MENGENAL TAFSIR AL-QURTUBI

a. Profil Imam Qurtubi

Nama asli kitab tafsir Al-Qurtubi ialah Jami’ahkam Qur’an dinamakan tafsir Al-Qurtubi karena dinisbatkan pada pengarangnya yaitu Imam Qurtubi yang bernama asli Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Anshari al-Khazraj al-Andalusi al-Qurtubi. Beliau adalah seorang ulama’, arifin, dan zuhud. Karena kezuhudannya beliau hanya mempunyai sedikit pakaian, karena selalu sibuk dengan beribadah kepada Allah, sehingga beliau bisa mengeluarkan kitab yang sangat bermanfaat bagi manusia. Imam Qurtubi seorang yang ahli dalam bidang bahasa, sastra, fiqh, tafsir, dan ilmu kalam.[1]

Dalam beberapa kasus beliau pernah menyanggah terhadap sejumlah golongan yang sesat atau yang sedikit menyimpang, seperti: Mu’tazilah, Qodariah, Syi’ah rafidah, para filosof,  dan kaum sufi yang melampaui batas. Tetapi sanggahan beliau dilakukan dengan gaya bahasa yang halus, dan didorong dengan rasa keadilan. Apabila mengkritik dilakukan dengan bersih dan dengan cara sopan dan terhormat. Beliau wafat tepatnya pada bulan Syawal pada tahun 671 H, semoga Allah merahmatinya[2]. Amin…

b. Sistem atau metode penafsiran

Di dalam menafsiri Al-Qur’an, Imam Qurtubi sangat luas dalam menafsirkan ayat-ayat al quran dan tidak membatasi diri, Di dalam kitab tafsir al mufassirin dan kitab-kitab yang lainnya diterangkan, Imam Qurtubi dalam menafsirkan al-quran , beliau juga menyebutkan beberapa hukum-hukum, asbabun nuzul, menjelaskan kata-kata yang ghorib, mengemukakan macam-macam bacaan (qira’at) dan ‘irab, menghubungkan pendapat-pendapat yang mengemukakannya, menjelaskan dan mengemukakan khilafiyyah. Sehingga kita bisa mengetahui kemujmalan ayat –ayat tersebut, karena mencakup keterangan beberapa hukum yang sudah dijelaskan oleh Imam Qurtubi. Beliau juga mengetengahkan pendapat-pendapat ulama-ulama yang mengomentari pendapatnya, diantara pendapat ulama yang dinukil antara lain : Ibnu Jarir at thobari, Ibnu ‘athiyah, dan Abu bakar Al khosos.[3]

 c. Diantara karya-karyanya yang masyhur[4]:

 

v   الجا مع الاحكام القرآن

v   شرح أسماء الحسنى

v   كتا ب التذكار في أفضل الأذكار

v   كتاب شرح التقصي

v   كتاب قمع الحرص با لز هد والقنا عة

d. Contoh Tafsir Surah al Fatihah ayat 2[5]:

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Al-Qiro’at as-sab’ (tujuh ahli qiro’ah) membacanya dengan memberi harakat dhommah pada huruf dal pada kalimat alhamdulillah, yang merupakan mubtada (subjek).

Abu Ja’far bin Jarir mengatakan : al-hamdulillah berarti syukur kepada Allah Subhana wata’ala dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, bukan juga kepada mahluk yang telah diciptakannya, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya, dan tidak seorang pun selain Dia yang mengetahui jumlahnya. Berupa kemudahan berbagai sarana untuk menta’ati-Nya dan anugerah kekuatan fisik agar dapat menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya. Selain itu, pemberian rizki kepada mereka di dunia serta pelimpahan berbagai nikmat dalam kehidupan yang sama sekali mereka tidak memiliki hak atas hal itu, juga sebagai peringatan dan seruan kepada mereka akan sebab-sebab yang dapat membawa kepada kelanggengan hidup di surga tempat segala kenikmatan abadi. Hanya bagi Allah segala puji baik di awal maupun di akhir.

Ibu Jarir mengatakan “Alhamdulillah merupakan pujian yang disampaikan Allah untuk diri-Nya. Didalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamban-Nya agar mereka memuji-Nya. Seolah-olah Dia berfirman: “Ucapkanlah, Alhamdulillah”.         

