Wahib dan Pahlawan

TEMPO.CO, Jakarta – Di Hari Pahlawan kemarin, ketika sejumlah fragmen dalam perang kemerdekaan ditayangkan di televisi, ingatan saya justru tertuju pada almarhum Ahmad Wahib. Kebetulan, mantan wartawan Tempo yang meninggal muda itu lahir pada 9 November, satu hari sebelum Hari Pahlawan. Jika masih hidup, usianya akan 70 tahun.
Semoga tak ada yang salah dengan jalan ingatan saya itu, dan mudah-mudahan tak ada yang tersinggung. Saya hanya tak suka akan kebiasaan kita mengidentikkan pahlawan dengan peristiwa perang, di mana seseorang, biasanya laki-laki, yang “gagah berani” wafat dalam satu “medan pertempuran”, dan kita mengenangnya sebagai pahlawan.
Ketika kita meletakkan nilai kepahlawanan pada peristiwa kekerasan yang kolosal seperti perang, kita diam-diam juga sedang mempersempit ruang bagi lebih banyak pahlawan, yang sebenarnya terus kita butuhkan. Apakah “orang besar” tak mungkin hadir di masa damai? Bukankah sumbangan seseorang harus dilihat dari apa sumber daya yang ada padanya dan apa tantangan serta hambatan yang dihadapinya?
Selain itu, kita perlu ingat peringatan Thomas Carlyle mengenai perilaku menyembah pahlawan (hero-worship). Itu ketika kita mengagungkan tindakan seseorang di momen tertentu yang terbatas, sambil melupakan kiprah totalnya sebagai manusia. Ketika kita seperti tak mau tahu fakta bahwa, seperti ditunjukkan Karlina Supelli baru-baru ini (2013), Bung Karno yang hebat di depan massa adalah juga Bung Karno yang payah ketika berhadapan dengan banyak perempuan.
Maka, pada Hari Pahlawan lalu, ketika Presiden SBY saya saksikan di televisi sedang memimpin upacara di Taman Makam Pahlawan Kalibata, saya dengan gembira mengenang Wahib. Itu bukan karena saya, seperti banyak orang lain, tahu bahwa tak semua orang yang dikubur di makam dengan nama keren itu layak disebut pahlawan (sebagiannya mungkin penjahat). Melainkan, itu karena pada Wahib saya menemukan banyak hal yang membantu saya menjalani hidup ini sebagai orang biasa, seperti kebanyakan orang lain-di sini dan sekarang ini.
Sosok Wahib sendiri jauh dari heroik dalam makna yang sering kita pahami. Dari hanya satu lembar foto yang terwariskan kepada kita, hasil jepretan wartawan Tempo, kita bisa melihat tampangnya yang ndeso dan merasakan keluguannya yang tak tertutupi. Dan alih-alih di medan perang, dia wafat tertabrak sepeda motor sepulang dari berburu berita di tengah malam Jakarta yang kala itu, awal 1970-an, pasti masih sepi.
Saya mengenalnya lewat buku Pergolakan Pemikiran Islam, berisi catatan-catatan hariannya yang dikumpulkan kawan-kawannya dan terbit pada 1981. Ketika membacanya pertama kali, pada tahun-tahun pertama masa mahasiswa, padanya saya temukan banyak ungkapan yang ingin sekali saya katakan tapi tak menemukan rumusan yang pas. Momen-momen itu menyerupai saat-saat ketika Archimedes berkata, “Eureka!”
Belakangan, tiap kali kembali saya membaca Wahib, tiap kali itu pula saya rasakan kekuatan daya panggil dan inspirasinya. Pada 9 Juni 1969, dia misalnya menulis: “Tuhan, aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik.” Membacanya, saya segera terbebaskan dari merasa lebih rendah dari mereka yang mengaku paling dekat dengan Tuhan dan hendak mendominasi-Nya sambil mengebiri akses orang lain kepada-Nya.
Di tempat-tempat lain, catatan-catatan Wahib berisi renungan-renungan yang kala itu mudah saya akses karena bahasanya yang langsung, terus terang, tapi juga mendalam. Pada 18 Mei 1969, dia menulis: “Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku padamu akan pulih kembali.” Apa yang kurang religius tapi juga filosofis dari pernyataan ini?
Pertama kali membaca Wahib, saya merasa dia sedang bicara kepada saya. Dia seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan yang saya ajukan, tapi menawarkan jawaban-jawaban yang jauh dari mendikte saya. Dan karena wawasannya yang luas, sikapnya yang terbuka, kesediaannya untuk terus bertanya, dan kengototannya untuk memiliki pilihan yang mandiri, dia menjadi sumber ilham yang tak pernah habis saya gali.
Pada Wahib, saya menemukan sosok pahlawan saya, meski dia sendiri pasti tak mau disebut pahlawan. Mungkin seperti baru-baru ini Edward Snowden, mantan pekerja CIA dan NASA yang membongkar kebiasaan mantan bosnya memata-matai orang lain yang dipandang berbahaya, emoh disebut pahlawan karena jasanya itu. Katanya, itu dia lakukan untuk kepentingannya sendiri: “Saya tak mau hidup di dunia di mana tidak ada privacy dan karenanya tidak ada ruang bagi eksplorasi dan kreativitas intelektual.”
Di tengah Indonesia yang makin sok suci dan munafik, Wahib menjadi salah satu idola saya-dulu dan sekarang. Saya tak perlu mengkultuskannya, menjadikannya pahlawan, karena dia sendiri mengharamkannya. Membacanya, saya seperti terselamatkan dari merasa diri paling suci, paling Islami, dan paling benar, dengan kewajiban memaksakan kebenaran-kebenaran itu kepada pihak lain.

Rabu, 13 November 2013 | 03:41 WIB | Koran Tempo, Hlm. 14
Sumber: http://forummuda.com/index.php?option=com_content&view=article&id=210:wahib-dan-pahlawan&catid=38:opini&Itemid=60

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s