“JADAL” DALAM AL-QUR’AN

Pendahuluan

            Jadal merupakan sebuah salah satu tema tertentu dalam pembahasan dalam ilmu al-qur’an dimana ada salah seorang Ulama’ Mutaakhkhirin yang menulis secara khusus tentang topik ini, beliau adalah al-‘Allamah Sulaiman bin Abdul qawi bin Abdul Karim, yang dikenal dengan Ibnu Abul ‘Abbas al- Hanbali Najmuddin at-Tufi wafat pada 715 H. Secara naluri memang setiap seseorang mempunyai akal dan pemikiran yang berbeda-beda, sehingga menjadikan antara mereka saling mengutarakan dan mengungkapkan pemahaman mereka tentang sesuatu. Maka jika apa yang disampaikannya berbeda dengan yang lain maka terjadilah perdebatan. Begitu juga pada zaman Rasulullah SAW yang mana beliau menghadapi orang-orang Arab yang mempunyai karakter yang keras, sehingga jika Nabi menyampaikan wahyunya sering ditentang oleh masyarakat Arab bahkan mendustakannya.

Akan tetapi karena Nabi Muhammad memang seorang Rasul yang sangat sabar yang diutus Allah untuk menyampaikan risalahNya, beliau sampaikan dengan cara yang lembut. Orang Arab terkenal dengan ahli bahasa dan syair yang bagus, tapi ketika menghadapi Al-Qur’an yang lebih tinggi dan indah bahasanya sehingga mereka tidak dapat menandinginya sedikitpun.

Pada bab ini kami mencoba menjelaskan mengenai jadal mulai dari defenisi, metode berdebat, macam-macam perdebatan dan hikmah dari mempelajari tema ini.

1. Defenisi Jadal

Jadal dan Jidal adlah bertukar pikiran dengan cara bersaing dan berlomba untuk saling mengalahkan lawan. Pengertian ini berasal dari kata-kata جدلت الحبل , yakni أحكمت فتله ( aku kokohkan jalinan tali itu). Allah menyatakan dalam Al-qur’an bahwa berdebat merupakan salah satu tabiat manusia: وكان الانسان اكثر شئ جدلا” dan manusia adalah makhluk yang paling banyak debatnya (al-kahfi 18/54), yakni paling banyak bermusuhan dan bersaing.

Rasulullah juga diperintahkan agar berdebat dengan kaum musyrik dengan cara ynang baik yang dapat meredakan keberingasan mereka. Firmannya:

ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي احسن

“serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.” (an-nahl 16/125)

2. Metode berdebat yang ditempuh Al-qur’an

Qur’an al-karim dalam mendebat dengan para penantangnya banyak mengemukakan dalil dan bukti kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orang ahli. Al-Qur’an tidak menempuh metode yang dipegang teguh oleh para ahli kalam yang memerlukan adanya muqadimah, natijah. Hal itu disebabkan:

a. Qur’an datang dalam bahasa Arab dan menyeru mereka dengan bahasa yang mereka ketahui.

b. Bersandar pada fitrah jiwa, yang percaya pada apa yang disaksikan dan dirasakan, tanpa perlu penggunaan pemikiran mendalam dalam beristidlal adalahlebih kuat pengaruhnya dan lebih efektif hujjahnya.

c. meninggalkan pembicaraan yang jelas, dan mempergunakan tutur kata yang jlimet dan pelik, merupakan kerancuan dan teka-teki yang hanya dapt dimengerti kalangan ahli.

3. macam-macam perdebatan dalam qur’an dan dalilnya

1. Menyebutkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah melakukan perhatian dan pemikiran untuk dijadikan dalil bagi penetapan dasar-dasar akidah, seperti ketauhidan Allah dalam uluhiyahnya dan keimanan kepada malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasulnya dan hari kemudian. Seperti firman Allah:

يا ايها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون الذي جعل لكم الارض فراشا والسماء بناء وانزل من السماء ماء فاخرج به من الثمرات رزقا لكم فلا تجعلوا لله اندادا وانتم تعلمون

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu Dia menghsilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”.

2. Membantah pendapat para penantang dan lawan serta mematahkan argumentasi mereka. Perdebatan macam ini mempunyai beberapa bentuk:

a). Membungkam lawan bicara dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah diakui dan diterima baik oleh akal, agar ia mengakui apa yang tadinya diingkari, seperti penggunaan dalil dengan makhluk untuk menetapkan adanya khalik. Misalnya ayat:

“apakah mereka diciptakan tanpa ssesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka telah meyakini (apa yang mereka katakana). Ataukah disisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (kelangit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak laki-laki? Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang? Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu? Maka orang-oarang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah? Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (at-thur 52/35-43).

b). mengambil dalil dengan mabda’ (asal mula kejadian) untuk menciptakan ma’ad (hari kebangkitan). Misalnya firman Allah:

“ maka apakah Kami letih dengan pencptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang pencptaan yang baru.” (qaf 50/15), firmannya:

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungan jawab)? Bukankah ia dahulu setes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim)? Kemudian mani itu menjadi segumpal darah , lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya. Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat demikian) berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-qiyamah 75/36-40).

