Memahami bahasa satu sama lain

Apa Romo Hermen sudah muslim?” Pertanyaan ini datang dari Pendeta Djaka Soetapa. Romo Hermenegildo de Almeida terlihat bingung. Bukankah dia seorang yang beragama Katolik, seorang pastor di Timor Timur? Ya, dia memang seorang Katolik, dan saat ini dia tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, di mana non Muslim bisa mendaftar menjadi mahasiswanya. Dia mengambil mata kuliah saya tentang Gerakan Keagamaan Kontemporer. Tapi kuliahnya hanyalah ini untuk memperluas pengetahuannya, dalam konteks program magister dalam bidang Studi-studi Keislaman. Dia tidak memiliki niat untuk masuk Islam. Dan sekarang, Pendeta Djaka Soetapa, dosen tamu di universitas yang sama, menyebutnya muslim! Lebih lanjut, Pendeta Djaka menambahkan: “Saya sudah muslim sejak lama.” Romo Hermen tertawa sopan, tapi terlihat masih bingung.
Saya, di sisi yang lain, tahu benar apa yang Pendeta Djaka maksudkan. Dia merujuk pada perbedaan yang dibuat oleh Nurcholish Madjid, seorang intelektual Muslim progresif, antara islam dan Islam; muslim dan Muslim. Dia menggunakan huruf besar untuk menyebut agama resmi yang diinisiasi oleh Muhammad. Sementara huruf kecil digunakan untuk apa yang menurutnya lebih penting: penyerahan diri pada Kebaikan, pada Allah. Dan terlihat Romo Hermen mulai mengerti.
“Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah islam (penyerahan diri kepada-Nya) 3 Al-‘Imran, 19
Ayat ini tidak merujuk pada Islam sebagai agama resmi, namun pada sesuatu yang jauh lebih mendasar yaitu penyerahan diri pada Allah. Sesungguhnya, ayat ini dan setelahnya menyatakan bahwa Ahli Kitab, yaitu umat Yahudi dan Nasrani, pada dasarnya adalah muslim.
“Dan katakan kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang tidak diberi kitab suci (ummi): “Apakah kamu telah berserah diri (islam)?” Jika mereka telah berserah diri, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk….“ 3 Ali ‘Imran, 20
Menurut Nurcholish, setiap agama yang mengajarkan penyerahan diri pada Tuhannya adalah islam. Setiap orang yang berserah diri pada Tuhan, pada Kebenaran, pada Kebaikan, adalah muslim. Di sisi lain, jika seorang Muslim, yaitu seseorang yang mengakui agama Islam, namun pada prakteknya berdosa terhadap manusia dan terhadap Tuhan—sebagai contoh Muslim yang membunuh orang-orang yang tidak bersalah—maka dia bukanlah seorang muslim sejati.
Ketika pemikir Indonesia ini pertama kalinya memunculkan gagasan tersebut pada tahun 1990an, ia mendapat banyak kritik dari para aktifis Muslim. Mereka menuduh Nurcholish sebagai sekuler dan sesat. Namun, tidak sedikit juga Muslim yang mendukung penafsirannya. Beberapa non-Muslim, beberapa agamawan lain bahkan mengatakan bahwa jika hal tersebut merupakan konsep islam, maka mereka adalah “muslim”. Termasuk Pendeta Djaka itu. Sebagian besar non-Muslim barangkali terkejut dan merasa terganggu dengan statemen Qur’an yang menyatakan bahwa Ibrahim adalah ‘muslim’. Ayat tersebut berbunyi:
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.“ Al-‘Imran 3, 67.
Turun di Madinah, ayat ini menyiratkan, pertama, bahwa terdapat hanif atau gerakan keagamaan di Mekah dan Madinah yang mengikuti monoteisme Ibrahim; dan kedua, bahwa terdapat debat antara umat Yahudi dan Nasrani di Madinah, di mana mereka saling mengklaim memiliki hubungan yang paling dekat dengan Ibrahim.
“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu berbantah-bantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Alkitab tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim? Apakah kalian tidak berpikir? Ali ‘Imran 3, 65.
