GHARAIB AL QUR’AN

Pendahuluan

       Di dalam al qur’an terdapat beberapa pelajaran dari Allah yang dikemas dengan berbagai model yang unik dan indah bahkan ada yang sangking uniknya manusia tidak dapat memahaminya secara langsung tapi harus melalui proses yang sangat panjang dan ketelitian yang tajam, sebagai contoh ayat gharib al qur’an.

Gharib al qur’an bukanlah ayat yang biasa digunakan dalam al qur’an, bukan lafadznya melainkan makna yang terkandung dalam sebuah ayat tersebut. Hal ini mengakibatkan munculnya rasa penasaran bagi orang islam –khususnya- dan non muslim –umumnya-Seakan-akan di dalam al qur’an terdapat kerancuan makna dan kata yang tidak cocok bila digabungkan dengan kalimat yang lain, padahal al qur’an adalah pedoman dan tuntunan hidup bagi seluruh makhlukNya.

Rasa penasaran dan kehausan ilmu ini digunakan sebagai senjata yang ampuh oleh al qur’an, sebab tabiat manusia menyukai suatu hal yang baru dan unik. sifat ini dimanfaatkan oleh penyebaran agama islam dengan menampilkan sebuah ayat yang sulit dipahami dan unik agar lebih seksama dalam memahami al qur’an.

Mengkaji al qur’an secara ilmiah dan mendalam sangatlah perlu dan penting dengan tujuan agar terhindar dari pemahaman yang keliru. Kondisi ayat yang gharib mengundang perhatian bagi ulama tafsir kuno di masanya. Mereka menafsirkannya dengan seksama dengan carariwayat dari sahabat ini dan dari sahabat ini dan dikumpulkan dalam bentuk sebuah buku. Namun sanyangnya buku tersebut kebanyakan bukan membahas bagaimana cara  menafsirkan ayat yang gharib tapi mereka hanya menafsirkan ayat tersebut saja, bukan membahasnya.

Terdapat hadits Nabi dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al Baihaqi

اََعْـرِبُوا القـُرْآنَ وَ الـْتـَمِـسُـوْا غـَرَائِـبَـهُ

“Terangkanlah makna-makna yang terkandung di dalam al qur’an dan carilah pengertian kata-kata yang sukar”

 

GHARAIB AL QUR’AN

 1.                 Al Haddu/Definisi

Lafad gharaib berasal dari bahasa arab, yakni bentuk jamak dari gharibah yang berarti asing atau sulit pengertiannya. Apabila dihubungkan dengan al qur’an maka yang dimaksud adalah ayat-ayat al qur’an yang sukar pemahamannya sehingga hampir-hampir tidak dapat dimengerti seperti kata أبا dalam ayat 31 dari surat ‘Abasa (وفاكهة و أبا)

Hal ini bukanlah hal yang baru, pernah terjadi pada masa Nabi SAW.dengan periwayatan dari Anas sesungguhnya Umar bin Khottob RA. membaca surat وفاكهة و أبا diatas mimbar, lalu beliau berkata “Adapun buah (fakihah) telah kita ketahui, sedang  apa yang dimaksud dengan al abba?” lalu beliau berfikir, kemudian beliau mengembalikan pada dirinya sendiri dan ada yang berkata “hal ini terlalu berberat diri wahai Umar”. Beliau tidak mengetahui makna dari kata “al abba”, padahal beliau adalah orang arab yang ahli dalam bidang sastra arab dan yang memiliki bahasa yang paling fasih serta al qur’an diturunkan kepada manusia dengan menggunakan bahasanya.

