Poligami Dalam Islam

Poligami merupakan suatu realitas hukum dalam masyarakat yang akhir-akhir ini menjadi suatu perbincangan yang krusial/genting serta menimbulkan pro dan kontra. Fenomena Poligami juga bukan sesuatu yang baru di dalam agama Islam. Menurut Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar bahwa Poligami (ta’addud az-zaujat) dalam masyarakat adalah salah satu bagian dari budaya masyarakat pra-Islam. Seorang laki-laki dapat mengawini perempuan dalam jumlah yang tak terbatas, bahkan banyaknya istri menjadi simbol kehebatan seorang laki-laki. Dalam al-Qur’an dan Hadist nampaknya membatasi kebiasaan berpoligami dengan memberikan isyarat-isyarat dan syarat-syarat yang tidak ringan, lagi pula dibatasi tidak boleh lebih dari empat orang. Dari satu segi al-Qur’an memberikan isyarat kebolehan melakukan poligami bagi orang yang dapat memenuhi persyaratannya, tetapi pada ayat yang lain memustahilkan persyaratan itu dapat terpenuhi.[1]

Prof. Dr. Quraish Shibab menyatakan “Poligami itu mirip dengan pintu darurat darurat dalam pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.” Hal serupa disampaikan pula oleh mantan Ketua PBNU, KH. Ahmad Hasyim Muzadi “Poligami tak ubahnya sebuah pintu darurat (emergency exit) yang memang disediakan bagi yang membutuhkannya”. Dalam kesempatan  yang  lain, beliau  juga mengatakan “Poligami atau monogamy adalah sebuah pilihan yang diberikan islam untuk manusia, keduanya tak perlu dikontradiksikan”.[2]

Mengenai konsep Poligami ini masyarakat Indonesia yang umumnya menganut paham religious dan menjadikan Poligami sebagai wacana yang terus diperbincangkan, terlebih lagi ketika Poligami Award dicanangkan pada tahun 2003 silam oleh Puspo Wardoyo[3] yang mana beliau memiliki empat istri.[4]

Di dalam Perjanjian Lama – kitab suci orang Yahudi mengimformasikan bahwa Nabi Daud as memiliki istri sebanyak 300. Boleh dikatakan hampir semua peradaban manusia yang maju dan berusia tua telah mengenal Poligami, misalnya: Peradaban maju seperti Ibrani yang melahirkan bangsa Yahudi telah mengenal Poligami sebagai sesuatu yang lumrah. Begitu pula peradaban Shaqalibah yang melahirkan bangsa Rusia. Termasuk Negara-negara seperti Lituania, Ustunia, Ceko dan Slovakia serta Yugoslavia semuanya mengenal Poligami. Masih ditambah lagi dengan bangsa Jerman, Swis, Saksonia, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia, dan tidak terkecuali Inggris.[5]

Presiden Tunisia Bourguiba pada tahun 1956 mensyahkan UU pelarangan poligami dan Negara yang melarang UU Poligami hanyalah Tunisia selain itu Negara Muslim lainnya melegalisasi poligami seperti Yaman Selatan (1974), Syiria (1953), Mesir (1929), Maroko (1958) dan Pakistan (1961).[6]

Sejarah dan realita diatas ada relevansinya dengan hadist Nabi Muhammad Saw yang menceritakan adanya seorang masuk Islam dan masih mempunyai 10 istri, maka Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk memilih empat saja dan menceraikan selebihnya. Imam Malik meriwayatkan dalam AL-Muwattha’, Imam Nasa’I dan Daraquthni dalam masing-masing kitabnya:

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لغيلان بن أمية الثقفي وقد اسلم وتحته عشر نسوة: اختر أربعا وفارق سائهن.

Bahwa Nabi Muhammad Saw berkata kepada Ghailan bin Umayyah Atsqalani yang masuk Islam, padahal ia punya sepuluh orang istri. Beliau bersabda kepadanya: pilihlah empat orang di antara mereka dan ceraikanlah yang lainnya”.[7]

Dan masih banyak lagi hadist-hadist senada yang mengindikasikan adanya perbolehan Poligami selagi “perbuatan keadilan” terpatrikan dalam diri seorang suami. Rasulullah Saw bersabda:

عن ابن عمر أن غيلان بن سلمة وله عشر نسوة في الجاهلية فأسلمن معه فأمره النبي صلى الله عليه وسلم ان يتخير أربعا منهن (رواه الترميذي).

Dari ibnu Umar bahwa Ghailan bin Salamah Ats-Tsaqafi masuk Islam, sedangkan ia mempunyai sepuluh orang istri pada zaman jahiliyah, lalu mereka juga masuk Islam bersamanya, kemudian Nabi SAW memerintahkan Ghailan untuk memilih (mempertahankan) empat diantara mereka (HR. Tirmidzi).

Asbabul wurud turunnya Hadits di atas, membicarakan tentang Ghailan Ats-Tsaqafi yang mana sebelum masuk Islam mempunyai sepuluh orang istri. Ketika ia masuk Islam ke sepuluh orang istrinya itu turut masuk Islam bersamanya. Oleh karena dalam Islam seorang laki-laki tidak boleh beristri lebih dari empat, maka Nabi menyampaikan hadits di atas. Yakni, menyuruh atau memerintah mempertahankan empat diantara mereka dan menceraikan yang lainnya.

