DINASTI UMAYYAH

Oleh: Kholid al-Qadirie

  • Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah

Dimulainya masa dinasti Umayyah adalah ketika terbunuhnya khalifah Utsman saat membaca al-Quran. Ketika itu beliau berumur 82 tahun, terbunuhnya khalifah Utsman disebabkan karena ketidakpuasan rakyatnya atas kebijakan dan politiknya yang cenderung nepotisme.[1]

Setelah kepemimpinan khalifah jatuh pada tangan Ali bin Abi Thalib pada tahun 656, terjadi penentangan dari beberapa pemuka yang juga menginginkan jabatan kekhalifahan. Di antaranya Thalhah dan Zubair yang mendapat sokongan dari istri muda Nabi ‘Aisyah ra. Tantangan dari ‘Aisyah, Thalhah dan Zubair harus dibayar mahal oleh mereka setelah kekalahan mereka pada perang Jamal di Irak yang menewaskan Thalhah dan Zubair. Sedangkan istri nabi ‘Aisyah dikembalikan ke Madinah[2]. Penentangan selanjutnya adalah ketika rakyat menuntut kepada khalifah untuk segera menghukum para pembunuh Utsman. Namun khalifah Ali belum mampu mewujudkan keinginan rakyatnya karena keadaan negara yang belum stabil dan terjadi banyak kerusuhan. Langkah yang hanya bisa ia lakukan adalah memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah dan memberhentikan beberapa gubernur yang telah diangkat oleh khalifah Utsman dan mengangkat pejabat-pejabat lain. Namun Ali tidak memperhitungkan Mu’awiyah yang tidak lain adalah gubernur suriah saat itu dan juga kerabat Utsman. Mu’awiyah adalah seorang gubernur Damaskus yang memang tidak mengakui Ali sebagai khalifah, sehingga iamelawan dan menentang atas terpilihnya Ali sebagai khalifah[3].

Dengan berbagai cara Mua’awiyah lakukan untuk menarik simpati umat Islam salah satunya dengan menuduh dan menyudutkan Ali sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kematian khalifah Utsman. Hingga akhirnya terjadi perang di dataran Shiffin, di tepi barat sungai Efrat yang mempertemukan kubu Ali dan pengikutnya dari Irak dan Mu’awiyah berikut pengikutnya dari Suriah. Peperangan tersebut berlangsung berlarut-larut hingga berminggu-minggu, hingga akhirnya dengan kecerdikan Mu’awiyah, ia mengadakan arbitrasi (tahkim) setelah mendapat persetujuan dari Ali, dengan mengutus Amr bin Ash yang dikenal cerdik dan licin, dan Abu Musa al-‘Asy’ari sebagai utusan Ali, hingga pada akhirnya diputuskan bahwa Ali dicopot dari jabatannya sebagai khalifah begitu juga Mu’awiyah yang menjabat sebagai gubernur Suriah. Akibat persetujuan Ali dengan adanya arbitrasi tersebut membuat turunnya simpati sejumlah besar pendukungnya, dan perpecahanpun terjadi hingga akhirnya muncullah tiga kelompok politik besar. Yaitu Mu’awiyah, Syi’ah(pengikut) Ali, dan Khawarij.[4]

Khawarij[5] (pembelot) adalah golongan yang mengkritik dan mencela terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang, mereka menganggap bahwa Khilafah Islamiyah tidak berdasarkan pada satu tempat atau orang tertentu saja, melainkan harus berdasarkan pada keinginan rakyat dan memilih orang yang dianggap shaleh dan mampu menjalankan pemerintahan. Setidaknya ada 3 alasan mereka keluar dari pengikut Ali[6]; Pertama, karena menolak politik kedua penguasa saat itu(Ali dan Mu’awiyah) dan condong meninggikan kemampuan mereka terhadap urusan pemerintahan. Kedua, karena penerimaan Ali terhadap arbitrasi antara ia dan penentangnya Mu’awiyah. Ketiga, karena keinginan kuat mereka untuk menguasai pemerintahan. Dengan alasan politk tersebut golongan Khawarij semakin berkembang menjadi sebuah golongan teologis yang mengusung syiar daulat  tuhan dan pengkafiran atas semua pihak yang terlibat dalam arbitrasi yaitu Mu’awiyah, Ali, dan Amr bin Ash.[7]Zuhairi Misrawi dalam pendahuluannya mengutip perkataan Khaled Abul Fadl yang mengatakan bahwa timbulnya golongan Khawarij tidak lain karena mereka mengklaim diri mereka sebagai daulat tuhan dan cenderung menggunakan kekerasan demi menegakkan kedaulatan tuhan.[8]denga