Dari peristiwa diatas dapat kita ketahui bahwa gharib al qur’an bukanlah hal yang baru, dan memang suatu hal yang sangat sulit dipahami langsung, bahkan ulama’ tedahulu tidak mau memberi makna apalagi menafsiri ayat yang sulit dipahami mereka lebih memilih untuk me-mauqufkan-nya dan tidak berpendapat sedikitpun, karena keterhati-hatiannya.Seperti ungkapannya shahabat Abu Bakar RA.saat ditanya tentang firman Allah yang berbunyi وفاكهة و أبا , beliau berkata “ di langit mana aku berteduh dan di bumi mana aku tinggal, jika aku berkata sesuatu di dalam al qur’an yang aku tidak mengetahuinya”.Menurut Abu Sulaiman al Khotthobi :Gharib al qur’an adalah suatu hal yang samar dan jauh dari kepahaman. Beliau membagi gharib al qur’an menjadi dua ; yang pertama adalah hal yang jauh makananya serta samar, yang hanya dapat dipahami  setelah melalui proses pemikiran yang dalam. Yang kedua adalah perkataan seseorang yang rumahnya jauh dari kabilah arab sehingga jika kalimat tersebut diungkapkan kepada kita (orang arab) maka otomatis kita langsung menganggapnya aneh.

Sedangkan menurut Muchotob HamzahGharib al qur’an adalah Ilmu al Qur’an yang membahas mengenai arti kata dari kata-kata yang ganjil dalam al Qur’an yang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Dari ketiga definisi, dapat kita simpulkan bahwa Gharib al qur’an adalah ilmu yang membahas suatu makna kata dari ayat al qur’an yang dianggap aneh (tidak cocok) dan sulit dipahami.

Orang yang pertama kali membahas gharib al qur’an adalah Abdullah bin Abbas sebelum terjadi perang dunia ke-2. Pendapat ini bertendensi pada naskah yang ditemukan di berlin, namun pendapat ini dibantah oleh Dr. Husain Nashar : buku ini adalah kumpulan pendapat yang dilontarkan oleh Abdullah bin Abbas bukan beliau yang membukukannya tapi para muridnyalah yang membukukannya , sebagai landasan pendapat ini ada salah seorang dari penerjemahnya Abdullah bin Abbas tidak menisbatkan kitab seperti ini kepada beliau.

  1. 2.                 Pendapat ulama

a)         Perbedaan Pandangan seputar apakah di dalam al-Qur’an terdapat lafal yang bukan bahasa orang- orang Arab?
Sebenarnya, para ulama telah sepakat bahwa al-Qur’an itu berbahasa arab, hanya saja mereka berselisih pendapat tentang: Apakah dalam al-Qur’an itu terdapat terdapat kata- kata yang berasal bukan dari bahasa orang- orang arab? Dalam hal ini, terdapat 2 aliran:
1. Aliran pertama, yaitu aliran jumhur. Tokohnya adalah al-Qadhi Abu Bakar, Ibnu at- Tayib, al- Bakilani, Imam Syafi’i dan ulama lain. Mereka mengatakan, ” al-Qur’an itu keseluruhannya berbahasa arab, dan didalamnya tidak terdapat kata- kata yang dinisbatkan pada bahasa lain.” hanya saja kata-kata itu sesuai dan berlaku pada bahasa- bahasa lain, sehingga orang Arab, Parsi, Habasyah, dan lainnya menggunakan kalimat itu.”
Kemudian ditegaskan pula, banyak nash al-Qur’an yang menunjukan bahwa al-Qur’an itu berbahasa arab, baik susunan, lafalnya, uslubnya dan ucapannya diantara nash- nash tersebut adalah :
1. Firman Allah:
“Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas.” (Qs. Asyu’ara:194-195)
2. Firman Allah:
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, Yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui”. (Qs. Fushilat:3)
3. Firman Allah:
”Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”. (Qs. Yusuf:2)
4. Firman Allah:
”(ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (Qs. Az-Zumar: 28)