Banyak penafsiran mengapa Nabi Saw melarang putrinya dipoligami oleh Ali bin Abi Thalib ra adalah putri Abu Jahl bin Hisyam, musuh Allah Swt dan musuh Nabi Saw. tetapi beberapa penafsiran lain menyebutkan memang karena Nabi Saw tidak menginginkan putri beliau Fathimah ra dipoligami dengan siapapun, karena poligami itu menyakiti hatinya, dan yang menyakiti hatinya juga menyakiti hati Nabi Saw. Karena itu, seperti dinyatakan Ibn Hajar al-‘Asqallani, ada ulam yang menyatakan bahwa poligami bisa saja dilarang jika bisa menimbulkan kerusakan dan kezaliman, tentu terhadap perempuan dan anak-anak. (lihat Fath al-Bari, 10/412).

Imam Qurthubi menolak adanya sebuah pemahaman dari beberapa kalangan yang menyatakan bahwa ayat 3 surat An-Nisa menunjukkan jumlah. Sebagaimana didalam kaum Rafhidah dan sebagian Ahli Zhahir memahami bahwa kata “matsna” menunjukkan dua tambah dua dan begitu seterusnya dan menurut Cholil Nafis sebagian Ahli Zhahir membolehkan kawin sampai delapan belas orang, dengan argumentasi kata “wawu” pada ayat 3 menunjukkan arti jumlah. Namun menurut saya hujjah yang mereka gunakan dalam memahami ayat tersebut kurang kuat dikarenakan jumhur ulama berpemahaman seorang suami hanya dibolehkan beristrikan empat orang.

Eksistensi Poligami di dalam Islam harus kita akui dan tidak boleh kita menafikannya apalagi mendistorsikannya, karena adanya Nash yang shorih yang menyatakan kebolehannya tetapi dengan beberapa syarat diantaranya ialah berlaku adil di dalam membina rumah tangga. Allah Swt berfirman:

وان خفتم ألا تقسطوا في اليتمى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلث و ربع فان خفتم ألا تعدلوا فوحدة أو ما ملكت أيمنكم ذلك أدنى ألا تعولوا.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[8], maka (kawinilah) seorang saja, atau budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (Qs. An-Nisa/4: 3).

Sebenarnya telus (maqasid) dari adanya peraturan mengenai poligami dalam hukum Islam untuk menyelamatkan dan menolong kaum wanita, sebagaimanahal tersebut dipraktekkan oleh baginda Rasulullah Saw terhadap istri-istri beliau. Al-Qur’an surat An-Nisa’/4: 3 berfungsi memberikan batasan serta syarat yang ketat, yaitu batasan maksimal empat istri dengan ketentuan berlaku adil. Artinya tidak boleh ada anggapan bahwa Al-Qur’an mendorong poligami, tetapi justru memberikan jalan keluar apabila dalam suatu keadaan terpaksa seorang harus memilih antara perzinahan dan poligami, atau antara membiarkan wanita terlantar dan sengsara tak bisa nikah dan menjadi istri kedua.[9]

Poligami sendiri mempunyai arti suatu sistem perkawinan antara satu orang pria dengan lebih dari seorang istri. Pada dasarnya dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disebut Undang-Undang Perkawinan) menganut adanya asas monogami dalam perkawinan. Hal ini disebut dengan tegas dalam Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan bahwa pada asasnya seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

Akan tetapi asas monogami dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak bersifat mutlak, artinya hanya bersifat pengarahan pada pembentukan perkawinan monogami dengan jalan mempersulit dan mempersempit penggunaan lembaga poligami dan bukan menghapus sama sekali sistem poligami.

Ketentuan adanya asas monogami ini bukan hanya bersifat limitative saja, karena dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan disebutkan dimana pengadilan dapat memberikan izin pada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh para pihak yang bersangkutan.

Ketentuan ini membuka kemungkinan seorang suami dapat melakukan poligami dengan izin pengadilan. Hal ini erat kaitannya dengan berbagai macam agama yang ada yang dianut oleh masyarakat karena ada agama yang melarang untuk berpoligami dan ada agama yang membenarkan atau membolehkan seorang suami untuk melakukan poligami.

Khusus yang beragama Islam harus mendapat izin dari pengadilan agama sesuai dengan Pasal 51 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam dan yang beragama selain Islam harus mendapat izin dari Pengadilan Negeri. Jadi hal ini tergantung dari agama yang dianut dan pengadilan yang berkompeten untuk itu. Untuk mendapatkan izin dari pengadilan harus memenuhi syarat-syarat tertentu disertai dengan alasan yang dapat dibenarkan.

Tentang hal ini lebih lanjut diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.[10] Untuk beristri lebih dari satu orang dengan ketentuan jumlah istri dalam waktu yang bersamaan terbatas hanya sampai 4 orang.[11]

Adapun syarat utama yang harus dipenuhi adalah:

  1. Suami harus berlaku adil, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat an-Nisa:

وان خفتم ألا تقسطوا في اليتمى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلث و ربع فان خفتم ألا تعدلوا فوحدة أو ما ملكت أيمنكم ذلك أدنى ألا تعولوا (النساء/٤: ٣).

