafits. Nasabnya dikatakan berakhir pada Al-‘Aidh Bin Ibrahim Khalil Ar_rahman.” (Qasash Al-Anbiya’, As-Tsa’labi).

  1. KEKUASAAN DZUL QARNAIN

Allah berfirman tentang kekuasaan Dzulqarnain dimuka bumi “ sungguh kami telah memberikan kedudukan di muka bumi dan kami telah memberikan jalan kepadanya untuk mencapai segala sesuatu,” (al-kahfi: 84)

Makna ayat di atas sesungguhnya kami (Allah) telah memberikan kekuasaan di muka bumi “yakni: dengan kekuatan, pendapat, pengaturan, kekayaan, dan jumlah. Allah memberikan kerajaan yang besar dan mapan dalam segala sisi dan kekuasaan.kekuatan pasukan, dan fasilitas alat perang. Allah memudahkan baginya sebab- sebab perluasan dan kemenangan, sebab- sebab dalam bidang arsitek dan kekuasaan.

Makna ayat, “dan kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk menapaki segala sesuatu.” Yakni, jalan yang menyampaikan kepada sesuatu, dan sebab itu adalah sesuatu yang bisa menyampaikan kepada maksud, berupa ilmu, kemampuan, dan alat.


[1] . dalam kitab tafsir ibnu atiyyah, jilid 9, hal. 385

[2] . Mencapai hujung peradaban di bahagian barat (Al-Qurthubi); Bahagian barat bumi namun mencapai tempat terbenamnya matahari di langit adalah mustahil (Tafsir Ibnu Kathir); Menempuh jalan ke arah barat (Tafsir  Jalalain); Negara yang tidak ada lagi negara selepasnya – tempat terbenamnya matahari kerana tiada bangunan, berjalan ke Tunisia dan kemudian Maghribi, selepas itu tiba di laut di mana diperhatikannya keadaan matahari yang seakan terbenam (Tafsir Maraghi); Di pantai Lautan Atlantik yang diberi nama Laut Gelap; atau muara sungai, di mana terdapat banyak padang rumput dan tanah berlumpur hitam (Tafsir Fi Zilalil Quran); Kawasan barat (Tafsir Al-Azhar); Berada di laut (Tafsir Al-Kahfi, Syaikh Uthaimin); Tempat jauh yang sebelumnya tidak terjangkau di bahagian barat bumi (Tafsir Al-Mishbah).

[3]. Tafsir al-zamaksary, jilid II hal. 743

One thought on “HISTORY OF DZULQARNAIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s