AHLI NERAKA

Pada suatu masa, adalah seorang pemuda dalam pencarian seorang guru yang mampu menuntunnya kepada kebenaran Jalan Tuhan. Pemuda ini meniti desa, kota, hingga negara demi menemukan sosok yang akan memperkenalkannya pada Tuhan secara lebih dekat. Atas ijin-Nya, pemuda ini menemukan ulama yang memenuhi kategori yang diinginkannya.
Pemuda ini mengaji, mendalami agama, menyucikan diri, melepaskan baju keduniaan, memakai baju ke-akhiratan seperti yang diperkenalkan Tuhan. Selama bertahun-tahun dia mengabdi pada sang guru tersebut dengan kepatuhan yang tiada tanding, dan hanya boleh ditangguhkan oleh Quran dan Hadits saja. Keinginannya yang suci dan khidmah-nya yang murni, pada akhirnya membuat Allah menganugerahkan indra penglihatan yang tak orang punya; kemampuan melihat golongan manusia yang ahli neraka atau ahli surga dengan cap yang tertulis di dahi mereka.
Hari berganti hari. Si pemuda ini mengaji dan men-sufi-kan diri bersama bimbingan sang Guru. Dan dirinya merasa terhenyak pada suatu sore ketika menghadap sang Guru. Kakinya lemas. Mukanya pucat pasi. Mulutnya tertutup. Lidahnya beku dan tak mampu berucap barang sepatah dua. Kemudian tak ada yang bisa dia lakukan selain menangis sejadi-jadinya. Air matanya deras mengalir tanpa henti. Dan sang Guru menegur: “Kamu kenapa, muridku?”
Pamit diri. Sang murid kembali ke tempat peristirahatannya dan bermunajat kepada Allah atas apa yang dia saksikan tadi.
Selama beberapa hari pemuda itu mengurung diri. Sesekali hadir dalam halaqah Sang Guru. Bukan niatnya malas, namun tiap kali melihat paras sang Guru pemuda itu tak kuasa menahan air mata.
Hari berganti. Bulan bertambah. Keadaan gelisah pemuda ini belum mencapai paripurnanya.
Suatu sore sang Guru mengajak pemuda itu berjalan mengelilingi pasar. Kemudian meniti labirin kota yang lumayan sepi orang. Hingga akhirnya sampai di sebuah danau luas. Sang Guru melepas sandal. Mendekati bibir danau. Dan, “Bismillah…” kakinya melangkah ke dalam danau, dan berjalan diatas permukaan air seperti laiknya berjalan diatas tanah. Hingga sampai agak jauh ke tengah. Sang murid hanya mampu melongo. Kagum tak terbahasakan karena ini kali pertama ia melihat Sang Guru mengeluarkan karomah-nya secara langsung. Dan itu terjadi di hadapan matanya.
“Muridku, ayo kesini.” Sang guru berteriak, mengajak muridnya menyusul ke tengah danau. Murid bergeming. Belum pernah dia diajarkan soal berjalan diatas air tanpa tenggelam.
“Cepatlah sedikit,” Paksa Sang Guru, “La haula wala quwwata illa billah, dan melangkahlah, muridku!”
Kemudian sang Murid patuh, sandalnya dilepas, kakinya beranjak ke bibir danau, menyentuh air, “La haula wala quwwata illa billah…” mendadak air yang cair itu mengeras, kakinya seperti menginjak tanah, tak jelas apa yang harus dia rasakan. Dia berjalan diatas air tak ubahnya berjalan diatas rumput. Menyusul gurunya yang telah menunggu di tengah danau.
“Muridku, aku tahu kenapa kau gelisah akhir-akhir ini.” Kemudian tangis sang Murid pecah. Memang sampai sekarang dia belum mengutarakan hal ihwal kenapa dia selalu gelisah, “Pasti karena tulisan di dahiku, bukan?!”
Benar, di dahi Sang Guru bertuliskan “HADZA MIN AHLI NAR” (Orang ini adalah penghuni Neraka).
“Muridku, apa yang kau lihat ini adalah kuasa Allah.” Kemudian Sang Guru mengusap dahinya, dan seketika itu pula tulisan tersebut hilang, “Ini hanya sekadar tulisan. Allah dengan mudah menghilangkannya, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

Sumber: http://stakof.blogspot.com/2013/06/ahli-neraka.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s