AL-QURAN DAN DONGENG

guntur

Bagian ke-1

Kebenaran Minimal
Proyek “Al-Nash wa Al-Haqiqah” adalah pengantar nama Ali Harb menjadi “pembaharu” metode takwil (hermeneutik), setidaknya di tahun 1967. Dari proyek besar ini Ali Harb memperkenalkan wacana “tidak ada kebenaran maksimal, dan yang ada hanya kebenaran minimal”. Apa sebab filosof kelahiran Lebanon tahun 1941 ini menegaskan hal itu? Jawabannya sederhana: “kebenaran” (Al-Haqiqah) tidak akan pernah sama dengan “kebenaran yang benar” (Al-Haqq). Kemudian nama Ali Harb disejajarkan bersama pemikir kontroversial seperti Mohammad Arkoun, Muhammad Abed Al-Jabiri, Hasan Hanafi, dan Nasr Hamid Abu Zayd.
Penulis akan mengutarakan sedikit tentang pemikiran Ali Harb.
Ali Harb menyatakan perhatiannya paling utamanya ada pada ihwal pemikiran, bukan sastra. Kejujuran Ali Harb sangat beralasan, karena ia menentang upaya kategorisasi pemikiran (tajnis Al-afkar) melalui label-label. Namun bukan berarti Ali Harb buta akan teori sastra, karena dari banyak artikel yang dia tulis ditemukan di sana-sini teori sastra yang dia buat jadi pijakan, terlebih berkenaan teori teks yang dia garap.
Dunia di hadapan takwil, begitu kata Ali Harb, adalah ibarat penakwil (mu’awwil) yang mengkaji sisi yang tidak diketahui (majhul) dan menggali signifikansi yang telah terungkap sebelumnya, dan membaca sumber dari apa yang belum terbaca oleh pendahulunya.
Sebenarnya tidak rumit menerima gagasan Ali Harb. Kesulitan yang mungkin terjadi adalah ketika gagasan Ali Harb dihadapkan pada keyakinan agama adalah ajaran tanpa pertentangan, tanpa kekaburan, tanpa celah, tanpa kekaburan, tidak ada realitas maya dan ruang kosong, sedangkan Ali Harb mengakui satu teks agama saja memiliki berbagai tradisi, aspek, aneka pertentangan, kekaburan, celah, dan lubang, bahkan memiliki realitas maya dan ruang kosong, seperti yang ia tuangkan dalam buku Relativitas Kebenaran Agama.
Rasionalitas Ali Harb memiliki prinsip yang sama seperti Plato; rasional akan selalu mengandung irrasionalitas, karenanya filosof tidak diperkenankan berhenti sebatas prasangka (prejudices) dan tahayul (supertitions).
Segalak-galaknya (pemikiran) Ali Harb, ia tidak lantas menolak wahyu (Al-Quran) sebagai mukjizat. Sebagaimana mukjizat pada umumnya, Ali Harb menempatkan Al-Quran sebagai mukjizat retoris (I’jaz bayani) yang berlimpah makna, tak cukup hanya dibatasi satu metode atau teropong pembacaan, bahkan tidak terbatas satu penafsiran tunggal dan total. Wahyu tidak akan pernah kekeringan makna, ia adalah rujukan, di samping titah dan teks secara bersamaan. Dari wahyu, mujtahid mengembara. Begitu pun Ali Harb sendiri.
Penulis kira, ini adalah kata kunci untuk memahami ide dan gagasan-gasan besar Ali Harb.
Kisah Atawa Dongeng (Quran)
Ada sebagian orang yang bereaksi berlebihan saat Guntur Romli berkata: “Kekuatan Al-Quran bukan sebagai kitab sejarah, tapi kitab kisah atawa dongeng”.
Sebenarnya penulis tidak memiliki kepentingan untuk membahas terlalu serius ‘reaksi serius’ di atas. Namun tidak ada salahnya jika tulisan ini dianggap “mengulang” materi yang pernah penulis dapat sewaktu di ghotak pesantren.
Saat penulis masih menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Perwadarminta, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang, kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka). Cerita dalam bahasa Arab disebut Qishah yang didapat dari derivasi (tashrif) qashsha-yaqushshu. Dalam bahasa Inggris sering diganti dengan kata Story, Tale, atau Narrative, dan artinya ternyata sama: Cerita.