Sedangkan Syi’ah[9] adalah golongan yang memandang bahwa kekuasaan tersebut adalah hak Ali dan keluarganya. Maka siapapun yang merampas dan menguasai hak tersebut adalah perbuatan dhalim dan berdosa[10]. Pengikut inilah yang pada akhirnya memandang Ali dan keturunannya sebagai orang yang agung dan suci, bahkan mereka menganggap ali masih hidup walaupun ia sudah meninggal pada bulan januari 661 M akibat hantaman pedang beracun di dahi hingga menembus otaknya[11].

Setelah kematian Ali. Hasan di daulat sebagai pengganti dari tahta kekhalifahan. Sebenarnya Hasan lebih banyak menghabiskan hidupnya di Madinah setelah kematian ayahnya dan tidak ikut campur dalam masalah pemerintahan. Ia hanya memegang jabatan khalifah selama beberapa bulan dan menyerahkannya kepada Mu’awiyah setelah mendapat iming-iming dana santunan pensiunan setiap tahunnya. Dengan kesepakatan tersebut Mu’awiyah lebih leluasa mengukuhkan kekuasaannya dan menjadikan tahun itu sebagai tahun kesatuan dalam naungan khalifah Mu’awiyah atau dikenal sebagai tahun Jama’ah.[12]

Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb mengukuhkan kekuasaannya sebagai khalifah pada  tanggal 25 R. Awal tahun 41 H atau 661 M.[13]dia adalah pencetus konsep pemerintahan dinasti pertama dalam sejarah Islam. Penobatannya sebagai khalifah merupakan awal berdirinya dinasti Umayyah. Dinasti Umayyah sendiri sebenarnya dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin Abd Manaf, ia adalah salah satu tokoh penting dalam kabilah Quraisy pada masa Jahiliah.[14] Setelah penobatannya sebagai khalifah, ia menjadikan Damaskus di Syiria sebagai pusat pemerintahan yang sebelumnya berada di Kufah[15] dan mengubah prinsip-prinsip demokrasi dalam pemerintahan yang sudah ditanam sejak zaman Rasulullah dari bentuk kepemimpinan yang dipilih oleh rakyat menjadi kerajaan turun-temurun atau Monarchi Hereditis (kekuasaan turun-temurun). Perubahan pusat pemerintahan (yang sebenarnya sejak zaman Utsman) tersebut memiliki beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Seorang pakar sejarah Dr. Yusuf al-‘Isy menganalisa sebab-sebab perubahan kekuasaan dalam bukunya Dinasti Umayyah;

Pertama; Perubahan daerah kekuasaan islam sebagai hasil dari pembukaan daerah, sehingga Madinah idak cocok lagi untuk menjadi ibu kota negara pada daerah yang sangat luas, karena ia terletak jauh dari daerah-daerah yang baru dikuasai, sehingga sulit mengendalikan daerah-daerah yang jauh dari Madinah. Maka Damaskus lebih cocok sebagai ibu kota negara.

Kedua; Perubahan pusat perekonomian, Hijaz telah menjadi pusat pengumpulan harta rampasan perang dari negeri-negeri yang telah dibuka hingga ia tidak mempunyai pengaruh lagi kecuali sebagai pembagian dari harta negara.

Ketiga; Perubahan tabiat kehidupan materi, masyarakat telah berpindah dari hidup susah dan zuhud terutama pada awal-awal pemerintahan khulafaurrasyidin menjadi masyarakat yang bergelimangan kemewahan yang tidak sesuai dengan kebijakan pemimpinnya.

Keempat; Perubahan dalam tatanan masyarakat dengan munculnya kaum Arab Badui yang termarginalkan ketika masa dua khalifah  pertama. Munculnya mereka mempunyai pengaruh yang besar dalam merubah keadaan masyarakat terutama ketika stagnanisasi pembukaan untuk beberapa masa.

