Menuju Cahaya Ilahi

CAHAYA Ilahi ibarat ceruk di dinding yang di dalamnya ada pelita besar dengan sinar yang benderang. Pelita itu berada dalam kaca yang cemerlang bagaikan bintang gemerlap. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang senantiasa mendapat sinar matahari sejak terbit dari timur hingga tenggelam di ufuk barat.
Minyaknya saja nyaris menyinari, sekalipun tak tersentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya, siapa saja yang Ia kehendaki. (Baca Q. 24: 35)
Tamsil yang dibuat oleh Sang Pemilik Cahaya itu sungguh luar biasa. Bayangkan, pelita benderang di dalam kaca cemerlang dengan minyak yang berkilauan berada di ceruk dinding.
Dalam ceruk, pastilah cahaya benderang pelita dalam kaca cemerlang dengan minyak berkilauan itu terfokus. Hamba yang dikehendaki-Nya pastilah sangat mudah mendapatkan cahaya di atas cahaya itu.
Pertanyaannya, siapakah kira-kira hamba Allah yang Ia kehendaki mendapat bimbingan ke arah cahaya-Nya itu? Tentu kita tidak tahu persis. Namun setidaknya kita bisa menduga dengan mencermati firman-firman-Nya.
Kita pun bisa membatasi wilayah pencarian terhadap hamba yang Ia kehendaki itu, misalnya dalam kalangan hamba-hamba-Nya yang Ia senangi.
Menilik firman-Nya di Surah Baqarah (Q.2: 257), orang-orang mukminlah yang Ia keluarkan dari kegelapan-kegelapan menuju ke cahaya-Nya. Lawannya adalah Thaghut, setan, yang menarik dari kebenderangan cahaya menuju ke pekat gelap.
Sementara orang mukmin yang dicintai Allah, ialah orang mukmin sejati. Hamba mukmin yang sabar, adil, pemaaf, suka mensucikan diri, tawakal, berbuat baik, tahu berterima kasih, tidak berlebih-lebihan, tidak sombong, tidak zalim, tidak membuat kerusakan di muka bumi, tidak khianat, tidak suka membanggakan diri, dan seterusnya. Pendek kata, hamba yang takwa kepada-Nya.
Takwa itulah yang diharapkan dari puasa kita. (Baca Q.2: 183). Apabila puasa ini kita laksanakan dengan ikhlas, hanya mengharapkan dan berkeyakinan penuh untuk mendapatkan rida Allah, menjaga hati pikiran, dan indera kita agar tidak melanggar angger-angger-Nya, insya Allah kita akan dimudahkan menjadi hamba yang bertakwa. Apalagi bila kita bisa menghayati pendidikan puasa ini dan memperoleh darinya kekuatan menahan diri, menutup jalan setan -yang berupa syahwat dan amarah- menuju diri kita, dengan izin Allah kita akan terjaga oleh mahacahaya-Nya dari tarikan setan yang ingin menjerumuskan kita ke dalam kegelapan yang berlapis-lapis.
Alquran, sebagai firman Allah yang turun di malam Qadar di bulan Ramadan, tak pelak merupakan mahacahaya yang benderangnya melebihi seribu purnama. Wahai siapakah yang berbahagia tercerahi olehnya. (46m)

Suara Merdeka, Minggu, 15 Oktober 2006
KH A Mustofa Bisri adalah budyawan dan pengasuh Ponpes Raudlathuth Thalibien, Leteh, Rembang.
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0610/15/nas07.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s