REKONSTRUKSI HAKIKAT TOLERANSI

 Indonesia merupakan negara yang heterogenitas atau beranekaragam agama. Kebersamaan dan tenggangrasa seharusnya menjadi lubnah akan wujudnya negara yang toleransi. suasana akan terasa nyaman tatkala kekerasan dan penindasan terhadap individu-individu sirna dari negeri tercinta ini, namun hal itu tidak bisa kita tolak karena negara ini telah mengalami banyak problem mengenai kekerasan serta penindasan. Perayaan hari ulang tahun “Hak Asasi Manusia” telah berlalu beberapa hari silam, akankah wisdom (kebijaksanaan-hikmah) dari hal tersebut tertanam dalam pemikiran dan jiwa raga kita.

Toleransi secara istilah adalah sikap tenggang rasa, menghargai pendapat orang lain, kelapangan dada, kemurahan hati, lemah lembut dan lain sebagainya. Dari definisi di atas saya mengambil kesimpulan bahwa hakikat toleransi adalah sikap atau refleksi seseorang terhadap problematika yang ada dan bagaimana kita mampu menerima pendapat orang lain. Mengakui dan menghayati akan sikap kebersamaan serta tidak memaksakan kehendak sendiri. Darisanalah pemahaman akan hakikat toleransi tidak disalahartikan. Mungkin telinga kita sudah tidak basi lagi mendengar kata-kata yang mengatakan jika seseorang tidak mengikuti acara di luar agamanya maka ia tidak toleran. Inilah kesalahan makna primer atau definit toleransi. Dalam perspektif ajaran Islam, jauhar dari toleransi bukanlah pada peringatan ritual keagamaan secara bersama-sama karena memang hal itu sudah jelas-jelas diharamkankan, pula toleransi diartikan sebagai adanya upaya untuk mempersamakan semua agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu), ibaratnya tujuan yang hendak digapai adalah sama meskipun thoriqohnya berbeda-beda. Disinilah letak kesalahannya – bagaimana mungkin pengakuan monotheisme akan dipersamakan dengan keyakinan politheisme, demikian ungkap Didin Hafidhuddin (Refleksi Tiga Kiyai, 2004, 108).

Negara kita ini adalah negara yang paling toleran jika kita bandingkan dengan negara-negara lain, pancasila seharusnya menjadi kacamata dan patokan dalam segala tindakan. Presiden WCRP (World Conference on Religious for peace) dan sekjen ICIS (Internasional Conference for Islamic Scholars) serta mantan ketua PBNU, Ahmad Hasyim Muzadi menolak bahwa negara indonesia ini  adalah negara “intoleransi”. Ia mengatakan negara muslim mana yang setoleran dengan negara kita, jika yang dipakai ukuran adalah “Ahmadiyah” memang karena ia menyimpang dari agama namun kedok agama tetap menempel dalam setiap aksi mereka, Kalau yang dijadikan ukuran adalah “GKI  Yasmin Bogor” saya berkali-kali kesana namun mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia, kalau yang dijadikan ukuran “Pendirian Gereja” maka faktorya adalah lingkungan, kalau yang dijadikan ukuran “Lady Gaga & Irshad Manji bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak kecuali mereka yang ingin menjual bangsa-negaranya.

Pancasila seharusnya menjadi pelajaran prioritas masyarakat Indonesia karena Pancasila mengandung magnet toleran – artinya ketika seseorang sudah memahami kandungan Pancasila secara komprehensif ia tidak akan terjerumus kedalam tindakan radikal, misalnya terjadinya ledakan bom dimana-mana. Menurut hemat penulis kurangnya pendidikan Pancasila generasi kekinian mengakibatkan inti berdirinya negara Indonesia tidak teraplikasikan ke segenap jiwa masyarakat Indonesia.

Firman Tuhan sarwa sekalian alam pada Qs. Al-Baqarah/2: 285, Qs. Al-Maidah/5: 72-75, 116-117 dan Qs. An-Nisa/4: 48 dan 116 bisa kita jadikan kongklusi dari tulisan diatas, lakukan aktifitas sesuai agama masing-masing tanpa di iringi sifat skeptis (kurang percaya), saling mencurigai dan hormat-menghormatilah antara agama yang satu dengan yang lainnya – kesemuan diatas mampu menghantarkan kita kepada kebersamaan dalam memecahkan problematika yang ada tanpa menilik perbedaan agama serta mengedepankan semangat hargai-menghargai antar umat beragama akhirnya terciptalah Negara Indonesia yang kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s