Ta’wil

A.    Ta’wil

1.      Pengertian Ta’wil

Menurut etimologi, ta’wil dirujuk dari kata اول- يؤول  yang berarti  At-Tafsir, Al-marja’, Al-Mashir. Demikian pendapat Abu Ubaidah Ma’mar bin Al-Matsani dan keterangan yang dikemukakan oleh Abu Ja’far Al-Tabari (Adib Shalih, 1984: 356).

Menurut terminologi adalah para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ta’wil. Para ulama salaf mendefinisikan ta’wil antara lain sebagai berikut:

a)      Menurut Al-Amudi dalam kitab Al-Mustashfa:

Membawa makna lafazh zhahir yang mempunyai ihtimal (probabilitas) kepada makna lain yang didukung dalil.

Kaum muahaditsin mendefinisikan ta’wil yaitu sejalan dengan definisi yang dikemukan oleh ulama ushul fiqih yaitu:

a)      Menurut Wahab Khalaf:

Memalingkan lafazh dari zhahirnya, karena ada dalil.[1]

  1. 2.      Syarat ta’wil

Adapun syarat ta’wil antara lain:

a)       Lafal itu dapat menerima ta’wil zhahir dan lafal nash serta tidak berlaku untuk muhkam dan mufassar.

b)      Lafal itu mengandung kemungkinan untuk dita’wilkan karena lafal tersebut memilki jangkauan yang luas dan dapat diartikan untuk di ta’wil serta tidak asing dengan pengalihan kepada makna lain tersebut.

c)      Ada hal-hal untuk ta’wil:

Bentuk lafal yang berlawanan dengan kaidah yang berlaku dan diketahui secara dharuri, atau berlawanan dengan dalil yang lebih tinggi dari dalil itu.

Nash itu menyalahi dalil lain yang lebih kuat dalalahnya.

Lafal itu merupakan suatu nash untuk suatu objek tetapi menyalahi lafal lain yang mufassar.

d)     Ta’wil harus mempunyai sandaran kepada dalil dan tidak bertentangan dengan dalil yang ada.

  1. 3.      Pembagian Ta’wil
    1. Ta’wil Qarib

Adalah ta’wil yang tidak jauh beranjak dari arti dhahirnya, sehingga dengan petunjuk yang sederhana dapat dipahami maksudnya

  1. Ta’wil Ba’id

Adalah pengalihan dari makna lahir suatu lafal yang sebegitu jauhnya, sehingga tidak dapat diketahui dengan dalil yang sederhana.

  1. Dhahir ad-Dilalah

Dalil yang bertentangan antara pembagian wadih ad-dilalah yaitu:

  1. Jika dalil dhahir bertentangan dengan nash maka yang dipakai yang nash

Contohnya:

–                                                    احل لكم ما وراء ذلكم

Dalil ini membolehkan nikah tanpa dibatasi bilangan

     فنكحوا ماطاب لكم من النساء مثتى وثلاث وربع

Dalil ini membatasi nikah hanya empat istri

  1. Jika dalil nash bertentangan dengan mufassar maka yang dipakai yang mufassar.

المستحاضة تتوضأ لكل صلاة

Perempuan istihadhoh diwajibkan berwudlu setiap akan melakukan shalat

المستحاضة تتوضأ لوقت لكل صلاة

Diwajibkan wudlu hanya apabila batal

  1. Jika dalil mufassar bertentangan dengan muhkam maka yang dipakai yang muhkam.

وأشهدوا ذةي عدل منكم

Diterimanya kesaksian orang yang adil meskipun dia terkena had karena menuduh wanita baik-baik berzina

…ولاتقبلوا لهم شهادة أبدا

Tidak diterimanya kesaksian orang yang terkena had karean menuduh perempuan baik-baik berzin

A.    Dilalah Wad’iyyah (Lafal yang Jelas Maknanya)

     Ulama ushul berbeda pendapat di dalam membagi lafazh yang jelas maknanya ini. Ulama Hanafiyyah membaginya kepada empat bagian, yaitu: al- zhahir, al-nash, al-mufassar, dan al-muhkam. sedang menurut ulama Syafi’iyah membagi pada dua bagian, yaitu: al zhahir dan al nash. Namun ulama ushul fiqih membagi petunjuk yang jelas itu menjadi empat bagian: Zhahir, Nash, Mufassar, dan Muhakkam. Dalam tingkat kejelasan petunjuknya, keempat bagian ini adalah menurut urutannya dari belakang, yakni, Muhakkan yang paling jelas petunjuknya, kemudian Mufassar, Nash, dan Zhahir.