Kelima; Perubahan karena munculnya generasi baru di masyarakat, generasi yang tidak sama dengan masa khalifah sahabat, generasi yang anarkis dan frontal dengan realita budaya generasi sahaba sebelumnya.

Keenam; Dengan semua perubahan diatas membentuk mindset masyarakat yang jauh seperti pada masa sahabat, mereka tidak lagi menggunakan rasionalitas berpikir dan menjiwainya dalammenetapkan keputusan-keputusan.”[16]

  • Para Khalifah Dinasti Umayyah

Secara keseluruhan, masa pemerintahan dinasti Umayyah berlangsung hampir satu abad lamanya. Kekuasaan yang di dalangi 14 orang khalifah tersebut telah memberikan kontribusi yang besar dalam memperluas wilayah Islam walaupun banyak sejarawan yang menganggap negative legalitas ke-khalifahan pencetus dinasti Umayyah, Muawiyah yang memenangkan perang saudara di Shiffin dengan cara yang curang.[17]

Setidaknya ada beberapa khalifah besar dari dinasti Umayyah yang banyak memberikan kontribusi bagi perluasan Islam. Di antaranya Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abd al-Malik bin Marwan, al-Walid bin Abd al-Malik, Umar bin Abd al- Aziz, Hisyam bin Abd al-Malik dan Marwan bin Muhammad. Namun ada yang berpendapat bahwa Khalifah terbesar dari Dinasti Umayyah adalah Mu’awiyah, Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz.[18]

Mu’awiyah bin Abi Sufyan lahir di Mekkah lima tahun sebelum diutusnya nabi dan masuk Islam ketika berumur 23 tahun ketika terjadi pembukaan kota Mekkah yang merupakan pendiri dinasti Umayyah`adalah seorang tokoh pembangun yang besar, dikenal sebagai penguasa yang lemah lembut. Bagaimana tidak, pada masa pemerintahannya Mu’awiyah telah banyak melakukan perubahan terutama dalam masalah perpolitikan. Setelah berhasil mengalahkan oposisi, Mu’awiyah memusatkan perhatiannya untuk menghadapi musuh Islam di Bisantium. Dia mendirikan galangan kapal (daar al-shina’ah) angkatan laut Islam di Akka setelah penaklukan Suriah, galangan kapal ini merupakan yang kedua setelah galangan yang ada di Mesir.[19] Selain itu Mu’awiyah juga mendirikan kantor catatan negara dan layanan pos pertama dalam Islam yang selalu siap dengan menggunakan kuda.[20] Mu’awiyah dikenal sebagai raja pertama dan raja Arab terbaik, ia meniggal pada bulan Rajab tahun 60 H di Damaskus karena sakit.

Sebelum kematiannya, ia berwasiat kepada anaknya Yazid bin Mu’awiyah dan ditetapkan sebagai putra mahkota untuk meneruskan tampuh kekuasaannya, dia dibaiatoleh Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas dan ditentang oleh Abdullah bin Zubair.[21] Dibaiatnya Yazid sebagai Khilafah merupakan awal terbentuknya bentuk kekuasaan monarki hereditis dalam Islam. Dalam masa pemerintahannya Yazid harus berhadapan dengan kaum Syi’ah yang dipimpin Husain pada perang Karbala dan pemberontak dari Mekkah yang digawangi Abdullah bin Zubair, namun kesemuanya berhasil ia taklukkan. Yazid meninggal pada tahun 64 H setelah memerintah selam 4 tahun dan digantikan anaknya Mu’awiyah, namun ia hanya berkuasa kurang lebih selama 40 hari, namun ia tidak menikmati hari-hari kekuasaannya dikarenakan ia sakit. Ia mengalami tekanan jiwa karena kurang sanggup memikul tanggung jawab ke-khalifahan. Ia sempat berkhutbah di atas mimbar untuk mencari pengganti tampuh kekuasaannya sebelum ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal.[22]

Selanjutnya kekuasaan diganti oleh Bani Marwan dalam hal ini Marwan bin Hakam, dulunya ia adalah gubernur Madinah pada masa Utsman.Marwan dikenal karena keberaniaanya, memiliki pemikiran yang bagus serta kefasehannya dalam melantunkan ayat al-Quran.[23] Ia dianggap pantas mendudukinya dikarenakan tak satupun yang pantas mendudukinya dari Bani Umayyah, ditambah keadaan Arab yang masih labil dan gempuran Khawarij dan Syi’ah yang bertubi-tubi. Selain itu perebutan kekuasaan dengan ad-Dhahhak yang terjadi di Maraj Rahith dan dilatarbelakangi pengaruh fanaisme golongan antara Qaisiah dan Kalbiyah.[24] Khlifah Marwan hanya menjabat selama setahun dan meninggal pada tahun 65 H.