 

b)         Aliran Kedua, yaitu aliran kelompok ulama yang mengatakan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat lafal yang bukan bahasa Arab. Lafal- lafal itu karena jumlahnya sedikit, sehingga tidak bisa mengeluarkan kedudukan al-Qur’an sebagai bahasa Arab yang jelas, seperti lafal المشكاة yang berarti kuwwah, lafal “Al-Kifly” yang berarti ad-da’fu lafal “qasyarah” yang berarti asad. Semua lafal ini berasal dari Habasyah, bukan bahasa arab. Begitu juga lafal-lafal di bawah ini:
a. Lafal Al-Qistas artinya adil/mizan berasal dari Rum
b. “As-Sijjil” artinya “Al-Hijarah” dan “At-Tin” dari bahasa Parsi.
c. “Al-Gassaq” artinya “Al-Baridul Muntin” dari bahasa Turki
d. “Al-Yammu” artinya “Al-Bahru” dan “At-Tur” artinya “Al-Jabal” berasal dari bahasa Suryani
e. “Sundus” artinya ar-Raqiq min as-satr dari bahasa hindi
f. “Istibraaq” artinya al-Ghalid (tanpa Qaf) dari bahasa parsi
g. “Tha-ha” artinya ya rojul dari bahasa Ibrani
h. “Siiniin” artinya Hasan dari bahasa nubtiyah
i. “Waraa’ahum malik” artinya amaamahum dari bahasa qibti
j. “Aliim” artinya al- Bahr dari bahasa qibti
k. “al-Aabb” artinya al- Hasyisy (sejenis tumbuhan yang memabukkan) dari bahasa orang barat
l. “Inna naasyiat al-Lail” artinya Qooma min al-Lail dari bahasa habsy.
m. “Abariq” menurut Ats-tsa’labi di dalam fiqh lughah, kata itu berasal dari bahasa parsi, sedangkan menurut al-Juwailiqi kata itu merupakan unsur serapan bahasa arab dari bahasa parsi. Artinya adalah kendi tempat menyimpan.
n. “Ibla’i” menurut ibnu Hatim telah mengeluarkan riwayat dari Wahhab bin Munabbih tentang firman Allah, “Ibla’i ma’aka”. Ibnu Munabih mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Habsy yang artinya adalah telanlah (izdarihii).
o. “Akhlad” berasalh dari bahasa Ibriyah, dalam al- Irsyad, Al- Wasithi mengatakan dengan ungkapan “Aklada ila ard”. Maksudnya adalah menempel/melekat pada bumi.
p. “Al-’Ara’ik” berasal dari bahasa Habsyi, di dalam funun al-Afnan, Ibnu al-Jauzi menuturkan bahwa maknanya adalah singgasan raja (sarir)
q. “Asfar” berasal dari bahasa suryani, dalam al-Irsyad, Al-Wasithi mengatakan bahwa maknanya adalah kitab- kitab.
r. “Ishri” berasal dari bahasa Nabathi, dalam lughat al-Qur’an, Abu Qasim mengatakan bahwa maknanya adalah “janjiku”.
s. “Akwab” berasal dari bahasa Nabathi, Ibnu al-Jauzi mengartikan sebagai gelas
t. “Inahu” berasal dari penduduk barat, maknanya adalah matang
u. “Awwah” berasal dari bahasa Habsyi artinya penyantun
v. “Awwab” berasal dari bahasa Habsyi artinya disucikan
w. “Batha’inuha” berasal dari bahasa Qibthi, syadalah pernah mengatakan mengenai firman Allah: Batha’inuha min istabroq, yakni bagian luarnya (zhawahiruha).
Ibnu Atiyah berkata, “sebenarnya lafal-lafal ini asalnya bahasa Ajam (bukan Arab), namun karena orang-orang arab menggunakannya dan mengarabkannya. Maka lafal- lafal itu menjadi bahasa Arab. Sebenarnya, orang arab itu sendiri mendapatkan pencampuran dari bahasa lain dari tetangganya, sehingga mereka terpengaruh dengan lafal- lafal Ajam yang mereka gunakan dalam syair- syair dan pembicaraanya. Kemudian lafal- lafal itu berlaku seperti bahasa Arab yang sahih, secara demikianlah al-Qur’an diturunkan “.

