NEGARA ISLAM BERARTI NEGARA AGAMA

(Tetulis ini bisa dibilang balasan dari kultwit Negara Islam Bukanlah Negara Agama)
Saya terkagetkan dengan ungkapan Hafidz (twitter: @hafidz_ary) di kultweet-nya yang ditaruh dalam sebuah blog yang ternyata hanya berisi kumpulan kicauannya sendiri: “Negara Islam bukanlah negara agama atau negara teokrasi yang mengendalikan masyarakat dengan mengatasnamakan hak ilahi.” Begitu kira-kira sebagian kicauan Hafidz.
Hafidz mungkin lupa bahwa Imam Mawardi dalam Ahkam Al-Sulthoniah jelas-jelas berkesimpulan: “Ketika Islam dijadikan prinsip pemerintahan, maka negara itu harus berlandaskan prinsip-prinsip Islam, yang sepenuhnya melaksanakan Syari’ah Islamiyah”. Sebaiknya, sampai di poin ini, harus dipahami terlebih dahulu bahwa Islam sendiri, dari segala macam derifatif-nya, adalah ‘AGAMA’ yang diturunkan sangat lengkap beserta syariat-syariatnya kepada Kanjeng Nabi Muhammad, seperti Mahmud Syaltut bilang dalam Al-Islam; Aqidah wa Syari’ah. Lantas apa jadinya Islam jika tidak mengatasnamakan hak ilahi padahal ia sendiri disyiarkan Kanjeng Nabi dengan mengatasnamakan utusan Ilahi?
“negara islam adalah negara sipil yang menerapkan berbagai ketentuan langit di bumi.” Saya sangat senang dengan perkataan Hafidz yang ini, karena ada hal dimana seorang pemimpin dari orang-orang sipil ini bertindak sebagai pengganti Kanjeng Rasul (utusan langit) untuk menjaga kelangsungan agama dan kehidupan yang ada di dunia. Saya senang ternyata Hafidz memunculkan paradoksnya sendiri, karena bentuk pemerintahan dalam Islam menurut Imam Al-Ghazali (yang konon terilhami dari QS. Ali Imran: 23) jelas-jelas teokrasi, meskipun murid-muridnya sering membela bahwa teokrasi versi Al-Ghazali jauh berbeda dengan teokrasi Eropa. 11-12 dengan tweet Hafidz yang ini: “negara Islam berbeda jauh dari negara agama dan berbeda jauh dengan negara sekuler.”
Saya juga tidak habis pikir, pola pemahaman macam apa sampai Hafidz beranggapan: “negara Islam adalah negara sipil yang di dalamnya hidup berbagai macam pemeluk agama yang kemudian bersepakat Islam sebagai sistem rujukan.”
Barangkali maunya Hafidz: adanya semacam pranata kemaslahatan akhirat dengan konsensus seluruh warga sebuah negara (apapun agamanya) yang menempatkan Islam sebagai satu-satunya (pembawa) syariat yang bertugas memelihara agama dan mengurus dunia.
Perkara pemerintahan, tidak dapat dipungkiri, kita masih merujuk pada kategorisasi Aristoteles. Agar lebih didaku lahir dari orang Islam, baiklah saya akan merujuk (paling modern) pada Taqiyudin Al-Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir) dalam bukunya Nidzam Al-Hukm fi Al-Islam, bahwa ada 5 (lima) model nidzom al-hukm: Monarkhi, Republik, Kekaisaran, Federasi, dan Khilafah. Dari kelima definisi ini, Saya belum berhasil memasukkan definisi Hafidz ke dalam salah satu definisi Taqiyuddin Al-Nabhani.
Saya malah berasumsi bahwa Hafidz (jangan-jangan) menyontek M. Natsir, senior sekaligus gurunya Cak Nur yarhamuhullah, yang ingin merefleksikan hubungan formal antara Islam dan negara. Saya hampir yakin, Hafidz menganggap islam sebagai agama yang memiliki penjelasan paling lengkap tentang hubungan langsung antara agama dan kekuasaan politik, dan ini mirip sekali dengan M. Natsir.