Lebih lanjut Ibnu Jarir menyebutkan “Telah dikenal dikalangan para ulama muta-akhhirin, bahwa al-Hamdu adalah pujian melalui ucapan kepada yang berhak mendapatkan pujian disertai penyebutan segala sifat-sifat baik yang berkenaan dengan dirinya maupun berkenaan dengan pihak lain. Adapun Asy-Syukru tiada lain kecuali dilakukan terhadap sifat-sifat yang berkenaan dengan selainnya, yang disampaikan melalui hati, lisan, dan anggota badan.

Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai mana yang lebih umum, alhamdu atau asy-syukru Mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Dan setelah diteliti antara keduanya terdapat keumuman dan kekhususan. alhamdu lebih umum dari pada asy-syukru, karena terjadi pada sifat-sifat yang berkenaan dengan diri sendiri dan juga pihak lain, misalnya anda katakana: “Aku memuji-Nya (Al-hamdu) karena sifatnya yang kestaria dan karena kedermawanannya. Tetapi juga lebih khusus, karena hanya bisa diungkapkan melalui ucapan, perbuatan dan juga niat. Tetapi lebih khusus, karena tidak bisa dikatakan bahwa aku berterimakasih kepadanya atas sifatnya yang kesatria, namun bisa dikatakan aku berterimakasih kepadanya atas kedermawanan dan kebaikannya kepadakuDiriwayatkan dari al Aswad bin Sari’, beliau berkata: Aku bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam: (HR Imam Ahmad dan an-Nasa’i)

Diriwayatkan oleh Abu ‘Isa, at Tirmidzi, an Nasai dan Ibnu majah dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baiknya dzikir adalah kalimat “Laa ilaha illallaah, dan sebaik-baiknya do’a adalah Al Hamdulillah.”

Menurut at-Tirmidzi, hadist ini hasan gharib. Dan diriwayatkan oleh Ibnu majah dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah shalallahi ‘alahi wasallam g diberikan-Nya itu lebih baik dari pada yang diambil-Nya.”  

“Alif” dan “Lam” pada kata “alhamdu” dimaksudkan untuk melengkapi bahwa segala macam jenis dan bentuk pujian itu hanya untuk Allah semata.

“Ar- Rabbi” adalah pemilik, penguasa dan pengendali. Menurut bahasa, kata Rabb ditujukan kepada tuan dan kepada yang berbuat untuk perbaikan, semuanya itu benar bagi Allah Ta’ala. Kata ar-Rabb tidak digunakan untuk selain dari Allah kecuali jika disambung dengan kata lain setelahnya, misalnya “Rabbud Daari” (pemilik rumah). Sedangkan kata ar-Rabb secara mutlak hanya boleh digunakan untuk Allah Subhana wa Ta’ala.

Ada yang mengatakan bahwa ar-Rabb itu merupakan nama yang agung, sedangkan “Al ‘Alamiin” adalah bentuk jamak dari kata “’Alimuun” yang berarti segala sesuatu selain Allah. “ Lafazh “’Alamun” merupakan bentuk jamak yang tidak memiliki mufrad (bentuk tunggal) dari kata itu. Sedangkan misalnya “al-‘Awaalimu” berarti berbagai macam makhluk yang ada dilangit, bumi, daratan maupun lautan.

Bisyr bin ‘Imarah meriwayatkan dari Abu Rauq dari Adh Dhahak, dari Ibnu Abbas: “artinya: segala puji bagi Allah pemilik seluruh yang ada di langit dan di bumi serta apa yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

Az-Zajjaj mengatakan : “al-‘aalamu” berarti semua yang diciptakan oleh Allah di dunia dan di akhirat. Sedangkan Al Qurtubi mengatakan: “Apa yang dikatakan az-Zajjaj itulah yang benar, karena mencakup seluruh alam (dunia dan Akhirat).

Menurut penulis (ibnu Katsir) “al-‘aalamu” berasal dari kata “al-alaa matu” karena alam merupakan bukti yang menunjukan adanya Pencipta serta ke-Esa-an-Nya. Sebagaimana Ibmu al Mu’taz pernah mengatakan :”Seungguh mengherankan, bagaimana mungkin seorang bisa mendurhakai Rabb, atau mengingkari-Nya, padahal dalam setiap segala sesuatu terdapat untuk-Nya yang menunjukan bahwa Dia adalah Esa.”


[1] Tafsir al-mufasir, jilid 2, hal 401

[2] Mabahis fi ulumil qur’an, jilid 1, hal 232

[3] Tafsir al-mufasir, jilid 2, hal 402

[4] Ibid, hal 403

[5] Al-Jami’ al-ahkam al-qur’an, hal 8

2 thoughts on “MENGENAL TAFSIR AL-QURTUBI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s