Bangkitkan Syiar Islam

Muhammadiyah sering disebut sebagai organisasi Islam modern terbesar. Ketika seorang pembawa acara mengatakan Muhammadiyah sebagai the largest Islamic Organization, saya sempat minta pernyataan itu diralat. Namun, dia menjawab bahwa dari sudut aksi dan institusi, Muhammadiyah layak disebut the largest Islamic organization.
Padahal dari sudut jumlah, jika dibandingkan NU (Nahdatul Ulama), Muhammadiyah mengklaim 35 juta anggota dan NU berarti lebih dari itu. Keduanya sama-sama tidak memiliki statistik. Tapi dua opini ini—terutama the largest Islamic organization—digunakan para moderator karena mereka mengetahui dari internet. Rupanya informasi di internet itu juga bertarung.
Memang kini kita hidup di era informasi dengan perkembangan yang sangat dahsyat, dan sudah menjadi kekuatan baru. Beberapa perubahan di dunia, termasuk di beberapa negara Arab, banyak disimpulkan sebagai “Revolusi Informasi” karena Twitter dan Facebook mampu menggerakkan masa seperti yang terjadi di Tahrir Square, Mesir, dan tempat-tempat lainnya.
Saya pernah menghadiri acara dialog di Qatar. Setiap ada event dunia, media center-nya luar biasa. Dengan harapan, informasinya tersebar luas ke seluruh dunia. Ketika ke Hongaria menghadiri kongres Yahudi sedunia, saya sudah mengantisipasi agar tidak ada pro kontra. Karena itu, berita yang muncul di media pun menyatakan bahwa saya hadir untuk menjelaskan tentang Islam kepada dunia Barat.
Orang-orang Yahudi ini memang hebat. Semua tokoh Yahudi sedunia hadir. Pada setiap acara, sekitar 300 kamera, televisi dan fotografi tersedia. Lebih banyak wartawannya daripada pesertanya. Di mana saja bisa kita saksikan, bahkan sampai kamar hotel pun setiap pernyataan peserta bisa disimak. Media-media lokal juga memuat acara tersebut. Inilah yang menjadi opini publik untuk perjuangan dan kemenangan mereka.
Sayangnya, tidak hanya Muhammadiyah yang sudah disebut terbesar, tapi kurang mengakrabi dan memahami kekuatan ini. Sehingga keagungan Islam tertutup oleh ketidakmampuan untuk bersyiar. Tidak hanya di Indonesia, di dunia Islam juga sama saja. Padahal, kita berada pada era reformasi informasi.
Saya memiliki catatan tersendiri bagaimana pers di Indonesia. Misalnya, ketika Muhammadiyah meluncurkan jihad konstitusi, seperti melakukan judicial review terhadap UU yang kita tengarai meruntuhkan kedaulatan negara. Setelah deklarasi dan audiensi ke sejumlah pejabat, mengapa tidak ada beritanya. Padahal, banyak media yang meliput.
Sementara kita melihat advertorial di beberapa media masa mengenai dunia migas kita, hampir semua media memuatnya. Dunia informasi kita dimonopoli kepentingan tertentu, apalagi menjelang Pemilu 2014. Ini tentu absah dan hak. Saya hanya berpesan, jangan sampai kemudian melakukan monopoli dan tidak menegakkan keadilan informasi bagi semua. Sudah semestinya informasi ini terbagi secara merata dan adil untuk kita semua.
Kita tidak harus meratapi terus menerus. Tidak ada istilah mengeluh bagi Muhammadiyah. Kita harus kembali memelopori perjuangan dan pergerakan, sebagaimana dilakukan para pendahulu Muhammadiyah yang memelopori banyak media masa di Nusantara ini. Kita pernah memiliki Koran Masa Kini, namun nasibnya berubah menjadi masakin sehingga harus dijual ke orang lain. Peran itu harus kita rebut kembali dengan semangat syiar Islam.
Kita berharap dengan semakin bergaungnya “kebebasan pers”, maka pers semakin mempunyai kebebasan lebih dalam menjalankan setiap kegiatan jurnalistiknya. Melihat peranan pers yang begitu besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu pers juga dituntut profesional. Profesionalisme adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pers yang ideal—baik di masa sekarang maupun di masa depan.
Dengan adanya media center, kita berharap syiar Islam akan cepat berkembang dan kegiatan-kegiatan organisasi Islam akan tersiarkan dengan baik. Memang peralatannya belum memadai, tapi peran media yang membawa ke arah perubahan demi keadilan sangat dinanti.
Misalnya, Kosovo dewasa ini menjadi salah satu negara yang baru merdeka. Penduduknya mayoritas Muslim, tapi Indonesia belum mengakuinya. Presidennya seorang perempuan, mantan Kepala Kepolisian Kosovo, dan pernah mengirim undangan khusus ke Muhammadiyah untuk bertemu DPR agar Indonesia mengakui kemerdekaan Kosovo.
Sudah ada 98 negara yang mengakui, termasuk 31 negara Islam anggota OKI. Kosovo sangat berharap kepada Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia. Kalaupun pemerintah Indonesia belum mengakuinya, tapi Muhammadiyah sudah.

Sumber: http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=678:bangkitkan-syiar-islam&catid=70:sikap&Itemid=132

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s