Anti Liberalisme Dari Kanan

Jauh sebelum MUI mengharamkan liberalisme, sekularisme, dan pluralisme, Joseph de Maistre dan Carl Schmitt sudah lebih dulu melakukannya. Maistre adalah pemeluk Katolik militan Perancis yang hidup di abad ke-18. Ia merupakan pendukung setia monarki absolut yang getol menyerang Revolusi Perancis. Obsesinya adalah memulihkan kembali otoritas kekristenan di tanah Eropa dan menghancurkan sekularisme yang mendasari sistem liberal. Maistre menulis dengan gaya yang elok, tetapi isinya menebar teror terhadap siapa pun yang berbeda dengannya. Warna kekerasan yang kental dalam esai-esainya begitu menakutkan sehingga Isaiah Berlin menyebut pikiran Maistre sebagai “asal muasal fasisme”.

Sementara Carl Schmitt adalah ahli hukum dan politik terkemuka Jerman yang hidup di awal abad ke-20. Sebagai pengagum Maistre, Schmitt sangat terobsesi dengan tegaknya otoritas kekuasaan di Jerman yang bisa tegas membedakan antara kawan dan musuh. Ia menghujat liberalisme dan pluralisme yang dianggapnya membikin Jerman jadi lembek. Mei 1933 Schmitt terang-terangan mendukung fasisme. Ia secara resmi bergabung dengan Nazi, berbarengan dengan Martin Heidegger.

Corak antiliberalisme dari pemikir kanan, seperti Maistre dan Schmitt, ini berbeda sekali dengan warna antiliberalisme yang datang dari kalangan kiri. Kaum Marxis, kita tahu, memang keras menampik liberalisme yang dianggap sebagai ideologi kelas pemilik modal untuk menyembunyikan dan melanggengkan eksploitasi mereka atas kelas proletar. Kebebasan individu yang menjadi tema inti liberalisme di mata kaum Marxis tidak lain hanyalah kebebasan borjuasi untuk kepentingan diri mereka semata. Liberalisme, dengan begitu, niscaya melahirkan ketidakbebasan sosial karena yang terjadi adalah ketidakadilan dalam masyarakat.

Namun, kritik Marxis terhadap liberalisme sesungguhnya tidak sampai pada penolakan terhadap dasar pijakan liberalisme, yakni Pencerahan. Bahkan bisa dikatakan, Marxisme dan liberalisme sama-sama merupakan anak kandung dari Pencerahan. Bukankah keduanya sama-sama mengusung tema kebebasan manusia, menjunjung tinggi rasionalitas, dan percaya kepada the idea of progress? Titik tengkar di antara keduanya adalah dalam soal bagaimana ide-ide Pencerahan direalisasikan.

Ini jelas berbeda secara diametral dengan antiliberalisme Maistre dan Schmitt. Maistre menggempur liberalisme karena liberalisme dianggap mengudeta otoritas ilahiah di muka bumi ini dan menggantinya dengan otoritas sekular berdasarkan rasionalitas. Sementara Schmitt mengharamkan liberalisme karena liberalisme terlalu bersandar pada humanisme abstrak sehingga tidak bisa lagi membedakan mana kawan mana musuh. Dengan kata lain, yang digempur di sini bukan sekadar liberalisme, melainkan juga dasar pijakan liberalisme itu sendiri: rasionalitas dan humanisme yang notabene merupakan esensi Pencerahan.

Akan tetapi, apa itu liberalisme? Liberalisme adalah ekspresi “kebebasan modern” dalam arti yang dirumuskan Benjamin Constant, tokoh liberal Perancis yang hidup sezaman dengan Maistre. Dalam ceramahnya yang monumental di Athenee Royal Paris pada tahun 1819 berjudul “Kebebasan Kuno Dibandingkan dengan Kebebasan Modern”, Constant menegaskan bahwasanya kebebasan modern yang ia saksikan di Perancis, Inggris, dan Amerika adalah temuan baru modernitas yang secara diametral berbeda dengan kebebasan kuno. Kebebasan modern yang dimaksud Constant terutama menyangkut kebebasan individu menikmati kehidupan privatnya tanpa direcoki campur tangan negara.

Ini berbeda dengan kebebasan yang dikenal pada masa republik kuno, seperti Athena, Sparta, dan Roma. Saat itu kebebasan lebih mengacu kepada keterlibatan aktif setiap warga dalam urusan publik. Kebebasan saat itu juga lebih berkenaan dengan keaktifan warganya membela negaranya dari penguasaan asing. Karena itu, kebebasan kuno erat berhubungan dengan gairah berperang membela negara maupun menguasai negara lain. Berpolitik dalam konteks ini bertaut eratdengan sikap rela mati membela keyakinan kolektif dan mempertahankan negara dari dominasi asing dan serangan musuh dari luar.

