Cabang kaidah المشقة في تجلب التيسر

Kaidah pokok nomer 3 ini tidak banyak memiliki kaidah cabang, ada dua saja kaidah cabangnya  yang bersifat berpasangan dan berkebalikan yaitu : Pertama

اذا ضاق الامر اتسع [1]

       “ Apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas”

Sebagian ulama mencipta kaidah itu dengan rangkaian kalimat :

الاشياء اذا ضاقت اتسعت

         “ Sesuatu itu bila sempit, maka jadi longgar “

Dengan adanya kaidah diatas maka ada kaidah kebalikannya yaitu : Kedua

اذا اتسع ضاق

          “ suatu perkara menjadi meluas hukumnya menjadi menyempit “

          Kaidah diatas ini  pada lafadz  ( ضاق ) artinya sempit atau tidak ada kemampuan [2] maksudnya kesulitan. dan lafadz (اتسع  ) artinya luas bermakna kemudahan. Misalnya pada bulan puasa ( ramadhan ) seseorang dalam keadaan sakit maka diperbolehkan untuk berbuka ( berhenti  puasa ) karna sakit itu sendiri merupakan kesempitan atau kesulitan, oleh karena itu terjadi hukum keluasan atau kemudahan, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa orang sakit boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan,  ini menurut kaidah          “اذا ضاق الامر اتسع   “.Tetapi apabila orang yang sakit tadi sudah sembuh maka akan terjadi kaidah “ اذا اتسع ضاق  “ yaitu justru apabila suatu perkara menjadi meluas hukumnya menjadi menyempit, maksudnya ketika sembuh maka hukumnya wajib untuk berpuasa lagi .

          Kaidah ini juga dimaksud untuk tidak meringankan yang sudah ringan, oleh karena itu kaidah ini digabungkan menjadi satu yaitu :

اذا ضاق الامر اتسع واذا اتسع ضاق[3]

        “ Apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas, justru apabila suatu  perkara menjadi meluas hukumnya menjadi menyempit ”

Kedua kaidah diatas oleh Imam Ghazali disatukan dalam rumusan :

كل ما تجاوز عن حده انعكس الى ضده [4]

           “ Setiap yang melampui batas maka hukumnya berbalik pada sebaliknya “     

Atau semakna dengan kaidah     ماجاز لعذربطل بزواله

“ Sesuatu yang diperbolehkan karena udzur  ( halangan ) maka batal ( tidak diperbolehkan lagi ) dengan hilangnya halangan tadi “

Contohnya : penerapan seperti wanita yang sedang haid dilarang shalat dan puasa, larangan tersebut menjadi hilang bila haidnya sudah berhenti, maka wajib lagi melaksanakan kewajiban shalat dan puasa, dan juga ibadah-ibadah lainnya.

Dan contoh lain dari kaidah :        اذا ضاق الامر اتسع واذا اتسع ضاق

Orang yang memilki hutang tetapi keadaan ekonominya sedang sulit, sementara dia tidak memiliki orang yang dapat membantu melunasi hutangnya, maka dia diberi keringanan untuk melunasi hutangnya hingga datang kepadanya waktu mudah.

Kaidah ini menunjukkan kesesuaian hukum islam yang bisa diterapkan secara tepat pada setiap keadaan atau diperbolehkan melakukan keringanan dan kemudahan didalamnya hingga hilangnya sesuatu yang menyulitkan itu. Apabila kesulitan itu yang menyebabkan meluasnya perkara itu telah hilang, maka perkara tersebut kembali seperti semula.

Kaidah yang pertama ini terkenal disusun oleh Imam Syafi’i, dan beliau pernah memberikan jawaban sesuai dengan kaidah ini atas tiga pertanyaan yang berbeda-beda  yang dikemukakan kepada beliau.

  1. Yunus bin Abil A’la bertanya kepada beliau tentang status hukum seorang wanita yang tiada wali bepergian dengan diantar oleh seseorang laki-laki yangt bukan muhrimnya, spontan beliau menjawab,  (Apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas )[5]. Disebutkan dalam kitab lain, bahwa wanita disini adalah untuk perjalanan menuju akad nikah yang kehilangan walinya boleh menyerahkan  urusan kewalian kepada laki-laki yang dikehendaki.[6]
  2. Jawaban serupa diberikan kepada salah seorang yang menanyakan bejana yang dibuat dari tanah liat bercampur dengan najis, apakah dapat dipakai sebagai tempat wudu’ atau tidak.
  3. Ada lagi seseorang yang pernah meminta fatwa kepada beliau tentang seekor lalat yang baru saja mendekap dikotoran, lalu terbang terus hinggap dipakaian, beliau menjawab : tidak mengapa jika waktu terbangnya memungkinkan kedua kukunya menjadi kering karnanya, jika tidak demikian, maka sesuatu itu bila sempit longgarlah jadinya.[7] Artinya najis yang melekat pada kaki lalat itu dimaafkan yang mungkin mengenai pakaian

مالا يمكن التحرز منه معفو عنه[8]

       “ Apa yang tidak mungkin menjaganya ( menghindarinya ) maka hal itu dimaafkan “

Menyangkut tiga persoalan yang ditangani oleh Imam Syafi’i diatas, didalam keadaan biasa, perkawinan hanya sah apabila ada walinya menurut ketentuan, najis juga tidak boleh bercampur dengan air wudu’ maupun mengenai pakaian, ketentuan biasa ini diberlakukan kembali, karena keadaan tidak lagi dalam keadaan ( tidak lagi luar biasa )  kesempitan atau kesulitan.

