Abah – Abbasiyah

Pendahuluan.

Dalam perjalanan sejarahnya umat Islam mengalami perubahan – perubahan beberapa kali. Seiring dengan itu, terjadi pula pergantian pemegang tongkat kepemimpinan. Pergantian itu adakalanya dengan damai dan aman, ada pula yang harus menelan banyak korban baik nyawa maupun harta. Hal ini tidak dapat kita pungkiri karena sejarah telah tercatat dan terekam oleh sang waktu. Dalam sejarahnya umat Islam pernah menorehkan sejarah dengan  tinta emas. Membangun peradaban yang sangat maju, kokoh dan sangat tinggi. Sehingga Islam pada waktu itu menjadi daulah yang sangat disegani masyarakat dunia. Dan salah satu masa itu tercatat dalam sejara khalifah Abbasiyah. Dan khalifah inilah yang nanti akan diulas dalam makalah ini.

Pendirian Khalifah Abbasiyah

Umar Bin Abdul Aziz adalah khalifah bani Umayah dimasa kemundurannya yang masih dapat kembali memperbaiki hubungan dengan para oposisi. Sehingga pada masa ini gerakan – gerakan oposan yang dilakukan oleh kelompok Khawarij dan Syi’ah dapat diredakan. Meskipun masa pemerintahanya sangat singkat yakni 717 – 720 M, dia berhasil menjalin hubungan baik dengan kelompok Syi’ah. Dia memberikan kebebasan beribadah bagi penganut agama lain dan mensejajarkan kedudukan kaum mawali (muslim non Arab) dengan muslim Arab.

Setelah dia meninggal dunia dilanjutkan oleh khalifah Yazid Bin Abdul Malik (720 – 724 M). khalifah ini berbeda sekali dengan yang sebelumnya. Khalifah ini terlalu suka akan kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat yang sebelumnya dalam keadaan tenang dan tentram berubah menjadi kacau. Kekacauan ini terus berlanjut hingga pada masa khalifah terakhir bani Umayah yaitu Marwan bin Muhammad. Paa masa ini kekuatan oposisi sangat kuat karena setelah Hasyim Bin Abd al Malik yang tampil bukan saja sangat lemah, akan tetapi juga berprilaku kurang simpati di mata rakyat. Pada tahun 750 M daulah Umayah dapat dikalahkan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim al Khurasani. Dan disinilah dimulainya  Kekuasaan khalifah Bani Abbasiyah.

Kebarhasilan Bani Abbas dikarenakan tiga factor penting;[1]

  1. Didasar idiologi propaganda agama yang tersistematis demi reformasi
  2. Propaganda Abbasiyah berpengaruh dari tersebar luasnya Islam di Iran
  3. Propaganda Abbasiyah semakin menebalkan rasa ketidaksukaan terhadap khalifah Umayyah di Iran terlebih pada masa transisi 100 – 132 H. Hal ini disebabkan karena masalah ekonomi, sosial dan perpolitikan kalifah – khalifah Umayyah yang akhir.

Masa Keemasan Khalifah Abbasiyah

Massa khalifah ini dinamakan khalifah Abbasiyah dikarenkan para pendiri dan khalifahnya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn al-Abbas. Kekuasaannya dalam rentang waktu yang amat panjang yakni 525 tahun Hijriyah. (132 H/750 M – 656 H/ 1258 M). Pola pemerintahan yang diterapkan pada masa ini berubah– rubah sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Pada garis besarnya pada masa ini dapat dibagi menjadi dua yaitu masa keemasan dan kemunduran.

Pada masa keemasan ini terjadi pada masa awal – awal pemerintahan Bani Abbasiyah. Dunia Islam pada periode ini banyak memgalami kemajuan baik dalam ekonomi,social dan budaya juga pendidikan. Perpolitikannya pun sangat kokoh dan kuat. Khalifah betul– betul merupakan tokoh yang kuat dan sentral baik dalam kekuasaan politik maup[un agama. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh– tokoh besar yang memungkinkan penjadi pesaing satu persatu di singkiran.

