Rumahku Surgaku

Suatu ketika, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda,”Baiti jannati, rumahku surgaku.” Dan, aku meyakini bahwa surga itu berada di hatiku, hatimu, dan hati setiap manusia. Setiap kita. Dan kebahagiaan berumah di hati kita. Ia hidup tenteram di dalamnya. Hidup tanpa rasa sedih dan khawatir. Hidup untuk merindukan dan mencintai Allah. Jika kebahagiaan adalah ayah dan kedamaian sebagai ibunya, dari kedua sejoli itu lahir anak-anak yang menghidupkan rumah hati.
Anak-anak itu bernama ketenangan, kesabaran, keberserahan, dan keteguhan. Satu dengan lainnya saling mencakup dan mencukupi. Di dalam ketenangan, terkandung kesabaran, keberserahan, dan keteguhan. Kesabaran diliputi oleh ketenangan, keberserahan, dan keteguhan. Ketenangan, kesabaran, dan keteguhan menaungi keberserahan. Keberserahan merupakan kebersatuan antara ketenangan, kesabaran, dan keteguhan. Anak-anak itu tumbuh.
Jika manusia adalah raja, pemimpin bagi dirinya sendiri maupun semesta di luar dirinya, ia harus mengenal jiwa raganya dengan baik. Dikategorikan dalam empat pokok; manusia terdiri atas kepala, dada, kemaluan, dan kaki. Di dalam kepala terdapat akal, di dalam dada hiduplah hati, di dalam kemaluan bersemayam birahi, dan kaki membawa seluruhnya ke mana-mana. Ya, kaki-lah yang ke mana-mana, dan seluruh bagian di atasnya berada di mana-mana, mengikuti perginya kaki.
Mata kaki menyusuri jalan, mata kepala memilih arah, dan mata hati yang menentukan tujuan. Kemaluan menjadi satu-satunya yang tidak memiliki mata; secara harfiah maupun maknawiyah. Kepala laksana Bait al Makmur atau rumah di mana keramaian berlangsung, di mana pikiran-pikiran berkecamuk. Dada bagai Bait al Muharram atau rumah di mana larangan ditetapkan, di mana tiada yang diizinkan tinggal kecuali segala yang berasal dari benih Cinta.
Kemaluan serupa Bait al Muqaddas atau rumah di mana kesucian dijaga, sehingga tiada yang diperkenankan masuk kecuali yang telah bersuci dan dipersucikan. Sedangkan kaki menjadi simbol kebebasan, kemerdekaan, keluasan, keleluasaan, untuk tetap berada di dalam rumah atau keluar dari rumah. Kaki seumpama Isra atau perjalanan. Jika manusia adalah raja, kepala adalah mahkota, dada adalah singgasana, kemaluan kehormatannya, dan kaki merupakan kekuasaan.
Meski membawa raga-jiwa di atasnya ke mana-mana, kaki tidak pernah salah tidak bisa pula dipersalahkan atas segala hal. Kaki hanyalah digerakkan oleh tiga sentral utama manusia itu. Kemaluan bisa menggerakkan kaki untuk menerabas wilayah yang bukan hak. Wajar jika kemudian muncul idiom tidak menggunakan akal, pun tidak memakai hati, terhadap suatu perilaku yang menyimpang dari kewajaran. Alangkah mengerikan jika kendali diri terlepas dari hati, dari tombol utama.
Hati adalah rumah dari mana kita berangkat dan ke mana kita kelak pulang. Cinta adalah bibit segala hal yang menghuni hati, yang darinya tercipta kebahagiaan dan kedamaian, yang beranak-pinak ketenangan, kesabaran, keberserahan, dan keteguhan. Bibit ini dibuang ke mana pun, disirami atau tidak, ia tumbuh menjadi tanaman yang menyejukkan, mengayomi, bermanfaat, dan kokoh. Sedangkan dalam akal, benci menjadi bibit beraneka penghuni di sana.
Manusia disempurnakan dengan akal, di mana kebencian membibit di sana, agar Cinta terus menumbuhkan sumbu supaya api tidak tandas dan akhirnya berhenti menyala. Pun ibarat keluarga, kebencian adalah ayah, permusuhan merupakan ibu, dan anak-anak mereka adalah dusta, ingkar, khianat, dan dzalim. Satu keluarga itu menetap di akal manusia; menjelma pikiran untuk membenci, memusuhi, mendustai, mengingkari, mengkhianati, dan mendzalimi. Ramai sekali berkecamuk.
Khusyu’ berada di hati. Shalat pun demi menghidupkan hati. Arsy juga dimaknai sebagai singgasana. Dan, singgasana itu adalah hati. Suatu ketika, Muhammad SAW bersabda,” Shalat adalah mikraj bagi orang-orang yang beriman.” Alangkah indah jika raga-jiwa digerakkan transendan oleh dada yang di dalamnya hidup hati yang tenteram, menuju Kesejatian. Apalagi Muhammad SAW berpesan,” Mintalah fatwa kepada hatimu.” Maka, marilah mulai mendengarkan kata hati. []

Candra Malik, Penulis Lagu dan Buku, serta Pengampu Program Rumah Hati di TV 9 Surabaya.
Sumber: http://m.candramalik.com/read/rumahku-surgaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s