  1. 1.      Al Zhahir

Adapun yang dimaksud dengan azh zhahir ialah, suatu lafal yang menunjuk pengertian makna yang segera dapat dipahami dari lafal tersebut. Tetapi tujuan utama penggunaan lafal tersebut bukan makna itu sendiri.lafal azh zhahir memiliki kemungkinan untuk menunjuk makna khusus atau diberi makna lain.[2]

Adapun pengertian menurut para ulama ushul fiqih diantaranya adalah:

a)      Menurut Abd-Wahhab Khalaf:

AL-Zhahir menurut istilah ulama usul fiqih ialah lafazh yang menunjukan kepada makna yang dikehendaki oleh bentuk lafaznya itu sendiri, tampa membutuhkan faktor luar dalam memahami maksud maknanya. Maksud makna ini bukanlah maksud yang asal dari susunan kalimatnya, dan (al zhahir) menerima ta’wil.

b)      Menurut Dr. Zakiy al-Din Sya’ban:

Al-Zhahir adalah suatu lafazh yang menunjukan kepada makna hukum dengan jelas, tampa membutuhkan qarinat (bukti atau penjelasan) dari luar untuk makna yang dikehendakinya, serta menerima ta’wil dan takhsish. Hukum yang diambil dari lafazh al-zhahir bukanlah maksud hukum yang asal dari susunan kalimatnya.[3]

Dari definisi para ulama diatas kiranya dapat disimpulkan bahwa lafazh al-zhahir itu mengandung:

Maksud makna (hukum) yang jelas, tampa dibutuhkan qarinat dari luar lafazh nya.

Maksud makna yang dikehendaki disini adalah bukan asal.

Kemungkinan menerima ta’wil dan nasakh pada masa diutusnya nabi.

sebagai contoh allah berfirman pada surat al-Baqarah ayat 275.

الذين يأكلون الربا لا يقومون الا كما يقوم الذي يتخبطه الشيطان من المس ذلك بأنهم قالوا انما البيع مثل الربا وأحل الله البيع وحرم الربا فمن جاءه موعظة من ربه فانتهى فله ما سلف وأمره الى الله ومن عاد فأولئك أصحاب النر هم فيها خالدون

orang-orang yang makann (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendat), seseungguhna jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. 02: 275)

Bermakna zhahir (jelas) dalam menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. mana itu langsung dapat dipahami dari kata: ahalla dan harrama tanpa membutuhkan alasan dan hal itu bukan maksud dari suatu ayat.susunan asalnya adalah meniadakan persamaan antara jual beli dan riba sebagai bantahan kepada orang yang mengatakan: bahwasanya jual beli itu seperti riba, tidak untuk menjelaskan kedua hukumnya. Firman allah

فانكحو ما طاب لكمم من النساء مثنى وثلاث ورباع فإ ن خفتم ألا تعد لو فواحدة

 Maka kawinkanlah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seoran saja. (Q.S. 04: 03)

Bermakna jelas dalam memperoleh kawin dengan wanita yang halal. Makna inilah yang langsung dipahami dari kata fankihuu maa thaaba lakum minhunna, dengan tidak menggunakan alasan. Makna ini bukan menjadi tujuan dari suatu ayat, karena maksud asalnya adalah membatasi jumlah istri maksimal empat atau hanya satu, seperti contoh dalam firman Allah swt:

وما أتا كم الرسول فخذوه وما نها كم عنه فانتهوا …

Apa  yang diberi rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Q.S. 59: 07)

Bermakna jelas dalam mewajibkan taat kepada rasulallah Saw. Dalam segala perintah dan larangannya. Karena makna inilah yang langsung dipahami dari ayat di atas, dan dia bukan maksud asal dari susunan ayat. Karna maksud asal susunannya adalah apa yang dibagikan rasulallah kepadamu dari harta fai’,

Hukum az zhahir wajib diamalkan sesuai sesuai makna zhahirnya selama tidak ada dalil yang menuntut untuk diamalkan dengan selain yang zhahir. Dan hukum zhahir pada masa rasulullah Saw mungkin bisa untuk disalin. Dan masa penetapan syariat dapat dihapus kemudian diundangkan hukum penggantinya.[4]

  1. 2.      Al Nash

Nash menurut ulama Hanafiyyah adalah:

وهو اللفظ الذى ظهرت دلا لة على المعنى الذى سيق له مع احتمال التخصيص

Lafal yang tegas petunjuknya kepada makna yang dimaksudkan. Tetapi menerima takhsish, kalau dia ‘amm menerima takwil kalau tidak di khash.