Abdul Malik bin Marwan disebut sebagai pendiri kedua dinasti Umayyah, ia khalifah yang paling lama menjabat yaitu selama 21 tahun. ia lahir di Madinah pada tahun 26 H pada masa pemerintahan Utsman, ia dikenal dengan keberaniaannya, kefasehannya, dan keteguhannya dalam menegakkan kebenaran. Ia belajar ilmu agama kepada guru-guru Hijaz di madinah, ia mahir dalam bidang Fiqh.[25] Ia ditunjuk untuk melajutkan kepemimpinan Bani Marwan setelah ayahnya meniggal. Pada masa pemerintahannya, ia berhasil mengembalikan integritas wilayah kekuasaan nenek moyangnya yang sempat kacau pada masa khalifah sebelumnya. Ia menetapkan bahasa arab sebagai bahasa pemerintahan yang sebelumnya menggunakan bahasa asing seperti bahasa Persia, Bahasa Qibti dan Yunani. Ia memiliki 2 gubernur yang tangguh sebagai penopang kekuasaannya, al-Hajjaj bin Yusuf dan saudaranya Abdul Aziz. Dengan kedua punggawa tesebut khalifah Malik berhasil mengembangkan sector perairan dengan membuat saluran air sungai, membuat sistem timbangan, takaran dan keuangan serta melengkapi penulisan mushaf dengan titik pada huruf-huruf tertentu.[26]

Khalifah al-Walid bin Abdul Malik adalah penerus dari kekuasaan Abdul Malik, ia dan saudaranya Sulaiman mendapat wasiat dari ayahnya sebelum ia meniggal. al-Walid memerintah selama sepuluh tahun sebelum digantikan saudaranya. Selama masa jabatannya, umat Islam pada saat itu mendapat anugerah rezeki dan kemakmuran yang melimpah ruah, sehingga dapat meneruskan pembangunan gedung-gedung, sumur-sumur bagi musafir dan membantu fakir miskin serta pendertita penyakit yang lain.[27] Dalam masa pemerintahannya, al-Walid berhasil memperluas daerah kekuasaan Islam hingga Asia dan Spanyol berkat tiga punggawanya. Yaitu Qutaibah bin Muslim al-Bahiliy, Muhammad bin Qasim bin Muhammad al-Qasimiy dan Musa bin Nashir.[28]

Selanjutnya masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik yang tidak lain adalah adik kandung dari al-Walid. Ia memerintah tidak lebiih dari dua tahun, selama menjabat ia dikenal kurang bijaksana dan dibenci oleh rakyatnya karena kegemarannya pada harta rampasan dan wanita. Ia membuat perpacahan dikalangan masyarakatnya dan memecat pejabat-pejabat yang berjasa pada masa kakaknya karena tidak mematuhi aturannya seperti Muhammad bin Qasim, Qutaibah bin Muslim, Musa bin Nashir dan keluarga al-Hajjaj di Irak.[29]

Khilafah besar ketiga pada masa Dinasti Umayyah adalah Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai khalifah adil, independent, berdiri sendiri, yang terlepas dari pengaruh kebijaksanaan bani Umayyah. Ia lahir di Hilwan dekat Kairo,[30] namun ada yang mengatakan ia lahir di Madinah.[31] Ia lahir dari golongan yang kaya raya karena menguasai perkebunan di Hijaz, Syiria, Yaman, Bahrain dan Mesir dengan aset 40.000 dinar pertahunnya.

