TAFSIR AL-ISYARI

A.     Pengertian al isyari

Beberapa pengertian tafsir isyari yang diungkapkan oleh beberapa ulama diantaranya yaitu :

  1. Shubhi al-Shalih sebagaimana yang dikutip dalam ilmu al-qur’an dan tafsir mendefinisikan tafsir alisyari adalah “Tafsir yang mentakwilkan ayat tidak menurut zhahirnya namumn disertai usaha menggabungkan antara zhahir dan tersemunyi”.

Manna khalil Al-Qhattan menyatakan setiap ayat mempunyai makna zhahir dan makna bathin (tersembunyi). Zhahir ialah sesuatu yang mudah dipahami akal pikiran sebelum lainnya, sedangkan makna bathin adalah isyarat tersembunyi dibalik itu, hanya nampak dan diketehui maknanya oleh para ahli tertentu (ahli suluk).

  1. Muhammad Aly Ash Syabuni didalam kitabnya Al-Tibyan fi ‘ulum al-Quran terjemahnya. Aminuddin mendefinisikan tafsir a-isyari sebagai : penafsiran Al-quran yang berlainan menurut zhahir ayat  karna adanya petunjuk yang tersirat dan diketahui oleh sebagian ulama, atau hanya diketahui oleh orang yang mengenal Allah yaitu orang yang berpribadi luhur dan telah terlatih jiwannya.

Dengan kata lain tafsir Al-isyari adalah suatu tafsir yaitu dimana mufassir berpendapat dengan makna lain tidak sebagai yang tersurat dalam al-quran tetapi penafsiran tersebut tidak diketahui oleh setiap insan kecuali mereka yaang hatinya telah di bukakan oleh Allah yakni orang-orang shalih sebagaimana yang difirmankan olleh Allah sehubungan dengan kisah nabi Khidir dengan Nabi Musa As:

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

“lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba kami, yang telah kami beriakan rahmat dari sisi kami, yang telah kami ajarkan panya ilmu dari kami.” (QS.Al-Kahfi: 18)

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa Allah telah menganugrahkan ilmu-Nya kepada Nabi Khidir tanpa melalui peroses belajar sebagaimana yang dilakukan poleh orang biasa dia memperoleh ilmu karena ketaatan dan keshalihannya.  Dalam kesuciannya, Nabi Khidir diberikan ilmu dari sisi-Nya yang dinamakan ilmu laduni.

Tafsir Al-isyari jika bercampur dengan hal yang samar-samar (tasyabbuh) ia akan menjadi pemahaman yang salah dan sesat. Tetapi selama merupakan kajian dan penelitian (istinbat) yang benar dan sesuai  dan kaidah-kaidah kebahasaan yang didukung oleh bukti-bukti keshahihannya tanpa adanya pertentangan (mukhalafah), maka ia dapat diterima.

B.      Contoh-contoh tafsir aL-Isyari 

Ada beberapa contoh tafsir aL-Isyari yang disebutkan oleh para ahli tafsir diantaranya :

  1. Manna Khalil Qattan mengemukakan contoh untuk  Ibnu Abbas yang mengatakan :

“Ummar Ra mengajakku bergabunng bersam tokoh-tokoh pertempuran bada diantara mereka ada yang keberatan dan berkata mengnpa engkau mengajak anak kecil ini bersama kami padahal kami mempunyai beberapa anak yang sesuai drngannya.Ummar menjawab “ia adalah orang yang engkau kenal kepandaiannya. Pada suatu ketika aku dipanggil untuk bergabung dalam kellompok mereka Ibnu Abbas berkata aku berkeyakinan bahwa Umar memanggilku semata-mata untuk diperkenalkan keapada mereka Umar berkata apa pendapat kalian tentang firman Allah dalam surat al-Nashr ayat 1 yaitu :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْح

 “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.

Dianatara mereka  yang menjawab: kami diperintahkan untuk memuji dan meminta kepada Allah ketika mendapat pertolongan dan kemenangan. “Sahabat yang lain tidak mengatakan apa-apa. Umar melemparkan pertanyaan kepadaku: “begitukah pendapatmu Ibnu Abbas?” Aku menjawab, “ ayat itu menunjukkan tentang ajal Rasulullah SAW yang diberitahukan Allah kepadanya”.