Karena ini membahas Al-Quran, ada baiknya kita membuka beberapa ayat yang menggunakan kata qishshah.
QS. Al-Kahfi: 64
“… lalu keduanya kembali mengikuti qashasha mereka semula.”
QS. Al-Qashash: 11
“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: qushshiih…”
[Al-Baghawi menjelaskan qashasha disini sebagai: mengikuti jejak. Tidak berbeda dengan Al-Baghawi, ketika Al-Thabari menerjemahkan kata qushshiih berarti “ikutilah dia.”]
QS. Ali Imran: 62
“Sesungguhnya ini adalah al-qashash yang benar.”
QS. Al-Qashash: 25
“… maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan qashsha tentang dirinya, Syu’aib berkata: ‘janganlah kamu takut!’”
[Menurut Tafsir Ibn Abbas, antara al-qashash dan qashsha berarti ‘cerita/menuturkan cerita-cerita (kisah)’.]
Dan masih banyak lagi, yang menurut Teuku Hasbi Al-Shiddiqy, al-qashshash juga berarti urusan, berita, khabar, dan keadaan.
Secara terminologi qishshah (yang diterjemahkan sebagai cerita, kisah, hingga story), sebagaimana Imam Al-Razi memberi penjelasan, adalah sekumpulan ‘cerita’ yang mengandung suatu pelajaran yang menunjukkan manusia kepada agama dan kebenaran yang dapat mendorongnya berbuat kebaikan. Seragam artinya dengan: cerita adalah jejak, peristiwa, berita, dongeng atau kisah yang mengandung ajaran atau pelajaran yang baik, anjuran, teguran atau peringatan yang baik
Abdurrahman Al-Nahlawi menggolongkan kisah/cerita/qishshah menjadi 2 (dua): Kisah Qurani dan Kisah Nabawi. Kisah Qurani, apapun tokoh ceritanya, tidak akan pernah lepas dari hal-hal khayal, melayang-layang di alam malakut, namun bukan aspek ini yang dipentingkan Al-Quran, melainkan maksud menjauhkan diri dari tabiat (jelek) manusia sebagai terapi bagi manusia dalam kisah-kisah tersebut. Lebih spesifik Kisah Nabawi sangat berbeda dengan Kisah Qurani, dimana lebih banyak berbicara tentang aspek tertentu dari kehidupan susila manusia.
Al-Quran sangat padat dengan sejarah dan kisah-kisah manusia pada jaman mereka belum pandai menuliskan sejarahnya. Maksud dari dikisahkan kisah tersebut dijelaskan Allah untuk diambil pengajaran darinya (QS. Yusuf: 111). Kisah-kisah tersebut diwedarkan Allah SWT melalui Rasullah tanpa sebelumnya mempelajarinya, dan tidak pula pernah mendengarkan kisah itu dari seorang manusia pun. Oleh karenanya, Imam Al-Suyuthi menuturkan kisah dalam Al-Quran adalah sisi mukjizat-nya, berupa petikan-petikan sejarah sebagai pelajaran pada umat manusia, dan sama sekali tidak bermaksud untuk mengingkari sejarah. Begitu pun Manna Khalil Al-Qaththan, menyatakan bahwa kisah-kisah dalam Al-Quran merupakan karya seni yang tunduk kepada daya cipta dan kreatifitas yang dipatuhi oleh seni, tanpa harus menguranginya sebagai kebenaran sejarah.
Dongeng adalah kisah. Dan Al-Quran padat sekali dengan kisah-kisah. Perdebatan apakah kisah-kisah dalam Al-Quran memiliki landasan historis atau tidak, cukup menguras waktu yang sangat lama. Karena kisah tersebut datang dari Al-Quran, dan Al-Quran diturunkan oleh Sang Maha Kebenaran, banyak yang bersimpulan kisah-kisah Al-Quran tidak dapat dianggap semata-mata sebagai dongeng. Pakar Al-Quran yang berpendapat seperti ini tidak terlalu memusingkan Al-Quran dalam memandang sejarah sebagai suatu realitas.