Nash menurut ulama Syafi’iyyah adalah:

مادل على معنى دون أن يحتمل معنى أخر

Lafal yang menunjukkan kepada sesuatu pengertian yang tidak menerima makna yang lain.[5]

Nash menurut Zakiy al-Din Sya’ban adalah:

Al-Nash adalah lafazh Al-Nash adalah lafazh ang menunjukkan kepada makna hukum secara jelas serta memungkinkan menerima ta’wil. Hukum yang diambil dari lafazh al-Nash itu adalah maksud hukum asal dari sususnan kalimatnya.

Al-Nash menurut ‘Abd al-Wahhab Khallaf adalah:

Al-Nash adalah lafazh yang bentuknya itu sendiri menunjukkan kepada makna yang dimaksud secara asal dari susunan redaksinya,

Nash menurut istilah ahli ushul fiqih adalah suatu yang dengan bentuknya sendiri menunjukkan makna asal yang dimaksud dari susunan katanya dan mungkin untuk dita’wil. Jika makna itu langsung difaham dari lafal, pemahamannya tidak buruh faktor luar dan ia adalah makna asal yang dimaksud dari susunan kata itu, maka ia dianggap nash.

Firman Allah swt yang berbunyi

وأحل الله البيع وحرم الربوأ …

…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… (Q.S. 02: 275)

Disebut nash dalam arti meniadakan persamaan antara jual beli dan riba. Karena ia adalah makna yang langsung dari lafal dan makna asal yang dimaksud dari susunan katanya.

Ditinjau dari segi hukum, lafal nash sama dengan lafal zhahir, yaitu wajib diamalkan sesuai dengan maknanya, selama tidak ada dalil lain yang mentakhsis-nya atu men-ta’wil-nya, atau me-naskh-nya.[6]

  1. 3.      Al Mufassar

Menurut istilah ahli ushul fiqih al Mufassar adalah nash yang dengan sendirinya menunjukkan makna secara rinci yang tidak meunginkan adanya ta’wil. Antara lain karena bentuk nash itu dengan sendirinya telah menunjukkan makna secara jelas dan rinci yang di dalamnya tidak ada lagi kemungkinan diberi makna lain.dan tingkat kedudukannya dari segi kejelasan maknanya lebih tinggi dari zhahir dan nashsh.

Contohnya adalah firman allah pada surah an-nur (24): 2:

الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة …

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (Q.S. 24: 02).

Makna dan tujuan utama penggunaan lafal pada ayat diatas dengan jelas menunjukkan bahwa hukuman bagi pezina adalah seratus kali dera. Kalimat bilangan mi’ah (seratus) dalam bahasa arab mengandung makna khusus, sehingga tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Dan lafal mufassar berpeluang untuk di-naskh pada masa hidip rasulullah, meskipun pada kenyataannya ketentuan hukum tersebut tidak pernah mansukh.

Bentuk Lafal Mufassar Ada Dua

  1. Suatu lafal yang semula dapat di takhshish atau di ta’wil setelah terdapat penjelasan dari luar lafal tersebut.
  2. Mufassar jelas dengan sendirinya.

Dengan adanya dalil lain yang menerangkannya, maka tingkat kejelasannya naik menjadi lafal mufassar. Sebagai contoh, firman allah pada surah an-nisa’ (4): 92:

وما كان لمؤمن أن يقتل مؤمنا الا خطئا ومن قتل مؤمنا خطئا فتحرير رقبة مؤمنة ودية مسلمة الى اهله …

“Dan tidak layak bagi mukmin membunuh mukmin (lainnya) kecuali karena tersalah, dan barangsiapa membunuh mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya…”. (Q.S. 04:92).

Ayat ini dengan jelas memerintahkan pembayaran diyat kepada keluarga korban yang dibunuhdengan cara terserah. Tetapi tidak dijelaskan perincian bentuk, jumlah dan cara menyerahkan diyat tersebut, sehingga tingkat kejelasannya berada pada tingkat nashsh. Tetapi rasulullah menjelaskan perincian pembayaran diyat tersebut. Adanya perincian dari rasulullah tersebut menjadikan tingkat kejelasan naik, dari nashsh menjadi mufassar, sehingga tidak boleh lagi di-ta’wil atau ditakhshish.

