Kaidah-Kaidah Hukum Islam dan Konteks Indonesia

1. Berikut adlh kultwitku ttg “Kaidah2 Hukum Islam ( Qawa’idul Fiqh) dan Konteks Indonesia.
2. Hukum Islam bukan hukum positif, bkn produk negara/leguslatif. Ia adlh aturan2 Ilahi yg bersumber dari Qur’an-Sunnah. Tp bgmn?
3. Aturan2 Ilahi tsb diformulasikan, dikembangkan oleh para ahli fiqh (fuqaha) “swasta”, tak diangkat negara.
4. Fuqaha’ jadikan Qur’an-sunnah sbg “bahan mentah”, mengolahnya jadi produk hukum. Tak heran hkm Islam disebut “fiqh”: pemahaman.
5. Sepanjang sejarahnya, hkm Islam itu berada dlm domain masy, bkn negara. Positvisasi hkm Islam baru muncul abad 19.
6. Dlm rumuskan fiqh, fuqaha kembangkan ushul fiqh (metodologi fiqh) dan legal maxims (qawa’idul fiqh). Ke2nya beda, tp terkait.
7. Tentang Ushulul Fiqh saya kira butuh kultwit tersendiri. Skrg ttg ka’idah2 Fiqh (legal maxims) dulu.
8. Kaidah fiqh adlh rumus2 umum ttg maksud/tujuan yg mendasari suatu hukum. Fuqaha merumuskannya dari seluruh kasus2 dlm fiqh.
9. Salah satu kitab ttg Qawa’idul fiqh itu Al Asybah wa al-Nadza’ir oleh Imam Suyuthi (w. 911 H). Kitab ini masyhur di pesantren.
10. Al Asybah wa al-Nadza’ir: Kesamaan2 & Kemiripan2. Kaidah fiqh adlh generalisasi berdasar kesamaan/kemiripan kasus2 hukum.
11.Dgn Qaw’idul fiqh, kita bisa tahu patokan2 pokok yg mendasari hukum Islam.
12. Ada 200an kaidah fiqh. Tp fuqaha memerasnya menjadi 5 kaidah utama (al-qawa’id al kulliyyat al khamsa).
13.Kaidah I: Al umuru bi maqashidiha: segala sesuatu itu dinilai berdasar maksudnya.
14. Kaidah di atas sentral, krn perbuatan yg sama bisa punya status hukum beda kalo niatnya beda. mis. zakat harta dan shadaqah.
15. kaidah 2: Al yaqin la yuzalu bi al-syakk: Hal yang pasti tak bisa digugurkan oleh hal yg meragukan.
16. Contoh sederhana: kalau anda yakin sudah punya wudlu, lalu anda ragu apa udah kentut, maka masih punya wudlu.
17. Turunan dari kaidah ke-2 itu qaidah: al aslu baqa’u ma kana ‘ala ma kana: pd dasarnya yg dianggap berlaku adlh yg sudah ada.
18. Kaidah ke-2 juga terkait dgn prinsip sentral dlm fiqh: al bara’ah al ashliyyah: prinsip non-liabilitas
19. Yakni Al ashlu fil asyya’ al ibahah illa ma dalla al-dalil ‘ala khilafih: segala hal boleh sampe ada dalil yg nyatakan sebalkinya.
20. Dlm hkm pidana, itu semacam praduga tak bersalah. Sampe ada bukti salah, orang tak bersalah.
21. Kaidah ke-3: Al-dlararu yuzalu: kerusakan/mudarat/harm hendaknya dihilangkan.
22. Dasar qaidah ini adlh hadits muawatir yg dianggap gambarkan esensi hukum Islam: La dlarara wa la dlirara.
23. Artinya: Tak boleh bikin kerusakan pada orang lain; dan tak boleh bikin kerusakan pd diri sendiri.
24. Turunan dari kaidah ke-3 ini banyak, dan semua terkait dgn penghilangan mudarat.
25. Mis. qaidah: al-dlarar la yuzal bi al-dlarar: kerusakan tak bisa dihilangkan dgn cara rusak, atau cara yg timbulkan kerusakan.
26. Dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalb al mashalih: Mencegah kerusakan mesti didauhulan ketimbang mendapatkan maslahat.
27. Idza ta’aradla mafsadatan ru’iya bi a’dzamihima dlararan birtikabi akhaffihima. Bila harus pilih 2 kerusakan, ambil resiko terkecil.
28. Tasharruful imam ‘ala al-ra’iyyah manuth bil maslahah: pengelolaan penguasa atas rakyat mesti berporos pd maslahat mereka.
29. Kadiah2 tsb tegaskan sentralnya maslahat umum. Menghilangkan kerusakan yg timbulkan kerusakan itu kontra dgn prinsip maslahat.
30. Kaidah ke-4: Al masyaqqatu tajlib al-taysir: Situasi sulit/berat bisa mendatangkan kelonggaran hukum.
