Ibarate Mampir Ngombe

‘Tiba-tiba’ kita sudah sampai Ramadan lagi, padahal Ramadan yang lalu rasanya baru kemarin. Kelihatannya cuma sebentar, padahal sudah menghabiskan umur kita sekitar 12×30 hari.
DULU di setiap rumah orang Jawa, minimal yang saya ketahui, selalu ada sumur di depannya. Tujuannya jelas: agar orang yang kebetulan lewat bisa memanfaatkannya untuk menumpang mencuci muka, mencuci kaki, atau bahkan mandi. Juga ada kebiasan umum, menaruh kendi-kendi di depan rumah yang tujuannya juga jelas: agar bisa sedikit membantu pejalan yang kehausan. Pejalan yang haus, apalagi yang kebetulan tak punya cukup uang, bisa berhenti singgah sebentar untuk minum dari kendi-kendi itu, lalu meneruskan perjalanannya kembali.
Dari sinilah mungkin lahir ungkapan Jawa, mampir ngombe, singgah minum. Seperti kita ketahui-meski mungkin banyak yang sudah tidak mengingat-ingatnya lagi- leluhur Jawa mempunyai ungkapan bijak: Urip ning alam ndonya iki ibarate namung mampir ngombe. Hidup di dunia ini ibaratnya hanyalah singgah minum. Dalam perjalanan menuju tujuan, berapa lama sih waktu yang kita perlukan untuk berhenti mampir minum seteguk dua teguk air kendi? Ya, begitu cepat, nyaris tak terasa.
Lihatlah, ‘tiba-tiba’ kita sudah sampai Ramadan lagi, padahal Ramadan yang lalu rasanya baru kemarin. Kelihatannya cuma sebentar, padahal sudah menghabiskan umur kita sekitar 12×30 hari. Mungkin di antara saudara-saudara, kawan-kawan, atau kenalan-kenalan kita yang bersama-sama kita menjalankan puasa pada Ramadan kemarin, ada yang sudah tidak menangi Ramadan kali ini. Sudah melanjutkan perjalanannya. Kita yang masih berhenti singgah minum, akankah selamanya kita terpaku di sini menunggui kendi-kendi minum?
Setiap kali Ramadan datang dengan suasananya yang khas, kita seperti hanya terperangah sebentar. Sebentar menikmati dengan sepenuh jiwa-raga kekhidmatannya atau dengan agak terpaksa, lalu kehidupan kita jalani kembali seperti biasa, seolah-olah anugerah Ramadan tak meninggalkan bekas dalam diri kita, seperti orang yang nglilir sebentar dari kelelapan tidur, membaca-baca atau sekadar menguap sebentar, lalu pulas kembali. Seperti mereka yang biasa ‘buka-bukaan’ di TV, tertutup sebentar, lalu kembali telanjang.
Memang bulan suci Ramadan membawa kita kepada suasana ukhrawi yang merupakan aroma kesucian di mana-mana. Salat tarawih dan witir, tadarus Quran, khotbah-khotbah keagamaan, dan kegiatan-kegiatan lain yang mengingatkan kehidupan akhirat marak di mana-mana. Sikap kehati-hatian, khusyuk, santun, guyub, dan sikap-sikap kehambaan hamba yang lain, mendominasi tampilan hampir semua kaum muslimin. Namun hal itu, seperti hidup itu sendiri, hanya berjalan singkat.
Bila kita hitung benar, ternyata kita ini seperti orang linglung yang tak menghitung atau tak tahu hitungan saja. Orang sehat yang tidak linglung, akan mempersiapkan perjalanannya dan menghitung seberapa banyak dia memerlukan waktu dan sangu bagi perjalanannya itu. Orang Semarang yang sehat dan tidak linglung akan ke Jakarta, pasti tahu seberapa persiapan yang diperlukan. Ia pasti akan membawa sangu lebih dari yang dibawanya ketika sekadar pergi ke Kendal, misalnya. Dan dia akan mempersiapkan sangu yang lebih banyak lagi bila akan pergi ke luar negeri. Tapi coba kita hitung. Selama dan sejauh apa pun perjalanan hidup kita di dunia ini, mungkin tidak sampai melebihi 150 tahun. Bandingkan dengan kehidupan akhirat yang selama-lamanya. Berabad-abad sekalipun tak sebanding dengan selama-lamanya.
