Mitos Kekerasan Agama

Ketika pekan lalu peperangan terjadi (kembali) antara Israel dan Hamas (Palestina), banyak orang berdiskusi mengenai akar-akar kekerasan agama. Logikanya, wilayah yang didiami Israel dan Palestina selalu jadi hot spot peperangan, karena di sana ada banyak orang masih percaya pada agama: umat Yahudi di satu pihak dan kaum Muslim di pihak lain.
Disebutkan juga bahwa konflik ini sangat mengkhawatirkan karena tiga alasan. Pertama, janji kesyahidan dalam agama-agama mempersulit kesediaan mereka yang terlibat untuk melakukan bergaining dan menahan-diri (deterrence). Kedua, perang-perang saudara yang disulut agama lebih mematikan, membawa kerusakan lebih buruk dibanding perang-perang yang diakibatkan alasan-alasan lain. Dan ketiga, kekerasan yang ditopang argumen agama cenderung mencampuradukkan otoritas temporal dan religius, yang pada ujungnya cenderung melahirkan bentuk-bentuk pemerintahan yang otoritarian.
Argumen di atas kurang meyakinkan. Bahkan, sama sekali tak masuk akal. Demikian juga akibat yang dibayangkan. Alasannya sederhana: jika kekerasan itu melekat pada dan merupakan bagian esensial dari agama, maka order tidak akan ada di dunia ini, karena ada begitu banyak orang masih beragama. Jika argumen di atas betul, yang ada hanya anarchy, kekacauan.
Kenyataannya, peperangan karena alasan agama (hanya) terjadi pada masa-masa tertentu dan di tempat-tempat tertentu. Agar argumen meyakinkan, variasi di dalam place dan timeitu harus bisa dijelaskan.
Jika soal variasi ini diperhatikan, yang normal terjadi malah bukan peperangan antar-agama, melainkan hubungan damai di antara (para pemeluk) agama. Atau peperangan di antara sesama pemeluk agama yang sama.
Jika benar Timur Tengah terbakar karena faktor umat Yahudi (Israel) dan Islam (Palestina), mengapa perang yang sama tak terjadi antara Israel dan Mesir? Mengapa pula peperangan di antara Israel dan Pelstina hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, dan tidak terus-menerus dan habis-habisan sehingga salah satu pihak musnah, misalnya?
***