Ditinjau dari segi hukum, lafal mufassar wajib diamalkan sesuai dengan maknanya yang telah dirinci, tidak boleh di-tashshish, atau di-ta’wil.[7]

  1. 4.      Al-Muhkam

Ada beberapa defenisi dari lafal muhkam, diantara adalah:

وهو الفظ الذى ظهرت دلالة على معناه الوضعي بدون احتمال شيء

lafal yang nyata penunjuknya kepada pengertian yang karenanya, disusun lafal dan tidak mungkin menerima sesuatu yang lain, takwil dan takhsish kadang-kadang tidak menerima nasakh. Hal ini ditunjuki oleh qarinah.

Atau lafal yang trang menunjukkan kepada arti yang dimaksudkan (dengan disusunkan) lafal itu, dengan tidak mungkin dita’wilkan dan tidak di mansukh-kan pada masa kerasulan Rasullah SAW.

Pengertian lainnya adalah:

مادلّ بنفس صيغته على معناه الوضعي دلالة واضحة بحيث لايقبل الابطال والتبديل والتأ ويل

Suatu lafal dari sighatnya sendiri memberi petunjuk kepada maknanya sesuai dengan pembentukan lafalnya secara penunjukkan yang jelas, sehingga tidak menerima kemungkinan pembatalan, penggantian, maupun ta’wil.

sesuatu yang menunjukkan terhadap maknanya yang tidak menerima pembatalan dan penggantian dengan sendirinya, dengan suatu dalalah yang jelas, yang tidak tersisa lagi kemungkinan ta’wil.[8]

Menurut bahasa arab, al-muhkam artinya terang, sedang menurut istilah ulama ushul fiqih adalah sesuatu yang menunjukkan kepada makna yang dengan sendirinya tidak menerima penggantian dan pembatalan berdasarkan petunjuk yang jelas, dan sama sekali tidak mengandung ta’wil.[9] Misalnya dalam firman Allah SWT surat al-Nur ayat 4:

والذين يرمون المحصنات ثم لم يأتوا بأربعة شهداء فاجلدوهم ثما نين جلدة …

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) dengan dealapan puluh kali dera, dan jangan kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dam mereka itulah orang yang fasik.(Q.S. 24: 04).

Dalam ayat ini Allah melarang menerima kesaksian buat selama-lamanya terhadap orang-orang yang menuduh wanita baik-baik bebuat zina, dengan tidak mendatangkan empat saksi. Larangan yang disertai dengan kata  ابدا (artinya: selama-lamanya) ini adalah jelas makna hukumannya, di  dalam memahaminya tidak dibtuhkan qarinat dari luar lafazh-nya. Lafazh al-Muhkam tidak bisa di-ta’wil, di-takhsish, dan di-nasakh sejak diutus sampai wafatnya nabi.

Namun menurut ulama Hanafiyyah ketiga hukuman tersebut harus dilaksanakan, kecuali yang terakhir yaitu kefasikan. Penuduh zina yang fasik akan diampuni, apabila ia bertaubat kepada Allah dan memperbaiki dirinya dari kesalahan yang telah dilakukan.

Ditinjau dari segi hukum, mengamalkan ketentuan hukum yang didasarkan atas lafal muhkam adalah wajib, karena lafalnya tidak mengandung kemungkinan lain selain maknanya itu. Dengan kata lain, lafal muhkam bersifat qath’i ad dilalah (menunjukkan makna secara pasti).

Hukum al-muhakkam secara pasti wajib diamalkan, tidak boleh di palingkan dari maksud asalnya dan tidak boleh dihapus, karena lafalnya tidak mengandung kemungkinan lain selain makna yang dimaksud.

B.     Dilalah Ghairu Wad’iyyah  (Lafal yang Samar Maknanya)

Dilalah ghairu wad’iyyah adalah suatu lafal yang tunjukan maknanya tidak mudah untuk ditentukan, baik kesamaran maknanya itu berasal dari lafal itu sendiri atau pun karena faktor luar yang mempengaruhinya. Adapun tingkatan dari Dilalah ghairu wad’iyyah, yaitu lafal mutasyabih, al-mujmal, al-musykil, dan al-khafi.