Bahasa Agama dan KBBI
Sebenarnya penulis bukan berkapasitas mengkritik ‘kompilasi’ Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun, proposal tulisan ini yang awalnya mengungkit nama besar Ali Harb, pada dasarnya ingin menjelaskan bahwa ada setidaknya 2 (dua) pendekatan dalam memahami ungkapan-ungkapan keagamaan, dan yang paling relevan untuk judul tulisan ini adalah yang pertama: theo-oriented; bahasa agama adalah kalam ilahi yang kemudian terabadikan ke dalam kitab suci. Di sini Allah SWT dan kalam-Nya lebih ditekankan sehingga pengertian bahasa agama yang paling mendasar adalah bahasa kitab suci, bukan KBBI.
Dalam membaca bahasa kitab suci, Ali Harb memiliki gagasan unik; jangan terlalu mempercayai kebenaran teks, karena menurutnya teks itu mempunyai makna-makna yang tersembunyi di dalam simbol, sehingga dalam menafsirkan sebuah teks harus melihat makna yang lain dari makna-makna yang sudah dibaca pada umumnya. Ada baiknya jika gagasan Ali Harb kita terapkan dalam memahami kisah-kisah yang tertuang dalam bahasa kitab suci (Al-Quran).
Oleh karena itu, sebelum membahas lebih jauh soal benar-tidaknya kisah Al-Quran dari pembuktian sejarah, kita harus sepakat terlebih dahulu bahwa “orang yang masih ada hubungan keluarga dekat sehingga terlarang menikah dengannya” adalah MAHRAM saja, bukan MUHRIM, seperti yang diterangkan KBBI. Kalau kita masih belum sepakat, tak ada salahnya untuk tidak berpusing-pusing manakah yang benar antara SILATURRAHMI dan SILATURRAHIM. Konsekuensinya, tak bisa disalahkan juga antara menyebut KISAH (qishshah) adalah sama dengan DONGENG dan CERITA.

Sumber: http://stakof.blogspot.com/2013/10/al-quran-dan-dongeng-1.html

Bagian ke-2

Sebenarnya tidak banyak penafsir Al-Quran yang membahas sisi saintik Al-Quran, begitu pula tidak banyak penafsir yang membahas sisi (kebenaran) sejarah yang ada dalam Al-Quran. Namun, hal yang paling benar adalah: Al-Quran benar-benar memuat kisah-kisah dan nash yang berpotensi ilmiah.
Para ulama salaf cukup meyakini bahwa Al-Quran yang memuat kisah-kisah umat terdahulu itu adalah nyata, benar, dan hal itu semua tidak dapat diketahui kecuali mengkaji dan dengan riset yang panjang. Rasulullah SAW, yang lahir sebagai nabi terakhir, sama sekali tidak mempelajarinya, tidak pula mendengarnya dari seorang pun, namun mampu menerangkan kisah-kisah itu dalam bentuk firman Allah, yaitu Al-Quran.
Padat sekali Al-Quran mengisahkan umat-umat terdahulu, dengan gaya bersastra yang baik dalam pengungkapan dan teknik pemaparan. Ada pembahasan yang detail tentang makhraj-makhraj Al-Quran ketika membahas kisah-kisah tersebut, ada I’rab kalimat, dan beberapa detail lainnya sehingga amat diperlukan agar tidak salah dalam memahami Al-Quran ketika berbicara tentang kisah-kisah tersebut.
Jika pembaca telah mendapatkan mata kuliah Ulum Al-Quran, saya dapat memastikan bahwa Al-Quran memakai berbagai cara dan upaya untuk menjelaskan kisah-kisah tersebut yang sebenarnya bukan untuk mengajarkan peristiwa-peristiwa sejarah itu, namun menyampaikan dan memberikan isyarat kepada manusia bahwa tidak benar mendustakan Allah karena adzabnya sangat pedih.
Kisah (Sejarah) dalam Al-Quran
Dari segi waktu, kisah-kisah Al-Quran terbagi menjadi 3 (tiga): kisah ghaib yang terjadi di masa lalu, kisah ghaib yang terjadi di masa kini, dan kisah ghaib yang terjadi di masa yang akan datang.
Dan dilihat dari materinya, kisah-kisah Al-Quran terbagi menjadi 3 (tiga) pula: kisah para nabi, kisah yang telah terjadi di masa lalu namun tidak dapat dipastikan kenabiannya, kisah yang berpautan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Rasulullah Muhammad SAW.