Dasar–dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah diletakan dan dibangun oleh Abu al-Abbas dan Abu Ja’far al-Manshur. Untuk memantapkan stabilitas politik dan Negara yang baru berdiri itu, al Mansur memindahkan ibu kota Negara kekota yang baru dibangunnya, Bagdad pada tahun 762 M. Dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat wazir (Perdana Menteri) sebagai coordinator departemen. Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak. Dia juga membentuk lembaga Protocol Negara, Sekretaris Negara, Kepolisian Negara dan Kehakiman Negara. Masa serta membenahi angkatan bersenjata. Peran Jawatan pos ditingkatkan dari yang semula sebagai pengantar surat saja menjadi bertambah ssatu lagi yaitu penghimpun seluruh informasi di daerah – daerah sehingga administrasi negara dapat berjalan dengan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku Gubernur setempat kepada khalifah sehingga mereka terkontrol dengan baik oleh pusat. Khalifah al Manshur ,menaklukan kembali daerah – daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pusat dan memantapkan keamanan idaerah perbatasan.

Puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya. Mereka adalah al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (785-786 M), Harun al-Rasyid (786 – 809 M), al Ma’mun (813 – 833 M), al Mu’tashim (833 – 842 M), al Wasiq (842 – 847 M) dan al Mutawakil 847 – 861 M). Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun al Rasyid dan putranya yang bernama al Ma’mun.

Dalam sector perekonomian peningkatan ditunjukan dari sector pertanian. Hal ini dikarenakan adanya pembangunan irigasi-irigasi yang merupakan factor sangat vital dalam pertanian. Pertambangan emas , perak, tembaga dan besi juga menunjukan peningkatan hasil. Tak terkecuali, Perdagangan membawa banyak kekayaan pula. Dagang transit antara timur dan barat mengalami kemajuan sangat pesat dengan menjadikan Basrah sebagai pelabuhan yang sangat penting.

Pada Masa Harun al Rasyid social kemasyarakatan ditingkatkan. Kekayaan Negara yang melimpah digunakan untuk pembangunan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan didirikannya farmasi. Kesehatan rakyat sangat diperhatikan. Di samping itu, banyak tempat pemandian umum dibangun. Tingkat kemakmuran tertinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan social, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusteraan mengalami pada zaman keemasaanya.

Dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan dan kebudayaan tidak diragukan lagi kemajuannya. Pada masa awal ini yakni pada masa khalifah al Ma’mun yang sangat cinta akan ilmu, banyak dilakukan penerjemahan – penerjemahan buku – buku Yunani. Penerjemah – penerjemah ahli dari golongan Kristen dan agama lain digaji untuk melakukan pekerjaannya. Hingga pada saat itu didirikan salah satu dari karya yang amat besar dan amat penting adalah pembanguinan Bait al Hikmah. Baitu al HIkmah dijadikan sebagai pusat penerjemahan sekaligus berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang sangat besar. Buku – buku yang diterjemahkan adalah karya – karya dalam bidang astronomi, mantiq (logika), filsafat, sejara, kimia, dan kedokteran. Sehingga pada masa ini Bagdad merupakan pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Pengaruh dari kemajuan kebudayaan melalui penerjemahan – penerjemahan itu bukan saja membawa kemajuan dalam ilmu pengetahuan umum saja, akan tetapi juga ilmu agama. Sebagaimana dalam metode penafsiran, ada tafsir bi al ma’tsur dan tafsir bi al ra’yi yang sangat dipengaruhi oleh ilmu filsafat dan kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam bidang ilmu fiqh dan ilmu teologi juga sangat dipengaruri oleh ilmu logika yang berkembang dikalangan umat Islam. Penulisan hadits juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini mungkin, karena disebabkan adanya fasilitas dan transportasi sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja.

Imam – imam mazhab empat hidup pada masa pemerintahan abbasiyah ini. Imam Abu Hanifah (700 – 767 M) dalam pendapat hukumnya banyak dipengaruhi oleh perkembangan di Kufah yang berada ditengah kebudayaan Persia yang tingkat kemajuan telah mencapai tingkat tinggi. Sehingga pemikirannya lebih menggunakan rasional dari pada teks hadits. Berbeda dengan Abu Hanifah, Imam Malik (713 – 795 M) yang berdomisili di Madinah. Dia lebih mengutamakan teks hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Kedua tokoh ini ditengahi oleh dua imam mazhab yaitu Imam Aal Syafi;I 767 – 820 M) dan Imam Ahmad bin Hambal (780 – 855 M).