Dalam pemerintahannya yang singkat ia berhasil menghentikan perseteruan dengan Syi’ah dan Khawarij demi tercapainya ketentraman, ia juga berusaha memperbaiki tatanan kenegaraan dengan menaikkan gaji para gubernurnya, ia memberantas kemiskinan dan meminimalisasi diskriminatisme terhadap orang non-arab. Ia meninggal tahun 101 H dan digantikan dengan Yazid bin Abdul Malik. Namun lagi-lagi terjadi gejolak perselisihan dalam pemerintahannya antara kaum Mudariyah dan Yamaniyah. Kemudian ia digantikan oleh khalifah Hisyam bin Abdul Malik.[32]

Hisyam memerintah selama sembilan belas tahun tujuh bulan, walaupun ia tidak sehebat tiga khalifah terdahulu, namun ia juga dianggap berhasil dalam menjalankan pemerintahannya, karena ia pandai dalam masalah politik, sehingga dikatakan khalifah paling pandai dalam hal politik pada dinasti Umayyah adalah tiga orang; Mu’awiyah, Abdul Malik dan Hisyam.[33] Setelah masa Hisyam masih ada empat khalifah lagi, adapun yang terakhir adalah Marwan bin Muhammad yang terbunuh di Mesir tahun 132 H oleh pasukan Bani Abbasiyah.

  • Masa Keemasan Dinasti Umayyah

Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal dengan era agresif, di mana pemusatan perhatian tertuju pada perluasan wilayah dan penaklukan. Banyak bangsa yang beramai-ramai masuk dalam kekuasaan Islam terutama dari tanah Spanyol pada masa Abdul Malik, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, Irak, Persia, Afganistan, India, Cina dan banyak lagi negara-negara Soviet Utara.

Dalam pencapaian stabilitas dalam negeri, Dinasti Umayyah mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam walaupun ada yang bersifat rintisan. Pada masa Mu’awiyah terjadi pengepungan terhadap Konstantinopel di daerah pelabuhan Dardanela, sebelumnya terjadi penaklukan Khurasan sampai ke Afganistan dan banyak lagi.

Pada masa Abdul Malik, terjadi perebutan kekuasaan dengan Abdullah bin Zubair, namun berkat jasa komando al-Hajjaj yang dengan setia kepada kerajaan Mu’awiyah ia mampu mengatasinya. Selain itu kejayaan yang sempat fakum pada masa Umar dan Utsman dilanjutkan oleh khalifah Abdul Malik dan al-Walid dengan menaklukkan Suriah, Irak, Persia dan Mesir.[34]

Setelah berhasil melakukan penaklukan di daerah barat, komandan al-Walid diberi kewenangan untuk memperluas lagi wilayah kekuasaan Islam. Yaitu dengan melakukan ekspansi ke wilayah timur, termasuk Afganistan yang saat itu dipegang oleh raja Turki. Mereka menolak membayar pajak kepada pemerintah. Komandan al-Hajjaj juga melakukan penaklukan ke Asia Tengah, tepatnya di Transoxiana. Penaklukan tersebut terus berjalan hingga ke Oxus, Takaristan, Bukhara, Khawarizm, Cina dan Mongolia.[35]

Kemudian masa kekuasaan al-Walid yang ditandai dengan pengepungan terhadap kota Konstantinopel yang gagal pada masa Mu’awiyah, walaupun belum berhasil menundukkan ibu kota Romawi tersebut, al-Walid bisa dianggap berhasil dengan menggeser basis militer kerajaan Romawi yaitu Mar’asy dan ‘Amuriyah.[36] Selain Konstantinopel, kawasan yang berhasil direbut oleh raja al-Walid adalah ketika menguasai tanah Afrika Utara, di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad, pasukan muslim berhasil masuk ke Spanyol dan merebut ibu kota Cordova, menyusul kawasan Sevilla, Elvira dan Toledo. Penaklukan Eropa disempurnakan oleh gubernur Musa bin Nushair dengan menaklukan Carolingian Prancis.[37]

Selain berjaya dalam hal kemiliteran, Dinasti Umayyah juga berhasil dalam bidang perpolitikan, yaitu menyusun administrasi kenegaraan dengan mengangkat majelis penasehat dan melengkapi kesekretariatan Negara sebagi pembantu pelaksana tugas. Di samping itu, Dinasti Umayyah mendirikan masjid agung di samping istana kerajaan al-Khadhra yang dibangun oleh Mu’awiyah dan disempurnakan oleh al-Walid.