Lantas bagaimana para ulama memahami kisah-kisah Al-Quran tersebut?
Ketika memberikan komentar tentang hal tersebut, Imam Al-Suyuthi mengatakan Al-Quran sama sekali tidak bermaksud untuk mengingkari sejarah ketika diketemukan sejarah yang diungkapkan Al-Quran menyalahi fakta, karena hal ini akan membahayakan Al-Quran. Tidak lain Al-Quran adalah petikan-petikan dari sejarah sebagai pelajaran kepada umat manusia.
Ungkapan menarik dari Manna Khalil Al-Qaththan, bahwa kisah-kisah dalam Al-Quran hanyalah karya seni (sastra) yang sebenarnya tunduk pada kreatifitas yang dipatuhi oleh seni, tanpa harus mengurangi kebenaran sejarah. Ketika Al-Quran berbicara tentang sejarah, lebih mirip seperti seorang sastrawan yang mengisahkan suatu peristiwa secara artistik.
Apakah kisah-kisah dalam Al-Quran memiliki landasan historis? atau mungkinkah kisah-kisah tersebut adalah ahistoris? Dan sejauh mana Al-Quran memandang sejarah sebagai suatu realita?
Sebagian ada yang berpendapat bahwa kisah-kisah yang dimuat Al-Quran adalah benar-benar terjadi, bukan fiksi, terlebih lagi bukan dongeng. Pendapat semacam ini dikeluarkan sebagai pembantah orientalis yang meragukan Al-Quran sebagai kitab suci karena tidak sesuai dengan kenyataan sejarah, hanya karangan Muhammad, dan pada akhirnya bukan dari Allah; konsekuensi logisnya: Muhammad bukan utusan-Nya.
Dasar argumen dari pendapat di atas adalah firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 62, QS. Al-Kahfi ayat 13, QS. Al-Qashshash ayat 3, yang menegaskan kepada manusia bahwa apa yang disebutkan Al-Quran adalah benar, tidak ada yang bohong, atau mengada-ada. Seandainya ada seseorang yang mengatakan bahwa Al-Quran mengada-ada dalam kisah-kisahnya, pemeluk pendapat ini menyodorkan QS. Al-Nahl ayat 24: “Dan Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Dongeng-dongeng orang terdahulu.’” yang artinya orang itu pengingkar Tuhan yang berfirman melalui Muhammad di dalam Al-Quran.
Apakah Sesederhana itu?
Saya selalu meyakini bahwa Al-Quran adalah firman Allah, dan seluruh isi Al-Quran dari Al-Fatihah hingga Al-Naas adalah datang dari Dia. Namun saya sekaligus meyakini bahwa ketika Allah mewedarkan kisah-kisah sejarah dalam Al-Quran bukanlah semata-mata mengajarkan peristiwa-peristiwa sejarah itu seperti halnya ia adalah literatur sejarah. Lewat kisah-kisah tersebut, Allah memberikan nasehat, sebagaimana fungsi Al-Quran sebagai hudan li al-naas, bukan hanya menyejarahkan perorangan atau golongan bangsa-bangsa semata. Karena bagaimana pun Al-Quran bukanlah kitab sejarah, sama halnya Al-Quran bukanlah karya ilmiah. Jadi, jangan kaget ketika para mufasir yang mengalami kesulitan mengumpulkan fakta-fakta sejarah yang disebutkan Al-Quran pada akhirnya menganggap kisah-kisah Al-Quran yang memuat sejarah termasuk ayat-ayat mutasyabihat (yaitu ayat-ayat yang samar atau tersembunyi).
Prof. Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Makky dalam Khashaish Al-Quran sampai-sampai mengatakan kisah-kisah umat terdahulu dan syariat-syariatnya rasul terdahulu yang dikisahkan Al-Quran sangatlah sedikit yang mengetahuinya, kecuali sebagian kecil ahli kitab yang serius mempelajarinya, jadi sangat sulit memperoleh hasil penelitiannya. Al-Quran hanya menyampaikan kisah-kisah tersebut secara global saja, dan hanya dalam beberapa surat dijelaskan secara terperinci. Hal itu karena Al-Quran bukanlah buku sejarah yang detail membahas serial-serial peristiwa sejarah yang berkaitan satu dengan yang lainnya.