Dalam bidang teologi, aliran teologi rasional Mu’tazilah memunculkan tokoh besar dan dikenal sebagai perumus pemikiran Mu’tazilah. Mereka adalah Abu al Huzail al Allaf (135 – 235 H/ 752 – 849 M) dan al Nazzam (185 – 221 H/ 801 – 835 M). Begitu juga lahir tokoh besar aliran Asy’ariyah yang dicetuskan oleh abu al Hasan al Asy’ari yang hidup pada masa ini juga sangat banyat dipengaruri oleh logika Yunani.

Dalam bidang astronomi, Al Fazari adalah orang Islam pertama kali yang menyusun Astroloble. Al Fargani yang terkenal di Eropa dengan nama al faragnus juga menulis ringkasan astronomi dan diterjemahkan dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam bidang kedokteran ada nama Al Razi dan Ibn Sinna. Al Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dan measles dan orang pertama yang menyusun buku kedokteran anak. Ibn Sinna adalah penemu peredaran darah pada manusia. Karyanya yang bertitel Qonun fi al thibb adalah merupakan ensiklopedi kedikteran terbesar dalam sejarah. Abu Ali al Hasan ibn al Haythami yang terkaenal di Eropa dengan nama Al-Hazen ahli optika yang menemukan teori benda mengirim cahaya pada mata. Teori ini terbukti kebenaranya hingga kini. Al Jabir al Hayyan adalah ahli kimia yang berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak apabila dicampur dengan zat tertentu. Muhammad ibn Musa al Khawarizmi ahli dalam bidang matematika. Dialah yang merumuskan ilmu al Jabar dalam bkitabnya yang bernama al Jabr wa al Muqadimah. Al Mas’udi ahli dalam bidang sejarah dan geografi. Diantara karyanya adalah Muruj al Zahab wa Ma’adin al Jawahir .

Dalam Bidang filsafat, pada masa khalifah Abbasiyah ada nama – nama yang sangat terkenal dan bahkan sangat berpengaruh hingga kini. Al Farabi, Ibnu Sinna, dan Ibnu Rusyd. Ibnu Sinna selain ahli ilmu kedokteran juga ahli bidang filsafat. Diantara karyanya yang terkenal adalah al Syifa; ibn Ruyd yang terkenal di Barat dengan nama Averroes. Sehingga disana ada aliran yang disebut Averroisme.

Demikianlah kemajuan politik, ekonomi, social, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang dicapai pada masa Abbasiyah.Kemajuan yang tiada banginya saat itu. Pada masa ini, seiring dengan kamajuan peradaban dan kebudayaan sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan kegemilangan. Pada masa ini pula Negara Islam menempatkan diri menjadi Negara terkuat dan tak tertandingi[2].

Masa Kemunduran Khalifah Abbasiyah

Setelah megalami masa keemasan ini nampak pula setelahnya adalah masa kemunduran. Hal ini terjadi karena beberapa factor penyebab. Penyebab kemunduran ini adalah Kelemahan khalifah, factor politik ekonomi, konflik agama dan pengaruh dari luar negeri.

  • Kelemahan khalifah.

Faktor ini disebab oleh lemahnya wibawa khalifah. Kelemahan inilah yang pada akhirnya menjadikan perpecahan – perpecahan antar bangsa. Perlu dingat bahwa Khalifah Abbasiyah berdiri atas Bani Abbas dan orang – orang Persia. Pada saat khalifah masih kuat para menteri berperan sebagai kepala pegawai sipil. Dan dikala khallifah lemah mereka akan saling berebut kekuasaan mengatur roda pemerintahan.

  • Faktor politik.

Kemajuan yang dicapai pada pereode awal telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah. Kencenderungan hidup mewah para khalaifah ditiru oleh para hartawan dan anak para pejabat. Bersamaan dengan itu, kewibawaan khalifah melemah. Hal ini mulai terjadi pada masa khalifah al Mutawakil  Dengan lemahnya khalifah dan factor lain menyebabkan roda pemerintahan terganggu, politik tidak stabil, terjadi desintregrasi dan perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Akan tetapi ada perbedaan dengan masa sebelum Abbasiyah. Pada masa ini perebutan lebih pada kekuasaan dan membiarkan khalifah tetap dipegang bani Abbas. Karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sacral yang tidak dapat diganggu gugat. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat dan daerah – daerah dalam bentuk dinasti – dinasti kecil Sabagaimana terjadi pada pereode 945 – 1055 M daulah Abbasiyyah berada dibawah kekuasaan Bani Buwaih.