Pada masa Abdul Malik dan al-Walid terjadi arabisasi administrasi pemerintahan dan bahasa persatuan Negara yang sebelumnya menggunakan bahasa Yunani dan bahasa asing lainnya. Pada masa itu juga terjadi penerbitan mata uang yang berbahasa arab, uang logam tersebut dahulunya menggunakan uang Romawi dan Persia,[38] kemudian pembuatan jasa layanan pos sebagai alat layanan komunikasi dengan menggunakan kuda.

Dalam bidang sosial budaya Bani Umayyah juga berhasil menjalin kerjasama dengan daerah-daerah taklukkan yang terkenal memiliki tradisi luhur, seperti Persia, Eropa, Mesir dan sebagainya, membangun monumen batu pada masa al- Malik dan kubah batu pada masa Sulaiman. Selain itu Bani Umayyah merupakan perintis awal ilmu gramatika arab yang disusun oleh Abu al-Aswad ad-Duali dengan member titik pada huruf hijaiyah yang semula tidak ada.[39]

Dalam  bidang peradaban, Dinasti Umayyah berusaha meneruskan usaha yang dilakukan Khulafaa ar-Rasyidin dalam bidang ilmu pengetahuan dan pengembangan bahasa arab dengan mengembangkan daulah islamiyah yang berbasis bahasa arab. Bani Umayyah juga membangun pusat keilmuan yang bernama Marbat di Damaskus.

Untuk pengembangan yang lainnya Dinasti Umayyah juga banyak memberikan andil dalam bidang ilmu tafsir yang dibukukan Mujahid, bertambahnya huffadzul quran pada akhir masa Bani Umayyah, bertambahnya para muhadditsin seperti az-Zuhri dan lainnya.[40]

Kemudian Dinasti Umayyah juga merupakan cikal bakal berdirinya paham filosofis dan berkembangnya kelompok atau sekte seperti Syi’ah (dan pecahannya) dan Khawarij (dan pecahannya).[41]

Dinasti Umayyah telah mampu membentuk perdaban yang kontemporer di masanya, baik dalam tatanan sosial, politik, ekonomi dan teknologi. Dapat disimpulkan beberapa kemajuan pada masa Dinasti Umayyah yang menjadi embrio terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah. Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain:

  1. Masa kepemimpinan Muawiyah telah mendirikan dinas pos dan tempat-tempat dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan sebagai transportasinya.
  2. Menertibkan angkatan bersenjata.
  3. Pencetakan mata uang oleh Abdul Malik, mengubah mata uang Byzantium dengan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Mencetak mata uang sendiri tahun 659 M dengan memakai kata dan tulisan Arab.
  4. Jabatan khusus bagi seorang Hakim (Qodli) menjadi profesi sendiri .
  5. Keberhasilan kholifah Abdul Malik melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan Islam dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilannya diikuti oleh putranya al-Walid Ibnu Abdul Malik (705–719 M) yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan.
  6. Membangun panti-panti untuk orang cacatdan semua personil yang terlibat dalam kegiatan humanis di gaji tetap oleh Negara.
  7. Membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya.
  8. Membangun pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan, dan masjid-masjid yang megah.
  9. Hadirnya Ilmu Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah, bayan, badi’, Isti’arah dan sebagainya. Kelahiran ilmu tersebut karena adanya kepentingan orang-orang Luar Arab (Ajam) dalam rangka memahami sumber-sumber Islam (al-Qur’an dan al-Sunnah).
  10. Pengembangan di ilmu-ilmu agama, karena dirasa penting bagi penduduk luar jazirah Arab yang sangat memerlukan berbagai penjelasan secara sistematis ataupun secara kronologis tentang Islam. Diantara ilmu-ilmu yang berkembang yakni tafsir, hadis, fiqih, Ushul fiqih, Ilmu Kalam dan Sirah/Tarikh.
  • Masa Kehancuran Dinasti Umayyah

