Mengapa Saya Mundur

KETIKA saudaraku Adnan, ketua NU Wilayah Jawa Tengah, dan kawan-kawan datang ke rumah ”melamar” saya untuk didaftarkan sebagai calon anggota DPD, saat itu seharusnya saya menolak dengan tegas, karena saya, tahu saja tidak tentang apa itu DPD.
Tapi kalau demikian tentulah bukan saya. Saya tidak biasa menolak, minimal menolak dengan tegas, permintaan saudara-saudara saya. Apalagi saya tahu permintaan itu bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri.
Kawan-kawan saya itu tidak mempunyai kepentingan khusus untuk diri mereka. Kepedulian merekalah yang mendorong mereka mau bersusah payah berdiskusi dan mencari calon yang mereka percayai dan mereka anggap mampu memperjuangkan kepentingan daerah mereka Jawa Tengah, untuk kemudian memperjuangkan keberhasilan calon mereka itu.
Keikhlasan dan semangat mereka untuk itu, sesaat, membuat saya tidak berpikir tentang diri saya sendiri. Saya tidak boleh mengecewakan mereka, tapi saya gamang dengan apa yang mereka tawarkan.
Maka saya pun menyampaikan banyak syarat, misalnya saya harus tahu dulu apa saja tugas DPD; ibu saya harus merestui; karena saya warga NU, saya harus mendapat izin dari Rais Am NU; saya tidak akan berkampanye langsung; tidak boleh menjanjikan apa pun kepada masyarakat; dlsb.
Rupanya semangat mereka tidak surut dengan berbagai syarat yang saya ajukan. Bahkan mereka tidak melihat sikap saya itu sebagai ”jual mahal”. Mereka malah kelihatan sudah nyicil bungah. Menganggap saya sudah mantap menerima ”lamaran” mereka. Dengan sabar mereka menunggu, meski dengan menerangkan batasan waktu yang penentuannya memang tidak di tangan mereka tapi oleh KPU.
Ternyata –karena batasan-batasan waktu itu tentunya — mereka sudah mengambilkan formulir pendaftaran di KPU sebelum menemui saya. Mereka mengatakan saya tinggal duduk manis, semua urusan teknis pencalonan mereka semua yang akan menanganinya.
Saya semakin terharu dan nyaris tak bisa berkata-kata. Namun begitu mereka pergi, mulailah saya benar-benar sadar bahwa yang mereka minta bukanlah main-main. Terbayang oleh saya luasan daerah Jawa Tengah yang tidak kurang dari 34.206 km dengan ratusan kecamatan dan hampir 8.000 desa dengan penduduk sekitar dua kali lipat penduduk Malaysia, yang nota bene sebagian besar belum merasakan nikmatnya kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya.
Orde demi orde seperti tak kunjung mengangkat taraf hidup petani dan nelayan yang menjadi mayoritas penduduknya. Tingkat kemiskinan dan angka pengangguran masih sangat tinggi. Dan seabrek masalah daerah lainnya. Semuanya bagaikan film yang terus diputar di kepala saya.
Sementara kawan-kawan bekerja keras mulai dari memenuhi persyaratan pencalonan —yang luar biasa berat, apalagi bila dibandingkan dengan pencalonan anggota DPR, hingga saya resmi dinyatakan sebagai calon anggota DPD dan gambar saya yang jelek terpampang di kantor KPU, saya hanya duduk manis sambil terus merenung.
Seperti orang yang ge-er, saya membayangkan diri saya sudah menjadi anggota DPD, wakil dari Jawa Tengah dan rakyatnya. Kemudian saya ajukan berbagai persoalan Jawa Tengah kepada diri sendiri dan apa kira-kira yang bisa saya lakukan.