31. Kaidah Itu terkait dgn: Al-dlaruratu tubihul mahdzurat: Situasi darurat/necessity bisa bolehkan apa yg tadinya dilarang.
32. Jg: idza dlaqa al amr ittasa’a; idza ittasa’a dlzaqa. Bila situasi menyempit, hukum melonggar. Jika melonggar, maka menyempit.
33. kaidah ke-4 dan derivasinya tegaskan prinsip bahwa Islam itu utk kemudahan, bkn utk datangkan kesulitan bagi pemeluknya.
34. “Al-dlarurah” biasanya dikaitkan dgn situsi hidup-mati. Tp juga bisa berarti situasi yg tak terhindarkan.
35. Ttg kaidah ini, Muh Abduh simpulkan, al hayah fil islam muddamah ‘ala al-din: Dlm islam, kehidupan lebih didahuluka di atas agama.
36. Kaidah ke-5: Al ‘Adatu muhakkamah: Tradisi/kebiasan setempat bisa dijadikan sbg dasar hukum.
37. Kaidah tsb tegaskan, hukum Islam tak serta merta menghabisi adat dan budaya lokal.
38. Lima kaidah utama tsb adalah pilar utama yg mendasari hukum Islam. Pernik2 hkm mesti dinilai dgn kerangka pilar2 tsb.
39. Lima kaidah fiqh tsb secara umum juga menjadi sumber dari kaidah2 lain, yg jumlahnya 200-an.
40. Dari qawa’id al-fiqh di atas, terlihat betapa fiqh sama sekali tak abaikan kenyataan sosial. Konteks sangat diperhitungkan.
41.Prinsip ttg maslahat, situasi darurat, dan tradisi setempat adlh penegasan ttg pentingnya perhatikan konteks.
42. Simak kaidah yg terkenal di pesantren yg gambarkan prinsip “realisme” fiqh: ma la yudraku kulluh la yutraku kulluh/julluh.
43. Artinya: Apa yang tak bisa diperoleh semuanya, tak berarti lantas ditinggalkan sama sekali.
44. Konteks dlm hkm Islam penting utk diperhitungkan setidaknya karena 2 hal.
45. Pertama, teks2 Qur’an-sunnah sudah selesai/terbatas, sedangkan kenyataan belum selesai/tak berbatas. Itu kata Ibn Rushd.
46. Dlm Bidayatul Mujtahid Ibn Rushd gambarkan tegangan antara al-nushus al-mutanahiyah dgn al-waqa’i’ ghair al-mutanahiyah.
47. Ibn Rushd tegaskan perlunya penalaran rasional agar nash yg terbatas bisa merespon kenyataan yg tak terbatas.
48. Alasan kedua kenapa konteks penting adlh kaidah: Al Hukmu yadur ma’al ‘illah wujudan wa ‘adaman.
49. Artinya: Berlaku atau tidaknya suatu hukum bergantung pada ada/tidaknya ‘illah/ratio legis/alasannya.
50. Krn konteks penting dlm hkm Islam , maka memahami konteks juga penting.
51. Artinya, kalau hkm Islam diletakkan di Indonesia, pahami dulu konteksnya. Kenali aspek historis/sosiologis Indonesia.
52. Perlu dirumuskan fiqh Indonesia, fiqh yg tak abaikan aspek kebangsaan dan kebhinnekaan Indonesia.
53. gagasan fiqh Indonesia bukan hal baru. Pakar hkm Islam, Hasbi As-Shiddiqi & Hazairin. pernah serukan hal ini.
54. Dlm konteks yg beda, di Eropa dan Amerika jugga berkembang fiqh al-aqalliyyat, fiqh minoritas, krn muslim hidup sbg minoritas.
55. Fiqh Eropa, mnrt Tariq Ramadan, mesti didasarkan pd prinsip: jadi muslim yg baik & warga negara yg loyal thd negerinya di Eropa.
56. Di Indonesia, muslim memang mayoritas. Tp negara kita adlh republik, yg berporos pd kesetaraan hak warga, apapun agamanya.
57. Artinya, fiqh Indonesia juga mesti perhatikan konteks Indonesia sbg republik. Fiqh yg berdasar pd kesetaraan warga.
58. Dgn kata lain, dlm konteks kita, muslim mestinya berprinsip “Syariah ber-NKRI”, bukan “NKRI bersyariah.”
59. Berdasar Qawa’id al fiqh kita sadari bhw hkm Islam di RI mesti hargai konteks lokal: kebhinnekaan dan pancasila. SEKIAN.

Sumber: http://chirpstory.com/li/166525

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s