Al-Qur’an menyatakan tidaklah mungkin mengklaim Ibrahim adalah seorang Yahudi. Atau, sebagaimana Karen Armstrong mengatakan 1):
“Hidup sebelum Torah dan Alkitab, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia merepresentasikan keyakinan yang lebih sederhana yang merefleksikan keesaan Tuhan.”
Akan tetapi, sebetulnya, Ibrahim memang menginisiasi beberapa bagian penting dari agama Yahudi. Namun, anak-anak Israel (Yakub) harus menunggu Musa untuk menerima hukum Allah (Torah). Tentu saja, Ibrahim tidak bisa disebut Nasrani dalam pengertian literal, untuk kehidupannya yang beberapa abad sebelum Isa Almasih lahir, meskipun umat Nasrani bisa saja menyebut diri mereka ‘anak-anak agama Ibrahim.’ Hal yang sama, seseorang boleh saja berpendapat bahwa istilah muslim tidaklah relevan untuk siapapun yang hidup sebelum Muhammad menerima al-Qur’an. Akan tetapi, Al-Qur’an menegaskan bahwa baik Ibrahim maupun Isa dan para pengikutnya adalah muslim dalam pengertian inklusif di atas. Agama Muhammad dipresentasikan dalam Al-Qur’an serupa dengan, dan sebenarnya merupakan kesinambungan dari agama Ibrahim. Muhammad secara eksplisit mendasarkannya pada nabi-nabi sebelum Ibrahim, seperti Adam, dan setelah Ibrahim, seperti Musa dan Isa. Kesemuanya dikarakterkan dengan penyerahan diri mereka kepada Allah.
Ditulis dengan huruf i kecil, islam adalah agama abadi yang berlangsung dari Adam hingga Muhammad, dan jauh setelahnya, namun ekspresi-ekspresi tertentu dari merekalah yang bisa jadi yang disebut-sebut selama ini. Dalam pengertian ini, seluruh rasul dan nabi Allah yang kita temui dalam Al-Qur’an, adalah muslim, pembawa pesan ‘islam’ terpilih. Karena itulah, dalam bab 10 buku Sharing Mary Bible and Qur’an Side by Side ini kita menemukan Ibrahim dan anaknya Ismail yang berdoa:
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk (muslimaini) kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk (muslimatan) kepada Engkau,” Al-Baqarah (Sapi Betina) 2, 128
Dalam bab 20, kita juga menemukan Isa yang dikelilingi pengikutnya.
“Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslimun).” Al-‘Imran 3, 52
Namun, apakah pendekatan inklusif yang dibangun dalam Al-Qur’an hanya berlaku untuk tiga agama monoteistik, yang disebut agama-agama Ibrahim saja? Apakah pendekatan kasih ini hanya diberikan untuk pengikut Yahudi dan Nasrani, untuk Ahli Kitab? Bagaimana dengan agama-agama selain ketiganya ini?
Sangat menarik apa yang Al-Qur’an katakan:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tiran itu’.” 16 An-Nahl (Lebah), 36
Ini bukan berarti bahwa setiap umma hanya ada satu utusan (istilah yang digunakan adalah rasul) dan bukan nabi. Bisa saja ada dua utusan, seperti Musa dan Harun, yang dalam Al-Qur’an mereka adalah rasul bagi Israel dan Mesir.3) Hal ini berarti bahwa jumlah rasul Allah setidaknya sama jumlahnya dengan umma yang ada di bumi. Ini berarti pula bahwa terdapat umma yang memiliki lebih dari satu rasul. Al-Qur’an menyatakan bahwa hanya beberapa rasul diutus untuk umat manusia; namun sebagian besar rasul tidak disebutkan.
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” Al-Mu’min (Orang-orang yang beriman) 40, 78.
Bahkan Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan keduanya, rasul Semit-Ibrahim dan ‘rasul yang tak tersebutkan’. “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasu-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan ‘rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu’. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” An-Nisaa’ (Wanita) 4, 163-164
Hal ini mengimplikasikan bahwa mereka, selama mengimani satu Tuhan, mengajarkan kebaikan dan berserah diri lepada-Nya, termasuk dalam agama yang sama, yakni ‘islam’.
