VALENTINE DAY

Perputaran bumi dan perjalanan waktu terus berubah, menjaga tradisi lama serta mengambil sesuatu yang baru merupakan sebuah keharusan dalam hidup kekinian. Globalisasi kekinian seharusnya berada dalam genggaman kita bukan globalisasi menggenggam diri kita, zaman yang penuh dengan huru-hara menjadikan sebuah suntikan keras untuk sebuah akidah. Cobaan untuk sebuah akidah tidak akan berhenti selama akidah atau kepercayaan tunggal masih menjadi pegangan kita.
Valentine merupakan hari kasih sayang, ia hampir sama dengan kata Galentine yang berarti gallant atau cinta. Cinta merupakan sebuah ikatan diantara dua individu yang sedang merasakan bijaksananya rasa kasih sayang. Seharusnya sejarah Valentine dengan hiruk pikuk dunia seksual dalam acara Valentine Day kekinian merupakan sesuatu yang bertolak belakang. Keniscayaan untuk mengelak demi memperingati seorang tokoh yang dianggap sebagai pendobrak dunia kejahatan dan mengingat kembali sepak terjangnya. Dalam agamapun memperingati hari pahlawan atau seorang tokoh agar semangatnya terpatrikan dalam jiwa kita menjadi sebuah keharusan, sungguh tidak berlebihan jikalau saya mengatakan sesuatu yang dibolehkan jika memperingati hari kematian St. Valentine namun yang tidak dibolehkan adalah menyatukan peringatan jiwa seseorang dengan hari raya atau pesta seksual laksana burung jantan dengan burung betina yang sedang menikmati sahdunya cinta. Berbicara Valentine Day kekinian, saya berasumsi bahwa hal demikian menjadi sebuah larangan agama, dikarenakan illatnya sudah jelas, hokum akan berubah jika ada indikasi untuk merujuk kesana, nah indikasi pelarangan terhadap Valentine Day kekinian adalah acara pesta minuman keras, menjual keperawanan dan pada dasarnya hal tersebut sudah dilarang dalam agama khususnya Islam.
Valentine awalnya adalah seorang biarawan beragama Katolik yang menjadi martir, Valentine Day dijatuji hukuman mati oleh kaisar Claudius II dikarenakan melanggar peraturan, pelanggaran yang ditujukan untuk pemuda Romawi – yang ia lakukan adalah menjalin hubungan keasmaraan dengan lawan jenis, karena kelak pemuda tersebut akan dikirim kedalam medan tempur demi menjaga stamina kebugaran tubuh si pemuda.
Ini menjadi bukti kepada kita bahwa Islam tidak pernah memperluas atau ekspansi wilayah dengan menumpahkan darah, hal ini berbeda dengan ekspansi yang dilakukan kerajaan Romawi yang menumpahkan darah rakyat setempat. Jika kita menilik sebentar sejarah kekaisaran Romawi tatkala itu sedang mengalami runtuhnya dan merosotnya pegawai dan pemberontakan dari rakyat sipil, pegawai pemerintah berpesta poya-poya dan menghamburkan uang. Ancaman bertubi-tubi datang dari Slavia, Mongolia dan Turki serta lainnya yang akhirnya kaisar Romawi tidak mampu mengontrolnya. Demi mempertahankan kerajaannya, Cladius II merekrut pemuda Romawi yang dianggap bugar dan tangguh dalam bertempur, sang kaisar sangat tidak suka kepada pemuda-pemudi yang sedang jatuh cinta karena hal demikian merusak kebugarannya. Lantas kemudian St. Valentine membuat sebuah rencana untuk bernostalgia dan memberikan siraman rohani kepada mereka yang sedang jatuh cinta, rencana ini tercium oleh sang kaisar dan menjatuhi hukuman kepadanya. Dalam masa hukuman di dalam penjara ia bertemu dengan seorang petugas yang bernama Asterius yang memiliki seorang putrid yang menderita buta sejak kelahirannya yang bernama Julia. Valentine mengajarinya akan makna kebijaksanaan tuhan. Siraman terus dilakukan oleh St. Valentine terhadap Julia, mulai dari apakah Tuhan mendengarkan doaku, jika ia mendengar mengapa aku belum bisa melihat sampai saat ini, namun sang Valentine tidak menyerah. Beberapa hari kemudian Julia mengalami kesembuhan yang tak terduga dan bersamaan dengan hukuman mati kepada St. Valentine, ucapan kebijaksanaan yang datang dari Valentine hanyalah “Dengan cinta dari Valentin-mu”, ucapan ini meluas hingga saat kekinian. St. Valentine meninggal pada tanggal 14 Februari 269 dan dimakamkan di Gereja Praksedes Roma.
Beberapa tahun kemudian Paus Gelasius I memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine, akhirnya ditambahkannya kata Day dan menjadi “Valentine Day”. Bertepatan dengan ulang tahun orang Romawi demi mengingat atau menghormati dewa kesuburan Februata Juno yang namanya ulang tahun Lupercalia. Dalam adar kebiasaan orang Romawi tatkala hari perayaan adanya pengundian seksual, berbagai cara dilakukan dalam pengundian. Nama Valentine lalu diabadikan dalam festival tahunan ini. Di festival ini, pasangan kekasih atau suami istri Romawi mengungkapkan perasaan kasih dan cintanya dalam pesan dan surat bertuliskan tangan. Di daratan Eropa tradisi ini berkembang dengan menuliskan kata-kata cinta dan dalam bentuk kartu berhiaskan hati dan dewa Cupid kepada siapapun yang dicintai. Atau memberi perhatian kecil dengan bunga, coklat dan permen.
Di zaman modern, untuk mengungkapkan rasa cinta dengan bertuliskan sesuatu kata di tangan sangatlah tidak praktis, yang akhirnya Charles seorang bangsawan memberikan kartu kepada istrinya pada tahun 1415, tatkala itu sang bangsawan sedang berada di dalam penjara tepatnya di Menara London dan saat ini menurut beberapa sumber masih ada dipameran Brititsh Museum. Di America pertama kali oleh Esther Howland dan kartu Valentine dikomersialkan sekitar tahun 1880an.
Namun jika kita melihat realita yang ada saat ini sungguh jauh dari makna semula dan seharusnya orang Islam tidak mengikuti hari dimana tempat Valentine Day dikumandangkan, dikhawatirkan goyangnya akidah, penglabuhan makna yang jauh dari memperingati kematian Valentine menjadi pesta seksual, minuman keras dan lain sebagainya, ini harus menjadi renungan awal untuk kita sebagai pemuda yang jika ingin mengikuti Valentine Day. Janganlah menyerupai suatu kaum dalam hal kejelekan karena ia khususnya orang kafir akan bangga dengan ikut campurnya kita dalam dunia Valentine Day dan ambillah apa-apa yang baik walaupun itu datang dari orang non-Muslim. Sekian terima kasih.
(Tulisan ini dimuat di buletin Masjid STKQ Al-Hikam Depok)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s