Nilai Kebersamaan

DALAM perjalanan ke Jakarta pada Ramadan, saya mengajak kawan seperjalanan untuk mokak (menghentikan puasa). Kawan saya dengan tegas menolak. Dia menjelaskan, penolakannya itu bukan berarti menolak kemurahan Tuhan bagi kaum musafir, melainkan semata-mata karena dia membayangkan beratnya mengkada (membayar puasa)-nya nanti.
Lho, bukankah mengkada atau membayar puasa nanti, pelaksanaannya juga sama, mulai dari waktu imsak dan buka saat maghrib?
Tidak persis sama. Puasanya memang sama, tapi pelaksanaannya berbeda. Puasa sekarang dilaksanakan ramai-ramai, bersama-sama, sedangkan mengkada puasa tidak demikian. Jadi beban yang berat bila dipikul bersama menjadi ringan, bukan saja mengenai hal yang bersifat fisik.
Kebersamaan bukan saja meringankan beban, melainkan dalam Islam mempunyai nilai ukhrawi yang besar. Banyak sekali ibadah yang ditentukan atau dianjurkan untuk dilaksanakan bersama-sama. Mulai haji, shalat id, salat jumat, hingga salat fardu. Salat fardu berjamaah, dilakukan bersama-sama, pahalanya berlipat 27 derajat dibanding salat fardu sendirian.
Berjamaah shalat sunah tarawih, kalau pun disebut bid’ah karena tidak dilakukan di zaman Rasulullah, ulama menyebutnya bid’ah hasanah dan kaum muslimin sedunia melaksanakannya demikian.
Bahkan dalam salat fardu sendirian, muslim tetap membaca Fatihah -sebagai bacaan wajib- dengan redaksinya yang berbentuk jamak. Kita membaca ”IyyaaKa na’budu wa iyyaaKa nasta’iin, Ihdinaa” (hanya kepadaMulah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami memohon, tunjukkanlah kami); bukan ”IyyaaKa a’budu wa iyyaaKa asta’iin, Ihdinii”, (hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon, tunjukkanlah aku).
Islam memang agama kebersamaan. Rahmatan lil’aalamiin. Dalam Islam tidak dibenarkan orang senang sendirian, apalagi di atas penderitaan orang lain. Islam melarang orang memonopoli rahmat Allah.
Allah memuji mereka yang mementingkan kepentingan orang banyak, apalagi dengan mengalahkan kepentingan sendiri. Allah melaknat mereka yang kekenyangan, sementara tetangganya mati kelaparan. Dambaan umat Islam: bersama-sama bahagia di dunia dan bersama-sama bahagia di akhirat.
Itulah sebabnya, ”wallahu a’lam” Islam mensyareatkan amar makruf dan nahi munkar bagi kebahagiaan bersama, terutama di akhirat, dan mensyareatkan zakat dan sedekah bagi kebahagiaan bersama, terutama di dunia.
Demikianlah, ketika kaum muslimin merayakan ”kemenangan”, mereka dalam pelatihan jihad akbar selama Ramadan; mereka tidak ingin merayakannya sendiri. Apalah artinya pesta -pesta kemenangan sekali pun- yang hanya dinikmati sendiri dan mengabaikan orang-orang lain yang sekadar menutup rasa lapar mereka pun tak mampu?
Hanya orang yang kurang akal dan sakit nuraninya saja yang tega berpesta, sementara saudara-saudaranya menderita.
Dalam puasa, sedikit-banyak kita telah merasakan sendiri betapa menderitanya lapar dan haus sesiang hari. Tidakkah hal itu meluluhkan perasaan kita bagi ikut merasakan penderitaan mereka yang lapar dan haus hampir setiap hari? Kita telah berpuasa bersama-sama; marilah kita rayakan Idul Fitri ini bersama-sama pula. Marilah kita tunaikan zakat fitrah, hanya sekitar dua setengah kilo gram dari milik kita. Di samping untuk nambeli, kalau-kalau masih ada kekurangan dalam pelaksanaan puasa kita, juga agar tidak ada saudara kita yang lapar, minimal dalam hari raya ini.
Alangkah bahagianya membagi rahmat Allah kepada sesama. Alangkah bahagianya merayakan pesta kemenangan bersama seluruh saudara. Alangkah bahagianya menghuni surga bersama-sama dengan seluruh saudara.
Selamat Hari Raya Fitri. Marilah kesalahan-kesalahan di antara kita, kita lebur di hari bahagia ini, setelah memohon ampunanNya. Ja’alanaaLlahu minalíaaidiin wal faaiziin. (46a)

KH A Mustofa Bisri, budayawan dan pengasuh Ponpes Raudlathuth Thalibien, Leteh, Rembang.
Suara Merdeka, Sabtu, 21 Oktober 2006
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0610/21/nas02.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s