Saya tidak sedang menolak peran yang dimainkan agamawan dalam konflik kekerasan. Hanya saja, kita perlu hati-hati dalam menekankan satu argumen dan tidak gebyah-uyah. Salah-salah kita sedang melakukan stigmatisasi tertentu terhadap agama.
Saya jadi teringat William T. Cavanaugh, Profesor Teologi pada Universitas St. Thomas, Minnesota, Amerika Serikat, yang pada 2009 menerbitkan buku berjudul The Myth of Religious Violence. Karena argumennya yang kontroversial, bahwa kekerasan agama itu mitos, buku ini memancing perdebatan hangat di kalanganh aktivis dan akademisi.
Yang dimaksudnya dengan mitos kekerasan agama adalah “gagasan bahwa agama adalah segi-segi kehidupan manusia yang transhistoris dan transkultural – yang secara esensial berbeda dari segi-segi kehidupan manusia yang ‘sekular’ seperti politik dan ekonomi – dan yang punya kecenderungan berbahaya mempromosikan kekerasan.” Karena gagasan ini, agama harus dikerangkeng dengan membatasi aksesnya ke ruang publik. Di sini negara-bangsa (nation-state) yang sekular tampil sebagai sesuatu yang seakan-akan natural, sejalan dengan kebenaran yang dianggap universal dan abadi mengenai bahaya inheren agama.
Kata Cavanaugh, pandangan ini tak didukung fakta-fakta sejarah. Misalnya, pada peristiwa “Perang Agama” di Abad Pertengahan, ada banyak contoh di mana terjadi kerjasama antara umat Katolik dan Protestan. Sebaliknya, ditemukan kasus-kasus di mana peperangan justru terjadi di antara pemeluk satu agama yang sama. Dalam “Perang 30 Tahun”, separoh masa perang itu berlangsung antara umat Katolik Perancis dan umat Katolik Habsburg.
Cavanaugh lebih memandang peperangan di atas sebagai “perang-perang di masa-masa awal pembentukan negara Eropa modern,” dan bukan “perang agama” per se. Yang terjadi kala itu adalah pindahnya apa yang dipandang sebagai “yang suci” dari gereja ke negara: ketika orang bersedia membunuh bukan karena tafsir tertentu atas Alkitab, tapi karena ketundukan mereka kepada Perancis dan raja-rajanya. Di sini raja-raja, seperti dikatakan Jacques Bossuet, “juga adalah tuhan dan sama independennya dengan tuhan.”
Fakta ini juga yang tampil menonjol ketika negara liberal berkembang pada abad ke-18 dan ke-19. Nasionalisme menandaskan, loyalitas kini tak diberikan kepada gereja, tapi kepada negara-bangsa. Lewat mitos kekerasan agama, kata Cavanaugh, yang berkembang adalah pandangan bahwa kita sudah bisa mengatasi kekerasan. “Yang benar, alih-alih membunuh demi Yesus, kita kini membunuh demi bendera dan bangsa dan kebebasan dan minyak.”
Mitos kekerasan agama juga dibangun di atas pandangan bahwa ada perbedaan yang tegas antara “yang sekular” dan “yang religius”. Masalahnya, pemisahan tegas itu tidak ada. Nasionalisme, misalnya, sering disebut sebagai fenomena sekular. Tapi banyak sarjana yang belakangan menolak pandangan ini. Misalnya Robert Bellah dengan gagasannya tentang “civil religion” di Amerika.
“Mitos kekerasan agama”, kata Cavanaugh, terus bertahan hingga kini. Dalam kebijakan luar negeri, mitos itu sering digunakan untuk membenarkan aksi-aksi kekerasan terhadap para aktor agama, khususnya Muslim. Logikanya: karena mereka belum belajar memisahkan agama dari politik, maka kita terpaksa membom mereka agar mereka beralih ke liberalisme.
***

Pandangan Cavanaugh di atas mengandung wawasan baru dan segar tentang hubungan antara agama dan kekerasan. Pandangan itu menuntut kita untuk lebih peka pada aspek-aspek tertentu dari agama, juga yang lainnya seperti kepentingan politik, yang bisa digunakan aktornya untuk memancing peperangan. Dengan begitu, kita juga disadarkan kepada aspek-aspek agama lainnya yang seharusnya menjadi sumberdaya perdamaian.
Ini bukan omong kosong. Dalam sejarah kita bisa dengan mudah menemukan nama-nama orang yang menjadi pioner perdamaian karena panggilan agamanya. Sebut saja Gandhi, Ibu Theresa, Martin Luther, atau Malcolm X.
Kedua, pandangan itu juga menuntut kita untuk lebih jeli di dalam melihat sisi-sisi gelap dari pemanfaatan ideologi apa saja untuk kepentingan politik. Ideologi itu bisa bersumber dari agama tertentu atau bukan. Bukankah salah satu malapetaka kemanusiaan terbesar abad lalu, yakni Holocaust, bersumber pada ideologi politik yang membenci agama?
Dengan begitu, kita tidak memberi stigma tertentu kepada agama sebagai biang keladi kekerasan. Tapi kita justru memberi peluang bagi agamawan untuk tampil dengan tawaran-tawarannya yang mempromosikan perdamaian.***

Ihsan Ali-Fauzi (@ihsan_AF) adalah Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, dan staf pengajar pada Universitas Paramadina, Jakarta.
Kolom Mizandotcom (28 November 2012)
Sumber: http://forummuda.com/index.php?option=com_content&view=article&id=191:mitos-kekerasan-agama&catid=38:opini&Itemid=60

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s