c)         Alasan- alasan Jumhur Ulama (Aliran Pertama)
Jumhur Ulama beralasan dengan dalil- dalil yang menegskan bahwa al-Qur’an itu berbahasa arab dan didalamnya tidak terdapat lafal- lafal yang bukan bahasa arab atau nama- nama benda yang bukan bahasa arab. Seperti kata Israil, Jibril, Imran, Nuh, dan Luth. Mereka beralasan dengan dalil- dalil sebagai berikut:
a. Seringnya al-Qur’an mengulang- ulang lafal “قراناعربيا” di berbagai tempat dalam al-Qur’an, sedangkan telah kita mafhumi bahwa lafal al-Qur’an itu umum, mencakup semua surat dan semua ayat, mencakup pula semua kalimat dan kosa- kata.
b. Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa orang arab agar mereka bisa memahami dan merenungkan artinya. Mustahil Allah SWT memberikan firman-Nya kepada suatu bangsa dengan bahasa yang tidak dimengerti mereka.
c. Allah SWT menolak anggapan orang musyrik arab tatkala mereka mengira bahwa muhammad SAW menerima al-Qur’an dari salah seorang ahli kitab kemudian Allah membantah anggapan mereka dengan firman Allah dalam Qs. An-Nahl:103
“Dan Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam , sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.”
d. Seandainya dalam al-Qur’an terdapat lafal yang bukan bukan dari bahasa Arab atau lafal- lafalnya Ajam, pasti orang musyrik arab akan mengumumkan untuk menentang al-Qur’an dan berhujah atas ketidak benaran nubuwwah rasul SAW seperti firman Allah SWT:
“Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab”
e. Terdapatnya dalam al-Qur’an lafal yang dinisbatkan kepada bahasa lain pada dasarnya karena persesuaian bahasa, dengan arti lafal tersebut dipakai bersama oleh orang Arab, parsi dan lain- lain dan hal ini tidak berarti mengeluarkan kedudukannya sebagai bahasa arab.
Setelah kita kemukakan dua pendapat’ lengkap dengan masing- masing alasan mereka, maka dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling sahih adalah pendapat yang dikemukakan oleh at- Tabari dan jumhur ulama yang mengemukakan bahwa keseluruhan al-Qur’an adalah berbahasa arab. Alasan ini didukung oleh beberapa nash al-Qur’an yang meng-iyakan hal tersebut .

 

  1. 3.                 Cara menafsirkan ayat-ayat yang ghorib

Permasalahan ini menjadi persoalan yang sangat rumit, khususnya setelah Nabi SAW.wafat, sebab saat beliau masih hidup semua permasalahan yang timbul langsung ditanyakan kepadanya. Tentu tidak semua persoalan sosial dan kemasyarakatan serta keagamaan muncul saat beliau masih hidup karena umur beliau relatif singkat, sementara pesoalan kemasyarakatan tersebut berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.

Namun Rasulullah sebelum wafat telah meninggalkan dua pusaka yang sangat ampuh dan mujarab serta berharga, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Nabi menjamin barang siapa yang berpedoman kepada keduanya niscaya dia tidak akan sesat selama-lamanya.

تـَرَكـْتُ فِـيْكُـمْ شَـيْـئَـيْـنِ لَنْ تـَضِـلُّـوْا بـَعْـدَهُـمَا كِـتـَابَ اللهِ وَ سُـنَّـتِى (رواه الحكم)

“Aku meninggalkan dua perkara pada diri kalian yang kalian tidak akan tersesat setelahnya yaitu Kitab Allah dan Sunnahku”.