Termasuk diantaranya beristidlal dengan kehidupan bumi sesudah matinya (kering) untuk menetapkan kehidupan sesudah mati untuk dihisab. Misalnya:

“ Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaannya) ialah bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air diatasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungghnya Tuhan yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati.” (Fussilat 41/39).

c). Membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan (kebenaran) kebalikannya, seperti:

“ Katakanlah: siapakah yang menurunkan kitab (taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan sebagiannya dan kamu sembunyikan sebagian besarnya; padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahuinya? Katakanlah: Allah-lah yang menurunkannya, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan mereka.” (al-an’am 6/91).

Dalam suatu riwayat dikemukakan seorang pendeta gemuk dari kaum Yahudi, bernama Malik bin Ash Shaif mengajak bertengkar kepada Nabi, bersabdalah Nabi kepadanya: “terangkanlah kepada kami dengan sungguh-sungguh, demi Allah yang telah menurunkan Kitab Taurat kepada Musa, apakah kamu dapatkan di dalam Taurat bahwa Allah benci kepeda pendeta yang gemuk?” maka marahlah ia dan berkata: “ Tidak, Allah tidak menurunkan apa-apa kepada manusia.” Teman-Temannya berkata: “Celaka kamu! Apakah Dia juga tidak menurunkan apa-apa kepada Musa?” Maka turunlah ayat tersebut.

Ayat ini merupakan bantahan terhadap perndirian orang yahudi sebagaimana diceritakan Allah dalam firmannya:

“dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka mengatakan : Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” (al an’am 6/91)

d). menghimpun dan memerinci (as sabr wa taqsim), yakni menghimpun beberapa sifat dan menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut bukanlah ‘illah, alasan hukum, seperti firman Allah:

“Delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Katakanlah: Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua betina, ataukah yang ada dalam kandunngan dua betinanya? Terangkanlah kepadaku dengan dasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: Apakah dua jantan yang diharamkan ataukah yang betina, ataukah yang ada dalam dua kandungan betinanya? Apakah kamu menyaksikan diwaktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih dzalimdarimpada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allahuntuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (al an’am 6/143-144).

e). membungkam lawan dan mematahkan hujjahnya dengan menjelaskan bahwa pendapat yang dikemukakannya itu menimbulkan suatu pendapat yang tidak diakui oleh siapapun. Misalnya:

“ Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong ( dengan mengatakan ): Bahwasanya Allah mempunyai anaklaki-laki dan perempuan, tanpa berdasar ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dan Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (al an’am 6/100-101).

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah tidak mempunyai anak, hal ini karena proses kelahiran anak tidak mungkin terjadi dari sesuatu yang satu. Proses tersebut hanya bisa terjadi dari dua pribadi. Padahal Allah tidak mempunyai istri. Di samping itu Dia menciptakan segala sesuatu dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu ini sungguh kontradiktif bila dinyatakan bahwa Dia melahirkan sesuatu. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, dan pengetahuan-Nya ini membawa konklusi pasti bahwa Dia berbuat atas dasar kehendakNya sendiri. Perasaan pun dapat membedakan antara yang berbuat menurut kehendak sendiri dengan yang berbuat karena hukum alam. Dengan kemahatahuanNya akan segala sesuatu itu, maka mustahil jika Dia sama dengan benda-benda fisik  alami yang melahirkan sesuatu tanpa disadari, seperti panas dan dingin. Dengan demikian maka tidak benar menisbahkan anak kepada-Nya.

Masih banyak lagi macam-macam jadal dalam Qur’an, misalnya argumentasi para nabi dan umatnya, argumentasi orang mukmin dan lain sebagainya.

4.Urgensi dalam mempelajari ilmu Jadal

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui penyampaian dari Nabi sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia. Sebelum Nabi Muhammad diutus menyampaikan risalahNya, keadaan orang Arab pada waktu itu sangat bejat moralnya dan masih menyembah berhala. Sehingga Nabi Muhammad butuh waktu yang panjang untuk mengembalikan pada akidah yang benar. Disamping itu orang Arab sangat keras wataknya tapi masalah bahasa sangat menguasai dan pakar dalam hal itu. Sehingga ketika mereka menerima ajaran Rasulullah mereka sering menentang bahkan mendustakannya. Di antara hikmahnya adalah:

1. ketinggian bahasa alqur’an membuat mereka tidak mampu menandinginya.

2. bahasa alquran sangat halus dalam mendebat.

3. betapapun orang arab sangat mahir dalam bahasa, mereka tidak mampu menjawab alquran.

4. menunjukkan bahwa manusia itu sangat terbatas pengetahuannya yang tidak patut untuk menyombongkan dirinya.

5. alquran menerangkan bahwa dalam menyampaikan ajaran atau mengajak kepada kebaikan diharuskan dengan cara yang sopan santun sehingga orang menjadi tertarik untuk mengikutinya.

6. apabila orang yang diajak kebaikan malah menentang dan mengajak berdebat, maka debatlah dengan yang lebih baik. Dan sampaikan dalil yang bisa diterima olehnya

Demikian sedikit penjelasan dari kami mengenai jadal (debat) dalam alquran, semoga ada guna dan manfaatnya. Sehingga bisa menambah khazanah keilmuan pada kita. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s