Quran

JUGA di negeri ini; memperingati peristiwa Nuzulul Quran, seperti memperingati peristiwa-peristiwa penting lainnya, merupakan tradisi yang sudah berjalan sejak lama. Biasanya peringatan Nuzulul Quran diperingati di masjid-masjid agung ibu kota hingga kecamatan, bahkan desa-desa.
Acara inti peringatan-peringatan itu biasanya berupa ceramah agama yang mengupas tentang Quran dari berbagai aspek, terutama tentu saja tentang sejarah Quran itu turun. Kupasan tentang ayat Iqraa Bismi Rabbika hampir selalu bisa kita dengar dari mubalig atau ustad yang mengisi acara ”Uraian Nuzulul Quran”.
Di samping itu, media massa seperti lazimnya juga mengagendakan acara peringatan dengan caranya sendiri. Yang selalu mengganggu pikiran dan menjadi tanda tanya bagi saya selama ini adalah sebenarnya sepenting apakah Quran itu di mata mereka? Apakah mereka menganggap Quran itu sebagai ”hanya” bacaan mulia, sebagai pusaka keramat, semacam kitab fiqh atau buku kumpulan peraturan, atau seperti yang sering kita dengar dari kaum muslimin: merupakan pedoman hidup umat Islam.
Apabila Quran dipandang sebagai pedoman atau panduan hidup umat Islam, pertanyaannya adalah apakah umat Islam, termasuk ustad dan mubalig yang sering mengisi acara uraian hikmah Nuzulul Quran itu, sudah bisa membacanya? Bila sudah, seberapa jauh mereka memahaminya dan sejauh manakah pemahaman mereka itu telah melandasi atau mewarnai amaliyah mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi logis muncul, melihat fenomena kehidupan dan perilaku umat Islam saat ini. Benarkah mereka yang mengorupsi uang negara itu berpedoman pada Quran? Benarkah mereka yang merampas hak rakyat itu berpedoman pada Quran? Benarkah mereka yang mengabaikan atau mengkhianati amanat yang mereka terima itu berpedoman pada Quran? Benarkah mereka yang mengotori busana Nabi Muhammad SAW dan menodai bulan suci dengan tindakan brutal itu berpedoman pada Quran? Benarkah mereka yang menganggap diri paling benar sendiri itu berpedoman pada Quran? Benarkah mereka yang nyrimpung saudara sendiri itu berpedoman pada Quran? Kalau mau, Anda bisa memperpanjang daftar pertanyaan ini.
Masih mending bila mereka yang mengaku berpedoman pada Quran itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Quran. Ini tidak; banyak di antara mereka yang justru melakukan sesuatu yang berlawanan dari perintah Quran. Masih mending bila Quran menyuruh mereka ”pergi ke barat” misalnya, lalu mereka tidak ”pergi ke barat”. Ini tidak, mereka itu justru ”pergi ke timur”.
Quran mengajarkan sikap adil dan menghormati hukum; sementara banyak orang yang mengaku berpedoman pada Quran tidak hanya tidak adil, tapi juga melecehkan hukum. Quran menyerukan manusia untuk saling menghargai dan tidak menghina sesama, tapi Anda melihat sendiri betapa banyak orang yang mengaku berpedoman pada Quran terus merendahkan dan menghina sesama. Quran menyatakan bahwa orang-orang yang beriman bersaudara dan Anda melihat sendiri banyak orang yang mengaku beriman dan berpedoman pada Quran justru menganggap saudaranya sendiri sebagai musuh. Pendek kata, kita masih belum menyaksikan banyak tuntunan mulia Quran dipraktikkan oleh mereka yang mengaku berpedoman pada an Quran, tapi justru sebaliknya.
Tidak itu saja; bahkan kita menyaksikan betapa banyak orang yang menggunakan ayat-ayat Quran hanya untuk meraih kepentingan duniawi sesaat. Malah ada yang berani membawa-bawa Quran untuk melakukan tindakan-tindakan yang justru mengaburkan makna luhur Quran.
Kadang-kadang saya berpikir, daripada sibuk mengurusi label halal dan minyak babi, mengapa MUI tidak melakukan kegiatan yang lebih kreatif, misalnya mengadakan survei tentang umat Islam Indonesia berkaitan dengan kitab suci mereka. Satu dan lain hal agar kita tahu persis, misalnya dari berjuta-juta umat Islam di Indonesia ini berapa persen yang membaca Quran setiap hari? Dari sekian juta yang membaca Quran itu berapa persen yang memahami kandungannya? Dari sekian banyak yang memahami kandungan Quran itu, berapa persen yang menghayatinya? Dari sekian banyak yang menghayati Quran itu, berapa persen yang mengamalkannya?
Dengan data-data mengenai hal itu, langkah-langkah reformasi keberagamaan umat Islam berikutnya insya Allah akan lebih mudah. Bukankah Quran merupakan pedoman utama keberagamaan umat Islam?
Sekian orang yang sudah jelas memahami Quran, misalnya, dapat diminta membantu sekian banyak saudaranya yang belum memahaminya untuk dapat berusaha berperilaku Qurani, dengan cara mengamalkannya (Kita membeli radio, teve, atau komputer misalnya, bisa dipastikan kita mampu mengoperasikannya, meski kita tidak membaca buku panduannya. Mengapa? Karena begitu sering kita menyaksikan mereka yang mengoperasikannya). Mereka yang memahami Quran dituntut tidak hanya fasih membaca dan menerangkan kehebatannya, tapi lebih dari itu hendaknya dapat membantu saudara-saudaranya untuk mengamalkan kandungan mulianya melalui keteladanannya. Wallahu aílam. (46t)

– Penulis adalah budayawan dan pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Leteh, Rembang.
Bulan Diturunkan Alquran
FIRMAN Allah SWT: ”Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran, petunjuk bagi manusia dan pemisah antara yang benar dengan yang batil.” (QS Al-Baqarah ayat 185)

Suara Merdeka, Kamis, 20 Oktober 2005
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/20/nas07.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s