Dilihat dari perspektif sejarah manusia, terdapat banyak “ummah” di luar jazirah Arab. Tentu saja, Allah mengetahui hal tersebut, Dia Maha Tahu. Dari artefak arkeologi, kita juga tahu bahwa terdapat ummah yang hidup di Afrika, Amerika Latin, kepulauan Melayu-Indonesia, Cina, Eropa, dan lain-lain. Jika Allah mengatakan bahwa Dia mengirimkan rasul untuk setiap ummah, maka ummah-ummah tersebut memiliki rasul mereka sendiri. Seluruh rasul tersebut mengajarkan umat mereka untuk mengikuti jalan kebenaran dan kesalihan, untuk berserah diri pada Tuhan. Oleh karena itu, dalam pengertian inklusif, agama ummat-ummat tersebut, selama mengimani satu Tuhan, mengajarkan kebaikan dan berserah diri kepada-Nya, insyaallah adalah islam dan pengikutnya sebagai muslim. Kita tidak tahu rasul-rasul Allah yang “tidak disebutkan” atau “tidak dikisahkan’ itu. Itu menjadi rahasia Allah. Namun, seseorang mungkin bertanya, mengapa norma-norma dan cara-cara menyembahnya sangat berbeda? Untuk pertanyaan ini, Al-Qur’an memiliki respon yang jelas: keberbedaan adalah kehendak Allah.
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan norma (syir’ah) dan jalan terang (minhaj) masing-masing.” Al-Maa’idah (Hidangan) 5, 48
Apa yang kemudian membedakan umma tersebut adalah tata cara keberagamaan mereka (mansak; jamak: manasik).
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami ciptakan ritus (mansak), supaya mereka menyebut nama Allah… maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Al-Hajj (Haji) 22, 34
Perbedaan mansak seperti itu tidaklah untuk dibantah atau dihilangkan, karena hal tersebut adalah takdir Allah. Bagi setiap umma ada seorang rasul yang mengajarkan norma-norma tertentu (syir‘ah), metode (minhaj), dan ritus (mansak), namun seluruhnya memiliki nilai dasar yang sama, yaitu penyerahan diri terhadap Allah. Banyak penganut agama terjebak dalam kekakuan dan superioritas imajinasi norma, metode, dan ritus keagamaan mereka masing-masing. Mereka melupakan dasar pada setiap agama, yaitu penyerahan diri kepada Allah (islam). Dalam konteks ini, adalah relevan bahwa manusia dalam esensinya adalah “umat yang satu” (ummah wahidah).
“Manusia itu adalah umat yang satu. Lalu Allah mengutus nabi-nabi, sebagai pemberi peringatan…“ Al-Baqarah (Sapi Betina) 2, 213
Jika Allah berkehendak, Dia dapat dengan mudah membuat bangsa-bangsa yang berbeda menjadi hanya satu umat, memiliki seperangkat ritus dan hukum yang sama, dan seluruhnya mengikuti Rasul yang sama. Namun, Dia memilih sebaliknya. Allah merestui perbedaan dan memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk berusaha untuk berbuat kebajikan dengan cara-cara yang berbeda.
“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” Al-Maa’idah (Hidangan) 5, 48 Hal tersebut kemudian bukanlah menjadi sesuka hati manusia untuk menentukan apa yang benar dalam urusan moral dan agama. Hanya Allahlah yang mengetahui dan menilai kebenaran tentang perbedaan yang timbul antar umat beragama.
Penghargaan terhadap perbedaan belumlah memberi arti apapun. Yang lebih penting adalah menemukan “Bahasa yang Sama” (kalimah sawa’). Ali Imran 3, 64.
