Mewujudkan Cita-cita Sosial Islam

Cita-cita sosial Islam menempati posisi strategis dalam kerangka ajaran Islam, sebuah arah dan acuan kehidupan berislam. Gerakan Islam dengan demikian merupakan instrumen untuk mengantarkan umat Islam mencapai cita-cita tersebut.
Cita-cita Islam merupakan refleksi tauhid yang me­rupakan prinsip sentral dan kardinal dalam Islam. Tauhid menekankan kesatuan hubungan dari tiga eksistensi: Tuhan, alam dan manusia. Manusia sebagai subyek ke­hidupan merupakan khalifah Tuhan yang diberi kekuasaan memanfaatkan alam semesta guna membangun peradaban di bumi.
Keberhasilan visi kekhalifahan tersebut sangat ter­gantung pada kemampuan manusia dalam mengembang­kan Sunatullah dalam dirinya, yakni menginternalisasi­kan kekuatan-kekuatan Tuhan Asmaul Husna sehingga manusia dapat memahami dan memanfaatkan Sunatullah pada alam semesta. Pengembangan misi kekhalifahan ini meniscayakan kerja manusia secara kolektif bersama manusia lainnya. Konsep kekhalifahan manusia dengan demikian mengandung dimensi sosial baik dalam proses maupun tujuan.
Proses dan tujuan terjalin dalam hubungan simbiosis yang bersifat dinamis yaitu bahwa proses pencapaian kekhalifahan menuntut adanya komunitas sosial dengan kualitas tertentu sehingga dapat mendukung proses yang lebih baik, maju dan ber­kua­litas.
Istilah yang da­pat di­temu­kan dalam al-Qur’an dan Sun­nah untuk menun­­jukk­an pengertian itu adalah Ummah (umat). Kedua­nya merangkai­kannya dengan sifat dan kualitas tertentu seperti dalam istilah-istilah Ummah Islamiyah, Ummah Wasatan, Ummah Wahidah, Ummah Muhammadiyah dan Khairul Ummah. Ummah merupakan pranata sosial utama yang dibangun Nabi Muhammad SAW setelah hijrah di Madinah.
Dalam perspektif sejarah, ummah yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah adalah untuk membina solidaritas di kalangan pemeluk Islam (kaum Muhajirin dan Anshar). Khusus kaum Muhajirin konsep ummah merupakan sistem sosial alternatif pengganti sistem sosial tradisional, kekabilahan dan kesukuan yang mereka tinggalkan karena memeluk Islam. Sebagai sistem alternatif konsep ummah bersifat lintas suku dan kultur.
Dalam cita-cita sosial Islam ada istilah yang sering muncul dan dipahami sebagai konotasi politik yaitu khalifah, dawlah dan hukamah. Istilah khalifah disebut sembilan kali dalam al-Qur’an namun semua konteksnya bukan untuk sistem politik melainkan dalam konteks misi kehadiran manusia di bumi. Oleh karena itu, penisbatan konsep khilafah dengan institusi politik tidak memiliki landasan ideologis.
Demikian juga dawlah yang diartikan negara (nation-state) dan dipahami sebagai cita-cita sosial Islam yang harus ditegakkan—juga tidak terdapat dalam al-Qur’an. Istilah ini hanya disebut sekali, dan itu pun sebagai kata kerja yang berhubungan dengan kata dawlah yaitu nudawilu (3 : 140) yang berarti “kami pergilirkan”.
Kata hukumah yang diartikan pemerintah juga tidak terdapat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an memang banyak me­nyebut bentuk-bentuk derivatif dari akar kata hukumah yaitu hakama. Tapi yang perlu dicatat, tidak menunjukkan konsep pemerintahan Islam.
Ummah Islamiyah yang dibangun oleh Nabi Muhammad adalah sebuah model yang baik uswah hasanah yang mengandung nilai-nilai ideal pada masa abad ke-7. Cita-cita sosial Islam perlu memiliki relevansi dengan kemodernan dan dinamika kebudayaan.
Konsep masyarakat utama yang diungkapkan oleh al-Farabi dan al-Ikhwan al-Safa’ mengisyaratkan perlu adanya dua elemen penting yang saling berhubungan timbal balik dalam mewujudkan masyarakat utama tersebut, yaitu adaya faktor instrumental dan faktor politik. Agama dan po­litik menunjukkan hubungan simbiosis yang sangat erat karena agama memerlukan politik dan politik memerlukan agama.
Cita-cita sosial Islam adalah himpunan manusia yang memadukan dua struktur, fisik dan nonfisik, bagai­kan dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan satu sama lainnya, yaitu ummah dan madinah. Jika yang per­tama lebih berkonotasi sosial maka yang kedua lebih berkonotasi politik. Oleh karena itu, cita-cita sosial Islam adalah terwujudnya suatu sistem sosial dan sistem politik sekaligus.

Sumber: http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=511:mewujudkan-cita-cita-sosial-islam&catid=70:sikap&Itemid=132

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s