“Baca2 lagi fiqh daulahnya Yusuf Qardhawi, ada bab khusus yang membahas negara Islam vs negara kaum agama.” Kenapa harus Qardhawi? (Ini hanya pertanyaan sampingan)
Membaca pemikiran Syaikh Yusuf Qardhawi, berarti tergiring pada pendirian pemerintahan Islam yang dianggap Qardhawi sebagai suatu kebutuhan Islami dan Insani. Sebenarnya mudah ditebak bahwa Syaikh Qardhawi dalam Kitab di atas sangat berangan-angan menyuguhkan sebuah contoh pemerintahan yang dapat menyatukan agama dan dunia, padahal maksudnya tidak lain adalah menjadikan Islam (harus) sebagai akidah dan sistem, ibadat dan moral, serta sebagai wawasan nusantara menilai peradaban dan kehidupan.
“Islam tidak mengenal istilah kelompok agamawan dan kelompok non agamawan.” Demikian kata Hafidz. Nampaknya pemikirannya terlalu bercampur-campur antara dia dan terma-terma berbau Kristen sampai tak lepas dari istilah tadi. “Apakah ulama (adalah) kaum agamawan?” sepertinya gampang ditebak jawaban Hafidz, “Bukan, para ulama posisinya seperti pakar hukum tata negara ala Yusril di Indonesia. Ulama wajib memberi nasehat kepada penguasa negara, kewajiban ini mencakup semua muslim yang punya kemampuan untuk itu, sehingga kekuasaan pemimpin beriringan dengan ilmu pengetahuan.”
Saat berinteraksi dengan Hafidz, sebenarnya jawaban untuk judul kultweet Hafidz ada pada pertanyaan yang saya ajukan kepadanya (sayangnya tidak dianggap Hafidz sebagai argumen, dan dikiranya saya mBulet, padahal sejatinya sering Hafidz menggunakan metode ini—sejauh saya stalking linimasanya):
Islam, bagaimanapum kalian memahaminya, memiliki banyak dimensi yang tersusun dari ragam elemen yang sangat berkaitan satu sama lain. Semisal, Rukun Iman dan Rukun Islam, adalah agama (Islam). Dalam dimensi agama (Islam) ada ranah yang dinamakan Dlorury-Iktisaby, Qath’ie-Dzonny, dan Mutlak-Nisbi. Syariat-syariat seperti menikah, haji, puasa, dan tata krama bersenggama, adalah agama (Islam). Islam itu agama. Sangat shorih para imam mengatakan bahwa Islam adalah dien (agama). Lakum dinukum wa liya dien, bagimu agamamu (entah Kristen atau lainnya) dan bagiku agamaku (hanya Islam).
Untuk setuju atau tidak setuju dengan Hafidz tentang Negara Islam Bukanlah Negara Agama, sudah barang tentu saya harus tahu apa yang dimaksud Hafidz tentang Islam dan Agama itu sendiri (gini saja masih dianggap Hafidz kalau saya ini tidak seperti modelnya twitwar dengan JIL).
Natijah-nya: 1.) Jika Hafidz memberi pengertian agama (Islam) dengan definisi yang berbeda, sudah barang tentu judul yang ia usung sangat SALAH, karena tidak ada cendekiawan dan pakar agama Islam manapun yang memisahkan Islam sebagai definisi agama; 2.) Jika Hafidz memberi pengertian agama (Islam) dengan definisi yang telah saya sebutkan paling atas, jelas sekali judul yang diusung Hafidz adalah SALAH. Sehingga saya berkesimpulan tidak ada yang benar dari kultweet Hafidz.😀

Sumber: http://stakof.blogspot.com/2013/08/negara-islam-berarti-negara-agma.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s