1)      Al-Mutasyabih

Adalah lafal yang samar tunjukan maknanya karena memang lafal sendiri tidak memberi petunjuk untuk menjelaskan maknanya. Disamping itu juga tidak terdapat keterangan lain yang menjelaskannya secara spesifik.[10]

ان الذين يبا يعونك انما يبا يعون الله يدالله فوق ايديهم

 

sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kapada kamu pada hakikatnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah selalu di atas tangan mereka”. (Q.S. 48: 10)

 

Dari surat di atas dapat kita pahami bahwa teks-teks al-quran yang menyebutkan tangan Allah SWT, hal ini menggambarkan kesurapaan Allah SWT dengan makhluk-Nya. Tapi Allah sendiri tidak akan sama dengan makluk-Nya. Dalam menafsiri ayat mutasyabihat dalam alquran dengan arti serupa, tetapi tidak menimbulkan perbedaan dalam takwilnya.

Menurut Abdul Wahab Khallaf, mutasyabih dalam pengertian ini tidak ditemukan dalam ayat-ayat hukum, tetapi dalam ayat bentuk lain seperti dalam bentuk huruf-huruf terpotong-potong yang biasa terletak di awal surah.[11] Ayat mutasyabihat adalah kebalikan dari ayat yang muhkamaat (kuat). Namun dalam masalah ini tidak ada yang berkaitan langsung dengan masalah ketentuan hukum syara’.

2)      Al-Mujmal

Menurut bahasa Al-Mujmal  adalah samar, dan menurut istilah adalah,

اللفظ الذى لا يد بصيغته على المراد منه, ولا تو جد قرائن لفظية أو حلية تيبنه, فسبب الحفا لفظي لا عارض.

 

lafal yang dengan bentuk (sighat)-nya tidak menunjukkan kepada pengertian yang dikehendaki olehnya, dan tidak terdapat qarinat-qarinat lafazh atau keadaan yang dapat menjelaskannya. Jadi sebab kesamaran dalam al-mujmal ini adalah bersifat lafal bukan unsur yang baru.[12]

Al-mujmal adalah suatu lafal yang samar tunjukan maknanya, dikarenakan memang dari lafal itu sendiri tidak terdapat pentunjuk tentang makna tesrtentu yang dimaksud olehnya, dan tidak ada cara untuk mengetahui maknanya secara spesifik kecuali penjelasan langsung dari yang menggunakan lafal tersebut. Al-mujmal ungkapan yang di dalamnya terkandung banyak makna, namun makna mana yang dimaksud di antara makna-makna tersebut tidak jelas (kabur).[13]

Contoh al-mujmal adalah seperti lafazh shalat yang semula berarti do’a, kini kemudian berubah kepada pengertian syara’, yaitu sekumpulan perbuatan yang di perbuat dan dicontohkan Nabi. Contohnya dalam surat an-Nisa’ ayat 77:

وأقيمواالصلاة

“Dan dirikanlah shalat”

Dalan ayat ini Allah mewajibkan kaum muslimin untuk mendirikan shalat. Namun perintah itu tidak dapat dilaksanakan karena tidak ada penjelasan cara pelaksanaan shalat itu sendiri. Maka untuk itu dicarikan keterangan yang dapat menafsirkan shalat dan menjelaskan syarat-syarat dan rukun-rukunnya Maka untuk itu dicarikan keterangan yang dapat menafsirkan shalat dan menjelaskan syarat-syarat dan rukun-rukunnya serta ha’at- ­nya (prakteknya). Kemudian datang sabda Nabi menerangkan lafazh shalat tersebut, yang berbunyi :

صلواكما رأيتموني أصلى

“shalatlah kamu  sebagaimana kamu melihat aku sedang shalat (seperti aku)”

Lafazh salat yang mujmal, yang menurut bahasa berarti doa, yang kemudian berubah menjadi istilah syara’ setelah dijelaskan al-syara’ ( Rasul dan atau Allah) dengan sempurna dan pasti, maka lafazh al-mujmal kini menjadi al-mufassar.