Marilah kita hitung. Kita dianugerahi Allah umur sehari sebanyak 24 jam. Berapa jamkah yang kita pergunakan untuk kehidupan dunia ini dan berapa jam atau menit saja untuk kehidupan akhirat? Berapa jam untuk memusingi kehidupan duniawiyah kita dan berapa jam untuk berzikir, misalnya? Dalam setahun, kita dianugerahi umur 12 bulan. Taruhlah sebulan, di bulan Ramadan ini, kita gunakan sepenuhnya untuk akhirat, sepadankah dengan 11 bulan jika seluruhnya kita gunakan hanya untuk menyibuki urusan duniawi? Kita tidak menghitung ataukah kita tidak tahu hitungan?
Urusan duniawi sangat menyita umur kita, jika kita tidak menyempatkan diri menghitung. Hanya menjalani begitu saja, ngglundung semprong, mengikuti pola dan gaya umum yang berlaku yang tak jelas siapa yang mendesainnya. Allah yang menciptakan kita, yang rida-Nya merupakan tujuan hidup kita, telah mengingatkan kita untuk mewaspadai dunia, kenikmatan yang menipu ini. Kenikmatan makan yang dikesankan dunia seperti langgeng, terbukti cuma sak klametan. Demikian pula kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya seperti kenikmatan perkelaminan, kedudukan, kekayaan, dan sebagainya. Kenikmatan dunia yang menipu itu bagaikan rokok bagi pencandu rokok; kenikmatan yang satu menggoda untuk menikmati kenikmatan berikutnya, demikian seterusnya, tak habis-habisnya, hingga umur kita tiba-tiba dihabiskannya. Padahal, kenyataan sedemikian mencolok memperlihatkan kepada kita bukti kepalsuan dan tipuannya. Berapa banyak lingkungan rusak akibat mengejar kenikmatan duniawi itu; berapa banyak ikatan persaudaraan kemanusiaan teretas olehnya; berapa banyak bencana diakibatkannya; dan seterusnya.
Bila kita menyadari sedikitnya alokasi waktu dan perhatian kita untuk kepentingan akhirat yang lebih abadi itu, sudah selayaknyalah kita menghitung ulang. Jangan seperti tabiat kita selama ini. Mengulang-ulang kesalahan kalkulasi dan sebagainya sepanjang hidup. Sudah selayaknya kita memperlakukan diri kita lebih layak. Dan kaitannya dengan bulan suci Ramadan ini, sudah selayaknya kita memperlakukannya lebih istimewa lagi. Misalnya, menggunakannya untuk merenung dan mengevaluasi diri. Mumpung suasananya kondusif untuk itu. Di 11 bulan yang lain, kita selalu berdalih sibuk, meski tak jelas sibuk apa; di bulan Ramadan ini kiranya kita lebih mempunyai kesempatan untuk melakukan ‘reformasi’ atas diri sendiri. Cukup sudah kita disibukkan dengan apa dan siapa saja di luar kita selama ini, marilah kita mulai memperhatikan, memikirkan, mengoreksi, dan memperbaiki diri kita sendiri. Kita hanya mampir ngombe, lo! Nah untuk keperluan itu, kiranya tak ada yang lebih tepat saatnya melebihi bulan suci Ramadan ini.
Selamat menghidupi dan menghidupkan Ramadan!

KHA Mustofa Bisri,Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang
Suara Merdeka, Selasa, 5 November 2002
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0211/05/nas6.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s