ISLAM (YANG) DIAM

Penulis mengira Charlez Kurzman, dalam sebuah bukunya yang berjudul Wacana Islam Liberal, masih kebingungan dengan istilahnya tentang Islam Liberal itu sendiri. Meski pada akhir tulisannya ia mempertegas Islam Liberal tidak kontradiktif, namun ketidakjelasan definitif dari Kurzman masih sangat nampak di sana-sini. Bahkan Fyzee menggunakan istilah lain untuk Islam Liberal, yaitu Islam Protestan. Fyzee ingin menyampaikan pesan perlunya menghadirkan wajah Islam yang lain, yaitu Islam yang non-ortodoks; Islam yang kompatibel terhadap perubahan zaman; dan Islam yang berorientasi ke masa depan dan bukan masa silam. Gagasan kedua tokoh ini jelas, namun secara definitif masih membingungkan.
Islam sendiri, min haitsu pengakuan Tiada Tuhan Selain Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad Adalah Utusan-Nya, dari segi lughawi bermakna pasrah; atau bermakna kepasrahan kepada Allah dan terikat dengan hukum-hukum yang dibawa Nabi Muhammad. Dalam hal ini, Islam tidak bebas. Tetapi, di samping Islam tunduk kepada Allah SWT, Islam sebenarnya membebaskan manusia dan belenggu peribadahan kepada manusia ataumakhluk lainnya. Penulis dapat menyimpulkan bahwa Islam itu “bebas” dan “tidak bebas”.
Islam mengajarkan segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah sesuai dengan kodrat. Kodrat semacam ini lah yang pernah disinggung Ali Bullac, peneliti dari Turki, dalam berberapa artikelnya bahwa Rasulullah menghadirkan Islam sebagai pembebas dari segala macam permasalahan-permasalahan pluralitas dalam gambaran utuh Piagam Madinah (Medina Document). Kenapa Islam sangat membebaskan? Hal ini karena Islam ada bersama Al-Quran, yang menurut Abdurrahman I. Doi, sarjana Islam kelahiran 1933 di India, Al-Quran adalah konstitusi pertama di dunia, yang menginspirasi Kristen di Eropa yang menemukan konstitusionalismenya seabad kemudian. Lebih dari itu, Al-Quran, yang bersamanya Islam di­-wedarkan Rasulullah, adalah metodologi penalaran ilmiah yang utuh, sedangkan kalangan ilmiah sekuler baru memahaminya satu abad lebih.
Namun, hal yang tidak pernah berubah dari dunia adalah perubahan itu sendiri. Islam, yang hadir sebagai sholil li kulli zaman wa makan, dituntut berhadapan langsung dengan modernitas dan kebiakan budaya di muka bumi. Apakah Islam perlu berubah? Tidak. Namun untuk menyesuaikan zaman, Islam memiliki konsep yang jelas, sebagaimana dijelaskan Muhammad Salim Al-Awwa (peneliti Mesir kontemporer), seorang sarjana hukum, yang meringkaskan pendapat ini sebagai berikut:
“Jika Islam tidak “menyebutkan” sesuatu, hal ini menunjukkan satu dari dua hal: apakah ini tidak disebut dalam sumber-sumber tradisional maupun atau kaum muslim yang tidak pernah mempraktikannya sepanjang sejarah mereka. Dalam kasus yang pertama, tidak menyebutkan sesuatu berarti sesuatu itu dibolehkan. Pengecualian terhadap peraturan ini yang berlaku dalam masalah ibadah. Dalam kasus kedua merupakan hal yang alamiah bahwa kaum muslim seharusnya tanggap terhadap perubahan dan perkembangan setiap waktu dam tempat.”
Membahas istilah transformasi jika tanpa dikaitkan dengan sesuatu yang lain menurut Ryadi Gunawan, merupakan upaya pengalihan dari sebuah bentuk kepada bentuk yang lebih mapan. Sebagai sebuah proses, transformasi merupakan tahapan, atau titik balik yang cepat bagi sebuah makna perubahan. Munculnya konsep transformasi tidak lepas dengan tokoh Karl Max dan Max Weber. Bagi Marx, transformasi masyarakat dibayangkan melalui proses dialektika transformasi kontinyu dengan hadirnya pertentangan kelas yang memperebutkan penguasaan berbagai alat reproduksi dan saat mencapai puncak dialektika akan tercipta “masyarakat yang tak berkelas”. Gagasan ini bersumber dari filsafat dialektikanya Hegel yang mengajarkan tentang siklus tesis dan antitesis.
Dalam perkembangan selanjutnya teori-teori sosial yang dibangun oleh dua tokoh di atas semakin berkembang yang kemudian melahirkan pendukung seperti Talcot Parsons yang kemudian melahirkan teori kapitalisme di pihak Weber. Kemudian dari pihak Marx muncul para pemikir sosial berhaluan kritis yang menganjurkan model sosialisme seperti Antonio Gramsci, Habermas dan Foucoult yang senantiasa mempersoalkan relasi sosial sebagai biang keladi munculnya ketidakadilan.
Pada pertengahan abad ke-20, ketika pemikiran Islam Progresif dan Liberal tumbuh subur di Timur Tengah (khususnya di Mesir), entah dari mana asalahnya, muncul terminologi aneh bernama Silent Al-Quran (Al-Quran yang diam). Penulis mendapatkan istilah tersebut dalam sebuah kajian yang membahas kasus organisasi kaum sosialis yang disebut Komite Muslim Nigeria Progresif (Muslim Committee for a Progressive Nigeria) yang bersikeras menentang pelaksanaan Al-Quran pada tahun 1970-an.
Penulis perlu berhati-hati dalam mengulas kebisuan Al-Quran dalam istilah yang lebih positif. Karena sepengetahuan penulis, segala macam pemikiran yang menuduh wahyu Allah akan bungkam terhadap permasalah-permasalahan kronis seperti kelaparan, pengangguran, kota-kota yang centang perenang, biaya sewa yang tinggi, dan kegagalan Universal Primary Education (UPE) tidaklah menjadi legitimasi kelemahan wahyu. Rahmat Allah, sebagaimana penulis sepemikiran dengan Said Ramadan, intelektual muslim di Mesir era 1960-an, menyerahkan masalah-masalah tertentu kepada pertimbangan pemikiran manusia. Syekh Waliyullah, misalnya, berpendapat bahwa Islam, yang universal dan abadi, mengambil bentuk menurut masyarakat dan masa tertentu dimana Islam diwahyukan untuk pertama sekali. Implikasinya, aturan-atuaran dan perintah-perintah tertentu yang terdapat dalam Al-Quran mungkin sesuai dengan kondisi Arabia abad ke- 7 dan tidak bersifat mengikat terhadap setiap masyarakat dan zaman.
Mengkaji Islam di hadapan transformasi global nampaknya akan selalu relevan selama definisi paling mutakhir dari Islam itu sendiri adalah agama penyempurna dari agama sebelumnya, dan akan selalu relevan di muka bumi, selamanya. Oleh karena itu, berangkat dari latar belakang tersebut, sebaiknya Islam harus bagaimana dalam menghadapi transformasi global?

Sumber: http://stakof.blogspot.com/2013/09/islam-yang-diam.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s