Mewaspadai Komunisme dan Terorisme

Maraknya tuntutan pembubaran Densus 88, salah satunya terkait dengan masalah ketidakadilan penyelenggara negara dalam menyikapi dua kelompok: “kanan dan kiri”. Saat ini, perlakuan negara boleh dibilang tidak seimbang. Kelompok kanan—yang kerap dicap sebagai Islam ekstrem dan fundamentalis—dihadapi dengan senjata.
Sementara kelompok kiri—sisa-sisa komunis dan Islamophobia—diperlakukan dengan sangat lunak karena berhasil berlindung di balik HAM. Misalnya, tuntutan kelompok kiri tentang korban G30S PKI yang bertentangan dengan fakta sejarah. Fenomena ini terkait dengan demokrasi Indonesia pasca Perang Dingin yang sangat dipengaruhi Barat, yang memberi toleransi kepada kelompok kiri.
Apalagi pasca empat kali amandemen, UUD 1945 tidak sepenuhnya menganut nilai Pancasila—terutama sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Sekali lagi, demokrasi Indonesia pasca Perang Dingin sangat dipengaruhi Barat yang memberi toleransi kepada kelompok kiri itu.
Padahal, gerakan komunisme di Indonesia perlu diwaspadai karena bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam mencari pemimpin di negeri ini. jangan sampai disusupi oleh oknum yang berpaham komunis.
Gerakan komunisme di Indonesia saat ini mulai sangat terasa, dan hal ini mengancam keutuhan bangsa. Saya sangat merasakan itu, akan tetapi saya tidak bisa membuktikan, karena saya bukan intelijen.
Umat Islam di Indonesia, termasuk sejumlah ormas Islam, menuntut pembubaran Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, karena menilai kesatuan itu banyak melanggar HAM. Selama ini, umat sudah mewanti-wanti agar mereka lebih berhati-hati dalam menjalankan tugasnya. Jangan terjebak pada tindakan kekerasan.
Saat ini, pemberantasan terorisme yang dilakukan masih dalam lintas sektoral. Kalau mau utuh, misalnya kalau teror berbasis ideologi, harus orang yang mengerti. Selama ini ‘kan hanya sekadar menggelar seminar-seminar di tengah orang yang masih berada dan percaya dalam NKRI.
Seharusnya persoalan terorisme ini ditangani oleh ulama-ulama yang mengerti, sehingga bisa dicari upaya bagaimana cara mengubah mindset para tersangka teroris. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan pembenahan masalah hukum dan keamanan.
Proses penangkapan yang sangat keras, pada akhirnya memunculkan dendam di kalangan para pelaku. Apalagi penangkapan tersangka teroris selalu mendapat ekspos besar-besaran dari media massa. Apa memang harus diekspos? Seperti film Rambo saja. Kesannya tak bagus, yang jadi sasaran akibat pembalasan tersebut adalah polisi.
Mari kita lebih berhati-hati dengan banyaknya aliran Islam garis keras dan terorisme, serta paham-paham keagamaan yang menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Paham aliran Islam keras, seperti melakukan pengeboman dan perusakan, sebenarnya merupakan paham yang menyimpang dari ajaran Islam.
Padahal, penyebaran ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW tidak dengan kekerasan, melainkan dengan cara yang baik dan santun. Islam tidak menghendaki perusakan, apalagi dengan cara melakukan penge­boman. Justru tuntutan berdakwah di dalam Islam itu dengan cara yang santun.
Salah satu cara untuk mencegah masuknya pa­ham yang tidak sesuai dengan ajaran Islam adalah dengan terus mengintensifkan pengajian dan bimbingan keagamaan kepada umat. Para ulama juga harus lebih sering melakukan silaturrahim, memantau semua ajaran dan paham baru. Pola silaturrahim yang sangat efektif adalah melakukan kajian keislaman.
Para ulama hendaknya senantiasa meningkatkan kewaspadaan guna mencegah masuknya paham terorisme dan bisa melakukan evaluasi diri, serta meningkatkan SDM. Peningkatan SDM sangat penting, mengingat perjuangan dalam menyebarkan dakwah Islam di era modern seperti sekarang ini, tidak cukup hanya dengan berceramah.
Globalisasi dan modernisasi menuntut perlunya pola dan strategi baru dalam menyampaikan pesan moral agama. Oleh sebab itu, mari sekali lagi kita melakukan perbaikan, dan para ulama hendaknya bisa menjadi pelopor dalam hal ini.

Sumber: http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=627:mewaspadai-komunisme-dan-terorisme&catid=70:sikap&Itemid=132

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s