Mbah Wahhab dan Mbah Bisri

DALAM musyawarah ulama itu yang masih berdebat tinggal dua orang kiai. Kiai Abdul Wahhab yang terkenal ahli ushul fiqh dan Kiai Bisri yang masyhur sebagai ahli fiqh. Mereka berdua ini, masing-masing dengan keras mempertahankan pendapatnya hingga menggebrak meja segala. Kiai-kiai yang lain tidak ada yang berani ikut campur atau sekadar menengahi. Untunglah azan lohor berkumandang. Perdebatan yang memanas pun seketika berhenti. Semua kiai tanpa kecuali pun dengan khusyuk menyahuti azan. Begitu selesai berdoa sehabis azan, Kiai Abdul Wahhab buru-buru menuju sumur diikuti Kiai Bisri.
Kiai Abdul Wahhab yang lebih dahulu memegang timba segera menimba dan kemudian mengucurkan airnya untuk wudu Kiai Bisri. Setelah selesai berwudu, Kiai Bisri ganti yang menimba dan mengucurkan air untuk wudu Kiai Abdul Wahhab. Kemudian keduanya menuju kembali ke masjid.
Di masjid, Kiai Abdul Wahhab mempersilakan Kiai Bisri untuk mengimami dan Kiai Bisri memohon agar Kiai Abdul Wahhab mau mengimami. Kedua kiai besar yang baru saja berdebat mempertahankan pendapat masing-masing, hingga saling menggebrak meja, itu kini bersikeras ”berebut” untuk menjadi makmumnya yang lain.
KH Abdul Wahhab Hasbullah dari Pesantren Tambak Beras dan KH Bisri Sansuri dari Pesantren Denanyar adalah dua orang kiai yang bersama-sama Hadlratusy Syeikh KHM Hasyim Asy’ari dari Pesantren Tebu Ireng Jombang, Kiai Asnawi Kudus dan kiai-kiai sepuh lain, mendirikan NU tahun 1926. Sebelumnya sekitar 1919, mereka mendirikan semacam koperasi yang mereka sebut Syirkatul Inaan.
Mbah Wahhab dan Mbah Bisri – demikianlah belakangan warga NU memanggil mereka- adalah Rois Aam dan Wakil Rois Aam PBNU sampai Mbah Wahhab wafat. Yang menarik, keduanya hampir selalu berbeda pendapat dalam banyak masalah. Perbedaan mereka seringkali bertolak-belakang satu dengan yang lain, seperti misalnya sikap mereka terhadap land reform, DPR GR, dlb. Namun eloknya, keduanya di mata warga NU adalah dua sejoli yang sangat rukun dan akrab. Keduanya bersama-sama, bahu-membahu, mengawal NU dan membimbing warganya.
Persaudaraan Terjaga Pendapat boleh berbeda, persaudaraan harus tetap terjaga; itulah agaknya prinsip mereka berdua sebagai pemimpin panutan umat. Perbedaan adalah fitri dan persaudaraan adalah keniscayaan. Mereka dapat mempertahankan sikap dan perilaku keteladanan seperti itu kuncinya, di samping ilmu mereka yang luas, saya kira, adalah keikhlasan mereka.
Keikhlasan berjuang dan berkhidmah untuk agama, bangsa, dan umat, membuat kedua pemimpin itu dapat tetap istiqamah. Tetap lurus berjalan di atas rel dan tetap bersatu dalam perbedaan. Tidak terbelokkan oleh kepentingan-kepentingan lain yang tidak bersangkut-paut dengan kepentingan agama, bangsa, dan umat. Tidak terpengaruh oleh tinggi-rendah atau bahkan ada-tidaknya jabatan dalam jamíiyah.
Mbah Wahhab, misalnya, pernah ”hanya” menjabat katib PBNU dan orang tidak melihat perbedaan kiprahnya dengan pada saat beliau menjabat sebagai Rois Aam. Pada Muktamar NU yang terakhir beliau hadiri, terjadi hal yang luar biasa. Dalam pilihan Rois Aam, beliau kalah dari Mbah Bisri. Tapi karibnya itu menyatakan, selama masih ada Mbah Wahhab, beliau hanya bersedia menjadi wakilnya.
Lho, tadinya mau menulis berkenaan dengan Konferensi NU Wilayah Jawa Tengah, kok jadinya malah nostalgia menulis tentang Mbah Wahhab dan Mbah Bisri. Mudah-mudahan saja kawan-kawan yang berkonferensi juga teringat kepada dua tokoh legendaris itu. Al-Fatihah! (60)

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang
Suara Merdeka, 12 Juli 2008
Sumber: http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2008/07/12/21761

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s