J – A – B – A – T – A – N

MENURUT kamus, jabatan ialah pekerjaan (tugas) dalam pemerintahan atau organisasi. Jadi mestinya siapa pun yang bekerja (bertugas) baik dalam pemerintahan maupun organisasi bisa disebut pejabat. Namun menurut kamus, tidak. Pejabat mempunyai arti sendiri yang tidak persis berkaitan dengan kata ”jabatan”, yaitu ”pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur pimpinan)”. Jika lebih penting lagi, disebut pejabat tinggi, lebih tinggi lagi, disebut pejabat negara.
Karena itu dalam tulisan ini, istilah ”jabatan” digunakan hanya yang berkaitan dengan sebutan pejabat, yakni hanya berkaitan dengan pekerjaan atau tugas pemerintahan baik yang penting maupun yang lebih penting lagi. Sebab, jabatan dengan pengertian ini biasanya lebih menarik dan diminati oleh banyak penduduk bumi.
Jabatan memang suatu makhluk yang penting dan sekaligus aneh. Penting karena melalui dirinya, berbagai macam urusan orang (lengkapnya: urusan negara dan masyarakat) ditangani; berbagai anggaran negara disalurkan melaluinya atau kepada pemegangnya. Jabatan, sesuai dengan namanya, mengandung pengertian amanat dan tanggung jawab. La-zimnya, jabatan disebut memberi kepada pemegangnya (pejabat), dua hal: kewajiban dan hak. Karena itu, berbagai aturan pun dibuat untuk mendapatkan pemegang jabatan yang tepat dan menjaga agar pekerjaan atau tugas penting itu dilaksanakan dengan semestinya. Bahkan sebelum seorang pejabat menjabat, dilakukan penyumpahan segala.
Mengapa disebut aneh? Sebab, menilik penting dan besarnya tanggung jawab jabatan, semestinya banyak orang yang tidak berminat memegangnya, namun kenyataannya setiap jabatan bahkan yang paling kecil pun mengundang peminat yang membeludak. Apakah orang hanya tertarik kepada haknya saja, karena memang yang diketahui cuma itu ataukah karena jiwa kejuangan dan rasa tanggung jawab memang luar biasa di negeri ini? Kita sering menyaksikan pejabat menyelenggarakan tasyakuran karena ”mendapat” jabatan. Apakah dia itu mensyukuri hak ataukah mensyukuri amanat dan tanggung jawab yang dipercayakan ke pundaknya? Tentu yang paling tahu adalah dia sendiri.
Dewasa ini kita mendengar dan menyaksikan ramainya orang berbicara tentang jabatan penting mulai kepala negara hingga kepala daerah (hingga istilah pilkada pun mungkin sudah mengalahkan pil koplo). Ramainya pembicaraan mengenai hal ini, bisa diartikan meskipun saya masih sebatas berharap bahwa kesadaran dan rasa tanggung jawab serta kepedulian masyarakat terhadap negara dan daerah mereka memang sudah sangat tinggi. Demikian pula dengan fenomena banyaknya orang yang menawarkan atau mendaftarkan diri menjadi calon kepala negara atau kepala daerah, bisa kita artikan meskipun saya terus terang agak ragu bahwa para peminat itu semata-mata didorong oleh rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kemaslahatan negara dan daerah serta kesejahteraan rakyatnya.
Dengan berat saya harus mengatakan sejujurnya, saya agak ragu (kata ”agak” ini pun sudah berlebihan menutupi keterus-terangan saya); benarkah tanggung jawab terhadap kemaslahatan negara dan daerah serta kesejahteraan rakyat sudah sedemikian tinggi di negeri kita ini, sehingga banyak orang berlomba-lomba dan siap ”mengorbankan” diri bagi kemuliaan negara dan daerahnya sebagaimana pendahulu-pendahulu kita siap mengorbankan diri mereka bagi kemuliaan bangsa dan negara?
Bila para pendahulu kita membuktikan tekad mereka dengan amal perbuatan, maka dengan apakah para peminat jabatan saat ini hendak membuktikan tekad mereka? Apakah mereka akan membuktikan tekad mereka dengan menunjukkan kemampuan, pengetahuan, moral, progam, dan kasih sayang mereka terhadap rakyat, ataukah dengan mengerahkan para pendukung dan harta kekayaan mereka?
Juga para pendukung masing-masing calon, benarkah karena mereka melihat dan berani bersaksi terutama di hadapan Tuhan bahwa calon mereka adalah putra terbaik yang mampu membawa negara atau daerah ini jaya dan mengantarkan rakyatnya pada kesejahteraan?
Ataukah ada kepentingan-kepentingan sendiri yang akan di-nunutkan dalam pendukungannya terhadap calonnya itu?
Saya teringat pernah membaca, betapa Sayyidina Umar Ibn Khatthab yang begitu perkasa menangis tersedu-sedu ketika karibnya, Khalifah Abu Bakar Shiddiq, menunjuk dirinya sebagai calon pengganti sebagai khalifah.
”Jika Anda benar mencintaiku, wahai Khalifah, janganlah kau bebankan amanat sebesar itu ke pundakku!” Demikian kira-kira pinta sahabat Umar kepada seniornya itu. ”Masih banyak orang lain yang lebih mampu daripadaku.” Umar menangis di samping karena melihat beratnya tanggung jawab, juga terutama karena membayangkan kerasnya hisab pada Hari Perhitungan Tuhan kelak.
Dengan panjang lebar Abu Bakar mengutarakan alasan-alasannya mengapa memilih Umar. Antara lain dengan ”menggiring” Umar untuk mengakui bahwa saat itu, negara dan rakyat membutuhkan seorang tokoh pimpinan Al-qawiyyul Amien yang kuat dan dapat dipercaya.
Di hadapan jabatan ini, jelas Khalifah, ada dua orang yang bisa terjerumus ke dalam neraka. Pertama, orang yang nekat maju mengambilnya, padahal dia tahu ada orang yang lebih mampu daripada dirinya. Kedua, orang yang mampu dan diminta memegangnya tapi menolak karena lari dari tanggung jawab.
Akhirnya secara objektif Umar mengakui, untuk persyaratan amanah bisa dipercaya, selain dia masih banyak orang lain yang dapat memenuhinya, tapi siapakah yang dapat menandingi kekuatan Umar dalam menjaga dan membela kepentingan rakyat. Meski sudah kalah hujah, Umar masih tetap meminta Abu Bakar agar terlebih dulu bermusyawarah dan meminta persetujuan tokoh-tokoh Ahlul-halli wal ëaqdi (tokoh-tokoh yang representatif mewakili rakyat).
Wabaídu, yang namanya jabatan, terutama jabatan negara, adalah untuk kepentingan orang banyak. Sekali Anda secara cupet hanya memandangnya sebagai untuk kepentingan golongan sendiri, insya Allah Anda tidak hanya akan dilaknat sejarah tapi juga oleh Yang Maha Tahu isi dada Anda. Wallahualam. (KHA Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang-60j)

Suara Merdeka,Kamis, 24 April 2003
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0304/24/nas4.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s