Miss World

Meski dipindahkan ke Bali, akhirnya kompetisi Miss World jalan juga. Ancam-mengancam, rupanya, masih mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Padahal, beberapa hari lalu pergelaran musik Metallica bisa berjalan aman, berbarengan dengan pawai akbar ulang tahun Front Pembela Islam (FPI).
Hari itu di Jakarta hanya ada dua warna. Yang satu berjubah putih dan satu lagi berkaus hitam menghibur diri.
Ribuan remaja putri Jakarta yang sudah lama menunggu untuk menyaksikan ajang kompetisi itu di Jakarta tentu kecewa. Demikian juga ormas yang sudah siap menyerang. Maklum, ongkos orang-orang Jakarta untuk buat ribut di Bali terlalu mahal. Sudah begitu, beberapa tokoh Bali sudah bersiaga. Di media sosial, saya membaca ulasan Putu Setia.
Putu menulis, kontes itu sudah mendapat restu dari Jero Gede Suwena, ketua Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali. Harap maklum, MUDP membawahkan ribuan pecalang (petugas keamanan desa adat). ”Rasanya tak mungkin FPI datang ke Bali dan main uber-uberan???,” tulisnya.
Jadilah ajang itu berita dunia. Tetapi, bukan soal Miss World-nya, melainkan soal ”uber-uberan” dan gontok-gontokan tersebut. Kalau Anda baca berita yang ditulis media-media asing, jelas apa yang terjadi di sini menjadi perhatian dunia. Tidak pasti, tetapi akhirnya pasti juga.
Ada Miss World, ada Miss Universe, dan tentu saja ada banyak ajang kompetisi global lain yang menarik perhatian dunia. Jangankan pemilihan putri cantik, penetapan lokasi adanya keajaiban dunia saja seperti Pulau Komodo selalu menarik perhatian dunia.
Dunia tengah bergulir menuju kontes-kontes kamera dan beralih penampilan fisik-physical appearance (cameragenic) kepada kemampuan memesona dalam berinteraksi (auragenic).
Adalah keliru menyuarakan kontes-kontes kecantikan dengan pameran maksiat, apalagi bila kita hanya berfokus pada, maaf, bentuk tubuh, ukuran buah dada, bentuk tubuh bagian belakang, dan seterusnya. Tak jugakah kita membuka mata bahwa Britain’s Gots Talent telah mampu melahirkan penyanyi Susan Boyle, 47, yang jauh dari seksi, bahkan tambun dan lebih cocok menjadi nenek kita? Hanya kitalah yang masih memilih ”goyang itik”, ”ngebor”, dan ”ting-ting” yang berkonotasi negatif.
Kita juga tengah bergeser dari capres yang ganteng ke capres-capres yang genuine, lincah, dinamis, dan berani menghadapi risiko. Kita juga menyaksikan audience TV mulai lebih suka melihat mereka yang tidak tampan namun authentics seperti Slank, Uya Kuya, Tukul Arwana, atau bahkan Azis dan Sule. Di sini dan di seluruh dunia di mana pun manusia tengah beralih, dari melihat fisik menjadi melihat kejujuran, kesejatian, keaslian, serta keanggunan.
Membaca arah audience adalah bisnis. Ajang Miss World sama dengan ajang menampilkan grup-grup band. Motifnya hanya satu: bisnis. Serang-menyerang, ancam-mengancam, meski dibalut serban agama, mohon maaf, itu juga bermotif sama saja: bisnis.
Saya masih ingat saat mahasiswa saya, seorang polisi bintang satu, mengatakan alasan di balik keributan penolakan kehadiran pergelaran Lady Gaga di sini. Semua mahasiswa mengajukan alasan moral dan agama. Tetapi, polisi senior itu dengan berani menunjukkan fakta-fakta bahwa semua itu berawal dari kurangnya ”sesajen”. Panitia penyelenggara tidak bisa memenuhi keinginan para penekan sehingga kesepakatan pun gagal.
Sebuah gerai modern yang buka 24 jam tahun lalu juga banyak diberitakan menjual miras sehingga didemo berulang-ulang oleh ormas beserban agama. Belakangan, demo itu hilang sendiri. Sewaktu saya tanya, pemilik gerai waralaba tersebut mengatakan, ”Sudah kami selesaikan.” Mereka ternyata hanya meminta jatah lahan parkir. Itu sedikit merepotkan karena sebelumnya ada kelompok ormas lain yang mendapat jatah di lokasi lain.
Di luar negeri, ajang Miss World dan Miss Universe adalah ajang bisnis. Ketika jutaan mata memandang, di situ ada kontrak iklan, sponsor produk, kontrak artis jangka panjang, nilai besar yang harus dibayar penyelenggara lokal, dan sebagainya.
Seorang mantan Putri Indonesia yang baru pulang dari kontes Miss Universe di luar negeri bercerita, bagaimana mungkin dirinya bisa menang kalau panitia lokal tidak berani ”deal bisnis” dengan Donald Trump? ”Sejak awal saya sudah melihat ke mana arah mata pemilik program dan dialah pemenangnya,” ujarnya.
Ketika semua orang membanding-bandingkan kecantikan dan kecerdasan, kita lupa bahwa di balik semua itu ada orang yang meng­ambil keputusan mutlak. Mereka juga punya deal bisnis dengan para manajer yang bisa menjanjikan kontrak-kontrak besar. ”Cantik”, sama dengan ”pintar”, bisa direkayasa karena semua ada di benak orang dan sugestinya bisa dibuat melalui televisi serta media sosial. Demikian pula, kesan religius bisa direkayasa.
Tetapi, satu hal yang sering dilupakan, dunia pun tidak gelap-gelap amat. Mata batin tidak pernah tidur dan ”aura” tak bisa direkayasa. Auragenic adalah sesuatu yang original, yang membuat kita paham siapa juara yang sebenarnya dan siapa yang beragama dalam arti yang sebenarnya. Siapa saja yang benar-benar menjalankan prinsip-prinsip moralitas. Biasanya, semakin luas ancaman disuarakan, semakin jelas motif di belakangnya.
Indonesia perlu lebih berani melawan tekanan-tekanan bisnis yang dibungkus simbol agama. Indonesia juga harus lebih berani melihat motif-motif ekonomi di balik semua kepentingan. Seperti kata Tim Burton, ”One person’s craziness is another person’s reality”.

Rhenald Kasali; Guru Besar FEUI; Pendiri Rumah Perubahan
JAWA POS, 11 September 2013
Sumber: http://budisansblog.blogspot.com/2013/09/miss-world.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s