Menurut Constant, salah satu faktor penting yang menyebabkan pergeseran konsep kebebasan dari artinya yang kuno menjadi yang modern adalah semakin dominannya perdagangan di Eropa. Perdagangan berperan penting dalam menjinakkan gairah perang dan fanatisme kelompok dan agama. Dalam dunia dagang, yang bermain bukan pertaruhan hidup dan mati, melainkan negosiasi dan kompromi. Pada akhirnya gairah perang dan fanatisisme menjadi majal, digantikan oleh gairah damai, toleransi, dan pemenuhan kepentingan diri (self-interest).

Dalam konteks semacam itulah tumbuh kesadaran tentang pentingnya hak-hak individu, pemeliharaan pluralisme dan toleransi, pembatasan peran negara, dan kehendak untuk mengatur kehidupan politik sebagai kontrak rasional antara penguasa dan yang dikuasai. Inilah saya kira esensi konsep liberalisme.

Dalam perkembangannya, liberalisme juga menjadi semakin kukuh dengan naiknya gerakan Pencerahan di abad ke-18 yang menempatkan rasionalitas manusia sebagai patokan dalam dunia keilmuan dan pengaturan kehidupan publik. Para pendukung Pencerahan mengucapkan selamat tinggal kepada absolutisme tatanan lama dan mencoba membangun tatanan baru berdasarkan akal budi. Optimisme tentang datangnya zaman baru, yakni zaman akal budi, merupakan hal yang jamak saat itu. Para pemikir, seperti Voltaire, David Hume, dan the philosophes, berbicara tentang sejarah yang bergerak linier menuju kemajuan bagi kemanusiaan.

Theophobia dan Hilangnya “the political”

Bagi Joseph de Maistre, liberalisme dan Pencerahan adalah kutukan. Sebagai fanatikus Katolik yang setia pada monarki absolut, Maistre begitu resah melihat manusia Eropa pada zamannya, yang menurutnya merayakan kebebasan dan meninggalkan gereja. Ia menuduh liberalisme sebagai biang keladi semua itu.

Menurut Maistre, dosa tak terampunkan dari liberalisme adalah sikapnya yang “theophobik”: mengudeta kedaulatan Tuhan di muka bumi dan menggantinya dengan rasionalitas. Theophobia ini terbit dari watak dasar pendukung liberalisme yang membangkang terhadap segala jenis otoritas dari luar dirinya dan hanya mengikuti dirinya sendiri. Kaum liberal melihat Tuhan sebagai simbol tertinggi dari otoritas yang hendak mereka tumbangkan. Jadinya mereka theophobik.

Selain itu, kaum liberal menyatakan kehidupan publik mesti dikelola berdasarkan semacam kontrak rasional antara penguasa dan dikuasai. Bagi Maistre, pandangan semacam ini berbahaya karena bisa membawa anarki. Akal manusia adalah instrumen yang ringkih yang tidak layak dijadikan patokan. Manusia adalah makhluk yang bodoh, kanak- kanak yang cenderung mengikuti hawa nafsunya sendiri. Institusi buatan manusia dengan demikian tidak akan tahan lama karena apa yang didirikan oleh akal, dengan mudah dirobohkan oleh akal juga.

Karena itulah Maistre menuntut agar manusia dikontrol oleh otoritas mutlak yang tak bisa salah. Kedaulatan mesti terletak di luar wilayah manusia karena hanya Tuhan-lah sumber kedaulatan yang sesungguhnya. Absolutisme merupakan hal niscaya karena otoritas didirikan untuk membuat manusia yang kanak- kanak takluk dan tunduk. Hukum harus dibalut dengan aura kesakralan ilahiah. Dengan cara itulah manusia akan tunduk. Mereka akan tunduk pada kekuasaan kalau tahu mereka tidak bisa menciptakan maupun merubuhkan kekuasaan itu.

Atas dasar itu semua, Maistre mengharamkan liberalisme dan berupaya memulihkan kembali tatanan Kristiani. Di sini Maistre menampilkan diri sebagai inkuisitor agung yang melihat manusia dengan tatapan mata menghukum. Kekristenan baginya adalah semacam pedoman untuk menghakimi siapa saja yang ia anggap musuh, yang ia sebut sebagai le secte. Yang termasuk dalam le secte adalah kaum liberal, rasionalis, pendukung Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika, the philosophes, juga Protestan, dan Yahudi sekular. Merekalah yang menggoncang absolutisme kekuasaan yang bersendikan agama dan menggantikannya dengan tatanan berdasar rasionalitas semata. Mereka semua, kata Maistre, mesti dibabat.