Hadits ini dikuatkan oleh firman Allah yang tertera pada surat al Nisa’ ayat 59

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah persoalan tersebut kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Secara teoritis kembali kepada al qur’an dan hadits boleh dikatakan tidak ada masalah, tetapi problema muncul lagi dan terasa memberatkan pikiran ketika teori itu diterapkan untuk memecahkan berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. Oleh karena hal itu cara yang digunakan oleh ulama’ dalam memahami gharib al qur’an, – dan ini disebut juga “Ahsana al Thuruq”oleh  sebagai ulama – adalah sebagi berikut :

1.       Menafsirkan al qur’an dengan al qur’an

Contoh Surat al An’am ayat 82

Kata ظلم dalam ayat tersebut jika diartikan secara tekstual maka terasa membawa pemahaman yang asing dan tidak cocok dengan kenyataan sebab hampir tidak ditemukan orang-orang yang beriman yang tidak pernah melakukan perbuatan dzalim sama sekali. Jika begitu maka tidak ada orang mukmin yang hidupnya tentram dan tidak akan mendapat petunjuk.

Oleh karena itu sahabat bertanya kepada Rasulullah, lalu Rasul menafsirkan kata dzulm dengan syirk berdasarkan pada surat Luqman ayat 13

“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Dari penjelasan Nabi diatas dapat diketahui bahwa kata dzulm dalam surat al An’am berarti syirk bukan ke-dzaliman biasa, dengan penjelasan itu selesailah persoalannya. Dan berdasarkan penjelasan Nabi itulah maka surat al An’am ayat 82 diterjemahkan sebagai berikut “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik) mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

2.       Menafsirkan al qur’an dengan sunnah rasul.

As Sunnah adalah penjelas dari al qur’an, dimana al qur’an telah menjelaskan bahwa semua hukum (ketetapan) Rasulullah berasal dari Allah. Oleh karena itu Rasulullah bersabda                           أَلاَ إنِّي أُوْتِيْتُ القُرآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ يَعْنِي السُنَّةَ

“Ketahuilah bahwa telah diberikan kepadaku Qur’an dan bersamanya pula sesuatu yang serupa dengannya” yaitu sunnah

3.       Jika tidak ditemukan di dalam hadits maka dicari dalam atsar (pendapat) shahabat

Pendapat para sahabat lebih akurat dari pada lainnya dikarenakan mereka telah berkumpul dengan Rasulullah dan mereka telah meminum air pertolongan beliau yang bersih. Mereka menyaksikan wahyu dan turunnya, mereka tahu asbabun nuzul dari sebuah ayat maupun surat dari al qur’an, mereka mempunyai kesucian jiwa, keselamatan fitrah dan keunggulan dalam hal memahami secara benar dan selamat terhadap kalam Allah SWT. bahkan menjadikan mereka mampu menemukan rahasia-rahasia al qur’an lebih banyak dibanding siapapun orangnya.

4.       Jika masih belum didapati pemecahannya maka  sebagian ulama memeriksa pendapat tabi’in. diantara tabi’un ada yang menerima seluruh penafsiran dari sahabat, namun tidak jarang mereka juga berbicara tentang tafsir ini dengan istinbat (penyimpulan) dan Istidlal (penalaran dalil) sendiri. Tetapi yang harus menjadi pegangan dalam hal ini adalah penukilan yang shohih

5.       Melalui sya’ir

Walaupun sebagian besar ulama nahwu mengingkari cara yang kelima ini dalam menafsirkan ayat yang gharib namun cobalah kita melepaskan diri dari perbedaan itu dan melihat penjelasan dari Abu Bakar Ibnu Anbari yang berkata “telah banyak riwayat yang menyebutkan bahwa sahabat dan tabi’in berhujjah dengan sya’ir-syair dengan kata-kata yang asing bagi al qur’an dan yang musykil (yang sulit)”.