  • Faktok ekonomi

Pada pereode awal khalifah Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya raya. Akan tetapi pada pereode selanjutnya Abbasiyah mengalami kemunduran ekonomi bersamaan dengan kemunduran dalam politik. Pendapatan Negara menurun sedangkan pengeluaran meningkat lebih besar. Hal ini terjadi akibat semakin menyempitnya kekuasaan khalifah, banyaknya kerusuhan yang menggangu perekonomian rakyat, diperingannya pajak dan banyaknya dinasti – dinasti kecil yang memerdekan diri sehingga pendapatan Negara turun drastis. Stabilitas politik yang tidak terjamin inilah yang menyebabkan perekonomian Negara morat – marit.

  • Konflik keagamaan.

Fanatisme agama berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Konflik antara kaun beriman dengan golongan zindiq terus terjadi. Polemik mereka dimulai dari bentuk yang sangat sederhana yaitu polemic tentang ajaran sampai konflik bersenjata yang menumpahkan darah. Konflik ini tidak hanya terjadi antara muslim dengan zindiq, dan Ahlusunnah dengan syi’ah saja. Akan tetapi juga antaraliran umat Islam. Mu’tazilah yang cenderung rasional dibatalkan dan dituduh pembuat bid’ah oleh golongan Salaf. Pada masa al Ma’mun, Mu’tazilah dijadikan mazhab resmi Negara. Dan kembali pada masa al Mutawakil, aliran Salaf naik daun dan aliran Mu’tazilah di batalkan oleh Negara.

  • Ancaman Luar Negri

Kemunduran khalifah Abbasiyah selain factor internal juga disebabkan oleh factor eksternal dan akhirnya hancur. Pertama adalah perang salib. Perang ini terjadi beberapa kali atau pereode yang banyak menimbulkan korban baik harta maupun nyawa. Kerugian ini sangat nampak difihak Islam karena perang tersebut terjadi diwilayah kekuasaan Negara Islam. Orang – orang Kristen Eropa terpanggil perang setelah Paus Urbanus II  mengeluarkan fatwanya. Perang ini juga mengobarkan perlawanan orang – orang Kristen yang berada dalam wilayah kekuasaan Islam. Kedua, serangan tentara mongol. Penyerbuan tentara mongol ini dipimpin oleh panglima Hulagu Khan . Hulagu Khan sangat membenci Islam karena ia dipengaruhi oleh orang – orang Budha dan Kristen Nestorian. Dan tentara mongol ini pula yang menghancurkan pusat – pusat peradaban Islam.

Penutup

Dari cuplikan sejarah di atas kiranya dapatlah kita ambil benangg merah bahwa kita umat islam dalam sejarah masa lalunya pernah menggemparkan dunia bahkan menjadi Negara Adidaya yang amat kuat dan tak tertandingi. Begitu pula dalam bidang peradaban Islam juga mempunyai peradaban yang sangat maju waktu itu sehingga kemajuan dalam berbagai bidang dapat tercapai. Akan tetapi tidak dapat kita menutup mata bahwa sebagai manusia, umat Islam juga mempunyai kelemahan – klelemahan. Kesenagan duniawilah yang merupakan factor terjadinya memudarnya peradaban dan kejayaan Islam waktu itu. Egoisme dan fanatisme buta juga turut andil dalam kemerosotan bahkan kehancuran peradaban. Semoga kita sebagai generasi penerus dapat belajar dan beristifadah mengambil manfaat dari sejarah, bukan terlena  dalam kesombongan akan kebesaran sejarah dan tenggelam dalam kepedihan atas kehancuran sejarah yang telah lalu.

[1] Ahmad Ibrahim al Syarif, Al ‘Alam al Islamy Fi ‘Asri al Abbasy, Dar al Fikr al Araby 1995, 11

[2] Badri Yatim, Sejarah peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada Jakarta, 1993, hal : 53

One thought on “Abah – Abbasiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s