Pada zamannya, suara Maistre memang lenyap tertelan gemuruh optimisme Pencerahan. Namun, genderang perang terhadap liberalisme dari Maistre rupanya ditabuh kembali dengan kencang di awal abad ke- 20 di Jerman oleh Carl Schmitt. Berbeda dengan Maistre yang bermaksud memulihkan kembali otoritas absolut berdasar agama, perhatian Schmitt adalah menegakkan otoritas politik yang kukuh dan bisa tegas membedakan mana kawan mana musuh.

Schmitt hidup pada suatu masa ketika Jerman berada dalam titik nadir: dihinakan karena kalah dalam Perang Dunia I dan kondisi ekonomi yang bonyok. Dalam suasana seperti itu, Jerman mengadopsi sistem demokrasi liberal seperti dipraktikkan oleh Republik Weimar yang penuh gejolak, tidak stabil, dan lembek.

Dalam konteks semacam itulah Schmitt menegaskan pentingnya konsep the political, yakni distingsi yang tegas antara kawan dan musuh. Yang dibutuhkan Jerman, menurut Schmitt, adalah tegaknya otoritas yang tegas dan mutlak dalam mengambil keputusan dan mampu mendefinisikan siapa musuh bersamanya.

Dengan ini, Schmitt sebenarnya menghantam posisi liberalisme yang menurutnya telah memerosotkan politik menjadi hanya sekadar ajang bagi kompromi, tawar-menawar, dan negosiasi. Kaum liberal yang melihat politik dengan perspektif dunia perdagangan pada akhirnya mematikan gairah sesungguhnya dari politik, yakni kerelaan mati demi membela suatu keyakinan.

“Liberalisme”, kata filosof Spanyol, Ortega Y Gasset, suatu kali, “mau berbagi ruang dengan musuhnya, apalagi kalau musuhnya lemah.” Sikap semacam ini dimungkinkan karena liberalisme mencantolkan diri pada humanisme yang melampaui batasan ras, agama, dan suku. Itulah sebabnya liberalisme menerima pluralisme.

Di mata Schmitt, posisi semacam ini justru menunjukkan betapa kaum liberal gagal memahami makna sesungguhnya dari the political. Ini jelas suatu pertanda kelembekan karena mereka tidak bisa lagi membedakan dengan tegas siapa kawan siapa musuh. Akan tetapi, obsesi Schmitt yang begitu menggebu dengan the political dan hujatannya yang tanpa kompromi terhadap liberalisme dan pluralisme pada akhirnya membawa dia mendukung Nazi.

Optimisme dan pesimisme terhadap manusia

Mengapa Maistre menuduh liberalisme sebagai theophobia? Mengapa Schmitt mengampanyekan pemberangusan terhadap liberalisme dan pluralisme? Saya kira salah satu penyebabnya adalah karena mereka berdua gagal total dalam melihat apa yang bernilai pada liberalisme. Pada hemat saya, liberalisme bernilai karena ia pada dasarnya merupakan kombinasi dari dua cara pandang terhadap manusia, katakan saja cara pandang yang optimistis dan pesimistis.

Optimisme yang saya maksud adalah pandangan yang melihat manusia sebagai makhluk yang bisa mengatur diri mereka sendiri dan pada saat yang sama bisa berkembang ke arah kemungkinannya yang paling kaya. Optimisme inilah yang mendasari demokrasi karena esensi demokrasi adalah mengatur diri sendiri (self rule). Optimisme ini pula yang oleh John Stuart Mill, dalam traktatnya, On Liberty, dianggap sebagai alasan kenapa kebebasan individu dan pluralisme harus dipertahankan dari ancaman tirani mayoritas. Karena, hanya dengan kebebasan dan keragaman pandanganlah manusia bisa selalu memperbaiki kesalahannya.

Namun, bersamaan dengan itu, liberalisme juga melantunkan ketidakpercayaan (distrust) terhadap manusia, termasuk mereka yang berkuasa. Liberalisme memandang manusia dengan tatapan curiga. Manusia tidak digambarkan sebagai sosok yang ikhlas tanpa pamrih dan memikirkan orang lain, melainkan sosok yangculas, ambisius, dan hanya memikirkan diri sendiri. Inilah yang saya sebut pandangan pesimistis terhadap manusia (atau realistis?).