Dan ada sebagian yang menambahkan kaidah ( المشقة في تجلب التيسر ) sebagai berikut :[9]

إذا تعذرالأصل يصر الى البدل

“Apabila yang asli sukar dikerjakan maka berpindah kepada penggantinya”

Contoh: tayamum pengganti wudlu.

مالم يمكن التحرز منه معفو عنه

“Apa yang tidak mungkin menjaganya (menghindarkan), maka hal itu dimaafkan”

Contoh: darah pada pakaian yang sulit dibersihkan dengan cucian.

. لاتناط باالمعصى  الرخص

“Keringanan itu tidak dikaitkan dengan kemaksiatan”

Contoh: seorang yang bepergian dalam bentuk kemaksiatan seperti merampok, mencuri, berjudi, maka orang semacam ini tidak diperbolehkan menggunakan keringanan-keringanan di dalam hukum islam.

Tetapi yang paling pokok dalam kaidah ini adalah “ اذا ضاق الامر اتسع واذا اتسع ضاق “            “ Apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas, justru apabila suatu  perkara menjadi meluas hukumnya menjadi menyempit ”

Kesimpulan, kaidah ini adalah cabang dari kaidah pokok   المشقة في تجلب التيسر  yang mana dalam kaidah cabang ini mengulas tentang “ اذا ضاق الامر اتسع واذا اتسع ضاق “

        “ Apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas, justru apabila  suatu  perkara menjadi meluas hukumnya menjadi menyempit “

             Dalam kaidah tersebut apabila ada suatu perkara yang hukumnya wajib bagi mukallaf tetapi ia dalam keadaan kesempitan ( kesulitan ) untuk melaksanakan kewajiban tadi, maka ia diberi keluasan ( kemudahan, keringanan ) untuk melaksakan kewajibannya, dengan adanya keriganan untuk melakasanakn kewajiban, bukan berarti semua kesempitan / kesulitan ada keluasan / kemudahan, tetapi yang dimaksud dalam kesempitan yang mendatangkan kemudahan ini ada syarat-syarat tertentu yang harus terpenuhi. Misalnya  dalam keadaan Safar ( bepergian ) yang telah menempuh perjalanan kurang lebih 91 km maka boleh untuk melaksanan keringanan shalat dengan shalat jama’ qashar, ketika tidak dalam keadaan bepergian hukumnya kembali pada asalnya, yaitu tidak boleh shalat  jama’qashar karna keadaannya sudah tidak dalam keadaan kesempitan / kesulitan, maka hukumnya tidak lagi luas.

Kaidah ini tidak membolehkan seorang mukallaf  meringankan yang sudah ringan, oleh karena itu jika suatu urusan sudah menjadi luas ia akan menjadi sempit.orang sakit ketika bulan ramadlan ia diperbolehkan untuk tidak puasa karena dihawatirkan jika ia puasa sakitnya akan bertambah parah, akan tetapi jika ia telah sembuh wajib hukumnya berpuasa lagi dan menqada’ puasanya yang telah ditinggalkan pada waktu lain.

Hikmah yang terdapat pada kaidah ini suatu kewajiban taklifi ( beban ) kepada orang mukallaf yang keadaannya diluar kebiasaan maka ia memperoleh keringanan beban yang telah ditentukan oleh hukum Islam.oleh karena itu hukum Islam menunjukkan kesesuaian yang bisa diterapkan secara tepat pada setiap keadaan. 

Daftar Pustaka

      Abdul Karim Zaidan, Al-Wajiz 100 kaidah Fiqih dalam Kehidupan Sehari-hari. edisi Indonesia. Jakarta : Pustaka Al-Kausar, 2008.

Abdul Mun’im, Hukum Manusia Sebagai Hukum Tuhan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009.

Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih kaidah-kaidah hukum Islam dalam menyelesaikan masalah-masalah praktis. Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2010.

Fathur Rahman, Mukhtar Yahya, Dasar-Dasar pembinaan Fiqh Islam. Bandung : PT al-Ma’arif, 1986.


[1] Al-Suyuti, al-Ashbah wa al-Naza’ir, hlm. 59.

[2] Munawwir Warson, Kamus Munawwir, hal 834

[3] Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih, hlm 61.

[4] Abdul Mun’im, Hukum Manusia sebagai Hukum Tuhan, hlm 248.

[5] Yahya, Fathur Rahman, Dasar-Dasar Fiqh Islam, hlm 504.

[6] Abdul Mun’im,Op, cit, hlm 248.

[7] Yahya, Fathur Rahman, Op, cit, hlm 504.

[8] Djazuli,Op cit, hlm 65.

[9] Ibid 62.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s