Cherry Picking “Khilafah”

Tak sedikit propaganda menegakkan kembali khilafah hari ini yang sebenarnya mengandung argumen cherry picking: menampakkan yang gemilang, menyembunyikan yang kelam. Bila kita membaca sejarah khilafah (baik al-Khulafa ar-Rasyidun maupuan Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah) secara seksama, sesungguhnya kenyataan riilnya tidaklah seindah khilafah yang dipropagandakan itu.
Kita tahu, tiga dari empat khalifah pertama umat Islam meninggal dibunuh. Khalifah Utsman & Ali malah mati di tangan orang Islam sendiri. Juga masyhur diceritakan bagaimana kejamnya pembantaian terhadap cucunda Nabi, Sayyidina Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib, atas komando Raja Umawi Yazid ibn Mu’awiyah. Belum tentang pembantain oleh al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi. Juga Abul-Abbas as-Saffah (as-Saffah artinya jagal!), pendiri Dinasti Abbasiyah, yang kejam menumpas hampir semua pemimpin dan pendukung Bani Umayyah. Cari saja di google, dan anda dapat dengan mudah mendapati bagaimana mengerikannya kisah pembantaian itu.
Itu artinya, sejarah khilafah dulu adalah sejarah yang berdarah-darah. Dalam aspek ini, sebenarnya negeri kita Indonesia jauh lebih baik.
***

Sayyidina Utsman ibn ‘Affan ialah khalifah ketiga. Ia orang yang terkenal amat pemalu. Ia digelari Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya), sebab ialah yang menikahi dua puteri Nabi: Ummu Kultsum dan Ruqayyah. Khalifah Utsman memerintah 12 tahun. Enam tahun pertama, tiada masalah politik yang berarti. Enam tahun kedua, terutama sejak Utsman mengangkat kerabatnya dari sesama keturunan Umayyah, riak-riak politis mulai memanaskan tensi.
Panasnya tensi politik itulah, singkat cerita, yang kemudian bersebab oleh tipudaya, membangkitkan pemberontakan. Sayyidina Utsman meninggal dalam fitnah pertama yang memecah belah kesatuan umat. Kebesaran Sayyidina Utsman, sebagai salah satu dari 10 Sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, tidak berarti bahwa akhir hidupnya tidak tak memilukan.
Kisah pemakaman Sayyidina Utsman, sebagaimana diceritakan ath-Thabari dalam Tarikh al-Umam wal-Muluk, sungguh memprihatinkan untuk ukuran figur terhormat seperti beliau. Ath-Thabari mengisahkan:
“Mayat Utsman bertahan dua malam, karena ia tak bisa segera dimakamkan. Ia ditandu empat orang: Hakim ibn Hizam, Jabir ibn Muth’im, Niyar ibn Makram, dan Abu Jahm ibn Hudzaifah. Ketika Utsman hendak disalatkan, datanglah sekelompok orang Anshar yang melarang mereka menyalatkannya. Di situ ada Aslam ibn Aus ibn Bajrah as-Saidi dan Abu Hayyah al-Mazini. Mereka juga melarangnya untuk dikuburkan di kompleks pemakaman Baqi’. Abu Jahm lantas berkata, “Makamkanla ia karena Rasulullah dan para malaikat telah mendoakannya.” Namun mereka menolak, “Tidak. Ia selamanya tidak akan dikuburkan di tempat pemakaman orang Islam.” Mereka kemudian menguburkannya di Hisy Kaukab (areal pemakaman Yahudi). Di masa kekuasaaan Bani Umayyah, barulah mereka memasukkan areal pemakaman Yahudi itu ke dalam kompleks Baqi’.”
***

Ada semacam ensiklopedi klasik tentang biografi para khalifah, yakni Tarikh al-Khulafa’ karya Jalaluddin as-Suyuthi. Dan salah satu keistimewaan karya as-Suyuthi ialah ia menuliskan fakta dan pandangan-pandangan semuanya, dari yang keras sampai yang bebas dan nyeleneh.
Bila anda membaca buku itu, anda bisa mendapati bagaimana tingkah laku para khalifah Bani Umayyah yang, kalau kita baca di hari ini di tengah derasnya propaganda khilafah, fakta itu amat mengagetkan, bahkan menjijikkan.
Termaktub dalam Tarikh al-Khulafa’, bahwa Raja Dinasti Umayyah, Al-Walid ibn Yazid, adalah penyuka khamr & pelaku homoseks (talawwuth). Ia juga punya hobi aneh, yakni membidik Al-Quran dengan panah.
Termaktub pula dalam Tarikh al-Khulafa’, bahwa Al-Amin ibn Harun ar-Rasyid (yang berperang melawan saudaranya, Al-Ma’mun ibn Harun ar-Rasyid, untuk memperebutkan takhta kerajaan) menyukai lelaki yang menjadi pembantunya, namanya Kautsar dan Syunaif. Al-Amin juga gemar meminum khamr sembari bercinta bersama kedua pembantunya itu.
Termaktub pula dalam Tarikh al-Khulafa’, bahwa Raja Dinasti Abbasiyah, Al-Watsiq ibn al-Mu’tashim ibn Harun ar-Rasyid menyukai lelaki yang menjadi pembantunya. Namanya Muhaj. Dan Al-Watsiq, yang juga seorang pujangga, kerap menyenandungkan syair asmara kepada si Muhaj itu.
Termaktub pula dalam Tarikh al-Khulafa’, bahwa Raja Dinasti Abbasiyah, Al-Mutawakkil ‘Alallah, yang membabat Mu’tazilah dari lingkaran kuasa kerajaan, memiliki 4000 selir, dan semuanya pernah ia setubuhi.
***

Cerita itu hanya segelintir saja. Anda bisa membaca lebih banyak dan detail di buku as-Suyuthi itu. Saya menukil bagian-bagian yang kalau dalam pandangan sekarang jelas itu akan disebut penyimpangan seksual. Terbayangkan bahwa bila perilaku pemimpin negara itu terjadi kini, niscaya pemberontakan rakyat adalah hal yang terelakkan. Kisah tentang bagaimana para khalifah itu menumpas lawan politiknya lebih kejam. Pembunuhan ulama yang bersikap oposisional terhadap penguasa adalah hal yang lazim terjadi. Dari sisi kesantunan politik dalam melawan para oposan, yakinlah bahwa Indonesia ini masih lebih baik dari kenyataan riil sejarah khilafah.
Pernyataanya: mengapa cerita-cerita itu tidak populer? Dugaan saya, itu tak lepas dari watak lazim propaganda dan watak pembacaan kebanyakan muslim terhadap sejarah agamanya sendiri: buku-buku populer cenderung menuliskan apa yang ingin dibaca oleh pembacanya.

~ Kotagede, 20/10/2013
Sumber: http://azisaf.wordpress.com/2013/10/20/cherry-picking-khilafah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s