Masa kehancuran Dinasti Umayyah sebenarnya bermula ketika generasi Hisyam bin Abdul Malik, kemudian al-Walid bin Yazid, tepatnya setelah tahun 120 H. Ketika pada saat itu telah banyak kekacauan yang terjadi di wilayah Islam, tidak hanya di Irak tetapi juga di negeri as-Shagh, India, Mesir dan Barbar.[42] Kekacauan terjadi karena timbulnya persaingan kekuasaan antar para keluarga khalifah. Persaingan tersebut mengakibatkan munculnya fanatisme golongan antara Arab Mudariyah di utara dan Yamaniyah di selatan. Selain itu akibat cikal bakal runtuhnya dinasti Umayyah juga ditandai dengan ketidaksenangan rakyat atas perilaku para khalifah dan keluarganya, terutama kepada empat khalifah terakhir (al-Walid bin Yazid, Yazid bin Abdul Malik, Ibrahim bin al-Walid dan Marwan bin Muhammad) yang terlalu mengabaikan kehidupan rakyat, bahkan mereka bisa dikatakan memiliki akhlak dan moral yang buruk.[43]

Dr. Yusuf al-‘Isy mengatakan dalam bukunya setidaknya ada empat golongan yang harus diperangi oleh Bani Umayyah demi meredam kondisi yang bergejolak akibat ulah Bani Umayyah sendiri sebelum mereka mengakhiri masa kejayaannya; Pertama, Kabilah Mahlab yang  mayoritas dari Yaman. Kedua, Diskriminisasi terhadap budak Mawali. Ketiga, Kaum Syi’ah yang bisa redam dengan menggunakan pedang sehingga kebencian mereka terhadapa Bani Umayyah. Keempat, Adalah mereka yang tidak beriman secara sempurna malah sangat membenci Islam akibat kelakuan Bani Umayyah yang tidak sejalan dengan ajaran Islam.[44]

Secara keseluruhan, dapat ditarik beberapa faktor lemahnya Dinasti Umayyah dan membawanya pada kehancuran. Antara lain:

  1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu tradisi yang baru dalam Arab, yang lebih menentukan aspek senioritas, pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
  2. Latar belakang terbentuknya Dinasti Umayyah tidak dapat dipisahkan dari berbagai konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan banyak menyedot kekuatan pemerintah.
  3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qais) dan Arab Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam semakin runcing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu, sebagian besar golongan timur lainnya merasa tidak puas karena status Mawali iu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan Bangsa Arab yang diperhatikan pada masa Bani Umayyah.
  4. Lemahnya pemerintahan daulah Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, sebagian besar golongan awam kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
  5. Penyebab langsung runtuhnya kekuasaan Dinasti Umayyah adalah muncul nya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas bin Abbas al-Muthallib. Gerakan ini mendapat dukungan dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah. Dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintah Bani Umayyah.[45]

Meskipun banyak kobobrokan yang terlihat pada masa bani Umayyah, mereka juga memberikan kontribusi atas perluasan kekuasaan Islam.Terbukti kekuasaan Islam saat itu telah mencapai wilayah Eropa dengan ditaklukkannya Spanyol pada masa al-Walid, pulau Sardinia, Rhodes, dan sebagian Sicillia. Di Asia tengah mencapai Uzbekistan, Kirghistan, hingga mencapai daratan India. Di Afrika Utara mencapai Tripoli, Tunisia, Maroko dan Aljazair. Dari Maroko inilah ekspansi ke Eropa dimulai.[46]

 


[1]Studi Islam IAIN Ampel Surabaya. 2004. Pengantar Studi Islam. IAIN Sunan Ampel Press. Surabaya. hlm 133

[2] Harun Nasution. 2008. Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah Analisa Perbandingan. UI-Press: Jakarta. Cet. 2. Hlm 6

[3]Philip K. Hitti. 2010.History of The Arabs. Serambi Ilmu Semesta: Jakarta. Hlm 224

[4] Badri Yatim. 2011 .Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II.Rajawali Pers: Jakarta. Hlm. 40

[5]Dalam masalah teologi tentang perbuatan dosa dan pengkafiran, golongan ini masih mempertanyakan apakah masih di anggap mukmin orang yang telah malakukan dosa besar? Dari pertanyaan ini timbul tiga pandangan yang berbeda. Pertama Khawarij yang mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar adalah kafir. Kedua, mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa tetap orang mukmin dan bukan kafir. Ketiga, adalah golongan Mu’tazilah yang tidak setuju terhadap pandangan keduanya, mereka menganggap orang yang berbuat dosa adalah tidak kafir dan tidak juga mukmin atau lebih dikenal dengan al-Manzilah baina al-Manzilatain.

