ASBABUN NUZUL

Al Quran diturunkan untuk membimbing manusia kepada tujuan yang terang dan jalan yang lurus. Juga mengajar mereka dalam menyikapi sejarah masa lalu, kejadian-kejadian kontemporer. Dan tentang berita-berita masa depan. Salah satu diantara sekian banyak aspek yang dalam menggali dan memahami makna-makna ayat Al Quran adalah mengetahui sebab-sebab turunnya, karena itu mengetahui asbabun nuzul menjadi pokok perhatian para Ulama dan bahkan segolongan guru besar Imam Bukhari. Dapat dikatakan, untuk mengetahui secara mendetail tentang aneka corak ilmu-ilmu Al Quran serta pemahamannya, tidak mungkin dicapai tanpa mengetahui asbabun nuzul.

Allah berfirman:

 وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (115)    

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. (Al-Baqarah: 115)

Ayat ini sering diartikan, boleh menghadap kearah mana saja ketika sembahnyang atau sholat, selain arah kiblat. Pengertian ini jelas salah, sebab diantara syarat-syarat sahnya sembahyang atau sholat adalah menghadap kiblat.

  1. 1.        Definisi Asbabun Nuzul

Dari segi bahasa, perkataan ‘Nuzul’ berarti menetap di satu tempat atau turun dari tempat yang tinngi. Kata perbuatannya ‘nazala’  (نزل) membawa maksud ‘dia telah turun’ atau ‘dia menjadi tamu’. Asbabun nuzul adalah peristiwa yang melatarbelakangi turun ayat, atau karena pertanyaan dari para sahabat kepada Nabi saw mengenai suatu persoalan yang belum mereka ketahu. Pengetahuan tentang asbabun nuzul atau sejarah turunnya ayat-ayat Al Quran amatlah diperlukan dalam memperdalam pengertian tentang ayat-ayat Al Quran, karena dengan kita mengetahui asbabun nuzulnya kita lebih mudah dalam memahami isi kandungan ayat-ayat tersebut. Dalam buku Syaikh Manna’ Al-Qattan asbabun-nuzul didefinisikan sebagai “sesuatu yang karenanya Al Quran diturunkan, sebagai penjelas terhadap apa yang terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”.

 

  1. 2.      Bentuk Asbabun Nuzul

Dari definisi diatas bahwa bentuk asbabun nuzul itiu ada dua yaitu:

a)      Terjadinya suatu peristiwa, lalu turun ayat yang menjelasknnya

b)      Adanya pertanyaan yang diajukan kepada Nabi saw lalu turun ayat untuk menjawabnya. Misalnya pertanyaan seorang perempuan bernama Khaulah binti Sa’labah kepada Nabi saw bahwa suaminya Aus bin as-Samit telah menziharnya, yang berarti bahwa mereka harus bercerai. Tetapi ia menyatakan kepada Nabi saw bahwa mereka masih saling mencintai, Nabi saw mula-mula menjawab bahwa mereka harus bercerai, tetapi perempuan itu menolak, dan pulang. Sehingga turun ayat orang yang ingin melannggar ziharnya:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (1) الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (2) وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (3) فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ (4) “sunnguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad saw) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Orang-orang diantara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istrinya sebagai ibunya,padahal) istri mereka bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan. Dan sesungguhnya mereka benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan. Maka barang siapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) puasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barang siapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih”. ( Al-Mujadalah [58]: 1-4)

  1. 3.        Ungkapan Asbabun Nuzul

Sebagaimana sudah dinyatakan bahwa asbabun nuzul itu harus berupa laporan (riwayat) dari peristiwa yang terjadi pada masa Nabi saw yang dilaporkan oleh sahabat atau tabi’in.

Bunyi laporan itu memberikan petunjuk tentang kebenaran dan cakupan asbabun-nuzul yang dilaporkan. Bunyi laporan itu ada dua macam:

a)      Pasti (sarih)

Suatu informasi tentang asbabun-nuzul dipandang pasti asbabun-nuzul bila dikatakan dengan ungkapan tegas:

  1. “sebab turunnya ayat ini adalah…..”
  2. “Lalu turunlah ayat ini…..” setelah di informasikan adanya suatu peristiwa atau pernyataan kepada Nabi saw.

b)      Tentatif (muhtamalah)

Suatu informasi tentan asbabun-nuzul mengandung dua kemungkinan: benar merupakan asbabun-nuzul atau peristiwa itu dicakup makna ayat, bila diungkapkan dengan kata-kata:

  1. 1.      “Ayat ini turun berkenaan dengan…..”

Contohnya adalah laporan dari Ibnu ‘Umar mengenai ayat:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِين (223)

“istri-istrimu adalah lading bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman. (Al-Baqarah [2]:223)

Ibnu ‘Umar melaporkan sebab turun ayat ini dengan ungkapan: “ayat ini turun berkenaan dengan orang yang mendatangi istrinya sari belakang.” Hal itu berarti bahwa peristiwa orang yang mendatangi istrinya dati belakangnya itu merupakan penyebab turunnya ayat ini, atau peristiwa itu tidak merupakan penyebab turun ayat, tetapi sebagai peristiwa yang dicakup makna ayatnya. Makna ayat adalah bahwa hal dibolehkan.