Apakah Al-Quran itu Dongeng?
Saya sendiri tidak menganggap Al-Quran semata-mata adalah kitab dongeng, meskipun konten Al-Quran seakan-akan sedang “mendongeng” kepada pembacanya. Saya berkeyakinan orang menjadi akan kafir ketika meyakini Al-Quran bukanlah berasal dari Allah. Memposisikan kisah-kisah Al-Quran sebagai dongeng tidak lantas menjadikan seseorang menjadi kafir (murtad–keluar dari Islam), ketika dalam lubuk hati orang itu masih meyakini Al-Quran adalah datang dari-Nya. Saya lebih memilih kisah-kisah Al-Quran termasuk kategori mutasyabihat yang tidak memerlukan keyakinan bagaimana benar hakikinya.
Suatu cerita ada perdebatan antara aliran musyabih dan ulama Kalam yang bertarung sekian lama hanya membahas ayat-ayat ke-jism­-an Allah SWT. Untuk ikut dalam perdebatan ini, setidaknya harus menguasai ilmu majaz yang menuntut penguasaan teori isti’arah (ungkapan), tamstil (perumpamaan), qalb (pembalikan), taqdim (pendahuluan), ta`khir (pengakhiran), hadzf (pembuangan), ta’ridh (sindiran), ifshah (pemfasihan), kinayah (kiasan), tatsniyah (penjelasan maksud jamak untuk makna dua orang), dan teori-teori lainnya.
Allah memiliki yad (tangan)? Ketika aliran musyabih mengatakan yad (tangan) di sini adalah tangan Allah yang sebenarnya sama seperti tangan manusia adanya, ulama Kalam mengingkarinya. Bahwa Ulama Kalam mengakui Allah tidaklah ber-jism, namun yad (tangan) Allah adalah hakikat yang harus diyakini. Bagaimana caranya? Mengetahui hakikat yad itu haruslah dengan pra-konsepsi tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya sekaligus tanzih (menyucikan) Dia dari hal-hal yang menyerupai-Nya.
Bingung?
Itulah Iman
Wallahu A’lam

Sumber: http://stakof.blogspot.com/2014/02/al-quran-dan-dongeng-2_4710.html

Bagian ke-3

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan memberikan pra-konsepsi terlebih dahulu bahwa: “Al-Quran adalah firman Allah kepada Muhammad. Ia adalah kitab yang harus diimani, dipercayai, dan seluruh isinya adalah benar-benar berasal dari Allah Yang Maha Mengetahui.”
TIPOLOGI
Dari segi materi, seperti yang saya sebutkan dalam tulisan sebelumnya di blog, kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran terbagi menjadi 3 (tiga):
Pertama, Kisah-Kisah Para Nabi. Diantaranya adalah kisah Nabi Adam, Shaleh, Yusuf, Luth, Musa, Isa, dan lain sebagainya. Saya rasa tidak perlu membahas lebih panjang soal bagian pertama ini.
Kedua, Kisah-Kisah (lampau) yang tidak diketahui kenabiannya—dan di sinilah kita akan banyak berputar-putar. Ia adalah kisah-kisah menyangkut pribadi atau golongan tertentu yang segala peristiwanya dinukil Allah agar dijadikan pelajaran. Karenanya, saya berfikir para ulama ketika mengulas kisah-kisah kategori ini pasti “mengeksekusi” pada: “Memberikan I’tibar”, dan bukan malah dikuliti keabsahan data sejarahnya atau kesejarahan kisahnya. Diantara kisah-kisahnya adalah: Ashab Al-Kahfi, Ashab Al-Ukhdud, Qabil-Habil, Luqman Al-Hakim, Dzu Al-Qornain, dan semisalnya.
Ketiga, Kisah-kisah yang bertautan dengan berbagai peristiwa yang ada di masa Rasul Muhammad SAW. Contoh ringannya, seperti diskursus Ulum Al-Quran memberi contoh, adalah Ababil dan hijrah Rasulillah SAW.
