Selamat Ber-Ramadan

TIDAK ada momentum paling afdol untuk menyela hari-hari sibuk yang tak keruan juntrungnya melebihi bulan Ramadan. Sepertinya Allah memang sengaja menyediakan satu bulan -bulan Ramadan ini – untuk kita. Ia tahu bahwa dalam bulan-bulan lain, kita begitu sibuk dengan urusan dunia yang tak jelas benar untuk apa.
Dan, atas rahmat-Nya kepada makhluk yang istimewa bernama manusia ini, Ia anugerahkan satu bulan bagi evaluasi diri.
Dalam sebelas bulan yang lain, kita seperti kitiran mengejar entah apa. Ke sana kemari dengan semangat penuh, seolah-olah besok pagi kiamat. Pengusaha begitu ngotot ingin menguasai pasar. Penguasa begitu ngotot ingin menguasai negara. Pegawai begitu ngotot ingin naik pangkat. Eksekutif begitu ngotot mengejar karier. Sopir ngotot mengejar setoran.
Yang miskin ngotot kepingin kaya. Yang kaya ngotot kepingin lebih kaya lagi. Pendek kata, hampir setiap orang seperti terkena penyakit lapar yang tak terkenyangkan.
Seandainya tidak ada satu bulan seperti Ramadan, yang memiliki suasana khasnya sendiri, maka penuhlah 12 bulan suntuk kita sibuk tanpa berkesempatan mengevaluasi kesibukan kita, seolah-olah semua yang kita lakukan selama ini memang sudah seharusnya.
Kita tak punya kesempatan untuk menghitung dan memperhitungkan perolehan dan kehilangan kita dalam kehidupan ini. Untunglah ada Ramadan. Bulan yang apabila kita bisa mencerdasinya dan memfungsikannya secara optimal, bisa diharapkan, setelah itu kualitas kemanusiaan kita akan meningkat.
Seperti kita ketahui bulan suci ini memiliki suasana lain dari bulan-bulan yang lain. Tidak hanya jadwal makan, tetapi gaya hidup dan perilaku orang (muslim khususnya) seolah-olah berubah drastis dan total.
Mereka yang biasanya hanya bertemu dengan kalangan terbatas, misalnya, tiba-tiba sering terlihat kumpul-kumpul dengan banyak orang.
Pergaulan dalam keluarga pun tampak begitu akrab sebagaimana mestinya. Mereka yang biasa brangasan, tiba-tiba menjadi kalem atau agak kalem. Mereka yang biasanya tak peduli, menjadi sangat atau sedikit ramah. Suasana batini religi terasa begitu kental mewarnai, bahkan terhadap kegiatan duniawi. Padahal, biasanya kebersamaan yang indah ibadah kepada Allah Sang Pencipta yang biasanya lebih terasa sebagai beban, menjadi begitu ringan, kalau tidak nikmat, kita rasakan.
Walhasil suasana di bulan istimewa ini benar-benar kondusif untuk melakukan upaya-upaya perbaikan diri. Mengingat kembali jati diri kita sebagai manusia, atau bahkan meningkatkan kualitas kemanusiaan kita. Manusia yang tidak hanya terdiri dari daging, tapi juga roh; tidak hanya raga, tapi juga jiwa.
Sebelas bulan kita seperti hanya terus dan selalu memanjakan daging, melupakan roh; membangun badan dan tak kunjung menyentuh pembangunan jiwa. Inilah saatnya yang tepat untuk menyempurnakan diri kita sebagai manusia. Siapa tahu, karena intens kita menghidupi dan menghayati kesucian bulan ini, kita dapat menyerap kesudiannya bagi kesucian diri.
Siapa tahu, karena penyikapan kita benar terhadap Ramadan yang sering kita sebut sebagai bulan ampunan ini, juga benar dalam mengisi hari-harinya, kita kemudian dapat menyikapi bulan-bulan lainnya secara benar pula. Proporsional melihat diri sendiri. Proporsional melihat kehidupan. Ya, siapa tahu?
Selamat Ber-Ramadhan.

Suara Merdeka, Minggu, 26 Oktober 2003
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0310/26/nas9.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s