  1. 2.      Saya kira ayat ini turun berkenaan dengan……”, atau “Saya tidak mengira ayat ini turun kecuali berkenaan……”
  2. 3.      Contohnya adalah laporan dari Ibnu Zubair bahwa ayahnya Zubair, bertengkar dengan orang anshar yang pernah ikut perang Badar mengenai perairan tanah mereka. Tanah Zubair di atas tanah orang itu, lalu Nabi meminta Zubair mengairi tanahnya dulu, setelah itu tanah orang tersebut. Mendengar ucapan Nabi saw tersebut, orang itu marah dan berkata , “ya Rasullah apakah itu karena ia anak pamanmu”. Raut muka Nabi saw berubah mendengar ucapan itu. Nabi tetap memerintahkan Zubair agar mengairi tanahnya dulu kemudian mengalirkannya ke tanah orang tersebut. Berkenaan dengan peristiwa itu, Zubair berkata, “Saya tidak mengira ayat ini turun kecuali berkenaan peristiwa itu.” Yang dimaksud adalah:

(فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)

“Maka demi tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’[4]:65)

Dengan demikian, peristiwa itu merupakan sababun-nuzul, atau peristiwa itu dicakupoleh makna ayat itu. Makna ayat adalah bahwa seseorang dinyatakan beriman bila ia mematuhi keputusan Nabi saw mengenai penyelesaian pertengkaran mereka. Berarti mereka orang yang menyanggah keputusan Nabi saw itu belum beriman.

 4.    Manfaat Mengetahui Manfaat Asbabun-Nuzul

    1. Untuk mengetahui bahkan dalam penetapan hukum sudah melalui berbagai pertimbangan, termasuk masalah-masalah yang dihadapi perorangan.
    2. Untuk memahami bahwa ayat turun berlaku khusus, bagi yang berpegang pada kaidah:

العبرة بخصو السبب لا بعمو اللفظ

 Yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus, bukan keumuman teksnya.

  1. Bila teks ayat umum, dan terdapat dalil yang nmengkhususkan, maka sebab turun ayat diterapkan pada bentuk yang bukan bentuk dalil itu.

Misalnya ayat:

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (23) يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ (25) 

“Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar, pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Pada hari itu Allah menyempurnakan balasan yang sebenarnya bagi mereka, dan mereka tahu bahwa Allah Maha Besar. Maha Menjelaskan. (an-Nur [24]:23-25)

Ayat ini umum, yaitu siapa yang menuduh perempuan-perempuan baik berzina, ia akan dilaknat di dunia dan di akhirat. Berarti tobat orang itu tidak di terima. Tetepi ayat ini turun khusus berkenaan dengan orang yang menuduh Ummul-Mukminin, ‘Aisyah (dan istri-istri Rasulullah lainnya, menurut satu pendapat.

  1. Untuk membantu dalam memahami makna ayat. Misalnya mengenai Surah Al-Baqarah [2]:158:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (158)

“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar agama Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’I antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka  Allah Maha Mensyukuri, Maha Maha Mengetahui”.

Ada sahabat yang memahami dari ayat itu bahwa sa’I antara Safa dan Marwah dalam ibadah haji itu tidak wajib, karena ungkapan ayat itu adalah “tidak ada dosa”. Hal ini dibantah oleh ‘Aisyah dengan menjelaskan sebab turunnya ayat itu, yaitu bahwa orang-orang pada zaman jahiliah memulai sa’I dengan mengusap patung bernama Isaf yang mereka letakkan di Safa, dan mengusap bernama Na’ila yang mereka letakkan di Marwah. Dalam zaman islam para sahabat merasa berdoa mengerjakan sa’I itu karena kebiasan orang jahiliah tersebut. Maka turunlah ayat yang menyatakan “tidak ada dosa” itu, tetapi maksudnya “wajib”.

  1. Mengetahui sebab turunnya ayat adalah cara terbaik untuk memahami Al Quran dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat di tafsirkan tanpa pengetahuan sebab turunnya. Menurut Ibnu Taimiyah , mengetahui sebab turunnya ayat akan membantu dalam memahami ayat, karena mengetahui sebab turunnya akan mengantarkan pengetahuan kepada musababnya (akibat)
  2. Sebab turunnya ayat dapat menerangkan tentang kepada siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan perselisihan dan permusuhan.

5.        Yang Dianggap Adalah Lafazh yang Umum, Bukan Sebab yang Khusus.

Apabila ayat yang diturunkan sesuai dengan sebab umum, atau sesuai dengan sebab yang khusus, maka yang umum diterapkan pada keumumannya dan khusus pada kekhususannya.

Contoh dalam hal ini adalah seperti:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (222)

 “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: Haid adalah suatu kotoran, penyakit. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari hubungan seksual dengan wanita ketika ia haid dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka tekah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

 Kata Anas dalam suatu riwayat; Jika istri orang-orang Yahudi haid, mereka dikeluarkan dari rumah, tidak diberi makan dam minum, dan di dalam rumah tidak boleh bersama-sama. Lalu Rasullah SAW ditanya tentang hal itu, maka Allah menurunkan, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid…” Kemudian kata Rasullah, “Bersama-sama dengan mereka dirumah, dan perbuatlah apa saja kecuali hubungan seksual.”

2 thoughts on “ASBABUN NUZUL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s