BEDBUG

BEDBUG – itulah kebanyakan negara Barat menyebut binatang sejenis “wijen”, orang Betawi secara komunal menyebutnya “Bangsat”, namun di pelbagai daerah juga ada yang menyebutnya dengan “Tumbila” seperti Sunda, orang Jawa menyebutnya dengan “Tinggi”, Kepinding dan Kutu Busuk. Tujuh atau delapan tahun terakhir dunia telah digungcang dengan kehidupan ala-Bangsat, banyak persoalan yang menyebabkan ia tak punah dari muka bumi,  di benua Eropa dan Amerika pada tahun 1930 telah mendeklarasikan bahwa negerinya “bebas bangsat”.

Para pakar berspekulasi atau berhipotesa bahwa penyebab kembalinya kehidupan bangsat dikarenakan akibat pelarangan penggunaan insektisida DDT (dichlorodiphenyltrichloroethane) – pada tahun 1972 obat insektisida dikenal obat yang sangat ampuh dalam membasmi serangga kelas atas – jika pemakaian tersebut dilangsungkan mungkin kita tidak mengalami gigitan bangsat yang menyebabkan darah kita berkurang. Namun insektisida DDT dilarang dikarenakan efek samping dari DDT sangat merugikan pihak Amerika khususnya dibidang burung Kondor dan Elang. Konon negeri Indonesia pada tahun 1970 mengalami maraknya kehidupan Bangsat yang bertebaran di berbagai kursi rotan dan tempat-tempat duduk maupun meja yang terbuat dari kayu ataupun rotan.

Bangsat begitu ramah dengan manusia dalam menghisap darah, ia mengeluarkan “anesthesi” dan zat antikoagulan (anti pembekuan darah) – ia menghisap dan menghirup darah seakan darah manusia turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Jangan heran jika kita terbangun dari tempat tidur yang empuk sekalipun dan melihat di tubuh kita terdapat bentolan merah yang bukan sengatan nyamuk itu disebabkan oleh “saliva” atau air liur yang ia tinggalkan ditubuh kita.

New York pada tahun 2009 diperkirakan terdapat pengaduan masyarakat terhadap sengatan Bangsat sebanyak 11.000-12.000. ini seharusnya menjadi catatan sejarah dimana kejadian dan pengaduan tertinggi mengenai Bangsat. Para pakar memberikan problem solving untuk menuntaskan Bangsat namun sampai saat ini sepengetahuan saya belum ada obat pembasmi yang mematikan dan tidak mengulangi tempat awal ia berkembang biak.

Kehidupan Pesantren tak lenyap sengan isu-isu Bangsat ini, dikarenakan ia selalu akan tumbuh berkembang biak dimana tempat yang baru dan bertumpuk, pakaian yang bersihpun akan ia hinggapi karena ia hewan yang menyukai tempat yang lembab, kaki yang menginjak kasur basah juga kemungkinan ia akan hinggapi. Buku-buku yang jarang dibersihkan akan mengeluarkan bintik-bintik hitam bekas penetasannya. Ia memang hewan yang pintar dan sopan, jika manusia mencarinya ia sembunyi di berbagai lempitan kain atau lainnya dan menghisap dengan meninggalkan saliva tersebut yang membuat orang lain tidak bangun.

Oleh karenanya saya menghimbau kepada teman-teman yang mengalami gigitan di setiap over night mendekati subuh oleh Bangsat untuk selalu menjemur tempat tidurnya diterik matahari, karena ia akan pergi walaupun tidak mati, jika mendapatinya jangan dibunuh karena bau Bangsat akan dicium oleh temannya dan mengakibatkan Bangsat lainnya berbondong-bondong datang ketempat anda, buanglah ke kloset atau toilet yang sekiranya itu membuat ia mati dengan sopan juga. Sering-seringlah buak jendela kamar anda agar matahari dan terik panas matahari menelisik kesetiap tempat atau celah-celah dan itu sebagai pengusir Bangsat yang bandel tersebut.

Sekian dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s