”Hidup Tak Usah Pethenthengan …”

DALAM diri setiap insan terdapat pelita. Pelita yang terbungkus kaca itu bagaikan bintang cemerlang. ”Dengan kita terus beramal, cahaya dalam diri itu semakin cemerlang. Meski negara kita begini, kita tetap tersenyum mengharap rida Allah,” ungkap KHA Mustofa Bisri saat memberikan siraman rohani di Masjid Sultan Agung Unissula, Rabu (8/1).
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Tholibien Rembang itu hadir dalam pengajian umum yang digelar Lembaga Kajian dan Penerapan Nilai-nilai Islam (LKPI) Unissula. Kegiatan yang dihadiri civitas akademica kampus itu, Gus Mus (panggilan Mustofa Bisri) didampingi Pembantu Rektor III Machfudz Ali SH MSi.
Bagaimana cara memperbesar nyala pelita itu? ”Bersyukur di hadapan Allah. Kita tinggal di bumi yang ibarat hanya sebesar butiran kacang hijau. Tidak usah pethenthengan. Mari kita isi dengan perbuatan yang menyenangkan dan disenangi Allah SWT, tidak usah neka-neka,” ujar Gus Mus yang juga cerpenis itu.
Walaupun manusia di bumi 5 miliar jiwa, bila Gusti Allah ngersakake, maka kacang hijau itu tinggal dipijit sekali saja. Dia mengaku gemas terhadap orang-orang yang hidup di kacang hijau itu berlaku sewenang-wenang, sombong, dan tidak berperilaku yang menyenangkan Allah SWT.
Menyinggung perilaku manusia di dunia yang nganeh-anehi, Gus Mus mencontohkan Tuhan memberi keistimewaan dengan memberi dua kali Idul Fitri. ”Kita seharusnya bersyukur, di negara lain hanya diberi satu hari raya. Namun mengapa malah tukaran (bertengkar-Red).”
Meski demikian, secara berseloroh dia mengungkapkan, Yang di Atas maklum sekali, begitulah sifat orang-orang yang suka pethenthengan. Tidak bersikap samadya atas karunia yang telah diberikan.

Nikmatnya Bala
Dia menyatakan Islam itu sebagai wasilah (perantara) dan bukan gayah (tujuan akhir). Untuk mencapai tujuan akhir itu, lanjutnya, manusia harus bersyukur kepada-Nya lewat tuntunan-tuntunan agama.
”Saya Islam dulu baru menyenangkan Allah untuk tujuan akhir.”
Belakangan banyak partai yang didirikan menjelang Pemilu 2004. Namun, orang masuk organisasi bukan sebagai tujuan akhir.
”Bukan lewat PKB, PPP, PKU. Bila NU itu menjadi tujuan akhir, maka kita akan menganggap orang yang bukan NU itu bukan Islam. Demikian dengan Muhammadiyah atau yang lain.” Menjaga hubungan berkasih-kasihan dengan Allah SWT itu yang lebih diutamakan.
Karena itu, melalui amar makruf nahi mungkar lebih mengendepankan bala (teman). Sebagai kekasih harus mengajak orang menuju ke jalan yang diridai Allah.
Bila sudah sehati, tidak akan sungkan-sungkan mengingatkan agar senantiasa beribadah hanya kepada-Nya. Sebaliknya, orang yang bukan bala enggan mengajak kepada kebaikan.(Agus Toto W-60j)

Suara Merdeka, Kamis, 9 Januari 2003
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0301/09/nas17.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s