Istisyarah dan Istikharah
”Film” buram tentang Indonesia dan khususnya Jawa Tengah kembali terputar di kepala saya. Berbagai permasalahan besar-kecil melela di pelupuk mata. Saya berpikir, mungkin saya bisa melihat ketimpangan-ketimpangan dan kesalahan-kesalahan; tapi apakah saya bisa ikut tidak hanya memberikan teguran namun mencarikan solusi dan pemecahan?
Saya sempat teringat ketika menjadi anggota MPR; ketika saya akan bicara, ditegur dengan nada agak membentak oleh ketua fraksi. Tokoh yang sehari-hari kelihatan baik dalam pergaulan sehari-hari itu, di ruang rapat fraksi tiba-tiba menjadi sangat otoriter.
”Saya ketua fraksi, saya yang bertanggung jawab,” katanya, ”Serahkan semuanya kepada saya. Percayalah, saya akan memperjuangkan yang terbaik untuk fraksi. Jangan macam-macam!”
Teringat ketika saya duduk manis di pojok ruang sidang paripurna di Senayan yang terhormat, menunggu komando untuk koor ”Setuju!!!” Saya teringat pula setiap kali antre mengambil uang rakyat, honor saya sebagai wakil rakyat. Yang saya tak lagi ingat: ke manakah semua uang honor saya yang begitu banyak itu? (Mudah-mudahan tak ada yang katut menjadi daging dan darah).
”Film” terus berputar menayangkan episode terakhir tentang kehidupan perpolitikan negeri ini dan kusaksikan tokoh-tokoh yang memegang peran penting tetap yang itu-itu juga, hanya berganti kostum dan sedikit perubahan make up.
Saya tercenung. Kawan-kawan setia saya begitu ikhlas dan bersemangat mendorong dan mendukung saya, karena mereka kira saya lain. Mereka ingin sesuatu yang baru. Saya paham dan sungguh sangat menghormati hal ini.
Tapi semakin mereka bersemangat dan optimistis, semakin kecut hati saya. Semakin besar harapan mereka terhadap diri saya, semakin besar pula kegamangan saya. Bagaimana kalau ternyata nantinya saya hanya menambah jumlah badut? Maka diam-diam saya menyuruh keponakan saya menanyakan kepada KPU prosedur pengunduran diri.
Namun, menghormati kawan-kawan yang sudah berjerih payah begitu tulus, saya berupaya mencari pemantapan diri agar tidak mengecewakan mereka melalui yang diajarkan Nabi saya, Nabi Muhammad SAW: istisyarah, minta saran pendapat, dan istikharah.
Saran pendapat yang saya terima berimbang antara yang mendukung dan yang menghalang-halangi (istri dan anak-anak saya termasuk yang gigih menghalang-halangi). Berkali-kali shalat, tak juga kunjung mantap. Tujuh kali menghadap ibu saya, beliau terus bersikap seperti abstain: melarang tidak, merestui pun tidak. Sementara tahapan pemilu terus berjalan sesuai yang diatur KPU. Dan saya harus segera mengambil keputusan.
Tiba-tiba sabda Nabi Muhammad SAW seperti terngiang begitu tegas dan berulang-ulang: ”Da’ maa yariibuka ilaa maa laa yariibuka!” (Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju kepada apa yang tidak meragukanmu) Maka saya mantap bismillah! — menulis surat pengunduran diri.
Mungkin saya berdosa kepada kawan-kawan pendukung saya, terutama karena saya tiba-tiba mundur di tengah jalan, namun pengenalan saya terhadap mereka memberi keyakinan bahwa mereka akan dapat memaklumi dan memaafkan saya. Lagi pula, daripada mengecewakan lebih besar di belakang (karena ternyata saya tidak mampu mengemban amanat), lebih baik kecewa sedikit di depan.
Saya yakin jerih payah kawan-kawan selama ini tidak sia-sia. Niyatul mukmin khairun min amalih. Insya Allah. (24)

Suara Merdeka, Senin, 9 Februari 2004
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0402/09/nas4.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s