KAIDAH-KAIDAH TAFSIR

Pendahuluan

Pada awalnya, ilmu itu merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang sifatnya global. Maksudnya, ilmu tersebut masih bersifat menyeluruh dan mencakup semua aspek yang berkaitan dengannya. Namun, seiring perkembangan zaman dan penalaran umat manusia ilmu pengetahuan juga berkembang pesat. Dengan perkembangan yang sedemikian itu, maka para cendekiawan selanjutnya disibukkan dengan upaya untuk merangkum keragaman spesialisasi ini dalam tatanan tertentu yang mencakup semua pengetahuan yang terkait. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar dapat memudahkan dalam mempelajari ilmu tersebut.

Demikianlah, usaha yang dilakukan ulama’ mutaakhirin yang sehingga mampu menjadikan spesifikasi keilmuan semakin luas. Salah satunya adalah ilmu tentang qawaid tafsir yang akan kita pelajari bersama kali ini. Definisi tentang istilah ini tidak banyak diungkapkan oleh para ulama’ tafsir, katakanlah buku-buku kebanyakan yang membahas ilmu-ilmu al-qur’an tidak menguraikan definisinya secara khusus dan terperinci. Namun, itu bukan berarti karya tentang ilmu ini meniadakan penjelasan tentang maknanya. Salah satu karya yang membahas tentang pengertiannya adalah Qawa’idut Tafsir Jama’atan wa Dirasatan, yang ditulis oleh Khalid bin Usman As-Sabt. Di dalam kitab tersebut, cukup disinggung secara rinci apa yang dimaksud dengan qawaid tafsir.

Pengertian

Jika dilihat dari aspek kebahasaan istilah Qawaid Tafsir terdiri dari dua kata, yaitu kata qawaid dan kata tafsir. Maka, secara etimologi kata qawaid merupakan jama’ dari kata kaidah, yang berarti rumusan asas-asas yang menjadi hukum, atau boleh dikatakan undang-undang. Kemudian kata tafsir merupakan masdar dari fassara-yufassiru-tafsiiran yang berarti penjelasan atau pengungkapan sesuatu agar dapat dimengerti maksudnya.

Adapun pengertian qawaid tafsir secara terminologi adalah hukum-hukum atau aturan-aturan global yang membawa pada pengambilan kesimpulan makna-makna yang terkandung dalam al-qur’an serta pengetahuan tentang pengambilan manfaat darinya.

Kaidah-kaidah tafsir yang terdiri dari seperangkat patokan atau pedoman yang bersifat global tersebut merupakan penyimpulan dari beberapa contoh redaksi ayat, yang kemudian dijadikan sebagai rumusan pedoman dalam ayat-ayat lain yang senada. Dengan demikian, rumusan tersebut dapat diterapkan pada ayat-ayat lain yang memiliki susunan redaksi atau bentuk kata yang serupa. Sehingga, diharapkan dapat menghasilkan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang dikaji makna dan kandungannya (Depag, 99).

 Macam-macam Qawaid Tafsir

Setelah kita mengetahui secara singkat definisi tentang qawaid tafsir, selanjutnya kita perlu mengetahui macam-macam bentuknya. Ada beberapa aspek yang masuk pada pembahasan kaidah ini, antara lain sebagai berikut:

Athaf

Athaf merupakan salah satu kaidah yang berfungsi sebagai penggabung dua kata atau lebih. Adapun athaf yang terdapat di dalam al-qur’an ada tiga macam:

  1. Athaf pada lafadz, merupakan athaf yang asal

Contoh:

والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض

  1. Athaf pada kedudukan suatu kata

Contoh:

إن الذين أمنوا والذين هادوا والصابئون والنصارى

Kata الصابئون berathaf pada kedudukan الذين أمنوا , yang berkedudukan sebagai isimnya إن

  1. Athaf pada makna

Contoh:

لولا أخرتني إلى أجل قريب فأصدق وأكن من الصالحين

Kata وأكن pada maknanya فأصدق , yang menjadi kelanjutan pekerjaannya.

Isim Nakirah dan Ma’rifah

Isim nakirah adalah kata yang menunjukkan suatu hal atau benda yang bersifat tidak tentu (bersifat umum). Sedangkan isim ma’rifah merupakan kebalikan dari isim nakirah, yaitu kata yang menunjukkan suatu hal atau benda yang bersifat khusus. Adapun isim-isim yang termasuk dalam kategori isim ma’rifah adalah isim dlomir, isim ‘alam, isim isyarah, isim maushul, isim yang kemasukan Al -Ta’rif, isim yang disandarkan pada kata lain (idlafah), dan isim munãdã.

Di dalam penerapannya, isim nakirah mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut:

a)      Untuk menunjuk person atau orang tertentu.