Inilah kesatuan dan persamaan (dirumuskan dalam islam sebagai ketundukan terhadap Allah), yang harus ditekankan, dan bukanlah norma, metode dan ritusnya. Apapun perbedaan kita, kita semua akan kembali pada yang Esa, dan Dialah yang akan memberitahukan apa yang telah diperselisihkan oleh umat beragama itu. Di bawah berbagai norma dan ritus terletak satu nilai dasar manusia dan Tuhan: Kebenaran.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” Al-Hujuraat (Kamar-kamar) 49, 13
Penekanan pada toleransi akan perbedaan agama tersebut bukan berarti bahwa pengikut Muhammad harus skeptis dengan agamanya atau meninggalkan norma-norma dan ritus-ritus yang dimilikinya. Sebaliknya, Muslim seharusnya membangun keyakinan yang kuat dalam agama dan spiritualitas mereka dengan menyerahkan hidup mereka pada Tuhan hingga akhir hayatnya. Akan tetapi, semakin dalam kepercayaannya, semakin toleran muslim laki-laki atau perempuan terhadap agama lain. Dengan berserah diri pada Allah, mereka tunduk kepada Kebenaran Allah. Dengan memahami islam dengan huruf i kecil sebagai penyerahan diri universal kepada Allah dia menemukannya juga pada agama-agama lain dan mengenal muslim sejati di antara pemeluknya.
Pemahaman inklusif demikian adalah selaras dengan ajaran kosmologi Al-Qur’an yang menegaskan bahwa semua makhluk hidup—tidak hanya manusia—di bumi dan di langit menyerahkan diri mereka kepada Allah, dengan sukarela ataupun tidak.
“Apakah bukan Agama Allah yang mereka (orang-orang yang berdosa) inginkan; dan kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. “ Ali ‘Imran 3, 83
Tunduk kepada Allah adalah esensi dalam “Agama Allah” bagi seluruh alam semesta. Untuk semua alam, termasuk dimensi alamiah manusia, ketundukan ini tercermin dalam kepatuhan terhadap hukum alam, yang juga hukum Allah. Matahari terbit dan tenggelam, manusia lahir dan mati. Namun bagi manusia sebagai makhluk berakal dan bermoral, kerelaan adalah hal mutlak. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih, dan karenanya memikul tanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Beda dari makhluk lainnya, manusia memiliki akal yang dengannya mereka mampu membedakan antara baik dan buruk, benar dan salah. Karenanya, dalam konteks ini, konsep “tidak ada paksaan dalam beragama” (la ikraha fi d-din) adalah sangat esensial. Bagi manusia, memilih dengan bebas untuk berserah diri pada hukum Allah adalah yang terpenting.
Pendekatan yang sama juga ditemukan dalam Nasrani. Istilah yang berkaitan ini adalah ‘seorang Nasrani anonim’ yang dikenalkan oleh Karl Rahner. Dia mengatakan bahwa orang-orang di luar Nasrani memiliki kemungkinan untuk menerima keselamatan dari Tuhan melalui Isa Al-Masih, meskipun mereka tidak dibaptis, dan bahkan mereka menolak Kenasranian sekalipun.
“Nasrani anonim memiliki arti bahwa seseorang hidup dalam karunia Tuhan dan mendapat keselamatan di luar konstitusi Nasrani secara eksplisit—Contohnya, biarawan Budha—yang karena dia mengikuti suara hatinya, mendapatkan keselamatan dan hidup dalam karunia Tuhan; untuk dia saya harus mengatakan bahwa dia adalah Nasrani anonim,”
Dalam pandangan Rahner, seorang Nasrani tidak dapat percaya, bahkan hanya untuk sesaat:
“bahwa manusia yang banyak dari saudara-saudaranya yang tidak hanya hidup sebelum kemunculan Almasih jauh ke masa lalu yang terjauh (yang pengetahuan tentangnya secara terus-menerus diperluas oleh paleontologi), tapi juga mereka yang hidup saat ini dan yang akan datang, secara meyakinkan dan secara prinsip dikecualikan dari pemenuhan kehidupan mereka dan dikutuk dalam ketakbermaknaan abadi? Dia menolak saran apa pun, dan keyakinannya itu sendiri adalah sejalan dengan apa yang dia lakukan. Karena kitab-kitab suci mengatakan kepadanya secara kuat bahwa Tuhan ingin semua orang selamat.”