Syai-syair itu bukanlah dijadikan sebagi dasar al qur’an untuk berhujjah melainkan dijadikan sebagai penjelas dari huruf-huruf asing yang ada di al qur’an, karena Allah berfirman dalam surat az Zukhruf ayat 3 “Sesungguhnya Kami menjadikan al qur’an dalam bahasa arab”.

Syair-syair itu sebagai perbendaharaan bangsa arab. Jika salah satu huruf  dalam al qur’an tidak diketahui dalam bahsa arab maka dikembalikan pada perbendaharaan mereka (bangsa arab), dan dicari maknanya.

Ibnu Abbas berkata “ jika kalian bertanya kepadaku tentang sebuah kata asing di dalam al qur’an maka carilah maknanya pada syair-syair. Sesungguhnya syair-syair itu adalah perbendaharaan bangsa arab”.

Contoh ; ketika Ibnu Abbas sedang duduk-duduk di halaman ka’bah, dia dikelilingi oleh sekelompok kaum  dan bertanya kepadanya tentang penafsiran beberapa ayat, diantaranya mereka bertanya tentang tafsir ayat وابتغو اليه الوسيلة yang ada pada surat al Maidah ayat 35. Kata الوسيلة diartikan oleh Ibnu Abbas dengan “kebutuhan” , kemudian dia mengambil dasar dari syair yang dikatakan oleh Antarah yang berbunyi

ان الرجال لهم اليك وسيلة        ان يأخذوك تكحاي و تخضبي

Sesungguhnya para laki-laki itu membutuhkanmu

Jika mereka hendak mengambilmu

Maka pakailah celak dan semir   

  1. 4.                 Faedah

Dari penjelasan di atas dapatlah kita mengambil hikmah dan mengetahui faedahnya, diantaranya adalah:

1.       Mengundang tumbuhnya penalaran ilmiyyah, artinya memahami ayat yang sulit pemahamannya akan melahirkan berbagi usaha untuk memecahkannya dengan cara memperhatikan pemakaiannya dalam bahasa arab seperti syair dan sebagainya. Dalam hal ini tentu banyak membutuhkan pemikiran yang rasional dari pada emosional.

2.       Mengambil perhatian umat, artinya sesuatu yang asing, aneh dan tidak seperti biasanya akan selalu menjadi pusat perhatian. Seseorang akan merasa penasaran dan ingin mengetahuinya, sebab manusia diciptakan dengan tabiat senang terhadap hal-hal yang baru. Ini adalah salah satu cara berdakwah, setelah tertarik maka dimaksukkan tujuan bedakwah itu sendiri.

3.       Memperoleh keyakinan terhadap eksistensi al qur’an sebagai kalam Allah. Dengan diketahui maksud yang terkandung dalam ayat-ayat gharib, maka akan diperoleh suatu pemahaman yang mendalam dan terasa betapa tingginya bahasa yang dibawa oleh al qur’an, baik lafad maupun maknanya.

Dengan demikian diketahui bahwa al qur’an bukanlah dari makhluk Allah, melainkan dzat yang menciptakannya.

 

Daftar pustaka

          Prof. Dr. Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Cet. I ; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005

          Imam Jalaluddin As Suyuthi, Al Itqon fi Ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh Farikh Marzuqi Ammar, Lc, MA. dan Imam Fauzi Ja’iz, Lc, Samudra Ulumul Qur’an (Al-Itqan fi Ulumil Qur’an), (Surabaya, PT Bina Ilmu Surabaya,Cet. I, 2006)

          Hamzah, Muchotob (2003).Studi Al-Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media (internet)

          Manna Khalil al Qattan, Mabahitsi fi Ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh Drs Mudzakir AS, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, (Bogor, PT Pustaka Litera Antar Nusa,Cet. I, 1992)

          Syekh Ali as Shabuni, Al Tibyaan fi Ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh Muhammad Qodirun Nur, Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, (Jakarta, Pustaka Amani,Cet. I, 2001)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s