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[12], maka (kawinilah) seorang saja, atau budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (Qs. An-Nisa/4: 3).

  1. Adil terhadap istri-istrinya dan anak-anaknya, akan tetapi jika si suami tidak bisa memenuhi maka suami dilarang beristri lebih dari satu, sebagaimana firman Allah Swt:

ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل فتذروها كالمعلقة وان تصلحوا و تتقوا فان الله كان غفورا رحيما.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penayayang” (Qs. An-Nisa/4: 129).

Adil terhadap isteri berarti pula adil dalam giliran, sebagaimana disinyalir oleh Allah dalam al-Qur’an:

 ومن ءايته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة و رحمة ان في ذلك لأيت لقوم يتفكرون.

          “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir” (Qs. Ar-Ruum/30: 21).

  1. Di samping itu si suami harus terlebih dahulu mendapat izin dari pengadilan agama, jika tanpa izin dari pengadilan agama maka perkawinan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum.

Pengadilan agama baru dapat memberikan izin kepada suami untuk berpoligami apabila ada alasan yang tercantum dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan:

  1. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri.
  2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
  3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan

Di samping syarat-syarat tersebut yang merupakan alasan untuk dapat mengajukan poligami juga harus dipenuhi syarat-syarat menurut Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, yaitu :

  1. Adanya persetujuan dari istri.
  2. Ada kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup istri dan anak-anaknya.
  3. Ada jaminan bahwa suami berlaku adil terhadap para istri dan anak-anaknya.

Mengenai persyaratan persetujuan dari istri yang menyetujui suaminya poligami dapat diberikan secara tertulis atau secara lisan akan tetapi sekalipun telah ada persetujuan tertulis dari istri persetujuan ini harus dipertegas dengan persetujuan lisan dari istri pada sidang pengadilan agama.

Persetujuan dari istri yang dimaksudkan tidak diperlukan bagi suami apabila istri atau istri-istrinya tidak mungkin dimintai persetujuan dan tidak mungkin menjadi pihak dalam perjanjian dan apabila tidak ada khabar dari istrinya selama sekurang-kurangnya 2 tahun atau karena sebab-sebab lainnya yang mendapat penilaian dari hakim Pengadilan Agama.

Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri, begitu juga dengan seorang wanita, namun dalam keadan tertentu lembaga perkawinan yang berasaskan monogami sulit dipertahankan, sehingga dalam keadaan yang sangat terpaksa dimungkinkan seorang laki-laki memiliki istri lebih dari seorang berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Undang-Undang Perkawinan.

Pasal 35 Undang-Undang Perkawinan mengatur tentang harta benda dalam perkawinan yaitu harta benda yang diperoleh selama perkawinan berlangsung menjadi harta bersama. Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan menyatakan bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing, sedangkan di dalam Kompilasi Hukum Islam diatur apabila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama dibagi antara suami istri dengan pembagian yang sama. Dalam hal seorang laki-laki yang memiliki istri lebih dari seorang maka akan timbul suatu sengketa mengenai harta bersama tersebut, sehingga diperlukanlah suatu aturan yang jelas mengenai pembagian harta tersebut.


[1].  Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, Kodrat Perempuan Dalam Islam, Cet. I, Penerbit: Fikahati Aneska Jakarta, 2000, Hal. 46.

[2]. Makalah Wiji Areksi, dkk, Poligami Menurut Perspektif Islam, 2011,  Hal. 3.

[3].  Pemilik Restoran Ayam Bakar Wong Solo

[4]. Imam Fathurrohman, Saya Tak Ingin Poligami Tapi Harus Poligami – Menelisik Alas An Kenapa Aa Gym Beristri Dua, cet. I Januari 2007 /Dzulhijjah 1427, Penerbit: Hikmah (PT Mizan Publika), Hal. 19.

[5]. Ibid,  Hal. 24.

[6]. Dr. Cholil Nafis, Fikih Keluarga – Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah, Keluarga Sejahtera Sehat, Sejahtera Dan Berkualitas, Cet. I, Penerbit: Mitra Abadi Press, Hal. 51.

[7]. Dr. Cholil Nafis, ibid, Hal. 48.

[8]. Maksudnya berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meneladani isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriah. Hal ini juga dikatakan oleh Cholil Nafis bahwa adil yang bersifat Materi (berupa sandang, pangan, tempat tinggal dan qasam (pembagian giliran pulang) dan immateri (berupa mawaddah wa rahmah, cinta kasih dan sayang).

[9]. Miftah Faridl, 150 Masalah Nikah & Keluarga, Jakarta : Gema Insani, 1999, Hal. 131.

[10].  Legitimasi hukum agama menguatkan argumentasi UU Perkawinan yang membataskan seorang suami hanya boleh memiliki empat orang istri dan selebihnya harus diceraikan.

[11].  Cholil Nafis, ibid, Hal. 45.

[12]. Maksudnya berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meneladani isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s