Di sini Rahner merujuk kepada Paulus:
“Tuhan… yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” I Timothy 2:4
Dipengaruhi konsep Rahner tentang ‘Nasrani anonim’, Konsili Vatikan Kedua (1962-1965), menegaskan kemungkinan adanya keselamatan di luar Gereja. Esensinya, ‘Nasrani anonim’ merujuk pada kata yang sama ‘muslim’; untuk perempuan dan laki-laki yang memilih dirinya untuk dibimbing oleh Inspirasi Ilahiah dan hukum alam untuk berjuang bagi Perdamaian (Salaam). Banyak yang akan menghargai bahwa sikap inklusif yang disiratkan dengan sebutan-sebutan kehormatan ini (Nasrani anonim, muslim) bukanlah sesuatu yang negatif jika berdasar pada pemahaman yang benar dan ketulusan; yakni, jika hal tersebut bebas dari manipulasi politik, superioritas dan dominasi. Itu adalah sebutan yang diperoleh bagi mereka yang mempraktikkan pendekatan inklusif.
Tentu, seorang Nasrani mungkin saja tidak suka disebut ‘muslim’ sebagaimana juga Muslim disebut ‘nasrani anonim’. Akan tetapi, mengapa kita tidak mencoba untuk berkomunikasi secara damai dan konstruktif menggunakan ‘permainan bahasa agama’ inklusif milik kita masing-masing? Seperti istilah inklusif ‘muslim’, ‘nasrani anonim’, atau ekspresi serupa lainnya dari agama-agama lain yang merupakan elemen penting dalam membangun pemahaman yang toleran terhadap agama lain, sebagai syarat untuk ko-eksistensi dan bahkan pro-eksistensi; sebuah gagasan bahwa perbedaan orang lain adalah rahmat, bukan musibah. Langkah pertama adalah menolak untuk memaksa orang lain untuk berpindah agama dengan menggunakan cara-cara positif maupun negatif; paksaan secara fisik; tekanan finansial atau menawarkan keuntungan-keuntungan dalam bidang kesejahteraan ataupun pendidikan. Konversi semacam ini telah dipraktikkan sepanjang sejarah baik oleh Muslim maupun Nasrani. Secara tegas hal semacam ini ditolak oleh Al-Qur’an.
“Tidak ada paksaan dalam agama.” Al-Baqarah (Sapi Betina) 2, 256
Adakah pujian yang sama yang digunakan oleh Anak-anak Ibrahim tanpa batas psikologis? Sangat menarik bahwa baik Al-Qur’an dan Alkitab berbagi istilah yang sama untuk Ibrahim, yaitu, “teman Tuhan” (khalilu ‘Llahi).
“Dan siapakah yg lebih baik agamanya dari pada orang yg ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yg lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” 4 An-Nisaa’ (Wanita), 125
Hampir sama, Alkitab menyatakan:
“… Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”
Yakobus 2, 23
Di lain tempat, Alkitab berkata: “Temanmu Abraham ” 2 Tawarikh 20:7 dan “temanku Abraham” Yesaya 41:8.
Penyebutan Ibrahim dalam Al-Qur’an berkaitan dengan agama-agama Ibrahimi (Abrahamic religion) mengimplikasikan bahwa Ibrahim adalah ‘ayah bersama’ mereka. Ini berarti juga bahwa “istilah bersama” antara agama-agama tersebut seharusnya menggunakan “Bahasa yang Sama”, berbagi “bahasa Ibrahimi” dan “teladan-teladan”nya. Oleh karena itu, sangat penting bagi agama-agama tersebut untuk belajar tentang ayah mereka Ibrahim. Al-Qur’an menyebutkan tiga karakteristik penting Ibrahim: menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah, melakukan kebaikan, dan memiliki keyakinan sejati. Dalam konteks Ibrahim, keyakinan sejati menunjuk pada keyakinan monoteistik. Karena sifat-sifat Ibrahim itulah, ia dianggap Allah sebagai “teman Allah”. Dan siapa pun yang memiliki tiga sifat tersebut memiliki kualitas religiositas yang lebih baik.
