In Memoriam KH MC Amin Sholeh – Kiai yang Tak Neka-neka dan Sederhana

KETIKA masih nyantri di Lasem, Kiai Amin Sholeh tidak mondok di pesantren milik Kiai Baidlowi, tapi kiai sepuh karismatik itu menyuruhnya mulang di pesantrennya. Begitu kisah Kiai Maemoen Zubeir yang ketika itu sama-sama nyantri di Lasem saat memberi mau’idhah hasanah pada upacara pelepasan jenazah Rais NU Wilayah dan Ketua MUI Jawa Tengah itu di hadapan ribuan pelayat.
Mbah Baidlowi Lasem, bersama Mbah Maksum, adalah tokoh kiai sepuh yang sangat disegani, karena ilmu dan amaliahnya. Bahwa kiai yang sangat dihormati para kiai lain -tidak hanya di Jawa Tengah saja- itu meminta Kiai Amin (yang notabene waktu itu masih berstatus nyantri) untuk mengajar di pesantrennya, sudah bisa menunjukkan kapasitas keilmuan tokoh sederhana dari Bangsri itu.
Di banyak konferensi dan muktamar, dia selalu aktif mengikuti acara-acaranya. Biasanya dia selalu hadir dan berperan di arena Bahtsul Masail, majelis yang membahas pertanyaan-pertanyaan masyarakat. Di arena seperti itu, Kiai Amin kelihatan mencolok, karena vokal-nya dalam menyampaikan pendapat dan argumentasi.
Dia akan mempertahankan pendapatnya sesuai dengan hujjah yang dimilikinya. Namun dia tidak ngotot. Apabila ada kiai lain yang hujjah-nya dianggap lebih kuat, dengan kesatria kiai Amin akan mengakui dan mengikutinya. Boleh jadi karena kealiman dan ketelitiannya, dalam majelis-majelis seperti itu, kiai Amin hampir selalu ditunjuk sebagai salah satu tim perumus.
Kiai Amin adalah salah seorang putra Kiai Saleh yang sangat terkenal di kalangan ulama, terutama di Jawa Tengah. Namun tidak seperti kebanyakan putra kiai terkenal yang lain, Kiai Amin tidak pernah diceritakan mempunyai sikap yang neka-neka. Dia memang contoh kiai sederhana yang “lurus-lurus” saja. Attawassuth wal i’tidaal, sikap sederhana dan jejeg seperti digariskan Khittah Nahdlatul Ulama, dijalaninya secara murni dan konsekuen.
Kiai Amin yang pernah menjabat sebagai Kepala Pengadilan Agama dan hingga meninggal menjabat sebagai orang pertama di NU Wilayah dan di Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah, juga seorang tokoh yang tawaduk. Beliau sudi dengan sabar mendengarkan pendapat orang lain, meski datangnya dari orang-orang yang lebih muda.
Ketika penulis dan yang lain mendorong-dorongnya untuk memimpin NU Wilayah Jawa Tengah, dengan rendah hati dia mengatakan, “Kalau ada orang yang lain, sebaiknya jangan sayalah!”
Dan ketika ternyata semua orang tetap mendorongnya, lagi-lagi dengan rendah hati dia mengatakan, “Tapi nanti dibantu ya!” Beliau pun kemudian benar dipilih secara aklamasi dan pada berikutnya tetap dipercayai memimpin organisasi besar itu.
Tidak seperti kebanyakan pemimpin yang lain, Kiai Amin tidak hanya duduk-duduk saja di meja pimpinan sambil memberikan instruksi-instruksi. Tapi dia langsung terjun ke bawah, mendatangi umatnya dengan kesetiaan yang luar biasa. Kepada umatnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pendidikan akhlak dan menjawab tanda-tanda tanya yang akhir-akhir ini banyak meresahkan mereka.
Dan semua itu dia lakukan dengan kasih sayang yang membawa kesejukan dan ketenteraman. Salah satu ungkapannya yang masih diingat santri-santrinya adalah ucapannya yang dinyatakan dengan nada kelakar, “Lebih baik bodoh ketimbang pandai tapi tidak bermoral.”
Tidak jarang tokoh kita ini dalam melakukan khidmah kemasyarakatannya mengabaikan kondisi tubuhnya. Beberapa kali dia jatuh sakit karena kelelahan. Namun itu semua tidak menghalanginya untuk terus memberi manfaat kepada sesama.
Pendek kata bila kita ingin melihat sosok kiai pendahulu dari kalangan NU, kita bisa melihat melalui Kiai Amin Sholeh ini. Baik dalam segi kecintaannya kepada ilmu, dari akhlak dan perilakunya, kasih sayangnya kepada umat, maupun keistiqamahannya dalam berkhidmah.
Kini sosok kiai yang langka itu sudah pergi untuk selama-lamanya. Dia dipanggil Allah SWT dalam bulan rahmat penuh ampunan ini. Ketika kita justru sangat memerlukan pemimpin yang ikhlas dan berbudi seperti dia. NU merasa sangat kehilangan. MUI kehilangan. Kita semua kehilangan salah satu teladan pemimpin umat yang masih tersisa.
Semoga Allah menerima ruh Kiai Amin Sholeh dengan segala rahmat-Nya, mengampuni kesalahan-kesalahannya, dan menerima amal-amal salehnya serta Allah membalas dengan pahala berlipat ganda. Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu’anhu! Amin. Selamat Jalan Kiai Amin Sholeh! Berbahagialah!

KH A Mustofa Bisri, pengasuh pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang
Suara Merdeka, Sabtu, 23 November 2002
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0211/23/nas11.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s