Contoh:

وجاء رجل من أقصى المدينة يسعى قال يا موسى أن الملأ يأتمرون بك ليقتلوك فاخرج إني لك من الناصحين

Kata رجل yang terdapat pada ayat di atas menunjukkan umum, namun bisa bermakna seseorang tertentu karena disusul dengan adanya من bayaniyah yang menerangkan seseorang tersebut.

b)      Untuk menunjuk pada spesies (نوع ).

Contoh:

هذا ذكر وإن للمتقين لحسن مأب

Kata ذكر  yang terdapat pada ayat di atas berarti kehormatan, dan merupakan salah satu bentuk nau’ dari beragam kehormatan yang layak untuk diberikan kepada para nabi yang dikisahkan pada ayat sebelumnya.

c)      Untuk mengagungkan sesuatu.

Contoh:

ولهم عذاب عظيم

Kata عذاب di atas merupakan cakupan dari seluruh bagian yang termasuk di dalamnya. Kata tersebut memberikan indikasi bahwa adzab itu adalah sesuatu yang agung dan terus berkelanjutan kepada orang yang akan mendapatkannya.

d)     Untuk menunjuk makna banyak.

Contoh:

فلما جاء السحرة قالوا لفرعون أئن لنا لأجرا إن كنا نحن الغالبين

Kata أجرا yang terdapat pada ayat di atas menunjukkan makna banyak, dikarenakan tidak diketahui jumlahnya secara pasti.

Sedangkan di dalam penerapan isim ma’rifah banyak sekali contohnya, namun itu semua tergantung dari redaksi ayat yang tertulis yang pada intinya menunjukkan makna khusus. Di dalam kedua kaidah ini, ada kalanya terjadi pengulangan dua kata yang sama yang tidak sama bentuknya. Misalnya kata nakirah yang didahulukan kemudian di susul dengan kata ma’rifah, begitu pula sebaliknya.

Contoh:

فإن مع العسر يسرا إن مع العسر يسرا

Pengulangan yang terjadi pada ayat di atas terdapat pada kata العسر , secara dua kali dalam bentuk isim ma’rifah. Kedua kata tersebut mempunyai arti sama, yaitu sebuah kesulitan. Penetapan yang demikian itu juga dikuatkan adanya hadis yang mengatakan bahwa satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan dua kemudahan. Dalam kata lain, bisa diungkapkan bahwa setiap kesulitan itu pasti mempunyai dua kemudahan (Depag, 119)

Demikian pula masih banyak sekali contoh yang terdapat dalam ayat-ayat yang lain, seperti di antaranya adalah kata الصراط yang terdapat dalam surah al-fatihah dan kata الرسول yang terdapat dalam surah Al-muzzammil.

Mufrad dan Jama’

Secara etimologi kata mufrad merupakan kata yang bermakna tunggal, sedangkan kata jama’ adalah kebalikannya yang berarti banyak. Namun, jika dipandang dari segi terminologi, kata mufrad adalah kata yang bermakna satu. Dan kata jama’ adalah kata yang bermakna yang bermakna tiga atau lebih (Depag, 129).

Di dalam al-qur’an dapat kita temukan kata-kata tertentu yang dalam pemakaiannya hanya spesifik pada mufrad atau jama’ saja, ada yang dipakai dalam benruk mufarad maupun jama’, selain itu ada juga kata mufrad yang bermakna jama’ atau sebaliknya. Sehingga dari hal tersebut dapat diambil sebuah kaidah yang berkaitan dengan masalah ini.

Bahkan sudah ada ketetapan mengenai makna yang sudah pasti berkaitan dengan makna kata mufrad dan kata jama’. Penetapan ini terdapat pada kata الريح dan kata الرياح yang sudah ditetapkan maknanya jika ditemukan dalam redaksi ayat tertentu. Hal ini berdasarkan informasi yang berasal dari hadis nabi yang intinya bahwa:

كل شيئ فى القرأن من الرياح فهو رحمة وكل شيئ فيه من الريح فهو عذاب

Setiap kata الرياح yang terdapat dalam al-qur’an maksudnya adalah rahmat, sedangkan kata الريح (dalam betuk tunggal) maksudnya adalah adzab (siksaan).

Namun, di dalam al-qur’an ada juga ayat yang artinya menyimpang dari kaidah tersebut. Salah satunya adalah ayat 22 surah Yunus:

هو الذي يسيركم فى البر والبحر حتى إذا كنتم فى الفلك وجرين بهم بريح طيبة وفرحوا بها جاءتها ريح عاصف

 وجاءهم الموج من كل مكان وظنوا إنهم أحيط بهم دعوا الله مخلصين له الدين لئن أنجيتنا من هذه لنكونن

 من الشاكرين

Kata ريح pada ayat di atas disebutkan dua kali, yang keduanya mempunya arti yang berlawanan. Kata ريح yang pertama digandengkan dengan kata طيبة sehingga mengandung arti angin yang baik (rahmat). Sedangkan kata ريح yang kedua merupakan kebalikan dari yang pertama, yang digandengkan dengan kata عاصف yang mngandung arti angin badai.

