Agama Bukan Alat Politik

Menangis Haru di Sokaraja, Wonosobo, Bernas.

Presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),mengatakan, selama ini Islam berkembang baik di Indonesia karena Islam dipakai untuk hal-hal yang baik. Karena itu tak sepantasnya kaum muslimin memakai agama sebagai alat politik.
Menurut Presiden, jika agama dibawa-bawa dalam politik maka masalah itu akhirnya tak akan selesai. “Kalau partai itu berlandaskan agama itu tak ada salahnya, tetapi hendaknya azas agama tak dibawa dalam praktek politik praktis,” ujar Gus Dur dalam amanat singkat yang disampaikan di hadapan santri Pondok Pesantren Tanfidzil Qur’an (PPT) Al Asy’ariyah Kalibeber, Wonosobo Kamis (31/8).
Gus Dur dan rombongan tiba di Wonosobo sekitar puykul 11.20 WIB. Ribuan warga tampak berjejer di pinggir jalan menuju pondok untuk menyambut kedatangan Gus Dur, bekas ketua PBNU tersebut. Begitu mobil kepresidenan melintas, warga spontan melambaikan tangan. Tiba di pondok, Gus Dur juga disambut shalawat.
Kunjungan ke Wonosobo kemarin merupakan rangkai kunjungan Gus Dur ke Jawa Tengah. Selain mengunjungi KH Muntaha Al Hafidz selaku pendiri pondok pesantren tersebut, Gus Dur juga mengunjungi KH Dimyati (Mbah Dim) yang merupakan kiai tertua di Kabupaten Wonosobo. Ikut hadir dalam acara itu antara lain Mendiknas Yahya Muhaimin, Gubernur Jateng Mardiyanto dan unsur-unsur Muspida.
“Saya terharu jika berada di tempat ini, karena selalu menjadi tempat persinggahan saya,” ujar Gus Dur. “Kalau saya kesel ngrasakke (capek memikirkan-red) NU yang sudah tidaka bisa dirasakan, maka untuk cari obatnya saya sowan Mbah Mun. Ya tidak apa-apa kalau saya di sini cuma bisa tiduran di atas tikar, tapi bagi saya Mbah Mun itu orang yang sangat saya hormati karena dalam dirinya ada dua tradisi besar, yang telah membentuk akhlak saya,” papar Gus Dur.

Menangis haru
Sedangkan kedatangan Presiden KH Abdurrahman Wahid di kediaman KH. Habib Hamid bin Hanafi bin Yahya bin Salim (85) di wilayah RT 03/RW I Kauman, Sokaraja Tengah, Banyumas, Kamis (31/8) disambut hangat oleh tuan rumah, KH Habib Hamid dan keluarganya serta seluruh warga masyarakat Banyumas.
Ketika bertemu langsung salah satu gurunya itu, Gus Dur sempat menangis haru. Gus Dur juga mohon kepada KH Habib Hamid, untuk ikut mendoakan negeri ini agar tetap utuh dan terhindar dari ontran-ontran yang ingin memecah belah persatuan.
Gus Dur bersama rombongan tiba di rumah KH Habib Hamid pukul 14.35 WIB. Selama kurang lebih 25 menit Gus Dur berada di rumah sederhana yang masih dalam tahap renovasi itu. Ketika menerima Gus Dur, KH Habib Hamid yang sudah sulit diajak bicara karena usianya yang lanjut, mengenakan pakaian putih dan sarung warna gelap serta dipadu kopiah warna putih.

Terbuka
Dalam kesempatan di Wonosobo Gus Dur mengatakan, jika kaum muslimin mencampur adukkabn agama dan politik nantinya akan banyak yang yang menilai bahwa Islam itu agama yang kaku dan seolah-olah tertutup. Padahal sesungguhnya Islam itu mempunyai sifat yang terbuka dan menerima padangan dari luar.
“Tahun 1979 lalu ketika saya berada di Maroko, saya melihat sebuah buku tua yang terbalut kaca hampa udara. Buku itu merupakan kumpulan padangan Aristoteles yang diterjemahkan menjadi Al-Ahlaq. Setelah saya baca saya menangis sesenggukan. Soalnya terus terang kalau tak baca buku itu saya tak akan jadi orang muslim,” ujar Presiden Gus Dur.
Ditegaskan oleh Gus Dur bahwa Islam tidak hanya mengambil pandangan dan filosofi orang Arab saja tetapi Islam juga merangkum semua pandangan yang berasal dari luar termasuk sejumlah pandangan Aristoteles yang hidup 1200 tahun sebelum Islam lahir. Untuk itu, Gus Dur berpesan agar para ulama tak bersifat kaku dalam mengajarkan agama.
Menurut Ketua PPTQ Al Asy’ariyah, Habibullah Idris, kunjungan Gus Dur tersebut merupakan kunjungan yang pertama sejak menjabat menjadi Presiden. Namun sebelumnya Gus Dur sudah 8 kali berkunjung ke tempat tersebut.
Sekarang kondisi pondok pesantren itu telah jauh berkembang dibanding dengan kunjungan Gus Dur beberapa tahun lalu. Bahkan tahun 2001 nanti ditempat tersebut rencananya akan dibangun Universitas Sains Al-Qur’an. Idris mengatakan bahwa inspirasi pembangunan universitas tersebut berasal dari Gus Dur ketika menginap di pondok pesantren itu beberapa waktu lalu.
Pertemuan di kediaman KH Habib Hamid berlangsung akrab. Hadir Mendiknas Yahya Muhaimin, Gubernur Jateng Mardiyanto, Bupati Banyumas Aris Setiono, Aris Juneidi (penghubung Gus Dur dengan Habib Hamid), Umar Wahid (adik Gus Dur), dan kerabat dekat Habib Hamid.
Ikut mendampingi KH Habib Hamid, istrinya Syarifah Hamid, KH Abdurrahman Hasan selaku juru bicara Habib Hamid, dan sejumlah ulama se-Banyumas. “Tidak banyak yang dibicarakan antara Gus Dur dengan KH Habib Hamid. Ya sekadar silaturahmi dan kangen-kangenan, karena sudah lama tidak bertemu,” ujar KH Abdurrahman Hasan selaku juru bicara Habib Hamid kepada wartawan seusai bertemu Gus Dur.

Sumber: https://www.facebook.com/notes/kongkow-bareng-gus-dur/gus-dur-agama-bukan-alat-politik/10152605666565165

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s