Ketika saya mengutip pendapat Prof. Sayid Muhammad Al-Maliki dalam Khashaish Al-Quran, saya tidak bermaksud mencari legitimasi statemen Al-Quran berisi “dongeng”. Sama sekali bukan. Dari penjelasan Abuya, demikian Sayid Muhammad dikenang, saya ingin menegaskan bahwa Al-Quran memuat beberapa kisah yang belum dibuktikan kebenarannya hingga kini. Kenapa belum dapat dibuktikan? Abuya mengatakan: “Kisah-kisah umat terdahulu dan syariat-syariat rasul yang lampau sangatlah sedikit yang mengetahuinya, kecuali sebagian kecil ahli kitab yang serius mempelajarinya.” Sampai di sini saya kira cukup jelas bahwa sangat sulit memperoleh hasil penelitiannya. Inilah legitimasi yang saya cari dari Abuya.
Lantas bagaimana untuk mengetahui kebenaran kisah-kisah Al-Quran? Ini pertanyaan “mekso” yang sangat sulit dijawab. Sekadar berkata “Al-Quran itu wahyu Allah, mana mungkin kisah yang Dia cantumkan di dalamnya tidak terjadi?” sama sekali tidak memuaskan. Boleh saja berkeyakinan: “Tidak menjadi benar, jika menolak kisah-kisah Al-Quran hanya karena kisah itu belum terbukti”. Hal ini sah-sah saja. Sama sahnya ketika berfikiran seperti Ahmad Khalfallah dalam kitab Al-Fann Al-Qashash fi Al-Quran Al-Karim, yang mengatakan: “Al-Quran tidak sedang mengulas kisah-kisah itu untuk tujuan historis.” Oleh karena itu, menjadi sah pula, berangkat dari penjelasan Ahmad Khalfallah tersebut, saya mengatakan bahwa: “Misi utama Al-Quran ialah memberikan ‘ibrah dalam kisah-kisah, dan tidak sedang mengajari peristiwa-peristiwa tertentu untuk tujuan historis.” Apakah saya sendirian? Ternyata tidak. Ibnu ‘Asyur pun lebih menekankan kisah-kisah Al-Quran sebagai motivator, dan tidak ambil pusing bagaimana benar kisah-kisah itu terjadinya, karena maqoshid (tujuan pokok) kisah-kisah itu adalah memotivasi pembacanya.
DONGENG
(ini sekadar proposal): Pemikir asal Syria bernama Muhammad Syahrur mengatakan: “Al-Quran harus selalu ditafsirkan sesuai dengan tuntutan kontemporer yang dihadapi umat manusia.” Sangat teoretik, bukan? Kalau pernyataan Syahrur ini sering dikontekskan pada upaya mengawinkan sains dengan Al-Quran, besar kemungkinan masih relevan jika kita taruh dalam konteks qishah Al-Quran.
Dari keseluruhan 30 Juz Al-Quran, hanya ada 5 (lima) tema pokok: Allah, Alam Semesta, Kisah (Qishah), kebangkitan dan pembalasan, tarbiyah dan hukum. Jika keseluruhan Al-Quran adalah 6236 ayat, maka ada 1.600 ayat yang membahas kenabian, atau sekitar 25,6%. Ini hanya kisah kenabian, dan masih ada kisah-kisah non-nabi, dan kisah tamtsiliyat. Relatif padat Al-Quran mengisahkan sejarah, namun para pakar Ulum Al-Quran berkesimpulan bahwa Al-Quran bukanlah kitab sejarah. Hal itu karena, seperti ulasan Sayyid Quthb dalam kitab Al-Tashwir Al-Fanny fi Al-Quran: dari segi tema kisah-kisah dan cara penyampaiannya, Al-Quran secara tipologi berbeda dengan kisah dalam konteks sastra.
Al-Quran memang bukan kitab sejarah, dan penceritaannya acap kali tidak kronologis, apalagi sistematis. Namun ketidak-kronologisan dan ketidak-sistematisan ini mendapat tempat tersendiri di hati ulama balaghah dan sastra. “Hanya penggalan-penggalan tidak sistematis, letaknya di sela-sela ayat diantara kisah yang awal-tengah-akhir, kadang disebut berulang-ulang, tidak jelas kapan terjadinya, oleh karenanya Al-Quran lebih menekankan pada kepribadian, tindak-tanduk cerita itu, dan motivasi yang ada di dalamnya.” Demikian ungkapan Al-Tihami Naqrah dalam kitab Sikulujiyah Al-Qishash fi Al-Quran, yang cukup menggambarkan kenapa Al-Quran bukanlah kitab sejarah.