Kata-kata yang diduga Mutarãdif (sinonim)

Banyak sekali kata-kata di dalam al-qur’an yang diduga sinonim, padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Namun, karena samarnya kedua kata-kata tersebut para ulama’ hampir tidak bisa membedakan di mana letak perbedaannya. Dalam hal ini dapat dicontohkan seperti kata الخشية dan الخوف

Pada dasarnya kedua kata ini mempunyai kesamaan dalam artinya, yaitu takut. Namun, karena pengaruh dalam penerapan kedua kata tersebut (siyaqul kalam) maka arti keduanya bisa menjadi berbeda.

Contoh:

ويخشون ربهم ويخافون سوء الحساب

Kata يخشون dan kata يخافون pada ayat di atas memiliki arti yang berbeda. Kata يخشون berarti rasa takut yang sangat, karena pada umumnya kata ini selalu dikaitkan dengan perasaan takut kepada Allah. Walaupun seseorang itu mempunyai mental yang kuat, sudah pasti dia tidak akan berdaya jika dikaitkan urusannya dengan Allah. Sedangkan kata يخافون berarti rasa takut yang wajar. Karena, rasa takut tersebut bisa muncul akibat dari sebab yang jika dilakukan oleh seseorang. Seperti halnya rasa takut pada siksa di akhirat kelak karena seorang tersebut sering melakukan dosa.

Tanya jawab

Dalam kehidupan sehari-hari selalu saja ada dan tidak mungkin bisa dihindari kedua hal ini, yaitu persoalan tanya jawab. Bertanya merupakan meminta penjelasan atau informasi karena ketidaktahuan seseorang terhadap sesuatu. Sedangkan jawaban merupakan penjelasan dari sesuatu yang ditanyakan dengan maksud agar dapat memberi kabar atau informasi terhadap si penanya tersebut. Di dalam al-qur’an terdapat banyak sekali redaksi ayat yang berisi tentang pertanyaan maupun jawaban. Ada kalanya meminta jawaban, ataupun pertanyaan yang berisi penegasan pada suatu masalah. Bahkan ada yang berbentuk sindiran kepada mukhatabnya.

Contoh:

يسئلونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج

Tanya jawab yang terjadi pada ayat di atas merupakan bentuk tanya jawab yang secara umum. Karena, pada umumnya jika ada pertanyaan pasti ada jawaban. Kedua hal tersebut layaknya pasangan yang sulit dipisahkan (Az-Zarkasyi, 945).

 

Khitab dengan Isim atau dengan Fi’il

Perlu diketahui bahwa khitab dengan isim atau khitab dengan fi’il itu mengandung maksud yang berbeda pula. Jika khitabnya menggunakan redaksi isim itu bermaksud pada sebuah penetapan suatu hal. Biasanya terjadi pada hal-hal yang berkaitan dengan kejadian, misalnya lahir, hidup, mati dan lain sebagainya. Sedangkan jika khitabnya menggunakan redaksi fi’il itu bermaksud menunjukkan arti pembaruan suatu hal. Jadi, dalam kata lain khitab dengan isim mengandung fungsi sebagai penetapan. Sedangkan khitab dengan fi’il mengandung fungsi sebagai pembaruan.

Contoh:

هل من خالق غير الله يرزقكم

Ayat di atas merupakan salah satu bentuk khitab dengan fi’il. Dalam ayat tersebut menunjukkan arti bahwa dalam kehidupan ini rizqi itu sudah ada yang menentukan, yaitu Allah. Penegasannya adalah setiap persoalan rizqi manusia itu akan selalu terjadi pembaruan, selalu berubah-ubah tergantung pada usaha masing-masing. Kadang bisa bertambah dan terkadang juga bisa berkurang.

يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي

Ayat di atas merupakan contoh dari khitab dengan isim. Dalam ayat tersebut menunjukkan ketetapan suatu kejadian di dunia ini. Awalnya hidup, kemudian mati, setelah mati akan hidup lagi. Dan itulah sunnatullah yang pasti akan terjadi dalam kehidupan ini.

Sighat fi’il mudlori’ setelah كان

Jika ada fi’il mudlori’ terletak setelah كان atau lafadz lain yang berakar darinya, seperti يكون atau yang lainnya, semua itu menunjukkan bahwa fi’il tersebut banyak terjadi pengulangan di dalam Al-Qur’an (Kholid bin usman, 254).

Contoh:

وكان يأمر أهله بالصلاة والزكاة

2 thoughts on “KAIDAH-KAIDAH TAFSIR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s