Atas dasar kecurigaan semacam inilah liberalisme melembagakan kontrol dan pengawasan terhadap kekuasaan. Ungkapan James Madison, salah satu founding fathers Amerika, di dalam The Federalist Papers menarik untuk disimak. “If men were angels no government would be necessary. If angels were to govern men, neither external nor internal control on government would be necessary.” Karena manusia bukan malaikat, maka kontrol internal dan eksternal terhadap kekuasaan menjadi niscaya.

Kombinasi antara optimisme dan pesimisme tersebut mendorong kaum liberal mendesain suatu sistem yang menampung kepercayaan terhadap kebaikan manusia, melembagakan kecurigaan terhadap watak manusia, dan mengakui bahwa manusiabisa salah, tetapi bisa belajar dari kesalahannya. Hasilnya adalah suatu sistem yang sebenarnya tidak asing bagi kita: demokrasi konstitusional.

Membangun sistem yang mengakui ketidaksempurnaan nya sendiri dan membuka diri untuk diperbaiki terus-menerus, itulah konsep politik liberal. Di sini politik adalah ajang kompromi, tawar-menawar, dan upaya pemecahan masalah yang berlaku sementara. Politik tidak diartikan sebagai kawasan yang absolut karena ditopang oleh kata-kata Tuhan yang tak bisa salah dan berlaku abadi. Karena dengan begitu kita akan melupakan fakta bahwa penguasa bukanlah malaikat. Kontrol terhadap kekuasaan menjadi tidak jalan. Setiap kritik dan koreksi terhadap kekuasaan akan dituduh sebagai menentang hukum Tuhan. Di samping itu, klaim keabadian juga membikin kita abai untuk mengoreksi apa yang salah dalam sistem.

Pada titik inilah saya kira letak utama kesalahan Schmitt yang mencemooh politik sebagai ajang kompromi. Juga kesalahan Maistre dan para penghujat liberalisme dan sekularisme. Mereka melihat liberalisme dan sekularisme sebagai sebentuk pembangkangan terhadap otoritas Tuhan. Mereka menuduh tatanan rasional yang ringkih itu akan membawa kehancuran.

Padahal, yang sesungguhnya terjadi, liberalisme membangkang untuk tidak mencurigai penguasa bertopang klaim ilahiah. Hanya karena berjubah agama tidak lantas mengubah penguasa menjadi malaikat. Ia tetap manusia yang harus dicurigai dan dikontrol. Lagi pula, apa salahnya rasionalitas ringkih. Bukankah kalau kita menyadarinya sejak awal kita justru bisa lebih rendah hati untuk memperbaikinya di kemudian hari.

Selain itu, dalam kasus Maistre, saya menduga dendamnya yang membara terhadap sekularisme sedikit banyak juga terkait dengan pengalaman hidupnya melihat Revolusi Perancis yang cenderung berwatak antiklerikal. Dalam arti ini, sekularisme memang terkesan anti-agama karena dengan keras menghantam lembaga keagamaan yang ada. Namun, mesti diingat bahwa saat itu gereja Katolik di Perancis dianggap berada dalam satu paket dengan absolutisme ancien regime, sementara proyek Pencerahan adalah menghapuskan absolutisme.

Namun, antiklerikalisme di Perancis bukanlah satu-satunya model sekularisme yang pernah ada. Sekularisasi yang terjadi di Inggris tidak berlangsung sepahit di Perancis. Liberalisme Inggris berjalan mulus tanpa melancarkan perang terhadap institusi agama. Sekularisme di Amerika Serikat bahkan berjalan beriringan dengan agama. Seandainya Maistre hidup di Inggris atau Amerika, mungkin tidak semembara itu dendamnya terhadap sekularisme. Dengan kata lain, sekularisme tidak lantas mengandung konotasi theophobia.

Joseph de Maistre menghujat liberalisme dan sekularisme, dan berakhir dengan pembelaan terhadap absolutisme. Carl Schmitt menghantam liberalisme dan pluralisme, dan berujung dengan profasisme. Pengalaman muram yang terjadi di tanah Eropa ini rasanya terlalu penting untuk diabaikan.

Atas dasar itulah saya cemas bahwa Fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme, pluralisme, dan sekularisme merupakan variasi atas tema dari apa yang dulu dilakukan oleh Maistre dan Schmitt. Kalau sudah begini, saya takut absolutisme dan fasisme akan menanti di ujung jalan.

Sumber: http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/1565-anti-liberalisme-dari-kanan.html  

Di ambil Jam 01-21 Tanggal 23 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s