[6] Syeikh Muhammad Hudlari Bek. 2007. Tarikh al-Tasyri’ al-Islamiy.Dar al-Kutub al-Islamiyah: Jakarta. Hlm 88

[7] Harun Nasution. Op.cit. hlm 8

[8]Zuhairi Misrawi. 2010. Pandangan Muslim Moderat; toleransi, terorisme dan oase perdamaian. Kompas: Jakarta. Hlm xxx

[9] Dalam buku Mukhtashar al-Tuhfatu al-Itsna ‘Asyariyah dijelaskan bahwa golongan Syi’ah yang menyiarkan pneguhan terhadap kepemimpinan Ali ada empat golongan: Syi’ah Mukhlishun, Syi’ah al-Tafdliliyah, Syi’ah al-Sibbiyah, dan Syi’ah al-Ghulat.

[10]Syeikh Muhammad Hadlari Bik. Op.cit. hlm 88

[11]Philip K. Hitti. Op.cit. hlm 227

[12] Muhammad Hudlari Bek.Op.cit. hlm 88

[13]Hasan Ibrahim Hasan. 1991. Tarikhu al-Islamy; al-Siyasi wa al-Diny wa al-Tsaqafy wa al-Ijtima’iy. Maktabah al-Nahdlatu al-Mishriyah: Mesir. Hlm 228

[14]Samsul Munir Amin. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Amzah:Jakarta. Hlm. 118

[15]Sayyid Amir ‘Ali. 2001. Mukhtashor Tarikh al-Arab wa al-Tamaddun al-Islamiy. Dar al-Aafaq al-Arabiyah: Qahirah Mesir. Hlm. 62

[16]Yusuf al-‘Isy. 2009. Dinasti Umayyah. Pustaka Kautsar: Jakarta.Hlm 161

[17] Samsul Munir Amin. Op.cit. hlm 118

[18] Samsul Munir Umar. Op.cit. hlm122

[19] Philip K. Hitti. Op.cit. hlm 240-241

[20] Samsul Munir Umar. Op.cit. hlm 123

[21] Hasan Ibrahim Hasan. Op.cit. hlm 234

[22]Hasan Ibrahim Hasan. Ibid. hlm. 235-236

[23] Hasan Ibrahim Hasan. Ibid. hlm. 238

[24]Yusuf al-‘Isy. Op.cit. hlm. 226-233

[25] Hasan Ibrahim Hasan.Op.cit. hlm. 239

[26] Samsul Munir Amin.Op.cit. hlm. 125

[27] Samsul Munir Arifin. Ibid. hlm. 126

[28] Hasan Ibrahim Hasan. Op.cit. hlm.245

[29] Hasan Ibrahim Hasan. Ibid. hlm 264

[30] Hasan Ibrahim Hasan. Ibid. hlm 265

[31]Muhammad Hadhari Bek. Op.cit. hlm 106

[32]Samsul Munir Amin. Op.cit. hlm. 128

[33]Hasan Ibrahim Hasan. Op.cit. hlm. 271

[34]Philip K. Hitti. Op.cit. hlm. 256

[35]Philip K. Hitti. Op.cit. hlm. 259

[36] Samsul Munir Amin. Op.cit. hlm. 131

[37] Samsul Munir Amin. Op.cit. hlm. 131

[38] Philip K. Hitti. Op.cit. hlm. 271

[39] Samsul Munir Amin. Op.cit. hlm. 132

[40] Muhammad Hudhari Bek. Op.cit. hlm. 97

[41] Philip K. Hitti. Op.cit. hlm. 306-310

[42]Yusuf al-‘Isy.Ibid. Hlm. 370

[43]Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya.Op.cit. hlm. 134

[44]Yusuf al-‘Isy.Op.cit. hlm.391

[45] Badri Yatim. Op.cit. hlm. 48-49

[46]Studi Islam IAIN Sunan Ampel.Op.cit. hlm. 135

One thought on “DINASTI UMAYYAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s