Dalam alquran surat al-Nashr ayat 3 yaitu:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

maka bertasbihlah dengan memuji tuhanmu dan memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha penerima taubat.

Umar menjawab: “aku tidak tahu pengertian ayat tersebut, kecuali yang engkau jelasakan” (hadits riwayat Bukhari)

Berdasarkan riwayat di atas jelaskan menunjukkan bahwa pemahaman ibnu Abbas ini tidak bisa dikuasai oleh sahabat-sahabat yang lain. Yang memahaminya hanyalah Umar RA dan Ibnu Abbas sendiri. Inilah bentuk tafsir isyari yang diilhamkan Allah pada makhluk-Nyayang dikehendaki untuk diperlihatkan kepada hamba-hamba lainnya, yakni surat al-Nashr tersebut menyatakan berita wafat Nabi SAW dan menunjukkan dekatnya ajal beliau.

C.      Syarat tafsir Al-Isyari

Adapun beberapa syarat-syarat tafsir isyari adalah diantaranya:

  1. Tidak bertentangan dengan makna (zhahir) ayat,
  2. Maknanya sendiri shahih,
  3. Pada lafazd yang ditafsirkan terdapat indikasi bagi (makna isyari) tersebut ,
  4. Antara makna isyari dengan makna ayat terdapat hubungan yang erat.

Apabila keempat syarat ini dipenuhi maka tafsir mengenai isyarat itu (tafsir isyari) merupakan istinbat yang baik dan dapat diterima. Dan apabila syarat diatas tidak dipenuhi, maka tafsir isyari tidaklah dapat diterima, yang juga berarti merupakan tafsir berdasarkan hawa nafsu dan ra’yu semata, yang hal ini adalah dilarang.

Sebagaimana halnya dengan tafsir bil al-Ma’tsur sudah ada sejak dulu pada zaman Rasulullah SAW. Diantara kitab-kitab tafsir isyari atau tasawuf praktis ini diantaranya:

  • Tafsir al-Tastury atau tafsir Al-quran al-‘Azim karya Abu Muhammad Sahal Ibnu Abdullahal-Tastury (W. 283 H)

Tafsir ini tidak mengupas seluruh ayat-ayat al-quran meskipun lengkap menyebutkan surat-surat al-quran, tafsir ini telah menempuh jalan sufi dan disesuaikan dengan ahli zhahir.

  • Tafsir Ibnu ‘Arabi karya Abdullah Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Abdullah Muhyiddin Ibnu ‘Arabi. (W. 238/ 1240 M). Yang juga dijuluki dengan Syeikh Akbar.
  •  Tafsir al-Raisul Bayan fi Haqaiqul Quran karya Abu Muhammad Ruzbihan bin Abi al-Nash al-Syairazi. (W.600 H). Tafsir seluruhnya dengan isyarah dan tidak ditampilkan tafsir menurut dhahir ayat, meskipun penafsir ini berkeyakinan dhahir ayat, meskipun penafsir ini berkeyakinan bahwa dhamir ayat itu wajib dipergunakan terlebih dahulu. Kitab ini terdiri dari 2 juz yang dihimpun menjadi 1 jilid besar.
  1. D.     Analisis Mengenai Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Al-Isyari
    1. Kelebihan atau Keunggulan Tafsir Isyari

Ada beberapa kelebihan dari tafsir isyari tersebut yaitu:

  1. Tafsir isyari mempunyai kekuatan hukum syara’, seperti penafsiran Ibnu Abbas tentang surat al-Nashr ayat 1. Sehinnga dalam hal ini hampir semua sahabat dalam kasus tersebut tidak ada yang memahami maknanya melainkan secara zahir atau tekstual.
  2. Penafsiran Isyari mempunyai pengertian-pengertian yang tidak mudah dijangkau sembarangan ahli tafsir kecuali bagi mereka yang memiliki sifat kesempurnaan iman dan kemurnian ma’rifat.
  3. Penafsira isyari tidak menjadi aneh apabila Allah melimpahkan ilmu pengetahuan kepada orang yang dikehendaki serta memberi pemahaman kepada orang-orang pilihan seperti Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas dan Nabi Khidir AS.