3)    Al-Khafi

Menurut bahasa, al-khafiy berarti samar. Dan menurut istilah, al-khafiy berarti:

اللفظ الذى بدل على معنا ه دلالة ظا هرة ولكن فى انطبا ق معنا ه على

Yang dimaksud dengan al khafiy menurut istilah ulama ushul adalah lafal yang menunjukkan makna secara jelas, tetapi dalam menerapkan arti kepada sebagian satuannya mengandung kesamaran dan ketidakjelasan, yang untuk menghilangkannya membutuhkan pemikiran dan perkiraan yang matang, sehingga lafal itu dianggap samar dari segi penerapan arti kepada sebagian satuannya. Sebab timbulnya kesamaran ini adalah bahwa satuan dalam lafal memiliki sifat lebih banyak atau lebih sedikit daripada satuan yang lain, atau memiliki nama tertentu, kelebihan, kekurangan inilah yang menjadikan tempat kesempurnaan, sehingga lafal itu samar jika dihubungkan dengan satuan ini, karena untuk memperoleh arti tidak dapat dipahami dari lafal itu sendiri, melainkan membutuhkan unsur luar.[14]

Contoh  al-khafi: seperti lafazh “qatil” (pembunuhan) dalam sabda Rasullah saw:

لايرث القاتل من المقتول شيئا

Si pembunuh tidal dapat mewarisi sedikitpun harta peniggalan orang terbunuh.”

Penerapan makna ‘qatil’ kepada orang yang mengambil nyawa seseorang dengan sengaja adalah jelas. Adapun penerapannya kepada orang yang mengambil nyawa seseorang karena silaf (salah) adalah kabur. Apakah orang membunuh karena silaf mendapat hukuman seperti orang yang membunuh dengan sengaja?. Maka untuk itu perlu melakukan ijtihad. Dalam hal ini terdapat dua pandangan yaitu:

a)      Menurut ulama Hanafiyah pembunuhan karena silaf juga menjadi penghalang mempusakai. Karena memberikan pusaka kepada mereka berarti mmbuka jalan bagi pembunuh untuk mempercepat memperoleh pusaka sekalipun karena silaf. Karena itu pembunuh karena siaf tidak terhalang mepusakai harta peniggalan orang dibunuh.[15]

b)      Menurut imam Ahmad menetapkan bahwa perbuatan yang menghalangi seseorang memperoleh harta warisan adalah pembunuhan yang hukumannya telah ditetapkan oleh syari’ah. Hal karena syari’ (Allah tidak menetapkan hukum kecuali dinilai sebagai pembunuh. Dan jika kriteria sebagai pembunuh ada, maka bersama itu pula timbul halangan untuk memperoleh warisan.[16]

Cara yang harus ditempuh untuk menghilangkan kesamaran makna adalah dengan mengadakan pengkajian, pembahasan dan penyelidikan tentang tujuan-tujuan yang umum dan khusus yang melatarbelakangi adanya hukum. Karena dalam penerapannya, tujuan-tujuan tersebut dapat memperluas dan mempersempit yang dikehendaki lafazh (dilalatul lafazh).

4)     Al-Musykil

Menurut bahasa, al-musykil berarti samar. Dan menurut istilah adalah:

الللفظ الذى لا يدل يصيغته على المرادنه, بل لا بد من قرينه خارجية تين ما يراد منه, وهذه القرينه فى منّا ول البحث

“lafazh yang sighat-nya (bentuknya) tiu tidak dapat menunjukkan kepada artinya, bahakan harus ada qarinat (petunjuk) dari luar yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dar padanya. Qarinat ini bisa didapat dalam pembahasan penelitian.”[17]

Adapun yang  dimaksud dengan lafal musykil ialah, suatu lafal yang samar tunjukan maknanya, karena memang dari lafal itu sendiri tidak terdapat petunjuk tentang makna tertentu yang dimaksud olehnya. Akan tetapi berbeda dengan lafal mutasyabih dan lafal mujmal, Untuk mengetahui tujuan makna lafal musykil, dapat dicarikan qarinah ( petunjuk) dari luar, yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud daripadanya. Pada umumnya lafal musykil terlihat dalam lafal yang mengambil bentuk musytarak yaitu lafal yang memiliki makna lebih dari satu.[18]

Contoh lafazh al-musykil: adalah lafazh al-mustarak. Seperti firman Allah dalam surat al-baqarah (2) ayat 228, yang berbunyi:

والمطلقات يتربصن بأ نفسهن ثلا ثة قروءٍ

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’