Dalam Alkitab, Abraham disebutkan memiliki dua karakteristik: kepercayaan (keyakinan) kepada Tuhan dan kebenaran. Meskipun “penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan” (islam) tidak disebutkan secara eksplisit, hal ini sebenarnya tersirat pada dua hal tersebut, percaya kepada Tuhan dan kebenaran. Percaya kepada Tuhan mensyaratkan ketundukan padanya-Nya. Al-Qur’an telah menjelaskannya secara eksplisit menurut Weltanschauung-nya.
Dalam kitab suci dan tradisi agama Yahudi, Nasrani dan Islam, istilah “teman Allah” hanya diberikan kepada Ibrahim dan tidak untuk Rasul lainnya. Karena Ibrahim adalah ayah pemeluk agama-agama tersebut, karenanya adalah masuk akal apabila kemudian pemeluk ketiga agama tersebut dipanggil dengan sebutan “anak-anak teman Allah”. Meskipun begitu, adalah mungkin untuk mengusulkan agar istilah “teman Allah” atau “teman Tuhan” bisa digunakan sebagai sapaan bagi seluruh anak-anak Ibrahim: umat Yahudi, Nasrani dan Muslim. Perbedaannya adalah bahwa sapaan untuk Ibrahim tersebut diberikan oleh Tuhan, dan bahwa sekarang sapaan ini digunakan oleh anak-anak Ibrahim. Larangan pemaksaan dalam beragama yang ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an memberi arti bahwa paksaan dalam urusan beragama tidaklah efektif dan tidak juga baik secara moral, serta tidak diterima di mata Allah. Pemahaman tersebut berpusat pada ko-eksistensi damai. Pro-eksistensi adalah langkah penting berikutnya. Hal tersebut membuka pikiran dan jiwa tentang perbedaan-perbedaan yang menarik antara ritus-ritus dan norma-norma dari keyakinan yang berbeda, dan tentang persamaan-persamaan mendasar mereka. Terlebih khusus ketika ditunjukkan dalam dialog, sebagaimana yang terpapar di buku ini, pencarian ini mencerahkan dan mengayakan.
Izinkan saya mengakhiri dengan sebuah petikan dari seorang sang pecinta perdamaian, Mahatma Ghandi:
“Menjadi Hindu berarti juga bahwa saya menjadi seorang Nasrani yang baik. Tidak lah perlu bagiku mengikuti agamamu untuk menjadi orang yang percaya pada keindahan ajaran Yesus atau untuk mengikuti teladannya.”4) Saya kira itu adalah sikap yang harus ada pada setiap ummat beragama. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi umat Muslim dan Nasrani untuk berbagi Ibrahim, Yesus (Isa), dan Muhammad serta juga ajaran-ajaran mereka yang mulia, sebagai bagian dari warisan bersama mereka.

Catatan akhir:

Karen Armstrong, “Foreword: Abraham: Meeting Guests, Meeting God,” in Joan Chittister, Saadi Shakur Chishti, Arthur Waskow, The Tent of Abraham: Stories of Hope and Peace for Jews, Christians, and Muslims, Boston: Beacon Press, 2006, xi.
(Maryam 19, 51-53; al-Mu’minun (Orang-orang yang percaya) 23, 45; al-Syu’ara (Penyair) 26,13; al-Qashshas, 28, 34), dan (Ya Sin 36, 13-14).
Lihat juga Yunus 10, 19; Hud 11,118; al-Nahl (lebah) 16, 93; al-Anbiya’ (Para Nabi) 21, 92; al-Mukminun 23, 52; al-Syura (Musyawarah) 42 8; al-Zukhruf (Perhiasan) 43, 33.
Millie Graham Polak, Gandhi, The Man, G. Allen & Unwin,1931.

*Sumber: http://alquranalkitab.net/verhaal.php?lIntEntityId=18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s