Kelemahan-kelemahan Tafsir Isyari

Adapun tafsir isyari juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya yaitu:

  1. Apabila tafsir isyari tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan diatas, maka tafsir ini dapat dikatakan tafsir dengan hawa nafsu atau rasio yang bertentangan dengan lahir ayat yang dilarang oleh Allah.
  2. Penafsira isyari kadang-kadang maknanya sangat jauh dari ketentuan-ketentuan agama yang sudah qath’i atau pasti keharamannya.
  3. Penafsiran isyari tidak dapat dijangkau atau sulit dipahami oleh kaum awam yang berakibat pada rusaknya agama orang-orang awam. Sebagaimana ungkapan Ibnu Mas’ud ra, “ seseorang yang mengatakan kata-kata dihadapan orang lain tidak dimengerti orang itu akan menjadi fitnah buat mereka.
  4. E.      Gara’ibut Tafsir (tafsir yang janggal)

Di antara mufassir ada yang sangat suka mengemukakan kata-kata yang yang asing atau janggal dalam penafsiran Qur’an sekalipun ia menyimpang dari jalan lurus dan menemppuh jalan yang berbahaya. Mereka membebani diri sediri dengan hal-hal yang tidak mampu dikerjakan dan memeras untuk sesuatu yang tidak dapat diketahui kecuali melalui tauqifi (penjelasan dari Nabi). Maka mereka tampil dengan membawa kedunguan dan kesesatan yang dipandang hina oleh akal mereka sendiri. Berikut ini kita hanya akan menngemukakan sejumlah keanehan-keanehan tersebut.

1). Pendapat orang yang mengatakan tentang alif lam mim. Makna “alif” ialah: Allah sangat meanyayangi (allafa) Muhammad karna itu Ia mengutusnya sebagaio Nabi. Makna “lam” adalah: muhammad dicela (lama) dan diingkari oleh orang-orang yang menentang. Dan makna “mim” berasal dari kata “mum” yang berarti birsam (radang selaput dada).

2). Pendapat orang tentang Ha mim ‘ain sin qaf. “Ha” adalah harb (pertempuran) antara Ali dan Mu’wiyah. “mim” adalah Marwaniyah, yakni kekuasaan marwan dari bani  Umayah. “ ‘Ain” adalah kekuasaan ‘Abbasiyah. “sin” : kekuasaan golongan sufaiyah, dan “Qaf” qudwah (kepemimipinan).

3). Pendapat yang dikemukakan Ibn Faurak tentang penafsiran firman Allah, wa lakin li-yatma’inna qalbi (al-Baqrah: 226) Ibrahim mempunyai seorang teman yang digambarkan olehnya bahwa teman itu adalah hatinya.

4). Pendapat abu mu’az an-Nahwi tentang firman allah: allazi ja’ala lakum minasy syajaril akhadari naran ( yasin [36]:80) dia menafsirkan kata-kata asy-syajara al-akhdar dengan “ibrahim” dan naran dengan “nur” atau cahaya, maksudnya adalah muhammad. Sedang fa iza antum minhu tuqidun ditafsirkannya dengan: maka kamu mengambil agama daripadanya.

F.       Perdebatan Ulama Mengenai Tafisr Isyari

Para ulama berbeda pendapat mengenai tafsir isyari, diantaranya ada yang membenarkan dan menganggap sebagai tafsir maqbul, dan ada yang tidak membenarkannya dan menganggap sebagai tafsir mardud. Ada yang beranggapan sebagai kesempurnaan iman dan kebersihan ma’rifat.

Beberapa pendapat para ulama tentang  tafsir isyari diantaranya:

Pendapat al-Zarkasyi dalam kitan al-Burhan

Imam al-Zarkasyi dalam kitabnya menyebutkan kata-kata golongan sufi dalam menafsirkan alquran itu bukanlah tafsir tetapi hanyalah merupakan ilustrasi yang mereka peroleh ketika membaca suatu ayat.

Pendapat al-Suyuthi dalam kitab al-Itqan

Imam al-Suyuthi menyebutkan dalam kitabnya dari pendapat Ibnu ‘Atha sebagai berikut, “ketahuilah bahwa tafsir isyari dalam kalam Allah dan Kalam Rasul dengan makna-makna bahasa arab bukanlah berarti suatu pemalingan arti dari zhahirnya, tetapi zhahir ayat itu dapat dipahami makna sebenarnya seperti juga dapat diketahui dari istilah bahasa serta pengertian yang tersirat didalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s