Generasi Galau

Kontroversi hari Valentine selalu berulang tiap tahun. Ada yang menyambut gembira, ada juga yang menolak perayaan hari kasih sayang itu. Teman saya menolak keras perayaan hari Valentine. Dasar penolakannya bukan karena dalil agama, melainkan karena dia jomblo. Menurut dia, kasih sayang itu merupakan pelanggaran berat HAM alias Hak Asasi Menjomblo. Bagi kaum jomblo, tanggal 14 Februari bukanlah hari kasih sayang, melainkan hari penyiksaan.
Jomblo adalah sebutan untuk seseorang yang belum punya pasangan. Ada juga yang memberikan julukan orang menjomblo dengan sebutan duafa cinta. Jomblo sering dihubungkan dengan kata galau. Penyebabnya adalah seseorang yang menjomblo hatinya tak menentu, sehingga menimbulkan perasaan galau. Ketika melihat sepasang kekasih jalan berdua, langsung galau. Nonton film India, langsung galau.
Dengerin musik melow, langsung galau. Apalagi terima undangan pernikahan, langsung super-galau sambil mikir, “ngasih angpau berapa ya?”
Sekarang ini virus galau tidak hanya melanda kaum jomblo, tapi juga melanda banyak orang. Bisa jadi inilah penyebab acara-acara penuh joget seperti YKS alias Yuk Keep Smile menjamur. Anak-anak remaja menghibur diri dengan menjadi penonton tayangan musik pagi hari yang diselingi candaan sehari-hari pembawa acaranya.
Dari masa ke masa, istilah terhadap sebuah generasi berubah. Dulu dikenal istilah generasi bunga, kemudian muncul generasi X yang dilanjutkan dengan generasi Y. Sekarang populer istilah generasi Flux. Saya mengutip tulisan Rene Suhardono tentang generasi Flux. Rene menulis, berbeda dengan Gen-X atau Gen-Y yang bersifat demografis, Gen-Flux cenderung psikografis. Lebih lanjut Rene menuliskan, Gen-Flux tidak terbebani keharusan punya sebutan karyawan, freelancer, konsultan, atau entrepreneur, semua julukan itu sama sekali tidak penting. Dari tulisan Rene, saya menyimpulkan Gen-Flux adalah generasi anti-galau. Kenyataannya justru kita masuk pada era generasi galau. Fenomena ini kalau dipikirkan malah membuat kita ikut-ikutan galau.
Penyebab munculnya generasi galau sebenarnya berhubungan erat dengan persoalan bangsa yang belum bisa diatasi pemerintah. Kenaikan harga BBM, kenaikan harga elpiji, listrik yang masih suka padam di beberapa wilayah, misteri impor beras Vietnam, dan berbagai masalah yang bikin galau lainnya. Presiden SBY menyadari betul bahwa dia belum bisa mengatasi sepenuhnya rasa galau ini dengan kebijakan yang tepat karena Presiden SBY sendiri juga dirundung galau oleh berbagai persoalan internal partai Demokrat yang dipimpinnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menghibur dengan tweet motivasi melalui akun Twitter @SBYudhoyono.
Untuk membawa generasi galau menjadi generasi Flux yang penuh keoptimisan dan jauh dari galau, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang bisa menawarkan solusi anti-galau. Namun kehadiran pemimpin yang bisa mengobati rasa galau ini belum terlihat. Prabowo, Dahlan Iskan, Yusril Ihza Mahendra, dan sejumlah calon presiden lainya masih galau menanti kepastian secara resmi maju sebagai calon Presiden. Jokowi, yang dijagokan sebagai calon presiden, masih galau menunggu restu Bu Mega. Sedangkan Bu Mega masih galau untuk memutuskan maju atau memberikan kepada Jokowi.

Iwel Sastra; Komedian
TEMPO.CO; 14 Februari 2014
Sumber: http://budisansblog.blogspot.com/2014/02/generasi-galau.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s