Lafazh quru’ (قروء) adalah jama’, dan mufradnya adalah qar’ (قرء). Menurut bahasa qar’ ini bisa berarti suci bisa juga berarti haidh. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, menurut ulama hanafiyah dan sekelompok mujtahidih lainnya bahwa lafazh qar’ dalam ayat tersebut adalah haidh. Qarinat yang dimajukannya adalah sebagai berikut:

a)      Hikmah diberlakukan hukum ‘iddat, karena mewajibkan ‘iddat bagi wanita yang dijatuhi talak adalah memberi tahu bersihnya rahimnya wanita tersebut dari benih-benih kehamilan. Dan sesuatu yang dapat menunjukkan hal ini adalah haidh, bukan suci.

b)      Sabda Rasulullah saw:

طلاق الأمة اثنتان وعدتها حضيتان

“Talak amat (hamba perempuan) itu dua, dan ‘iddahnya dua haid”

Penegasan bahwa iddah hamba sahaya perempuan dengan haid merupakan penjelasan terhadap yang dimaksud dengan lafal al-quru dalam iddah perempuan yang merdeka. Adapun pen-taskhsish-an nama hitungan, ia dimaksudkan untuk ke-mudzakar­-an lafal yang dihitungnyay yaitu lafal al-quru’

c)      Firman Allah SWT:

و ا للا ئي يئسن من ا لمحيض من  نسا ئكم أن ارتبتم فعد تهن ثلا ثة أشهر واللا ئي لم يحضن

Perempuan-perempuan yang idak haid lagi (menopause) diantara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddahnya mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid….  (Q.S. 65: 4)

Pada ayat diatas, sebab dihitungnya tiga bulan masa iddah karena tiadanya haid perempuan yang ditalak. Oleh karena itu, dapat ditetapkan bahwa pada dasarnya masa iddah dihitung dengan haid.[19]


[1] Drs. Totok Jumantoro, M.A, Drs. Samsul Munir Amin, M.Ag, Kamus Ilmu Ushul Fikih, Jakarta: Amzah. Hal.321

[2] Dr. H. Abd. Rahman Dahlan, M.A, ushul fiqih, Jakarta; Amzah. Hal.264

[3] Prof. Drs. H. A. Djazuli, Dr. I. Nurul Aen, M.A, ushul fiqih metodologi islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Hal. 234-235

[4] Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, ilmu ushul fikih, jakarta; Pustaka Amani, hal. 232

[5] Drs. Totok Jumantoro, M.A, Drs. Samsul Munir Amin, M.Ag, Kamus Ilmu Ushul Fikih, Jakarta: Amzah. Hal.256

[6] Dr. H. Abd. Rahman Dahlan, M.A, ushul fiqih, Jakarta; Amzah. Hal.266

[7] Dr. H. Abd. Rahman Dahlan, M.A, ushul fiqih, Jakarta; Amzah. Hal.266

[8] Drs. Totok Jumantoro, M.A, Drs. Samsul Munir Amin, M.Ag, Kamus Ilmu Ushul Fikih, Jakarta: Amzah. Hal.218

[9] Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, ilmu ushul fikih, jakarta; Pustaka Amani, hal.242

[10] Dr. H. Abd. Rahman Dahlan, M.A, ushul fiqih, Jakarta; Amzah. Hal.259

[11] Prof. Dr. H. Satria Effendi, M. Zein, M.A, ushul fiqih, Jakarta: kencana, hal. 228

[12] Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, ilmu ushul fikih, jakarta; Pustaka Amani, hal. 250

[13] Prof. Muhammad Abu Zahrah, ushul fiqih, Jakarta; PT. Pustaka Firdaus, hal .191

[14] Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, ilmu ushul fikih, jakarta; Pustaka Amani, hal. 245

[15] Prof. Dr. Mukhtar Yahya, Prof. Drs. Fachtur Rahman, Dasar-dasar Pembinaan Fiqih Islam, Bandung:PT Al-Ma’arif, hal.287

[16] Prof. Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, Jakarta: pustaka firdaus, hal. 184

[17] Prof. Drs. H. A. Djazuli, Dr. I. Nurul Aen, M.A, ushul fiqih metodologi islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Hal.267-268

[18] Dr. H. Abd. Rahman Dahlan, M.A, ushul fiqih, Jakarta: Amzah. Hal.261

[19] Drs. Totok Jumantoro, M.A, Drs. Samsul Munir Amin, M.Ag, Kamus Ilmu Ushul Fikih, Jakarta: Amzah. Hal.238

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s