Meskipun bukan kitab sejarah, Al-Quran yang merupakan firman Tuhan Yang Maha Kuasa ini tak kurang kekuatannya sebagai kitab suci. Menurut Sayyid Quthb, masih dalam kitab yang sama, ada 3 (tiga) macam kekuatan dalam penyampaian kisah-kisah tersebut: Pertama, pemaparannya begitu hidup, sehingga makna yang tersirat jelas tertangkap; Kedua, gaya ilustrasinya sangat menyentuh sehingga mencapai titik paling emosional; Ketiga, pelukisan karakternya sangat terasa.
Saya lebih memilih pernyataan bahwa untuk membenarkan kisah-kisah Al-Quran adalah tugas sejarawan, arkeolog, dan ahli-ahli yang berkecimpung pada diskursus semacam itu, bukan pada mufassir. Peristiwa-peristiwa dalam Al-Quran bukanlah “menu” bagi kajian yang sama sekali tidak memiliki kaitan dengan sejarah. Jika lantas Manna Khalil Qathan dalam kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Quran mengatakan serangkaian peristiwa yang dinukilkan Allah dalam Al-Quran adalah benar-benar terjadi, tidaklah menghilangkan hak sejarawan untuk membuktikannya.
Mempercayai bahwa kisah-kisah Al-Quran yang belum terbukti kebenarannya, karena kekurangan data untuk membenarkannya, sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi, adalah pandangan kebanyakan mufassir dan pakar Ulum Al-Quran. Manna Khalil Qathan, yang membenarkan kisah-kisah itu, adalah satu diantaranya.
Di sisi lain, ada beberapa mufassir yang mencoba membuktikan kebenaran-kebenaran kisah itu, namun mengalami kesulitan karena kehabisan data-data, atau dokumen-dokumen sejarah, dan kesulitan menetapkan metode sejarah yang benar dan lengkap, akhirnya berkesimpulan bahwa ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah yang belum mampu terbuktikan dalam Al-Quran adalah ayat-ayat mutasyabihat.
Masih dari pakar Ulum Al-Quran, ada sebagian lagi yang memiliki pendapat nyeleneh karena di luar mainstream ulama kebanyakan; kebenaran kisah-kisah Al-Quran tidak harus benar-benar terjadi, karena boleh saja ia bersumber dari mitos (asatir). Ahmad Khalafullah, yang mengatakan “yang pokok dari kisah itu adalah ibroh dan mau’idzoh-nya” adalah satu dari kelompok ini.
Kepada orang yang berkata “Al-Quran adalah kitab dongeng”, sebenarnya tidak pas jika mencercarkan pertanyaan “Berarti kamu mengingkari isi Al-Quran, sedangkan ia adalah firman Allah? Dan artinya kamu mengingkari Tuhan?”. Saya kira pertanyaan yang tepat untuk mereka adalah “Kisah-kisah apa yang kamu anggap dongeng di dalam Al-Quran itu?” karena sekaliber Ahmad Khalafullah pun tidak mengingkari kebenaran kisah kenabian Ibrahim, kelahiran Isa dari rahim Maryam, Isra Mi’raj, dan hari akhir serta pembalasan amal di akhirat. Bahkan di sisi yang sama ia tidak jauh beda dengan Manna Khalil Qathan yang beranggapan Al-Quran lebih menekankan pada segi ‘ibrah, dan tidak ambil pusing, apalagi berpanjang lebar, dalam membahas kesejarahan dalam Al-Quran itu.
Kembali ke perkataan Syahrur, dengan kekuatan kisah Al-Quran yang sanggup menyentuh emosi pembacanya, tidak menutup kemungkinan jika kisah-kisah itu terus ditafsiri, sekontemporer apapun jaman manusia, karena sebagai muslim harus PeDe bahwa Islam (dan Al-Quran) adalah ajaran yang shalih li kulli zaman wa makan.
Jadi, masih bingung?
Wallahu A’lam

Sumber: http://stakof.blogspot.com/2014/02/al-quran-dan-dongeng-3-habis.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s